
Istana Kerajaan Qin
Setelah pertemuan rutin antara para pejabat istana dengan kaisar usai, tuan Chu secara pribadi diundang oleh kaisar untuk menghadap.
"Salam yang mulia kaisar, semoga yang mulia kaisar panjang umur..." Tuan Chu memberi hormat pada kaisar dengan membungkukkan badan.
"Salammu kuterima tuan Chu, bangkitlah." Kata kaisar.
"Terimakasih yang mulia kaisar..." Jawab tuan Chu.
"Hari ini aku memanggilmu karena ada hal yang ingin bicarakan padamu tuan Chu." Lanjut kaisar.
"Perihal apa itu yang mulia?" Tanya tuan Chu.
"Bagaimana keadaan putrimu tuan Chu? Terakhir aku melihatnya saat kejadian di aula istana beberapa bulan yang lalu." Ucap kaisar.
"Berkat doa yang mulia, putri hamba baik-baik saja yang mulia." Balas tuan Chu.
"Kalau boleh kutahu, bagaimana putrimu bisa memiliki kelebihan seperti itu tuan Chu? Selama aku hidup, baru kali ini aku menemui orang yang istimewa seperti ini."
Demi mendengar pertanyaan kaisar, tuan Chu mulai waspada dan perlu berhati-hati untuk menjawabnya.
Pria paruh baya itu tidak ingin rahasia putrinya diketahui oleh banyak orang.
"Menjawab yang mulia, hamba dan istri hambapun baru tahu kelebihan putri hamba saat kejadian di aula beberapa bulan yang lalu. Sebelumnya kami tidak tahu apa-apa yang mulia..." Jelas tuan Chu.
__ADS_1
"Benarkah?" Tanya kaisar.
"Benar yang mulia, hamba tidak berani berbohong... Putri hamba memiliki kelebihan itu juga baru saja yang mulia." Sambung tuan Chu.
"Lalu apakah putrimu masih menggunakan kelebihannya itu?" Buru kaisar.
"Tidak yang mulia... Untuk saat ini hamba melarang putri hamba untuk tidak memakai kemampuannya itu karena hamba khawatir putri hamba dicelakai orang jahat lagi." Jawab tuan Chu berbohong pada kaisar.
"Sayang sekali jika kemampuan itu dipendam terus." Balas kaisar.
"Jika kau khawatir putrimu dicelakai orang jahat, aku bisa meminta putrimu tinggal di istana. Selain itu, putrimu juga bisa mengembangkan kemampuannya di sini dengan aman." Lanjut kaisar.
"Hamba berterimakasih atas niat baik yang mulia... Namun mengingat kondisi tubuh putri hamba yang sering sakit-sakitan, hamba tidak tega melihat putri hamba berjauhan dari hamba dan istri hamba." Tuan Chu berusaha memberikan alasan yang masuk akal kepada kaisar agar kaisar mengurungkan keinginannya untuk meminta putrinya tinggal di istana.
"Aku mengerti kegundahanmu tuan Chu... Baiklah, untuk saat ini biarkan putrimu memulihkan dirinya dulu." Ucap kaisar.
"Menjawab yang mulia... Sejak kejadian itu, hamba sudah mengutus beberapa pengawal khusus untuk menyelidiki dan menangkap pelakunya. Namun kami menemui jalan buntu, sampai sekarang kasus ini belum terpecahkan." Terang tuan Chu.
****
Kediaman Keluarga Chu
Sepulang dari istana, tuan Chu menceritakan pertemuannya dengan kaisar pada istrinya.
Nyonya Chu merasa khawatir dengan ide kaisar tersebut. Jika banyak orang berlomba-lomba untuk menjadi anggota kerajaan, beda hal dengan tuan dan nyonya Chu.
__ADS_1
Mereka tidak ingin putrinya masuk istana dikarenakan kelebihan yang dimilikinya.
Tuan dan nyonya Chu berharap agar kaisar tidak pernah mengungkit soal putrinya lagi.
****
Malam harinya
"Nona, apa kau serius akan mengembara?" Tanya Xi Er.
"Iya Xi Er. Semenjak aku memperoleh kelebihan ini, aku merasa bahwa aku harus memanfaatkan kelebihan yang kumiliki untuk menolong banyak orang." Jawab Chu Pian Ran.
"Tuan dan nyonya pasti tidak akan setuju." Lanjut pelayan itu.
"Aku sudah pernah membahas masalah ini dengan ayah. Tingga ibu yang belum kuberitahu." Sambung Chu Pian Ran.
"Kalau begitu Xi Er ikut ya nona." Harap Xi Er.
"Tidak Xi Er, aku tidak akan mengajak siapa-siapa dalam pengembaraanku nanti. Aku tidak ingin orang terdekatku celaka gara-gara aku." Terang Chu Pian Ran.
Wajah pelayan itu cemberut mendengar jawaban majikannya.
"Kau tidak boleh seperti itu Xi Er. Ingat, di sini kaupun juga punya tugas yang penting. Aku titipkan ayah dan ibu padamu." Ucap Xi Er.
"Apakah tuan muda Lee setuju dengan niat nona? Dia pasti sedih jika nona pergi jauh." Kata Xi Er.
__ADS_1
"Setuju tidak setuju, dia harus menerima keputusanku. Menolong sesama lebih penting dari memikirkan perasaan pribadi." Jawab Chu Pian Ran.