
"Dasar iblis terkutuk! Berani-beraninya kau masuk istanaku dan mencuri mustika kehidupanku. Kau berniat ingin menghidupkan ayahmu kembali ha?! Cepat kembalikan mustika itu atau aku akan memusnahkan jiwamu selama-lamanya!" kata Dewi Chang'e dengan suara lantang begitu Gong Fang Chong berhasil dikepung olehnya dan lima prajuritnya setelah aksi kejar-kejaran selama lebih dari tiga jam.
"Memangnya kenapa jika aku berniat membangkitkan ayahku kembali? Aku tidak takut sama sekali dengan ancamanmu dewi. Sekalipun jika hari ini jiwaku benar-benar musnah di tangan kalian, di masa-masa yang akan datang pasti ada lagi anggota dari suku iblis yang akan membuat onar lagi karena memang dari awal kami tercipta untuk berbuat demikian. Ha ha ha ha ha...!" sahut anak raja iblis itu dingin yang diakhiri dengan suara tertawanya yang keras, padahal itu semua hanya untuk menutupi kepanikannya saja, sebab pemuda iblis itu khawatir jika meditasi yang dia lakukan selama ribuan tahun hanya akan sia-sia saja jika dia tidak berhasil mengumpulkan jiwa ayahnya yang tercerai berai dan membangkitkannya.
Tak ingin basa-basi lagi, dewi cantik itu dengan diikuti lima prajuritnya menyerang Gong Fang Chong dengan kekuatan penuh. Maka, terjadilah pertempuran sengit diantara mereka hingga berlangsung selama setengah hari.
Karena tidak ingin membuang energinya terlalu banyak, maka Dewi Bulan pun melepaskan jurus pamungkas tertingginya agar anak raja iblis itu cepat bertekuk lutut dan dia segera mendapatkan benda yang sangat berharga miliknya kembali, mengingat jika mustika itu jatuh ke tangan makhluk jahat dan disalahgunakan maka akan terjadi bencana besar, karena benda itu dapat mengumpulkan jiwa atau roh yang tercerai berai dari makhluk golongan dewa dewi, iblis, siluman, peri dan membangkitkan mereka kembali.
Begitu cahaya itu terlepas dari tangan kanan Dewi Chang'e dan mengenai Gong Fang Chong, terpentallah tubuh anak raja iblis itu hingga puluhan meter ke belakang sambil memuntahkan darah hitam.
Tak ingin berlama-lama, dewi cantik itu pun langsung mengikat tubuh Gong Fang Chong dengan kekuatan supranaturalnya dan mulailah dia menggeledah pakaian pemuda iblis itu untuk mencari mustikanya.
Karena tidak menemukan benda berharganya, Dewi Bulan yang sebenarnya memiliki sifat lemah lembut dan ramah itu pun menjadi garang dan langsung menghajar anak raja iblis itu dengan kekuatan supranaturalnya hingga sekarat.
Setelah memenjarakan Gong Fang Chong di kurungan besi bersegel kuat, maka tak menunggu lama Dewi Chang'e pun segera menjelajah ke berbagai penjuru alam semesta untuk mencari keberadaan mustika kehidupannya. Sementara itu, Istana Bulan nya diserahkannya kepada saudaranya, Dewa Fu Xing, si dewa bintang selama dia tidak ada di tempat.
****
Satu minggu sudah mustika kehidupan Dewi Chang'e bersarang di raga Chu Pian Ran. Tanpa disadari dan dirasakan oleh nyonya muda Lee, mustika itu telah mengalirkan energinya yang membuat jiwa peri bunga Mei Hwa Lie yang menumpang di tubuh perempuan cantik itu pun mengalami proses kebangkitan.
Maka pagi itu, saat Chu Pian Ran sedang menemani putrinya jalan-jalan di taman kediaman mertuanya, tiba-tiba saja perempuan cantik itu pun jatuh tersungkur ke tanah dengan merasakan semacam sengatan aliran listrik di sekujur tubuhnya yang membuat nyonya muda Lee pun meringis kesakitan.
