Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 122 Telur Elang Emas


__ADS_3

"La iya, penting itu apa?" buru pangeran kedua kaisar Qin semakin tambah rasa ingin tahunya.


"Maaf kak, untuk masalah yang satu ini aku tidak bisa memberitahumu...," balas Chu Pian Ran jujur.


"Maaf ya kakak-kakakku yang tampan, aku pamit mandi dulu. Rasanya badanku sudah gerah dan lengket saja karena keringat."


Tanpa menunggu balasan dari Qin Wu Zhu dan Han Zhuo Jin, perempuan cantik itu pun bangkit dari kursinya dan melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi dengan diiringi rasa curiga dari pangeran kedua kaisar Qin.


Nyonya muda Lee memang sengaja menggunakan alasan mau mandi untuk menghindari pertanyaan yang lebih lanjut lagi dari Qin Wu Zhu.


*


Setelah makan malam bersama dengan keluarga, Chu Pian Ran pun meminta waktu pada ayah dan suaminya untuk membahas suatu hal yang penting.


Beberapa menit kemudian, terlihatlah ketiga orang itu ada di dalam ruang kerja tuan Chu.


"Memangnya ada hal penting apa yang ingin kau bicarakan nak?" tanya pria paruh baya itu memecah keheningan.


Tak berapa lama, nyonya muda Lee pun mengeluarkan sapu tangan dari saku bajunya yang di dalamnya berisi 5 batu berlian yang diameternya sekitar 3 cm an, lalu mengurai buntelan sapu tangan itu dan memperlihatkan isinya kepada ayah dan suaminya.


Karena Lee Jiang Wook lumayan tahu banyak tentang beberapa jenis batu mulia, begitu matanya melihat 5 batu berlian itu, ayah muda tampan itu pun sangat terkejut.


Tak beda jauh dengan Lee Jiang Wook, tuan Chu pun juga lumayan kaget setelah melihat batu berlian itu, karena pria paruh baya itu juga pernah membaca tentang jenis-jenis batu mulia di buku yang ada di perpustakaan miliknya.


"Darimana kau mendapatkan berlian yang sangat mahal harganya ini istriku?" tanya Lee Jiang Wook sangat penasaran.


"Ini aku dapatkan dari gua para kurcaci, aku benar-benar terkejut karena jumlahnya sangat banyak dengan berbagai macam ukuran dan warna," jelas istrinya.


"Astaga, benarkah itu?... Lalu bagaimana caranya kau menemukan berlian-berlian itu?" ucap tuan Chu semakin bertambah rasa kagetnya, demikian juga dengan Lee Jiang Wook.


"Aku tidak menemukannya ayah, kepala suku bangsa kurcaci itu yang sengaja membawaku ke tempat dimana batu-batu berlian itu berada dan bahkan menyerahkannya padaku untuk mengelolanya," terang perempuan cantik itu.


"Apa??" tanya tuan Chu dan Lee Jiang Wook bersamaan sambil menatap Chu Pian Ran dengan sangat keheranan dan dalam keadaan belum hilang rasa kaget mereka.


"Jadi selama ini bangsa kurcaci memang sengaja menyembunyikan keberadaannya dan mau dianggap sebagai 'mitos' oleh bangsa manusia ya karena berlian-berlian ini," lanjut Chu Pian Ran.


"Apa maksudmu nak? Ayah benar-benar tidak mengerti...," ujar tuan Chu.


"Jadi selama turun-menurun, bangsa kurcaci tinggal di gua itu dengan perasaan was-was dan takut jika suatu saat nanti ada bangsa manusia yang menemukan keberadaan mereka dan berlian-berlian yang sudah ada di dalam gua tersebut selama ribuan tahun. Jika itu sampai terjadi, bisa-bisa bangsa kurcaci akan punah akibat keserakahan manusia. Jadi, itu alasannya bangsa kurcaci menyembunyikan keberadaannya dan mau dianggap sebagai 'mitos' oleh bangsa manusia," jelas peri cantik itu.


