
Kamar Chu Pian Ran
Sejak bangun pagi tadi, Chu Pian Ran merasa tidak nyaman pada belakang bahu kanannya.
"Mungkin karena salah posisi tidur nona." Kata Xi Er yang saat itu sedang membersihkan kamar majikannya.
"Bisa jadi." Ucap Chu Pian Ran singkat sambil memijit-mijit belakang bahu kanannya.
"Nanti setelah selesai bersih-bersih, Xi Er akan bantu untuk memijit bahu nona." Lanjut pelayan itu.
"Iya Xi, terimakasih." Balas gadis itu.
Seperti yang dijanjikan, setelah bersih-bersih Xi Er memijit bahu kanan Chu Pian Ran.
Tapi bukannya berkurang, rasa tidak nyaman itu berubah menjadi panas.
"Rasanya kok malah panas ya Xi?" Tanya majikannya.
"Masa sih nona." Ujar Xi Er masih terus memijit bahu kanan majikannya itu.
"Coba Xi tolong kamu lihat sebentar belakang bahuku." Pinta gadis itu.
Xi Er membuka sedikit pakaian majikannya.
"Astaga, apa ini?!" Pelayan itu terkejut saat melihat ada coretan tidak jelas di belakang bahu Chu Pian Ran.
"Ada apa Xi? Ada panu, kadas atau kurap?" Tanya gadis itu sekenanya.
"Panu, kadas, kurap itu apa nona?" Balas Xi Er dengan polosnya.
"Nama penyakit kulit." Jawab Chu Pian Ran.
"Wah, Xi Er juga tidak yakin nona ini namanya apa." Jelas pelayan itu.
"Memangnya apa yang kamu lihat di situ?" Lanjut majikannya.
"Anu nona, seperti coretan-coretan tidak jelas. Entahlah nona, saya juga tidak tahu ini apa." Sambung Xi Er.
"Coretan apa? Masa tiba-tiba muncul coretan di belakang bahuku. Coba kamu ambilkan cermin Xi." Ucap Chu Pian Ran.
Setelah mengambil cermin seperti yang diperintahkan sang majikan, Chu Pian Ran meminta Xi Er untuk menangkap coretan tidak jelas itu dengan cermin. Cukup susah memang.
Setelah mendapatkan posisi yang tepat, gadis cantik itu dibuat bingung dengan hasil tangkapan di cermin.
Apa ini? Batin Chu Pian Ran.
"Coba Xi tolong ambilkan lap basah atau minyak terserah untuk menghapus noda ini." Pinta majikannya lagi.
Pelayan itu pun menuruti apa yang diperintahkan oleh nona mudanya.
"Tidak bisa hilang nona." Kata Xi Er setelah beberapa kali mencoba menghapusnya.
"Ya sudah hentikan saja Xi. Aku tunggu saja sampai malam nanti. Siapa tahu bisa menghilang sendiri." Ucap Chu Pian Ran.
****
Sampai sore hari, rasa panas di belakang bahu Chu Pian Ran bukannya menghilang, malah rasa panasnya semakin bertambah.
Gadis itu menjadi bingung dibuatnya. Rasanya benar-benar tidak nyaman.
"Kau ini kenapa? Dari tadi aku lihat kok gelisah terus." Tanya Lee yang sore itu memang sedang ada di kediaman Chu.
"Belakang bahu kananku rasanya panas." Jawab gadis cantik itu.
"Panas kenapa? Salah posisi tidur?" Lanjut pemuda itu.
Chu Pian Ran hanya menggeleng.
"Mau aku pijit?" Tawar Lee.
"Tidak perlu, tadi sudah dipijit Xi Er." Balas gadis itu.
Tiba-tiba Chu Pian Ran meringis. Tangan kirinya secara reflek memegang bahu kanannya.
__ADS_1
"Apa tidak sebaiknya kau panggil tabib saja, salah urat mungkin." Sambung pemuda tampan itu.
Bukannya menjawab Lee, Chu Pian Ran malah bangkit berdiri dan menuju ke kamarnya dengan masih memegang bahu kanannya. Lee pun mengikuti gadis itu.
