Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 143 Kecemburuan Qin Wu Dang


__ADS_3

"Janji ya sayang, jangan pernah menceritakan tentang kehebatan cincinmu pada sembarangan orang, bisa bahaya jika ada orang atau makhluk jahat yang menginginkan cincinmu itu," wanita paruh baya tersebut mengulangi lagi wejangannya sambil menatap lekat mata cucu kesayangannya dan memegang kedua pundak gadis kecil itu.


"Iya nek, Yin'er janji... Tapi kalau teman-teman besok membicarakan keanehan Yin'er yang tadi bagaimana?" tanya Lee Chu Mian Yin dengan lugunya.


"Ya jangan terlalu pedulikan mereka. Jika mereka banyak tanya padamu, jawab saja kamu tidak tahu apa-apa," Nyonya Chu Jeong Byun memberikan solusi dan tak lama kemudian dia memeluk erat cucu satu-satunya itu.


Kelebihan 'yang tidak biasa' yang dimiliki oleh gadis kecil tersebut mengingatkan wanita paruh baya itu pada mendiang putri tercintanya. Bukan hanya itu saja, Nyonya Chu Jeong Byun sebenarnya mempunyai ketakutan jika suatu saat nanti dia juga akan kehilangan Lee Chu Mian Yin gara-gara cucu kesayangannya tersebut memiliki keistimewaan yang hampir sama dengan mendiang ibundanya, ditambah lagi gadis kecil itu bercita-cita ingin menjadi seorang jenderal.


Jika boleh jujur, wanita paruh baya tersebut lebih memilih mempunyai putri dan cucu yang seperti kebanyakan orang lain, yang sekalipun tidak memiliki keistimewaan dan tidak dikenal banyak orang, namun hidup mereka aman dan wajar apa adanya sehingga Nyonya Chu Jeong Byun tidak perlu menyimpan ketakutan berkepanjangan dalam hatinya akan kehilangan orang-orang yang sangat dikasihinya.


Sore harinya, Lee Chu Mian Yin juga menceritakan keanehan dirinya pada Lee Jiang Wook yang tentu saja hal tersebut membuat ayah muda itu lumayan terkejut juga keheranan.


🌹


Keesokan harinya...


Pagi itu, jam 7 kurang belasan menit, Lee Chu Mian Yin sudah terlihat memasuki gerbang istana menuju ke kelasnya sambil memanggul tas sekolah yang biasa dia bawa.


Setelah beberapa meter berjalan dari gerbang tersebut, namanya dipanggil oleh Gu Lian Chung dari arah belakang yang membuat putrinya Lee Jiang Wook itu menghentikan langkah kakinya lalu membalikkan badannya.


"Pagi Mian Yin," anak laki-laki badung itu langsung menyapa begitu dia sudah ada di depan gadis kecil tersebut, padahal sejak awal masuk sekolah hingga kemarin pagi, anaknya Tuan Gu Lian Jui itu sama sekali tidak pernah mau menyapa putrinya Lee Jiang Wook tersebut.


"Pagi kak Gu," jawab gadis kecil cantik itu singkat dengan sudah memiliki insting jika Gu Lian Chung akan bertanya-tanya masalah yang kemarin.


Tak berapa lama, kedua anak itu pun melanjutkan langkahnya sambil berbincang.


"Mian Yin, apa kamu sudah mencoba kelebihanmu kemarin di rumah?" tanya anak laki-laki nakal tersebut persis seperti yang telah diperkirakan oleh Lee Chu Mian Yin.


"Belum kak, aku belum menceritakan hal kemarin pada keluargaku," putrinya Lee Jiang Wook berusaha memberikan jawaban yang masuk akal agar dia tidak terus diburu dengan pertanyaan terkait keistimewaan yang dimilikinya.


"Kenapa tidak segera kamu ceritakan pada keluargamu? Kan sayang jika kelebihan seperti itu kamu pendam terus. Siapa tahu saja kamu nanti bisa sehebat ibumu dan menjadi tersohor juga," sahut anaknya Tuan Gu Lian Jui dengan gaya khas bicaranya yang terus terang.


