Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 129 Semua Anggota Keluarga Kerajaan Qin Turut Melihat Induknya Jinying


__ADS_3

Dua puluh menitan kemudian, terlihatlah di depan kediaman Chu, ada iring-iringan 6 buah kereta kuda dari istana lalu berhenti di tepi kiri jalan depan kediaman tersebut.


Adapun 6 buah kereta kuda tersebut mengangkut semua anggota keluarga kerajaan yang juga sangat ingin melihat burung elang emas raksasa peliharaan Dewa Shao Hao.


Kereta kuda pertama berisi ibu suri Ying Zhi Min, kaisar Qin Shi Huang, permaisuri Ling Mu Nian, dan pangeran kedua Qin Wu Zhu.


Kereta kuda kedua ditumpangi oleh selir agung Zhing Ru Yan, selir kehormatan Chang Bin Man, dan selir Zhou Lan Ting.


Kereta kuda ketiga dinaiki oleh putra mahkota Qin Wu Zhang, selir Liang Jing Zao, dan putra mereka yang bernama Qin Wu Dang.


Kereta kuda keempat mengangkut pangeran ketiga Qin Wu Lei, selir Chi Min Ru, dan putri mereka yang bernama Qin Chi Meen.


Kereta kuda kelima membawa pangeran keempat Qin Wu Zhi, selir Mian Xhi Hua, dan putra mereka yang bernama Qin Wu Yuan.


Dan kereta kuda yang terakhir berisi pangeran kelima Qin Wu Wang, selir Xiao Tan Ling, dan putra mereka yang bernama Qin Wu Lan.


Setelah semua anggota keluarga kerajaan itu turun dari kereta kudanya masing-masing, mereka pun kemudian melangkahkan kakinya menuju gerbang kediaman Chu.


Sebagian penduduk ibukota yang saat itu masih berada di depan gerbang kediaman tersebut untuk mendapat jatah giliran melihat burung elang raksasa pun semuanya menyingkir dari depan gerbang dan berbaris rapi di sisi kiri gerbang sambil tubuh mereka dalam posisi memberi hormat, begitu pula dengan beberapa pelayan pria kediaman Chu yang tadi ditugasi untuk menertibkan para penduduk yang ingin melihat induknya Jinying sampai semua anggota keluarga kerajaan tersebut masuk ke halaman kediaman.


Saat keluarga Chu dan keluarga Lee menyaksikan bahwa semua anggota keluarga kerajaan bertamu ke kediaman, maka mereka pun segera bangkit dari tempat duduknya dan menyambut tamu kehormatannya itu sambil membungkukkan badan mereka untuk memberi hormat.


"Luar biasa sekali...," ucap kaisar Qin Shi Huang sambil mendongakkan kepalanya dengan rasa kagum pada burung elang raksasa yang diikuti oleh anggota keluarga kerajaan yang lain.


Untuk beberapa menit tamu kehormatan dari istana Qin itu memuaskan matanya untuk menatap induknya Jinying yang binatang raksasa itu pun juga menatap mereka secara bergantian.


Tak berapa lama, pangeran Qin Wu Dang pun mendekati Lee Chu Mian sambil mengamati bayi burung yang ada dalam gendongan putrinya Chu Pian Ran itu.


"Yin'er, ini bayi burung raksasa itu ya?" tanya anak laki-laki yang berusia 8 tahunan itu.


"Iya kak, ini namanya Jinying... Dulu waktu ibu menemukannya, dia masih di dalam telul...," sahut gadis kecil itu.

__ADS_1


"Halo Jinying, apa kabar?" lanjut anak dari putra mahkota Qin Wu Zhang dan selir Liang Jing Zao itu sambil tangan kanannya mengelus puncak kepala bayi burung itu.


"Kik kik..," jawab Jinying.


"Jinying bilang 'kabarku baik'...," ucap Lee Chu Mian Yin menerjemahkan suara bayi burung elang itu.


"Burung pintar...," ucap Qin Wu Dang.


"Good afternoon everybody, aku pulaang...," sapa Chu Pian Ran begitu muncul dari samping kediaman utama.


"Wah, kalian semua sedang berkumpul di sini rupanya...," lanjut istrinya Lee Jiang Wook setelah perempuan itu berdiri di dekat keluarga angkatnya.


"Iya Nanyang, kita semua ingin melihat burung elang raksasanya Dewa Shao Hao... Sayang sekali kalau dilewatkan...," balas pangeran bungsu kaisar Qin.


"Kesempatan bagus untuk menambah pendapatan nih...," imbuh peri cantik itu mulai iseng pikirannya.


"Menambah pendapatan apa maksudmu? Jangan bilang kamu mau menarik tarif untuk melihat burung raksasa itu ya...," ujar Qin Wu Wang sambil menoleh pada adik angkatnya.