Chu Pian Ran masih meringis kesakitan.
"Tolong panggilkan Xi Er kemari." Pintanya pada pemuda itu.
Dengan segera Lee meninggalkan kamar gadis itu untuk memanggil Xi Er.
"Nona, kau kenapa?" Tanya Xi Er cemas begitu masuk kamar majikannya.
"Makin panas Xi." Balas Chu Pian Ran.
Lee yang tidak tahu apa-apa menjadi ikut bingung.
Xi Er lalu membuka sedikit pakaian majikannya dan dibuat terkejut. Karena kagetnya pelayan itu sampai mundur ke belakang.
"Ada apa Xi Er?" Tanya pemuda itu mulai panik.
Karena tidak ada respon dari Xi Er, Lee pun langsung memeriksa bahu Chu Pian Ran.
Lee juga dibuat terkejut.
"Xi Er, cepat panggil paman dan bibi Chu!" Perintah pemuda itu.
"Ba baik tuan muda."
Dengan setengah berlari Xi Er memanggil tuan dan nyonya Chu.
Tak beda dengan reaksi Xi Er dan Lee. Tuan dan nyonya Chu juga kaget melihat bahu kanan putrinya.
Saat pelayan itu memeriksa untuk yang pertama kali bahu majikannya tadi pagi, di bahu itu masih berupa coretan-coretan yang tidak jelas.
Namun sore ini, muncul sketsa gambar bunga yang agak kabur disertai kilatan-kilatan cahaya berwarna emas.
"Panas bu..." Keluh Chu Pian Ran sambil meringis.
"Apa tidak ada es batu untuk mengurangi rasa panasnya..." Lanjut gadis itu.
"Apa yang terjadi suamiku, ada apa ini?" Tanya wanita paruh baya itu dengan wajah khawatir.
"Aku akan memerintahkan orang untuk memanggil tabib Lou." Kata tuan Chu.
"Jangan ayah, jangan..." Chu Pian Ran mencegah ayahnya.
"Kenapa jangan Ran Er? Ayah merasa khawatir jika terjadi apa-apa padamu." Terang pria paruh baya itu pada putrinya.
"Ran Er hanya malu saja ayah. Tunggu Xi Er membawa es batu saja." Ucap gadis itu.
Beberapa saat kemudian Xi Er datang sambil membawa sebaskom es batu.
Untungnya es batu itu cukup membantu mengurangi rasa panas di bahunya.
Sekarang, di kamar itu tinggal Lee dan Chu Pian Ran.
"Entah kenapa akhir-akhir ini kamu semakin aneh saja..." Kata pemuda itu sambil mencelupkan lap kecil di baskom berisi es batu. Setelah memeras lap, pemuda itu lalu meletakkan lap itu di bahu gadis cantik itu.
"Mungkin benar apa yang kau katakan kalau aku ini penyihir. Setelah ini entah apalagi yang akan terjadi, aku juga bingung." Balas Chu Pian Ran.
Lee lalu mengelus rambut gadis itu.
"Apa kau jadi takut padaku?" Tanya Chu Pian Ran.
"Untuk apa aku takut padamu." Jawab pemuda tampan itu.
Lee mengambil lap tadi, kemudian mendekatkan kepalanya dan mulai menciumi bahu kanan gadis itu.
"Apa yang kau lakukan? Bahuku masih terasa panas tahu." Kata Chu Pian Ran.
Pemuda itu tidak menggubris kata-kata kekasihnya. Dia masih saja mencium bahu gadis itu sambil menghirup bau wangi tubuh Chu Pian Ran.
"Aku sudah pernah berkata kalau aku akan menerimamu apa adanya. Seaneh apapun dirimu nanti, aku akan tetap mencintaimu." Ucap Lee.
__ADS_1
"Kenapa kau jadi seperti ini. Suka mengambil kesempatan dalam kesempitan." Tukas gadis itu mulai risih dengan kelakuan kekasihnya.
"Memangnya kenapa? Aku berbuat seperti ini karena hatiku bahagia. Aku tidak mau menyia-nyiakan hubungan kita begitu saja." Balas Lee.