"Tidak kak, aku belum berani bercerita soal kelebihan yang aku miliki ini pada keluargaku, soalnya nanti mereka jadi sedih lagi karena teringat oleh ibundaku yang telah meninggal akibat kehebatannya juga," balas gadis kecil itu yang langsung membuat Gu Lian Chung berhenti bertanya lagi karena anak laki-laki tersebut juga mendengar jika ibunya Lee Chu Mian Yin meninggal karena berusaha mengalahkan iblis yang sangat ganas.


Di sisa perjalanan menuju ke aula, kedua anak itu melangkahkan kaki mereka dalam diam tanpa ada percakapan lagi.


Ketika Lee Chu Mian Yin dan Gu Lian Chung memasuki kelas, tampak beberapa anak yang lain sudah datang termasuk Qin Wu Dang, yang sejak kedua bocah tersebut masuk ke dalam aula, raut wajah putranya Qin Wu Zhang itu menunjukkan ketidak senangan jika salah satu siswa yang dikenal nakal di kelas A tersebut mendekati putrinya Lee Jiang Wook.


Beberapa menit kemudian, tampaklah Liu Xhu Ru masuk ke dalam aula, lalu anak laki-laki tersebut berjalan ke arah bangkunya Lee Chu Mian Yin.


"Mian Yin, kemarin aku dan ayahku kan jalan-jalan, lalu aku melihat ada sebuah tusuk rambut yang bentuknya bagus, kemudian aku beli untuk kuberikan padamu. Ini tusuk rambut untuk kamu, mudah-mudahan kamu suka ya...," ucap putranya Tuan Liu Xhu Wang begitu dia sudah jongkok di samping kiri putrinya Lee Jiang Wook sambil menyodorkan tusuk rambut tersebut pada gadis kecil yang disukainya itu.



Tak berapa lama, Lee Chu Mian Yin pun mengambil tusuk rambut itu dari tangan kanan Liu Xhu Ru lalu mengamatinya untuk sesaat.

__ADS_1


"Kamu suka bentuknya tidak?" imbuh anak laki-laki itu dengan harapan gadis kecil yang duduk di depannya tersebut menyukai barang pemberiannya.


"Iya kak aku suka bentuknya, terima kasih banyak ya kak Liu..," putrinya Lee Jiang Wook menyampaikan pendapatnya sekaligus rasa terima kasihnya karena tusuk rambut itu memang disukainya sekalipun gadis kecil polos tersebut tidak mengetahui motif dibalik pemberian benda itu.


"Kamu jaga baik-baik ya, jangan sampai rusak atau hilang," lanjut putranya Liu Xhu Wang.


"Iya kak."


Setelah berkata demikian, ternyata Lee Chu Mian Yin langsung memasang benda tersebut di rambutnya namun pemasangannya agak kurang pas yang membuat Liu Xhu Ru membantu gadis kecil cantik itu untuk memasangkannya.


Otomatis, sepasang mata Qin Wu Dang yang sedari tadi memperhatikan kedekatan dua anak tersebut, hatinya semakin jengkel dan membuat raut wajahnya menjadi cemberut.


Sementara itu, si Gu Lian Chung yang duduknya masih tepat di belakangnya Lee Chu Mian Yin, setelah menyaksikan pemandangan yang ada di depannya pun mulai meluncurkan ledekannya.


"Ciye ciyee, pagi-pagi sudah ada yang mesra-mesra an saja," anak laki-laki badung itu melontarkan kalimat yang entah darimana dia mendapatkan kata 'mesra-mesra an' tersebut yang kedengarannya kurang pantas diucapkan oleh anak seumurnya.


"Mesra-mesra an bagaimana Gu, aku kan hanya membantu Mian Yin memasangkan tusuk rambut," sanggah putranya Tuan Liu Xhu Wang yang tentu saja sikapnya itu sebenarnya untuk menutupi fakta yang ada.


"Apa iya. Bilang saja terus terang kalau kamu menyukai Mian Yin, aku lihat kalian kan sering jalan berduaan," cecar si Gu Lian Chung.