"Tumben kakak Wang'er pintar... Hitung-hitung bisa untuk shoping kan ...," jawab Chu Pian Ran asal-asalan.


"Kak, manusia hidup itu pasti butuh uang lah, itu namanya realistis bukan mata duitan...," ucap nyonya muda Lee dengan masih terus saja melanjutkan candaannya.


"Halah alasan..."


Mendengar percakapan antara Chu Pian Ran dengan Qin Wu Wang, yang lainnya pun sebagian ada yang berdiam diri sambil tersenyum dan sebagian lagi ada yang menggeleng-gelengkan kepalanya, kecuali Qin Wu Zhu yang sedari tadi hanya menunjukkan wajah dinginnya seperti biasanya.


"Hari ini kamu keliling kemana saja Nanyang? Apakah semuanya aman?" tanya kaisar Qin Shi Huang sambil menoleh pada putri angkatnya itu.


"Hari ini jatahku berkeliling di daerah Qin bagian barat ayahanda... Syukurlah semua aman-aman saja...," jawab istri Lee Jiang Wook itu.


"Aku dengar sudah lebih dari sebulan ini kamu semakin sibuk saja...," kata pria penguasa nomer satu di wilayah Qin itu.

__ADS_1


"Biasa ayahanda, ada hal penting yang harus kukerjakan...," balas Chu Pian Ran terkesan menyembunyikan sesuatu.


"Hal penting apa itu? Sepertinya kamu sedang merahasiakan sesuatu...," cecar kaisar Qin Shi Huang.


"Pokoknya ada deeh...," lanjut perempuan cantik itu berusaha untuk menutupi keberadaan bangsa kurcaci.


"Mengerjakan hal penting apanya, paling-paling juga bergosip dengan siluman...," Qin Wu Zhu yang sedari tadi hanya berdiam diri saja kini pun membuka suaranya.


"Kalau iya memang kenapa? Bergosip dengan siluman itu enak lo kakak Zhu'er ku yang betah 'melajang'...," ledek nyonya muda Lee.


Mendapatkan ledekan dari adik angkatnya yang mengungkit lagi soal 'melajang', pangeran kedua kaisar Qin itu pun menatap tajam ke arah nyonya muda Lee yang langsung mendapat balasan 'juluran lidah' dari Chu Pian Ran.


Bukan suatu hal rahasia lagi jika sejak putri tunggalnya tuan Chu Jeong Byun itu berubah menjadi peri, perempuan cantik beranak satu itu menjadi berubah perangainya yang 'semakin berani' untuk mengungkapkan sesuatu sekalipun itu di hadapan kaisar Qin Shi Huang yang sebagai ayah angkatnya.


"Sudah lama sekali kau tidak berkunjung ke istana dan berbincang denganku nak. Jika memang ada waktu, sempatkanlah untuk datang...," sela permaisuri Ling Mu Nian sambil menoleh ke arah putri angkatnya.


"Benar juga, sudah lebih dari satu bulan lo kamu tidak berkunjung ke istana... Nenek jadi curiga dengan 'pekerjaan rahasia' yang kamu sembunyikan itu...," tambah ibu suri Ying Zhi Min dengan tatapan menyelidik ke arah cucu angkatnya.


"Jadi orang jangan terlalu curiga an seperti itu lah nek, nanti bisa terserang migrain lo...,"


"Migrain? Bahasa apa lagi itu? Jangan-jangan itu salah satu dari bahasa anehmu...," lanjut wanita yang sudah berusia 67 tahunan itu.


"Jika kalian sudah puas melihat burung elang raksasanya sebaiknya kita kembali ke istana saja sekarang, lagipula aku banyak pekerjaan penting yang harus diselesaikan...," potong kaisar Qin Shi Huang.


"Baiklah yang mulia kaisar, kalau begitu kita pamit undur diri saja sekarang...," timpal permaisurinya.


"Ayahanda, ibunda, bolehkah Dang'er pulang nanti sore saja... Ananda masih ingin bermain dengan adik Yin'er dan Jinying...," kata Qin Wu Dang minta ijin pada putra mahkota Qin Wu Zhang dan selir Liang Jing Zao.


"Baiklah nak, kau boleh tinggal sementara di sini sampai sore hari, biar nanti ayahanda memerintahkan prajurit untuk menjemputmu...," balas putra sulung kaisar Qin itu.


"Terimakasih ayahanda..."

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, anggota keluarga kerajaan Qin itu pun pamit undur diri pada keluarga Chu dan keluarga Lee lalu melangkahkan kakinya menuju kereta kuda masing-masing dengan diantar oleh dua keluarga tersebut hingga di dekat kereta kuda mereka.


🌹🌹🌹


__ADS_2