Otomatis, melihat keadaan ibunya yang tiba-tiba aneh dan kesakitan seperti itu, Lee Chu Mian Yin pun berteriak 'bu yan yan' berulang kali sambil memeluk erat tubuh ibunya hingga teriakannya mengundang kedatangan dua orang pelayan.
Begitu dua pelayan perempuan itu melihat apa yang terjadi dengan majikannya, berteriaklah mereka minta tolong dan akhirnya membuat semua penghuni kediaman Lee pun berkumpul di taman sambil menyaksikan nyonya mudanya yang merintih kesakitan dengan wajah panik.
Sementara itu, saat nyonya Lee tiba di taman, dengan segera wanita paruh baya itu pun mengangkat paksa tubuh cucunya yang waktu itu masih memeluk erat tubuh ibunya lalu digendongnya menjauh dari Chu Pian Ran.
Tentu saja, Lee Chu Mian Yin yang saat itu merasa kasihan melihat ibu tercintanya merintih kesakitan, sempat memberontak saat dalam gendongan neneknya sambil bibir mungilnya berulang kali mengucapkan kata 'bu yan yan'. Akhirnya, wanita paruh baya itu pun menyerahkan cucunya pada salah seorang pelayannya agar dibawa pergi dari tempat itu sebagai antisipasi pencegahan jika ada sesuatu yang terjadi kemudian yang tidak patut dilihat oleh anak sekecil Lee Chu Mian Yin.
Nyonya Lee yang waktu itu diserang rasa khawatir tingkat tinggi pun akhirnya memerintahkan beberapa pelayannya untuk memanggil suaminya, besannya, dan putranya.
Sebenarnya, semua orang yang saat itu sedang berkumpul dan menyaksikan Chu Pian Ran sedang merintih kesakitan dalam posisi duduk di tanah ingin sekali menolong perempuan cantik itu, namun begitu tubuh nyonya muda itu mengeluarkan cahaya putih yang merambati raganya tanpa henti, mereka pun mengurungkan niatnya dan berdiri agak menjauh dari Chu Pian Ran.
__ADS_1
Sementara itu, salah seorang pelayan kediaman Lee yang mendapat tugas untuk memanggil tuan Lee dan tuan Chu di istana, sesampainya di tempat itu, pria pelayan itu pun menyampaikan maksud kedatangannya dengan sejujur-jujurnya pada prajurit penjaga gerbang.
Begitu prajurit penjaga gerbang itu tahu jika ada sesuatu yang gawat terjadi pada putri angkat kaisar, maka dengan setengah berlari prajurit itu pun menyusuri jalanan istana menuju ruang aula yang mana saat itu sidang rutin masih berlangsung.
"Ada apa prajurit?" tanya kaisar Qin Shi Huang keheranan saat ada salah satu prajuritnya masuk ke dalam aula dengan langkah terburu-buru dan wajah tegang.
"Mohon ampun yang mulia kaisar, bukan maksud hamba untuk menggangu acara persidangan ini, namun ada berita mendesak yang harus hamba sampaikan segera pada tuan Lee Jiang Xun dan tuan Chu Jeong Byun," jawab si prajurit dengan posisi berlutut dan sikap kedua tangan yang menghormat sambil sedikit membungkukkan badannya.
Begitu mendengar namanya disebut, tuan Lee dan tuan Chu pun terkejut lalu kedua pria paruh baya itu saling berpandangan untuk sesaat karena kebetulan mereka berdua berdiri sejajar yang hanya terpisah jarak satu meteran.
"Berita mendesak apa prajurit?" lanjut kaisar penasaran dengan alis sedikit berkerut.
"Menjawab yang mulia kaisar. Menurut pelayan yang menemui hamba tadi, pelayan itu mengatakan jika saat ini tuan puteri Nanyang sedang mengalami suatu keanehan yang membuat semua penghuni kediaman Lee panik," balas prajurit itu.
Mendengar keterangan dari si prajurit, wajah tuan Lee dan tuan Chu pun berubah tegang. Sementara, para pejabat istana yang lain akhirnya ikut penasaran dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.
