Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 124 Jinying Eek Emas


__ADS_3

"Iyah ayah... Jika memang telur emas itu berasal dari dunia atas dan dianggap penting, suatu saat nanti pasti akan ada yang mencarinya," imbuh nyonya muda Lee.


Karena Lee Chu Mian Yin paham dengan apa yang sedang diperbincangkan oleh kakek, nenek dan ibunya, tiba-tiba gadis kecil itu pun menjadi sedih.


"Bu Lan Lan, apakah Jinying nanti akan dibawa pelgi? Katanya bayi bulung ini untuk Yin'el...," ucap gadis kecil itu pelan sambil menoleh pada ibunya dengan wajah melas.


Tak berapa lama, perempuan cantik itu pun berpindah tempat duduk agar lebih dekat lagi dengan putrinya.


"Awalnya ibu memang sempat berkata seperti itu sayang, tapi jika suatu hari nanti ada 'seseorang' atau bahkan induk burungnya mencari keberadaan telur itu bagaimana?" balas Chu Pian Ran sambil menatap lekat kedua mata Lee Chu Mian Yin yang mulai agak terlihat merah.


"Tapi Yin'el tidak mau jika Jinying dibawa pelgi... Katanya bayi bulung ini jadi binatang pelihalaannya Yin'el...," gadis kecil itu berusaha protes.


"Begini saja sayang, jika suatu saat nanti ada 'seseorang' atau induk burungnya datang, biar ibu yang berbicara dan mencegahnya agar tidak membawa Jinying...," kata nyonya muda Lee sambil mengelus rambut panjang legam Lee Chu Mian Yin yang lalu dibalas dengan anggukan dari gadis kecil itu.


"Kik kiik, kik kiik...," bayi burung itu bersuara sambil matanya menatap Lee Chu Mian Yin.


"Kamu lapal ya? Sebental ya, Yin'el ambilkan buah-buahan dulu di luang makan," sahut gadis cilik itu yang langsung dicegah ibunya begitu Lee Chu Mian Yin hendak bangkit berdiri.


Beberapa detik kemudian, tampaklah Chu Pian Ran bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju ke ruang makan untuk mengambil piring lebar berisi buah-buahan dan sebuah pisau.


"Jinying nya dibawa ke sini sayang, kalau makan di situ nanti permadaninya kotor...," ujar perempuan cantik itu setelah duduk di tepian permadani dan mulai memotong-motong kecil buah-buahan.


Tak menunggu lama, gadis kecil itu pun mengangkat tubuh si Jinying dan menapakkan kaki kecilnya sebentar untuk mendekat di tempat ibunya berada lalu meletakkan bayi burung itu di lantai di dekat potongan buah-buahan, dan kemudian dia pun duduk di tepi permadani di samping kiri ibunya yang masih terus memotong-motong buah-buahan.


Dengan segera Jinying pun mematuki dan memakan potongan-potongan buah-buahan itu dengan lahapnya.


Tadi siang, nyonya Chu sudah menyuruh salah satu pelayannya untuk membeli buah-buahan sebanyak 10 kilo sebagai persiapan untuk makannya si bayi burung elang emas yang lumayan banyak menghabiskan buah-buahan.


Karena tuan Chu dan Lee Jiang Wook ada pekerjaan penting yang harus dikerjakan, maka kedua pria itu pun meninggalkan ruang keluarga dan menuju ruang kerja masing-masing.


Sementara itu, nyonya Chu ikut bergabung dengan putri dan cucunya sambil memperhatikan bayi burung yang makan potongan buah-buahan dengan lahapnya.


"Jinying, nanti kalau buang ail besal dan pipis tidak boleh sembalangan ya, ngomong dulu ke Yin'el...," Ucap Lee Chu Mian Yin sambil menatap bayi burung itu yang tak lama kemudian dibalas dengan anggukan oleh Jinying.


*


Dua jam kemudian...


