Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 64 Kesedihan Hati Qin Wu Zhu


__ADS_3

Sepeninggal jenderal Long Yuan, Lee lalu masuk ke dalam kamar tunangannya. Rupanya di kamar itu ada seorang gadis lain yang sedang bersama Chu Pian Ran.


Mengetahui nona Chu ada tamu, Bing Er pun pamit undur diri dari kamar itu.


Setelah Bing Er keluar, Lee kemudian menutup pintu kamar dan langsung berlari mendekati tunangannya yang saat itu sedang duduk di ranjang.


Pemuda itu lalu memeluk erat Chu Pian Ran dan tak terasa air matanya menetes. Lee sedang menangis.


Selama lima belas menit tubuh Chu Pian Ran berada dalam pelukan Lee, kemudian pemuda itu melepas pelukannya.


"Sayang bagaimana keadaanmu? Orang dari Lian itu tidak macam-macam denganmu kan?" Tanya Lee dengan cemas sambil memegang kedua pundak tunangannya itu.


Tangan Chu Pian Ran terulur dan menghapus air mata dari pipi calon suaminya itu.


Kini mata kedua insan itu beradu.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi selama aku diculik hingga sampai di tempat ini Lee." Balas Chu Pian Ran.


"Benarkah itu?" Tanya Lee memastikan.


"Iya, aku tidak tahu." Jawab gadis itu.


"Lalu bagaimana keadaanmu sekarang? Kata paman Long Yuan kau sempat tidak sadarkan diri." Lanjut pemuda itu.


"Iya, aku memang sempat pingsan. Tapi sekarang sudah lebih baik." Ucap Chu Pian Ran.


Lee lalu menatap lekat wajah tunangannya itu. Wajah gadis itu memang sedikit pucat dan matanya agak sayu.


Pemuda itu kemudian memajukan kepalanya dan mencium lembut bibir gadis itu. Mereka berdua akhirnya saling menyatukan bibir selama hampir 10 menit.


"Paman dan bibi sangat khawatir denganmu sayang. Bahkan bibi Chu sempat kehilangan semangat hidupnya sejak kau diculik." Jelas Lee setelah bibirnya menjauh dari bibir tunangannya.


"Bagaimana keadaan ayah ibu sekarang?" Tanya Chu Pian Ran.


"Setelah menerima kabar bahwa kau sudah ditemukan, paman dan bibi sudah bisa merasa lega. Merekalah yang menyuruhku datang kemari untuk menjemputmu pulang." Kata Lee.


Kedua tangan Chu Pian Ran terulur kemudian mengalungkannya pada leher pemuda itu.


"Kapan kita kembali ke ibukota?" Lanjut Chu Pian Ran dengan menatap mata calon suaminya.


"Apa kau yakin sudah merasa sehat? Jika sudah kita segera pulang ke sana. Paman dan bibi sudah tidak sabar menunggu kepulanganmu." Balas Lee.


"Aku sudah merasa lebih baik Lee. Bagaimana jika dua hari lagi kita pulang?" Ucap Chu Pian Ran.


"Baiklah, aku akan menyampaikan hal ini pada paman Long Yuan." Sahut Lee.


Malam harinya...


Lee saat itu sedang berbaring dengan memeluk tunangannya. Wajah mereka kini saling berhadapan dalam jarak yang sangat dekat.


Lengan kiri Lee telah dijadikan bantal oleh Chu Pian Ran.


"Jadi kau sama sekali tidak tahu apa yang terjadi saat kau ada di kerajaan Lian?" Tanya Lee.


Chu Pian Ran menggelengkan kepalanya.


"Kau tahu, aku merasa takut sekali jika mereka melakukan hal yang buruk padamu. Oh ya, aku dengar dari paman Long Yuan jika kaisar Lian mati secara mendadak. Syukurlah jika pria itu mati. Manusia haus kekuasaan seperti dia pantas mendapatkan balasannya." Kata pemuda itu.


"Aku malah tidak mendengar berita apapun soal itu." Ucap gadis itu.


"Wajahmu terlihat pucat sayang..." Ujar Lee sambil mengelus pipi tunangannya.


Beberapa detik kemudian Lee mulai menghujani wajah Chu Pian Ran dengan ciuman.

__ADS_1


Sementara itu tangan kiri gadis itu memeluk calon suaminya.


Tak berapa lama, untuk kesekian kalinya, tangan kanan Lee menyingkap separuh pakaian atas Chu Pian Ran, hingga nampaklah satu bagian tubuh gadis itu yang selalu digilai oleh Lee.