"Begitu ya... Sekarang ayah sudah paham dengan maksudmu itu. Jika demikian, kasihan sekali kehidupan mereka...," timpal pria paruh baya itu.


"Makanya, setelah berlian-berlian itu diserahkan padaku, aku pun berniat untuk terus berusaha agar penghidupan bangsa kurcaci itu semakin lama semakin baik, karena hal ini aku anggap sebagai mandat yang sangat penting," imbuh Chu Pian Ran.


"Baiklah nak, ayah akan terus mendukung semua usahamu itu... Kau jangan khawatir, kita semua akan merahasiakan hal ini rapat-rapat," sambung tuan Chu.


"Kalau begitu, biar batu-batu berlian itu aku jualkan, tapi jumlahnya sedikit-sedikit saja secara bertahap agar tidak menimbulkan kecurigaan pembeli," sela Lee Jiang Wook.


"Iya suamiku, aku juga memiliki pemikiran demikian... Kalau begitu, 5 batu berlian ini aku serahkan padamu," kata nyonya muda Lee sambil memberikan 5 batu berlian itu pada suaminya.


Sejak hari itu, setiap hari, Chu Pian Ran dan Zhin Zhuan selalu datang ke gua bangsa kurcaci untuk mengantar barang-barang kebutuhan para manusia mini yang dibeli dengan menggunakan uang hasil penjualan dari batu-batu berlian.


Adapun beberapa barang yang telah dibawa seperti : sprei tebal, selimut, bantal, pakaian, rak kecil dan masih banyak lagi. Sementara itu, untuk kebutuhan makan sehari-hari, dua peri cantik itu pasti menyuplai bahan makanan mentah dan perbumbuannya setiap hari, mengingat jumlah kurcaci itu ada 72 orang.


Di lain sisi, keadaan nyonya Fong Chong pun sudah sembuh seperti sediakala setelah satu minggunan yang lalu kurcaci wanita paruh baya itu meminum rebusan tanaman obat dari peri Jinfeng Zhui.

__ADS_1


Tentu saja kesembuhan istri dari kepala suku bangsa kurcaci itu disambut gembira oleh manusia mini lainnya, khususnya tuan Fong Chong dan anaknya Fong Chai.


****


Seperti biasanya, hari ini Chu Pian Ran dan Zhin Zhuan datang ke gua para kurcaci, yang rencananya mereka berdua akan mendekorasi gua makhluk mini itu dengan macam-macam barang hiasan agar membuat suasana gua itu terlihat hidup dan menarik.


Maka, tampaklah dua peri cantik itu dengan dibantu oleh para kurcaci pria menghias gua tersebut dengan diselingi bincang-bincang santai dan canda tawa.


Sementara itu, para manusia mini perempuan sedang memasak makanan sekaligus menyiapkan teh hangat untuk orang-orang yang sedang menghias gua.


"Terimakasih banyak nyonya muda Lee dan nona Zhin Zhuan, kalian telah membantu kami hingga sekarang kehidupan kami menjadi lebih baik...," kata Fong Chong saat mereka sedang istirahat siang di gua utama.


"Kau tidak perlu berterimakasih tuan Fong Chong, bukankah kau sendiri yang memberikan amanat padaku untuk mengelola batu-batu berlian itu. Lagipula dengan uang hasil penjualan berlian-berlian itu, aku juga bisa membantu rakyat yang tidak mampu di wilayah Qin menjadi semakin lebih baik lagi kehidupannya," jawab Chu Pian Ran.


Setelah berbincang selama satu jam an, nyonya muda Lee dan si peri pegar emas pun berpamitan.


Pada saat beberapa manusia mini itu mengantar Chu Pian Ran dan Zhin Zhuan hingga di depan mulut gua, tiba-tiba mata mereka melihat 'benda silau' yang jatuh dari langit, yang tentu saja membuat semua orang yang ada di tempat itu sangat keheranan dan penasaran.


Tak berapa lama, Chu Pian Ran pun terbang dengan menggunakan ilmu peringan tubuhnya untuk mencari dan menemukan 'benda aneh' tadi.