Tak menunggu lama, karena tidak ada hal penting yang perlu dibahas lagi, maka kaisar Qin Shi Huang menyudahi acara persidangan hari itu dan mempersilahkan para pejabat istananya untuk membubarkan diri. Sedangkan sang kaisar, karena ingin tahu apa yang sedang terjadi pada putri angkatnya pun turut ke kediaman Lee bersama tuan Lee dan tuan Chu.
Saat ini, berkumpullah puluhan orang di kediaman Lee, mulai dari kaisar Qin Shi Huang, Qin Wu Zhu, anggota keluarga Lee, anggota keluarga Chu, Lu Zee, Zhin Zhuan, Xi Er dan para pelayan kediaman Lee.
Jika tadi sebelum kaisar Qin Shi Huang datang, tubuh Chu Pian Ran hanya dirambati oleh cahaya putih secara terus-menerus. Namun sekarang ini, ada hal aneh lain yang membuat semua orang yang melihatnya semakin merasa bertambah khawatir bercampur heran, yakni di dekat tubuh nyonya muda Lee muncul sosok perempuan lain namun wujudnya transparan, yang tak lain dan tak bukan itulah sosok peri bunga Mei Hwa Lie yang selama ini menumpang di raga Chu Pian Ran yang sedang berusaha memisahkan jiwanya dari tubuh nyonya muda Lee namun merasa kesulitan.
Saat di kediaman Lee terjadi sesuatu yang lumayan menggemparkan dan mengkhawatirkan, tampaklah di luar gerbang ibukota Qin sosok Dewi Chang'e yang sedang menyamar menjadi manusia yang awalnya berniat ingin menjelajahi ibukota untuk mencari keberadaan mustika kehidupannya.
Namun, begitu dewi cantik itu merasakan aura dari benda yang sangat berharga miliknya sedang bereaksi lumayan kuat, maka dengan segera Dewi Bulan pun merubah wujudnya menjadi burung merpati dan mencari sumber aura itu berasal.
Setelah lima belas menit terbang, sampailah burung merpati jelmaan Dewi Chang'e itu di atap kediaman Lee dan dia pun terkejut begitu melihat puluhan orang sedang menyaksikan pemandangan aneh yang ada di depan mereka.
Karena Dewi Bulan tahu situasi yang sedang terjadi, maka dewi cantik itu pun dengan segera merubah wujudnya menjadi manusia lagi lalu terbang ke arah dua sosok perempuan yang sedang duduk di tanah sambil kesakitan itu dan kemudian dengan kekuatan supranaturalnya dia memberi bantuan.
Rupanya kehadiran Dewi Chang'e yang tiba-tiba itu telah membuat semua orang yang hadir di tempat itu merasa terkejut dan penasaran, namun tidak ada satu pun dari mereka yang berani bertanya mengingat perempuan cantik itu sedang menyalurkan kekuatan supranaturalnya melalui telapak tangan kanannya ke tubuh Chu Pian Ran.
Setelah dua jam menstransfer kekuatan supranaturalnya, maka sosok perempuan transparan yang awalnya berada di samping tubuh Chu Pian Ran kini pun menghilang dan ternyata jiwa Chu Pian Ran telah melebur dengan jiwa peri bunga Mei Hwa Lie yang membuat nyonya muda Lee sekarang berubah menjadi peri dengan kekuatan supranatural berlipat dan bisa hidup hingga puluhan ribu tahun.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, keluarlah mustika kehidupan Dewi Bulan dari kepala Chu Pian Ran dan begitu benda magis itu keluar dari tubuhnya, tergeletak pingsanlah nyonya muda Lee, sementara benda magis milik Dewi Chang'e kini telah berada di atas telapak tangan kanan dewi cantik itu dan beberapa detik kemudian menghilang karena disimpan dengan kekuatan supranaturalnya.