Saat ini, tampaklah di ruang makan, tuan dan nyonya Chu, Lee Jiang Wook, Chu Pian Ran dan Lee Chu Mian Yin sedang makan malam bersama dalam suasana tenang dan hangat dengan disaksikan tatapan mata si Jinying yang diletakkan di kursi kayu kecil yang diapit oleh nyonya muda Lee dan putrinya.


Tak berapa lama, Chu Pian Ran pun mengambil sepotong sawi putih dari mangkuk sayuran dengan menggunakan sumpit lalu disodorkan di depan paruh Jinying.


"Cobalah makan ini, enak lo...," kata perempuan cantik itu.


Setelah mencium aroma sawi itu untuk sesaat, bayi burung itu pun menggeleng.


"Ya sudah kalau tidak mau, rupanya kau sama saja dengan peri Jinfeng Zhui yang maunya makan buah-buahan saja... Padahal makanan bangsa manusia itu lezatnya benar-benar mantap lo...," lanjut nyonya muda Lee yang lalu memakan sendiri potongan sawi itu.


Setelah tiga puluh lima menit, acara makan malam itu pun usai. Dan kini, terlihatlah Lee Chu Mian Yin keluar dari ruang makan sambil mengangkat tubuh Jinying menuju ke kamarnya. Tapi saat di tengah perjalanan, bayi burung itu mengeluarkan suara yang artinya dia ingin buang air besar.

__ADS_1


Maka dengan langkah cepat, gadis kecil itu pun membawa si Jinying ke kamar mandi pribadi orang tuanya yang memang ada klosetnya.


Adapun semua kloset yang ada di kediaman Chu dan kediaman Lee, Chu Pian Ran lah yang memberikan buah pikirannya dalam proses pembuatannya karena jiwa perempuan itu berasal dari zaman modern.


Begitu sampai di dekat kloset, Lee Chu Mian Yin pun lalu duduk jongkok sambil mengangkat tubuh si Jinying tepat di atas kloset.


"Sekalang kamu sudah bisa buang ail besal...," ujar gadis kecil itu.


Tak berapa lama, bayi burung elang emas itu pun terlihat sedang memejamkan matanya sambil mengejan.


Beberapa detik kemudian, keluarlah dari anus si Jinying 'sesuatu' yang berwarna kuning emas, berkilau dan tidak berbau layaknya bau faeses sewajarnya yang tentu saja membuat bingung anak seusia Lee Chu Mian Yin.


"Kok eek mu walnanya aneh begitu dan tidak bau sepelti eek nya Yin'el?" tanya gadis kecil itu keheranan.


"Kik kiik, kik kiik...," bayi burung itu pun bersuara sambil menatap Lee Chu Mian Yin yang arti suaranya membuat gadis kecil itu tidak percaya.


"Kamu bohong ah, masa eek emas, mana ada eek sepelti itu... Jangan suka belbohong, bohong itu tidak baik lo...," kata Lee Chu Mian Yin dengan wajah sedikit masam.


"Kik kiiik...," Jinying kembali bersuara sambil menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali.


"Tidak ah, Yin'el tidak pelcaya...," gadis kecil itu kukuh dengan keyakinannya jika bayi burung itu sudah berbohong.


"Kik kiiik, kik kiiik...."


Kebetulan saat Jinying mengeluarkan suaranya yang terakhir, Chu Pian Ran baru masuk ke dalam kamar dan telinganya mendengar suara bayi burung peliharaan putrinya.


"Ibu, eek nya Jinying aneh...," ucap Lee Chu Mian Yin sambil menoleh pada ibunya saat sosok perempuan cantik itu sudah masuk ke kamar mandi.


Begitu nyonya muda Lee telah dekat dengan putrinya dan melihat sesuatu yang 'kuning berkilau' di tepi lubang kloset, Chu Pian Ran pun lumayan terkejut dan dengan segera dia pun jongkok di samping kiri putrinya dan mengambil 'benda kuning berkilau' itu yang tentu saja sikapnya membuat Lee Chu Mian Yin menjadi kaget bercampur jijik.