"Tapi kita ini belum menikah. Jangan bertindak terlalu jauh." Lanjut Chu Pian Ran sedikit ketus.
"Kalau begitu kita segera menikah saja." Kata pemuda tampan itu dengan entengnya.
"Jangan bicara yang tidak-tidak. Apa kau tidak tahu dengan kondisiku sekarang. Cepat tempelkan lap dinginnya lagi!" Sungut kekasihnya itu.
Lee pun menuruti perintah gadis itu.
****
Malam harinya, Chu Pian Ran susah tidur. Rasa panas di belakang bahunya masih terus terasa.
Dia sengaja menyuruh Xi Er untuk tidak menggantikan Lee karena gadis cantik itu merasa kasihan pada pelayannya itu jika harus semalaman begadang demi membantunya.
Awalnya pelayan itu menolak perintah majikannya, namun karena terus dilarang Chu Pian Ran, akhirnya mau tidak mau Xi Er meninggalkan kamar majikannya dan pergi tidur.
****
Karena malamnya sulit tidur, alhasil sekalipun matahari sudah terbit Chu Pian Ran belum juga bangun. Gadis itu masih bergelung di bawah selimutnya.
Xi Er maupun lainnya tidak berani mengganggu tidur nyenyaknya gadis itu.
Dengan langkah pelan pelayan itu masuk kamar majikannya untuk melakukan tugas rutinnya, bersih-bersih kamar.
"Sudah pagi juga Xi?" Tanya Chu Pian Ran sambil menguap.
"Eh, nona sudah bangun? Bagaimana keadaan nona sekarang? Bisa tidur nyenyak?" Berondong Xi Er.
"Bagaimana bisa tidur nyenyak Xi, bahu kananku rasanya panas sepanjang malam." Balas majikannya dengan masih rebahan di ranjang.
"Kalau begitu nona lanjutkan saja tidurnya. Tidak perlu mempedulikan saya yang mondar mandir ini." Lanjut pelayan itu.
"Coba kau lihat bahuku lagi Xi." Sambung Chu Pian Ran sambil mengubah posisinya ke duduk.
Xi Er melangkahkan kakinya dan mendekat ke ranjang majikannya.
"Bunga apa ini?" Gumam pelayan itu.
"Bagaimana Xi?" Tanya gadis cantik itu.
"Gambar bunganya semakin jelas dan berkilau nona. Tapi saya tidak tahu pasti ini bunga apa. Aneh sekali, bagaimana bisa bahu nona tiba-tiba muncul gambar bunga seperti ini." Cerocos Xi Er.
(Bunga mei hwa atau plum blossom. Bunga ini melambangkan : harapan baru, keindahannya memberikan kebahagiaan bagi sekelilingnya, kekuatan atau keteguhan, kasih ibu sepanjang masa, dan semerbak harumnya tetap dalam kenangan).
"Kau sudah bangun sayang?" Tanya nyonya Chu begitu masuk kamar putrinya.
"Selamat pagi nyonya besar..." Xi Er memberi salam pada wanita paruh baya itu.
Dengan segera nyonya Chu memeriksa kembali belakang bahu kanan putrinya.
"Bunga mei hwa?" Kata wanita paruh baya itu pelan, namun masih terdengar oleh telinga Chu Pian Ran.
"Bunga mei hwa bu?" Tanya putrinya.
"Iya, ini namanya bunga mei hwa." Terang ibunya.
Pikiran wanita paruh baya itu menyimpan tanda tanya besar.
"Lalu kenapa bisa tiba-tiba muncul di bahu Ran Er bu? Ran Er benar-benar tidak mengerti." Ucap gadis itu.
"Ibu juga tidak bisa menjelaskannya nak..." Balas nyonya Chu jujur.
"Apakah rasanya masih panas?" Tanya wanita paruh baya itu.
"Sudah lumayan berkurang bu." Jawab Chu Pian Ran.
"Syukurlah..." Ucap nyonya Chu sedikit lega.
__ADS_1
"Sekarang lebih baik kamu cepat mandi nak, ibu akan tunggu kamu di ruang makan." Lanjut wanita paruh baya itu.
"Baik bu." Balas gadis itu.