Tidak ingin kedua temannya terlibat adu mulut lebih lanjut, putrinya Lee Jiang Wook pun memutar tubuhnya 70° ke arah kanan agar dapat melihat anak laki-laki yang duduk di belakangnya.


"Kakak Gu tidak boleh bicara seperti itu, aku dan kakak Liu kan berteman, tidak ada yang namanya mesra-mesra an. Kita masih kecil tidak boleh berkata seperti itu, dan tidak boleh suka-suka an," timpal Lee Chu Mian Yin dengan lugunya.


Tentu saja percakapan mereka bertiga pun didengar oleh siswa lainnya yang saat itu sudah ada di ruangan kelas semua, dan keadaan Qin Wu Dang sekarang sudah meningkat lagi rasa cemburunya.


Setelah melakukan pembiasan memberi salam hormat kepada sang guru, pembelajaran di kelas A pun dimulai.


Beberapa jam kemudian, begitu jam pembelajaran usai dan guru pengajar telah keluar dari ruang aula, Qin Wu Dang langsung bangkit dari tempat duduknya lalu menghampiri Lee Chu Mian Yin.


"Yin'er, nanti sore aku ke rumahmu ya, ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu."


Belum juga gadis kecil itu memberikan jawaban, putranya Qin Wu Zhang sudah langsung kembali ke tempat duduknya untuk merapikan dan memasukkan peralatan belajarnya ke dalam tas.


🌹


Sore harinya...


Sekitar jam setengah lima nan, datanglah Qin Wu Dang ke kediaman Chu dengan dikawal oleh dua prajurit sambil memanggul tas sekolahnya.


Sebenarnya, saat minta ijin pada kedua orang tuanya tadi, anak laki-laki tersebut sempat dilarang untuk tidak bertemu Lee Chu Mian Yin karena besok masih ada jadwal sekolah dan sore ini dia juga harus belajar untuk persiapan materi di keesokan harinya.


Namun, karena Qin Wu Dang bersikeras dan beralasan jika pertemuannya dengan putri mendiang bibinya itu juga dalam rangka belajar bersama, akhirnya kedua orang tuanya pun memberi ijin.


Saat ini, terlihatlah putrinya Lee Jiang Wook dan putranya Qin Wu Zhang sedang berada di ruang belajar gadis kecil itu dengan posisi duduk saling berhadapan di meja yang sama.

__ADS_1


Saat sepasang mata anak laki-laki tersebut melihat ke atas kepala Lee Chu Mian Yin, Qin Wu Dang pun langsung merasa tidak suka karena putrinya Lee Jiang Wook itu masih saja mengenakan tusuk rambut pemberian Liu Xhu Ru.


"Yin'er, kamu masih memakai tusuk rambut dari Liu Xhu Ru?" putranya Qin Wu Zhang itu bertanya dengan maksud mengetahui alasan gadis kecil itu tetap memasang benda tersebut di rambutnya.


"Iya kak, Yin'er suka dengan bentuknya," balas Lee Chu Mian Yin jujur.


"Kalau begitu besok kakak belikan yang lebih bagus lagi ya, trus nanti kamu pakai," anak laki-laki tersebut tidak mau kalah bersaing.


"Untuk apa kak? Yang dari kak Liu saja sudah cukup," sahut putrinya Lee Jiang Wook dengan lugunya.


"Tapi kakak juga mau kamu memakai tusuk rambut pemberian kakak. Masa' yang kamu pakai cuma tusuk rambut dari Liu Xhu Ru saja," protes putranya Qin Wu Zhang.


"Ya sudah, kalau begitu nanti Yin'er pakai bergantian saja ya...," dengan kepolosannya gadis kecil itu berusaha untuk bersikap adil.


"Kenapa tusuk rambut dari Liu Xhu Ru tidak kamu simpan saja?," Qin Wu Dang masih belum terima dengan keputusan gadis kecil yang disukainya itu.