Lima belas menit kemudian, terlihatlah nyonya muda Lee terbang mendekat ke arah gua sambil tangan kanannya mengepit benda besar seperti telur yang warnanya kuning emas dan panjangnya sekitar 40 cm an.


"Nyonya muda, benda apa itu? Kok bentuknya seperti telur...," tanya Fong Chai setelah Chu Pian Ran mendaratkan kakinya di tanah yang langsung dikelilingi oleh Zhin Zhuan dan para kurcaci.


"Ini adalah telur dinosaurus...," sahut peri cantik itu asal-asalan sambil meletakkan telur berwarna emas itu di tanah.


"Dinosaurus itu apa nyonya muda? Kami kok belum pernah mendengarnya...," sela Fong Hung, si manusia mini tertua sangat ingin tahu.


"Dinosaurus itu binatang purba yang badannya tinggi besar, giginya sangat tajam dan sukanya makan manusia...," jawab Chu Pian Ran dengan memberikan penekanan pada ucapannya.


Mendengar perkataan nyonya muda Lee, spontan, para kurcaci itu pun langsung lari terbirit-birit menuju ke gua lalu mereka mengintip dari mulut gua.


"Kak, jangan menakut-nakuti merekalah... Kan dinosaurus sudah punah sejak dulu," ucap si peri pegar emas dengan wajah sedikit cemberut.


"Nyonya muda, kenapa kau malah tertawa keras?! Kau membohongi kami ya?!" seru Fong Chai dari balik mulut gua.


"Iya deh maaf-maaf, aku tadi hanya bercanda!" sahut Chu Pian Ran dengan suara keras sambil menahan geli.


"Huuuu...!!" para manusia mini itu pun serempak menyerukan 'huuuu' dengan hati dongkol.


Tak berapa lama, para kurcaci itu pun keluar dari gua dan berjalan mendekati nyonya muda Lee.


"Sebenarnya itu benda apa nyonya muda?" kali ini ganti si kepala suku para manusia mini yang bertanya.


"Menurut penerawanganku, ini adalah telur burung elang emas...," balas peri cantik itu.


"Memangnya di dunia ini ada burung elang emas? Kenapa telurnya sebesar ini?" tanya Fong Hung keheranan.


"Aku juga tidak tahu tuan Fong Hung, mungkin saja ini telur elang emas raksasa milik salah satu dewa atau dewi yang ada di dunia atas...," ujar Chu Pian Ran.


"Kalau ini benar telur elang emas raksasa, kami tidak mau menampungnya di sini. Jangan-jangan saat telurnya nanti menetas dan tumbuh sangat besar lalu malah mematuki kami," lanjut kurcaci senior itu.


"Kau tidak perlu khawatir kakek Fong Hung, aku akan membawa telur ini pulang. Kebetulan putri kecilku kan bisa berkomunikasi dengan beberapa binatang," jelas nyonya muda Lee.


Mendengar keterangan peri cantik itu pun para kurcaci lumayan kaget.

__ADS_1


"Apa iya putri nyonya muda bisa bicara dengan hewan? Jangan-jangan nyonya muda hanya berbual saja seperti membohongi kami tadi..." tanya Fong Chai tidak percaya.


"Kalau tidak percaya tanya saja pada Zhin Zhuan," tukas peri cantik itu yang kemudian di iya kan oleh si peri pegar emas.


"Wih, kalau begitu bukan nyonya muda saja yang hebat, tapi putrinya juga. Jadi penasaran ingin bertemu dengan putri nyonya muda...," timpal Fong Chai.


"Kalau masih sekecil itu, aku belum bisa mengajaknya kemari. Takutnya saat dia nanti sedang berceloteh, malah keceplosan dan membicarakan kalian...," timpal Chu Pian Ran.


"Oh ya, aku minta kainnya untuk membungkus telur ini dong," sambung nyonya Lee.


Tak berapa lama, si Fong Chai pun membalikkan tubuh mininya lalu berlari ke arah gua untuk mengambil kain yang diminta oleh peri cantik itu.