Menyaksikan istri tercintanya pingsan, maka tanpa berpikir panjang lagi, Lee Jiang Wook menghampiri tubuh Chu Pian Ran dan mengangkatnya lalu dibawa menuju ke kamar untuk dibaringkan di atas ranjang dengan diikuti oleh nyonya Chu, nyonya Lee, Zhin Zhuan dan Xi Er dengan masing-masing memperlihatkan raut wajah sangat cemas.
Sedangkan para pelayan yang lain mulai membubarkan diri dan kembali melanjutkan aktifitas mereka yang sempat ditinggalkan tadi dengan raut wajah cemas juga dan menyimpan tanda tanya besar dengan semua keanehan yang baru mereka lihat.
Sementara itu, kaisar Qin Shi Huang beserta tuan Chu dan tuan Lee mendekati Dewi Bulan untuk menanyakan sesuatu yang sudah mereka pendam sedari tadi.
"Maaf nona, jika boleh saya tahu, siapakah nona ini dan mengapa tiba-tiba bisa datang di tempat ini?" tanya pria penguasa nomer satu di wilayah Qin itu.
Untuk sesaat, Dewi Chang'e pun memperhatikan beberapa manusia yang sedang berdiri di hadapannya itu secara bergantian.
"Bisakah kita duduk? Ada hal penting yang ingin kubicarakan pada kalian semua," sahut Dewi Bulan.
Maka, tuan Lee pun membawa para tamu kehormatannya menuju ke ruang tamu.
"Awalnya, aku datang ke ibukota ini untuk mencari benda berhargaku yang menghilang, namun aku tidak menyangka jika keadaannya bisa seperti ini. Untunglah aku segera bertindak, jika tidak, tubuh manusia perempuan itu pasti tidak akan tahan dan meninggal karena dimasuki oleh mustika kehidupanku," kata Dewi Chang'e memecah kesunyian.
Mendengar kata 'mustika kehidupan' yang diucapkan perempuan cantik itu pun semua orang yang ada di dalam ruang tamu sangat terkejut.
"Mustika kehidupan? Siapakah anda sebenarnya nona?" lanjut kaisar Qin.
"Perkenalkan semuanya, aku adalah Dewi Chang'e si Dewi Bulan..." ucap dewi cantik itu memperkenalkan dirinya sambil sedikit membungkukkan badannya dari tempat duduknya.
Mendengar jawaban Dewi Bulan, maka semua pria yang ada di dalam ruangan itu pun lagi-lagi sangat terkejut dan berniat bersujud di hadapan dewi cantik itu namun dengan cepat dicegah oleh Dewi Chang'e.
"Kalian tidak perlu sungkan dan tidak perlu takut padaku, anggap saja aku sama seperti kalian semua...," ujar Dewi Bulan.
"Sebelumnya, aku benar-benar minta maaf sudah membuat kalian semua menghadapi kejadian yang sangat mengkhawatirkan tadi akibat kelalaianku. Jika saja mustika kehidupanku tidak dicuri dan dibuang oleh anak raja iblis terkutuk itu, pasti hidup kalian tidak akan terganggu seperti ini...," sambung Dewi Chang'e.
"Yang mulia Dewi Bulan tidak perlu minta maaf karena penyebab masalah ini bukanlah yang mulia dewi... Awalnya kami semua tadi memang sempat sangat khawatir dengan keadaan perempuan yang sangat kami kasihi, namun karena sekarang yang mulia Dewi Chang'e ada di kediaman ini, maka kami percaya yang mulia dewi pasti membantu kami...," kata tuan Chu.
"Karena secara tidak langsung yang menyebabkan masalah ini terjadi adalah aku, maka tentu saja aku akan bertanggung jawab sampai tuntas, lagipula perempuan cantik tadi masih harus mendapat penanganan khusus hingga beberapa hari ke depannya...," jelas dewi cantik itu.
__ADS_1
Mendengar jawaban Dewi Bulan itu semua pria yang ada di ruang tamu itu pun menjadi terhenyak. Mereka memiliki pemikiran yang sama jika saat ini Chu Pian Ran sedang mengalami sesuatu yang sangat serius.