"Kan Yin'er sudah bilang kalau Yin'er suka dengan tusuk rambut pemberiannya kak Liu, soalnya bentuknya bagus," lagi-lagi putrinya Lee Jiang Wook menjawab dengan hati nuraninya yang murni.


"Baiklah, kalau begitu setelah kakak memberimu tusuk rambut kamu janji ya untuk sering memakainya," anak laki-laki yang berumur 11 tahunan tersebut mengingatkan kembali.


"Iya kakak Dang'er. Kenapa sih sore ini kakak kelihatan aneh?" Lee Chu Mian Yin mulai curiga dengan sikap putra paman angkatnya itu.


"Aneh bagaimana? Biasa saja kok...," putranya Qin Wu Zhang berdalih karena anak laki-laki tersebut memang sengaja belum mau mengakui perasaannya terlebih dahulu mengingat umurnya masih belum tepat untuk terlibat masalah ketertarikan dengan lawan jenis.


Di saat kedua bocah tersebut sedang berbincang, masuklah Nyonya Chu Jeong Byun sambil membawa nampan yang di atasnya ada seteko teh hangat, dua buah cangkir dan camilan.


"Sambil belajar sambil dinikmati makan minumnya ya, jangan terlalu serius, nanti bisa pusing dan cepat tua," wanita paruh baya itu meletakkan nampan bermuatan tersebut di atas meja sambil meluncurkan candaannya.


"Apa iya nek banyak belajar bisa membuat cepat tua? Buktinya kakek Chu, kakek Lee dan ayah yang banyak belajar dan banyak pekerjaannya masih begitu-begitu saja, rambutnya belum berubah putih dan belum keriput," perkataan lugunya Lee Chu Mian Yin barusan tentu saja langsung mengundang senyuman neneknya dan Qin Wu Dang, yang semakin membuat anak laki-laki tersebut semakin jatuh hati dengan gadis kecil yang duduk di sebrangnya tersebut.


"Itu tadi hanya sekedar kiasan sayang, masa' dianggap serius... Kalian ada pekerjaan rumah?" kata Nyonya Chu Jeong Byun.


"Tidak ada nenek Chu. Kami hanya ingin belajar bersama saja untuk persiapan sekolah besok," balas putranya Qin Wu Zhang yang rupanya sedikit menimbulkan kecurigaan wanita paruh baya tersebut namun masih disimpannya dalam hati.


"Ya sudah, kalau begitu selamat belajar ya, nenek mau melanjutkan membantu pekerjaannya kakek," tambah Nyonya Chu Jeong Byun yang tak lama kemudian wanita paruh baya itu pun meninggalkan ruang belajar cucunya.


"Silahkan diminum dan dimakan camilannya kak," putrinya Lee Jiang Wook mempersilahkan kakak angkatnya untuk mencicipi teh dan camilan yang disediakan oleh neneknya tadi.


"O iya Yin'er, kalau di sekolah kamu jangan terlalu dekat dengan anak laki-laki ya," bukannya merespon tawarannya Lee Chu Mian Yin, anak laki-laki tersebut malah mengalihkan pembicaraan yang tentu saja perkataannya barusan membuat gadis itu menjadi bingung karena tidak paham dengan arah pembicaraan Qin Wu Dang.


"Kenapa kak? Kan kita semua teman," tanya putrinya Lee Jiang Wook sambil menyampaikan pendapatnya.


"Kita semua memang teman Yin'er, tapi kamu harus pintar memilih teman yang benar-benar baik jangan seperti Gu Lian Chung. Hati-hati jika berdekatan dengan dia," putranya Qin Wu Zhang itu seolah-olah memberi wejangan yang baik pada adik angkatnya namun dibalik nasehatnya tersebut dia bermaksud agar gadis yang disukainya itu tidak terlalu dekat dengan laki-laki lain.


"Kalau kakak Gu memang nakal sih kak, tapi kalau dia mengajak bicara Yin'er, masa' Yin'er diam saja dan langsung mengusirnya, kan itu sikap yang tidak baik," lagi-lagi Lee Chu Mian Yin menyampaikan alasannya yang penuh keluguan.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2