
Penampilan Chu Pian Ran telah berubah. Kini dia kembali ke identitas aslinya sebagai seorang gadis, namun dia tetap memakai cadar untuk menutupi sebagian wajahnya.
Saat ini, rombongan Lee Jiang Wook melanjutkan perjalanan kembali ke ibukota tanpa tergesa-gesa. Kali ini pemuda itu dan Chu Pian Ran naik di atas kuda yang sama.
Jangan ditanya bagaimana sikap Lee saat berkuda dengan kekasihnya itu. Pemuda itu tak bosan-bosannya mencium pipi bercadar gadis itu.
Anak buah Lee yang berada di baris paling belakang hanya bisa berkata-kata dalam hati melihat tingkah majikannya itu.
Chu Pian Ran sendiri pun tidak berkomentar apa-apa dengan perlakuan Lee padanya.
Dalam perjalanan pulang, hati Lee benar-benar merasa bahagia karena kini dia telah berkumpul kembali dengan kekasihnya.
Pemuda itu sudah mempunyai rencana, jika nanti mereka telah di ibukota, dia akan meminta orang tuanya untuk mempertunangkannya dengan Chu Pian Ran.
Lee ingin agar ikatan hubungan mereka semakin kuat dan mengurangi beban kekhawatiran Lee yang selama ini merasa takut jika kekasihnya itu direbut oleh orang lain.
Perjalanan mereka ke ibukota membutuhkan waktu hampir satu bulan.
Sebelum jarak dua kilo sampai ke ibukota, Lee menyuruh salah satu anak buahnya untuk mendahului mereka ke ibukota dan menyampaikan pesan pada paman dan bibi Chu bahwa sebentar lagi mereka akan tiba.
Tak lupa, Lee juga menyuruh anak buahnya itu untuk memberi kabar pada kedua orang tuanya.
Tak terbayangkan betapa gembiranya tuan, nyonya Chu dan semua pelayan yang ada di kediaman Chu. Dengan segera, nyonya Chu memerintahkan para pelayan untuk memasak berbagai macam makanan.
Sebelum melewati gerbang masuk ibukota, Chu Pian Ran melepas cadarnya agar tidak menarik kecurigaan orang lain.
Saat memasuki ibukota, Lee menarik tali kekang kuda dan membuat si kuda itu berjalan kaki karena memang banyak orang yang sedang lalu lalang di jalanan ibukota.
Empat puluh menit kemudian sampailah mereka di depan kediaman keluarga Chu.
Setelah masuk gerbang kediaman, terlihatlah tuan, nyonya Chu dan semua pelayan menyambut kedatangan mereka.
Nyonya Chu berlari dan langsung memeluk putrinya, wanita paruh baya itupun meneteskan air matanya.
Tuan Chu pun kemudian mendekati istri dan putrinya, lalu memeluk mereka berdua. Kini keluarga itu telah berkumpul kembali.
Para pelayan tak terkecuali Xi Er turut meneteskan air mata mereka. Mereka merasa senang nona muda mereka kembali dan kini nona mudanya telah menjadi orang hebat.
Tuan Chu membawa istri, putrinya dan Lee masuk ke dalam rumah.
Merekapun akhirnya makan bersama.
Para anak buah yang mengikuti Lee dan Chu Pian Ran telah kembali terlebih dahulu ke kediaman Lee.
Di kediamannya, tuan dan nyonya Lee juga sedang tidak sabar menunggu kedatangan putranya.
__ADS_1
****
Pagi itu Chu Pian Ran masih tidur nyenyak di atas ranjangnya. Tuan dan nyonya Chu sudah berpesan pada Xi Er agar tidak membangunkan Chu Pian Ran dan membiarkan putrinya istirahat sepuasnya.
Menjelang tengah hari datanglah Lee untuk menjenguk kekasihnya.
Karena gadis itu masih tidur juga, Lee ikut naik di atas ranjang lalu membelai rambut gadis itu dan beberapa kali mencium pipinya.
Merasa ada yang mengganggu tidurnya, Chu Pian Ran membuka mata dan melihat Lee sudah berbaring di sampingnya.
"Halo sayang, bagaimana kabarmu? Mudah-mudahan aku tidak mengganggu tidurmu." Kata Lee.