Beberapa menit kemudian, setelah Chu Pian Ran membungkus telur emas itu dan mengepitnya dengan tangan kanannya, dia dan Zhin Zhuan pun merubah wujudnya menjadi berkas cahaya putih lalu melesat terbang untuk kembali ke ibukota Qin.


****


"Yu huu, aku pulaang...," ucap Chu Pian Ran begitu masuk ke dalam ruang kerja ayahnya yang saat itu kedua orang tuanya, suaminya dan putri kecilnya sedang berkumpul di ruangan itu.


Melihat ibunya sudah pulang, Lee Chu Mian Yin pun langsung bangkit berdiri dan mendekati perempuan cantik itu.


"Bu Lan Lan sudah pulang? Bawa apa itu?" tanya gadis kecil itu sambil menunjuk bungkusan besar yang dikepit oleh tangan kanan ibunya.


"Ini telur burung sayang...," jawab nyonya muda Lee.


"Mana ada telur burung sebesar itu... Kamu jangan berbohong pada anak kecil Ran'er...," sela nyonya Chu dengan bibir sedikit cemberut karena sejak putrinya menjadi peri, perempuan cantik itu menjadi suka bercanda.


"Aku tidak berbohong bu, malah ini adalah telur burung elang emas..."


Untuk membuktikan perkataannya, Chu Pian Ran pun kemudian meletakkan bungkusan besar itu di lantai lalu membuka ikatan kain pembungkus itu.


Begitu kain itu telah terbuka, kedua orang tuanya dan suaminya pun sangat terkejut.


"Darimana pula kamu mendapatkan telur emas sebesar ini nak?" tanya tuan Chu sangat penasaran.


"Tadi sewaktu aku dan Zhin Zhuan berniat mau pulang dari tempat 'para makhluk itu', tiba-tiba kami melihat benda yang menyilaukan mata jatuh dari langit ayah. Setelah aku cari dan kutemukan ternyata ya ini... Saat aku terawang tadi, di dalamnya ada bakal anak elang emas," terang Chu Pian Ran dengan sengaja menggunakan kalimat 'para makhluk itu' sebagai kata ganti kurcaci karena di ruangan itu ada Lee Chu Mian Yin.


"Astaga... Telurnya saja sebesar itu apalagi jika nanti elangnya tumbuh dewasa. Apa itu tidak bahaya jika dipelihara di rumah ini?" ujar nyonya Chu.


"Ibu tidak perlu khawatir, kan aku bisa mengendalikan pikiran binatang dan Yin'er pun juga bisa berkomunikasi dengan hewan. Rencananya elang emas ini nanti biar jadi binatang peliharaan Yin'er," lanjut nyonya muda Lee.


"Kamu yakin akan melakukan itu istriku?" tanya Lee Jiang Wook merasa gamang dengan rencana istrinya.


"Aku yakin suamiku... Sudahlah kalian tidak perlu khawatir, semua akan baik-baik saja," jawab Chu Pian Ran.


Tak berapa lama, perempuan cantik itu pun berjongkok di depan putrinya.


"Yin'er mau binatang peliharaan tidak?" tanya nyonya muda Lee sambil menatap putrinya.


"Mau sekali bu," jawab gadis kecil itu.


"Di dalam telur itu ada bayi burung elang emasnya. Nanti kalau sudah menetas bisa jadi hewan peliharaan Yin'er...," terang Chu Pian Ran sambil jari telunjuk kanannya menuding telur burung yang ada di atas meja.


"Bulung elang? Iya bu, Yin'el mau pelihala bulung elang...," sahut Lee Chu Mian Yin.


"Nanti telur burungnya ibu letakkan di kamar Yin'er ya. Kalau sudah menetas dan keluar bayi burungnya, Yin'er harus menjaga bayi burung itu baik-baik...," lanjut perempuan cantik itu.

__ADS_1


"Iya bu..."


Beberapa menit kemudian, terlihatlah Chu Pian Ran sedang meletakkan kotak kayu beralaskan sepotong selimut tebal yang di atasnya ada telur burung elang emas di kamar Lee Chu Mian Yin.


__ADS_2