Untuk beberapa menit Lee menatap bagian tubuh itu dan tak berapa lama tangan kanannya menyentuh bagian itu dengan lembut termasuk puncaknya.


Pemuda itu lalu menundukkan kepalanya agar bibir dan lidahnya bisa menyentuh bagian itu.


Mata Chu Pian Ran terpejam saat puncak itu dihisap lembut oleh Lee dalam waktu yang agak lama.


Tidak jauh dari kamar Chu Pian Ran, sedari tadi Qin Wu Zhu memperhatikan kamar gadis itu.


Pemuda itu tahu saat Lee masuk ke dalam kamar itu dan hingga sekarang belum keluar juga.


Qin Wu Zhu menduga jika mereka berdua akan tidur seranjang malam ini.


Andai saja aku bisa menggantikan posisi Lee malam ini pasti aku akan senang sekali... Batin Qin Wu Zhu.


Tanpa pemuda itu sadari, beberapa meter di belakangnya, sepasang mata jenderal Long Yuan sedang memperhatikannya.


Sebenarnya pria paruh baya itu merasa kasihan dengan keponakannya, namun demi menjaga nama baik keluarga kerajaan, mau tidak mau dia harus memberikan nasehat tegas pada pemuda itu.


Malam itu Lee tidur seranjang dengan Chu Pian Ran. Lengan kiri Lee masih dipakai sebagai bantal oleh gadis itu. Sementara tangan kanan pemuda itu memeluk pinggang ramping tunangannya.


Hati Lee merasa damai saat berpelukan dengan tunangannya itu. Rasanya dia sudah tidak sabar lagi untuk menikah.


Dua hari kemudian...


Pagi itu suasana di depan markas sangatlah ramai karena 500 orang prajurit ditambah pengawal pribadi Lee akan mengantar kepulangan nona Chu ke ibukota.


Terlihat puluhan prajurit sedang mengangkut barang-barang yang akan dibutuhkan selama perjalanan nanti dan meletakkannya di 5 buah kereta barang berukuran besar.


Pada saat itu banyak prajurit yang menyimpan pertanyaan dalam benak mereka : mengapa nona Chu diculik oleh mata-mata Lian, apa untungnya kerajaan Lian menculik nona Chu dan bagaimana bisa nona Chu tiba-tiba muncul di markas prajurit itu.


Para prajurit di markas memang tidak tahu jika nona Chu adalah si pria bertopeng.


Karena keadaan nona Chu belum pulih sepenuhnya, gadis itu telah dipersiapkan sebuah kereta kuda.


Setelah Lee berterimakasih dan berpamitan dengan jenderal Long Yuan, maka berangkatlah rombongan besar itu.


Lee masuk dalam kereta kuda yang sama dengan tunangannya untuk menemani gadis itu sekaligus berjaga-jaga jika sewaktu-waktu tubuh Chu Pian Ran menjadi kurang sehat.


Tak lupa pula Qin Wu Zhu juga ikut mengantar kepulangan nona Chu di ibukota.


Pemuda itu bersama Lu Zee berada di depan kereta kuda yang ditumpangi oleh Lee dan Chu Pian Ran.


Mulailah rombongan besar itu melakukan perjalanan panjang menuju ibukota.


Sejak berangkat tadi Chu Pian Ran berbaring dengan kepala di pangkuan Lee.


"Sayang kita akan pulang... Kau istirahat saja karena perjalanan ini akan sangat lama." Kata Lee dengan tangan kanannya membelai rambut tunangannya itu.


"Aku sudah tidak sabar ingin segera sampai di ibukota." Sahut Chu Pian Ran.


"Jika nanti tubuhmu merasa kurang nyaman langsung saja kau katakan ya, kita bisa mencari tabib di tempat yang kita lewati nanti." Ucap Lee.


Chu Pian Ran mengangguk.


Tangan kanan pemuda itu lalu mengelus-elus pipi kiri tunangannya.


Rombongan itu melakukan perjalanan hingga berjam-jam sampai lewat tengah hari.


Kemudian saat mereka mendapati tanah lapang yang lumayan luas mereka memutuskan untuk berhenti dan istirahat sebentar.

__ADS_1


Lee lalu mengajak tunangannya turun dari kereta agar gadis itu dapat menghirup udara segar dan menghilangkan rasa penatnya selama di kereta.


Salah seorang pengawal Lee mendatangi mereka untuk menyerahkan makanan dan minuman yang telah mereka siapkan dari markas.