"Ih jijik lah bu, masa ibu mengambil eek nya Jinying...," ujar gadis kecil itu dengan polosnya sambil bergidik.


"Ini bukan eek sayang, ini emas berkualitas tinggi... Kalau tidak percaya coba nih kamu pegang, mana ada eek sekeras ini...," sahut perempuan cantik itu sambil menyodorkan eek emas itu kepada putrinya. Namun, Lee Chu Mian Yin segera memundurkan tubuhnya sedikit sambil menggelengkan kepalanya karena masih tidak percaya dan merasa jijik.


"Kik kiiik, kik kiiik...," Jinying bersuara dengan kepalanya mengangguk.


Saat ibu, anak serta binatang itu masih di kamar mandi, masuklah Lee Jiang Wook ke dalam kamar dan telinganya menangkap suara bayi burung elang emas. Maka dengan segera, ayah muda itu melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi dan sangat heran melihat istri dan putrinya berada di tempat itu sambil duduk jongkok di dekat kloset.


"Apa yang kalian lakukan di situ?" tanya Lee Jiang Wook penasaran.


"Jinying eek emas suamiku, coba lihat, bukankah ini emas berkualitas tinggi?" sahut istri tercintanya sambil menyodorkan eek emasnya Jinying pada ayah muda itu.


"Lebih baik kalian pindah dulu dari situ dan bersihkan tangan kalian sampai bersih lalu kita bahas lagi di dalam kamar," lanjut Lee Jiang Wook yang kemudian langsung dituruti oleh istri dan putrinya.


Kini, tampaklah Lee Jiang Wook, Chu Pian Ran, dan Lee Chu Mian Yin sedang duduk di kursi yang ada di kamar sementara si Jinying diletakkan di atas meja.


"Iya benar, ini emas berkualitas terbaik... Aneh sekali, bagaimana bisa ada burung elang eek nya emas seperti ini...," ucap ayah muda itu sambil mengamat-amati eek emasnya Jinying.


"Ya mungkin karena elangnya adalah elang emas dan berasal dari dunia atas suamiku... Jangan-jangan waktu itu telur emasnya jatuh dari langit karena ada yang ingin mencuri lalu ketahuan pemiliknya...," Chu Pian Ran mencoba menebak-nebak.

__ADS_1


"Bisa jadi...," timpal Lee Jiang Wook sambil meletakkan emas itu di atas meja.


"Hei Jinying, eek emasnya yang sering-sering saja ya, supaya kita cepat kaya dan bisa hidup foya-foya...," kata nyonya muda Lee asal-asalan sambil menatap bayi burung itu.


"Hush!, apa juga yang kau katakan itu sayang...," sergah suaminya.


"Aku kan cuma bercanda suamiku sayaang...," ujar perempuan cantik itu sambil menoleh pada Lee Jiang Wook.


"Jadi benar Jinying eek emas?" tanya Lee Chu Mian Yin.


"Benar sayang... Dan ingat ya, jangan ceritakan hal ini pada siapapun kecuali pada nenek dan kakek. Kalau sampai banyak orang yang tahu jika Jinying eek nya berupa emas nanti dia bisa dicuri...," jelas ayah muda itu dengan menatap putrinya.


"Yin'el tidak mau Jinying diculi olang...," balas gadis kecil itu.


"Makanya, Yin'er harus merahasiakan hal ini..., jangan beritahukan siapa-siapa kecuali kakek dan nenek," Chu Pian Ran mengulangi perkataan suaminya.


"Iya ayah, ibu... Yin'el janji tidak akan mencelitakan hal ini pada olang lain...," balas Lee Chu Mian Yin.