"Apakah ini sudah siang?" Tanya gadis itu tak bersemangat.
"Sudah hampir tengah hari." Balas Lee.
"Apa kau tidak lapar sudah tidur sejak kemarin malam? Jangan dibiasakan sering puasa, nanti kau bisa sakit." Pesan Lee dengan tangan kanannya membelai rambut gadis itu.
"Atau kuminta saja Xi Er menyiapkan makanan untukmu." Lanjut pemuda itu.
Gadis itu mengangguk.
Lee turun dari ranjang Chu Pian Ran untuk mencari Xi Er.
Lima belas menit kemudian gadis itu sudah menyantap makanan yang disediakan Xi Er dengan ditunggui Lee.
"Tentu saja sudah sedari tadi." Jawab Lee.
Sekalipun Lee berkata sudah makan, gadis itu beberapa kali menyuapi pemuda itu dan Lee tidak menolak.
"Aku sudah kenyang sayang. Kau habiskan saja semua makanan ini. Lihatlah tubuhmu sekarang menjadi kurusan." Ucap Lee.
Chu Pian Ran menuruti Lee, gadis itu menghabiskan semua makanan yang ada di meja tanpa sisa.
Selesai makan, Chu Pian Ran kemudian mandi.
Lee masih dengan setia menunggu kekasihnya itu di depan teras kamar.
Mereka berdua akhirnya mengobrol di taman bunga kediaman Chu.
"Bagaimana keadaanmu apakah sudah lebih baik?" Tanya Lee.
"Lumayan." Balas Chu Pian Ran.
"Bagaimana kalau besok malam kita jalan-jalan?" Lanjut Lee.
__ADS_1
"Iya aku mau." Gadis itu memberikan jawaban yang singkat lagi.
"Apakah tidak ada yang ingin kau ceritakan padaku? Bukankah kau melewati banyak hal yang menegangkan di luar sana." Sambung Lee.
"Untuk saat ini aku sedang tidak ingin bicara banyak Lee. Kapan-kapan saja critanya." Ucap gadis itu.
"Baiklah... Oh ya, besok lusa kedua orang tuaku akan ke sini untuk menjengukmu." Imbuh Lee
Gadis itu mengangguk.
Lee menghadapkan tubuhnya pada gadis itu dan menatapnya lekat-lekat.
Merasa diperhatikan, Chu Pian Ran pun memalingkan wajahnya pada pemuda itu.
"Ada apa?" Tanya Ran Er.
"Kau yakin baik-baik saja?" Ucap Lee sambil membelai pipi kekasihnya.
"Iya aku baik-baik saja. Mungkin karena lelah tubuhku masih lesu." Jelas Chu Pian Ran .
Lee lebih merapatkan tubuhnya pada gadis itu.
"Jangan seperti ini Lee, tidak enak jika dilihat oleh pelayan." Kata Chu Pian Ran.
"Biarkan saja mereka melihat. Kan kita memang pasangan kekasih dan baru bertemu kembali." Sahut Lee.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu?" Tanya pemuda itu.
"Tanya apa?" Balas Chu Pian Ran.
"Bagaimana kalau kita bertunangan?" Ucap Lee.
"Aku baru saja pulang Lee dan kau langsung membicarakan hal itu." Kata Chu Pian Ran.
"Bertunangannya tidak harus dalam waktu dekat ini sayang. Mungkin beberapa bulan lagi. Bagaimana, kau setuju?" Tanya Lee dengan harapan gadis itu akan menyetujui keinginannya.
"Terserah kau saja." Jawab Chu Pian Ran.
"Benarkah? Jadi kau setuju?" Tanya Lee dengan perasaan senang.
"Tapi janji jangan dalam waktu dekat ini." Sahut gadis itu.
"Aku janji. Terimakasih banyak ya sayang." Balas Lee dengan semangat.
Tanpa rasa sungkan, pemuda itu meraih belakang kepala Chu Pian Ran lalu mencium pipinya berkali-kali.
__ADS_1
Chu Pian Ran sedikit jengah dengan sikap Lee, namun dia tidak protes sama sekali.
Tanpa mereka berdua sadari, sedari tadi tuan dan nyonya Chu sedang memperhatikan tingkah mereka.