Kini Lee dan Chu Pian Ran telah duduk di bawah sebuah pohon rindang agak terpisah dari rombongan prajurit. Terlihatlah Lee sedang menyuapi kekasihnya itu dengan sepotong roti.


Sedari turun dari kereta, sepasang mata Qin Wu Zhu tak lepas memperhatikan gerak-gerik sepasang kekasih itu.


Lu Zee, pengawal setia Qin Wu Zhu hanya mampu berdiam diri melihat sikap majikannya itu. Pemuda itu tahu jika majikannya jatuh hati dengan nona Chu.


Setelah satu setengah jam beristirahat, rombongan pun melanjutkan perjalanan.


Menjelang malam, rombongan itu berhenti kembali di tanah lapang yang lumayan luas.


Beberapa pengawal Lee kemudian mendirikan sebuah tenda untuk sang majikan dan tunangannya.


Sementara di tempat yang agak jauh, Lu Zee dengan dibantu seorang prajurit juga sedang mendirikan tenda untuk Qin Wu Zhu.


Untuk mengurangi hawa dingin malam itu, para prajurit membuat beberapa api unggun.


Kini terlihatlah beberapa kelompok prajurit yang sedang mengelilingi beberapa api unggun sambil makan minum dan mengobrol.


Karena sebelum berangkat dari markas sudah diberi peringatan oleh jenderal Long Yuan agar mereka tidak minum arak, maka mereka membuat teh hangat.


Di dalam tenda Lee dan Chu Pian Ran, setelah makan minum dan membersihkan diri seperlunya, terlihatlah saat ini Lee sedang berbaring di samping tunangannya.


Mereka sedang berbaring berhadapan dengan jarak yang sangat dekat di balik selimut tebal yang sama.


Lee menatap lekat wajah gadis yang ada di depannya itu sambil tangan kanannya memeluk pinggangnya.


Kedua mata pasangan itu saling menatap untuk beberapa saat.


Lee lalu memajukan kepalanya dan mulai menciumi wajah tunangannya itu dengan rasa sayang.


Tak berapa lama, di balik selimut tebal, tangan kanan Lee mulai merayap dan menyusup di balik pakaian Chu Pian Ran untuk mencari sesuatu.


Setelah menemukan bagian itu, jari-jarinya meremas lembut dan memainkan puncaknya hingga mengeras.


Dengan tak menghentikan aksinya, Lee mulai mencium bibir Chu Pian Ran dengan lembut pula. Chu Pian Ran pun membalas ciuman Lee.


Hal itu terjadi hampir setengah jam.


Lee kemudian menyingkap pakaian atas tunangannya hingga bagian tubuh bagian atas itu polos dan terlihat jelas oleh Lee.


Tak menunggu lama lagi Lee mulai menghujani bagian atas tubuh Chu Pian Ran dengan ciuman dan jilatan.


Terkhusus untuk dua bagian tubuh Chu Pian Ran yang menonjol itu dia memberikan perlakuan yang istimewa.


Mata Chu Pian Ran terpejam ketika Lee menghisap agak kuat puncak tonjolan itu. Tubuhnya berdesir dan menikmati apa yang dilakukan oleh calon suaminya.


Di sebuah tenda yang lain, si penghuni tenda sedang gelisah.


Saat ini pikirannya sedang melayang dan membayangkan apa yang sedang terjadi di tenda milik Lee dan Chu Pian Ran.


Pemuda itu sedang menebak bahwa pasangan itu malam ini sedang melakukan hal yang begitu romantis.


Setelah puas menghisap dua puncak itu, Lee menaikkan selimut untuk menutupi bagian tubuh atas Chu Pian Ran yang polos hingga sebatas leher. Pemuda itu tak berniat untuk mengenakan kembali pakaian gadis itu.


Di balik selimut tangan kanan pemuda itu tak bisa diam. Dia tetap saja memberikan sentuhan-sentuhan lembut khususnya pada dua bagian yang menonjol.


"Terimakasih sayang... Aku sangat mencintaimu." Kata Lee pelan dengan wajah sangat dekat di depan wajah kekasihnya.


"Apa kau menyukainya?" Lanjut Lee dengan volume suara yang masih sama karena dia sadar mereka sedang ada dimana.

__ADS_1


Tunangannya hanya menjawab dengan anggukan.


Kejadian malam itu terulang kembali hingga malam-malam berikutnya sebelum mereka tiba di ibukota.


__ADS_2