"Sekarang sudah malam, sebaiknya Yin'er pergi tidur ya...," imbuh nyonya muda Lee yang kemudian bangkit dari tempat duduknya lalu mengangkat tubuh Jinying dari atas meja untuk dibawa ke kamar putrinya.


Tak berapa lama, terlihatlah pasangan suami istri itu mengantar Lee Chu Mian Yin ke kamar pribadi gadis kecil itu.


Setelah Lee Chu Mian Yin naik di atas ranjang, ayah dan ibunya mencium pipi kanan dan kiri gadis kecil itu secara bergantian lalu mereka berdua pun meninggalkan kamar putri kesayangannya.


****


Malam itu, di saat sebagian besar rakyat Qin sudah tertidur lelap, terlihatlah di atas langit yang gelap sosok binatang bersayap yang ukurannya lumayan besar, yang jika dihitung panjang tubuhnya ditambah rentangan kedua sayapnya bisa mencapai 10 meter an.


Binatang itu rupanya induk burung elang emas yang sudah satu minggu an ini (waktu yang berlaku di dunia manusia) sedang mencari keberadaan telurnya yang sengaja dibuang oleh seorang dari suku iblis yang ketahuan mencuri telur burung elang emas.


Adapun tujuan iblis itu mencuri telur burung elang emas adalah bukan untuk mengincar eek emas dari bayi burung itu melainkan karena menginginkan jantung dan hatinya yang sudah bukan rahasia umum lagi bisa meningkatkan kekuatan supranatural hingga beberapa kali lipat.


Saat si iblis mencuri telur burung itu, kebetulan induknya sedang mengantar Dewa Burung (yang bernama Shao Hao) ke Istana Langit karena ada acara perayaan ulang tahun Kaisar Langit.


Sebenarnya Dewa Burung itu bisa saja merubah wujudnya menjadi berkas cahaya dan melesat cepat ke Istana Langit, namun hal itu tidak dilakukannya karena Dewa Shao Hao sudah terbiasa bepergian dengan menunggangi burung elang emas kesayangannya yang katanya sembari menikmati pemandangan.


Begitu iblis itu ketahuan oleh beberapa penjaga istana Dewa Burung, maka dia pun dikejar-kejar oleh para penjaga istana Dewa Shao Hao hingga akhirnya terjadi pertempuran sengit diantara mereka.


Saat iblis itu sudah terdesak dan kekuatannya melemah, maka dia pun melempar sekencang-kencangnya telur burung elang emas itu yang membuat telur itu jatuh hingga ke bumi. Hasil dari pertempuran itu adalah si iblis kalah dan akhirnya dia pun musnah setelah mendapat serangan beruntun berupa beberapa kilatan cahaya dari telapak tangan para penjaga.


Karena telur burung elang emas itu adalah sesuatu yang sangat berharga, maka tiga diantara penjaga segera menjelajah ke beberapa penjuru untuk menemukan kembali telur dari burung kesayangan Dewa Burung itu, sementara penjaga yang lain ada yang kembali ke istana dan ada yang melapor kejadian itu pada Dewa Shao Hao yang saat itu sedang ada di Istana Langit.


Sejak saat itulah, si induk burung elang emas pun mulai ikut mencari tapi binatang itu melakukannya pada malam hari karena tidak ingin menarik perhatian bangsa manusia.


Dengan matanya yang berkilat putih, binatang bersayap yang berukuran besar itu pun terbang pelan di atas wilayah Qin sambil kepalanya diedarkan ke beberapa penjuru untuk mencari keberadaan telurnya.


Karena burung elang emas itu bukanlah binatang bersayap biasa, maka makhluk itu bisa mencium aroma dari burung sebangsanya dari jarak sekitar 300 meter an.


Begitu binatang bersayap itu melintas di atas ibukota Qin, tepatnya ratusan meter di atas kediaman Chu, induk burung elang emas itu pun mulai "sedikit" mencium aroma burung sebangsanya.

__ADS_1


__ADS_2