
Istana Kerajaan Lian
Setelah beberapa kali mendapat laporan dari mata-mata yang dia kirimkan di wilayah Qin, Lian Xiao Jung semakin yakin jika ayahnya dibunuh oleh Chu Pian Ran, putri penasehat kerajaan Qin. Hal ini diperkuat dengan adanya laporan bahwa keberadaan gadis itu yang secara aneh bisa kembali pulang dengan selamat di ibukota Qin. Padahal selama dibelenggu, Chu Pian Ran bukan hanya dimantrai oleh Chang Xibing namun juga diminumi obat pelumpuh syaraf sementara.
Karena usahanya untuk menundukkan gadis itu gagal dan malah ayahnya dibunuh, maka Lian Xiao Jung menargetkan tunangan Chu Pian Ran sebagai aksi balas dendamnya.
Tak menunggu lama, senyampang Chu Pian Ran ada di luar ibukota Qin, Lian Xiao Jung mengutus lagi dua orang kepercayaannya yang memiliki ilmu bela diri tinggi untuk membunuh tunangan Chu Pian Ran.
Pada saat Lian Xiao Jung memerintahkan kedua orang itu untuk berangkat ke ibukota Qin, posisi Chu Pian Ran beserta rombongan dari istana baru satu bulan berada di daerah Beidi.
****
Setelah urusannya di dusun Mei Dong selesai, Chu Pian Ran beserta rombongan pun segera berpamitan dan berniat untuk kembali ke ibukota.
Mulailah mereka melakukan perjalanan panjang kembali untuk sampai ke ibukota Qin.
Setelah menempuh separuh perjalanan, hati Chu Pian Ran dipenuhi kegelisahan. Firasat buruknya memberi peringatan bahwa sesuatu yang tidak baik menimpa orang terdekatnya di ibukota.
Maka dengan segera gadis itu berkata pada Qin Wu Zhu bahwa dia akan mendahului mereka ke ibukota.
Tanpa menunggu jawaban dari pemuda itu, Chu Pian Ran langsung memacu kudanya dengan kecepatan penuh tanpa mempedulikan teriakan Qin Wu Zhu yang memanggil namanya.
Dengan cepat Qin Wu Zhu beserta prajuritnya menyusul kepergian Chu Pian Ran.
****
Ibukota Kerajaan Qin
Pada suatu tengah malam, terlihat dua orang berjubah hitam dan bercadar hitam sedang berada di luar benteng ibukota Qin.
Dengan ilmu peringan tubuhnya dua sosok itu naik ke atas benteng dan melompati atap-atap bangunan ibukota Qin menuju kediaman tunangan Chu Pian Ran.
Sebelum berangkat mereka telah diberi tahu oleh kaisarnya bahwa tunangan Chu Pian Ran adalah putra pejabat istana yang bernama Lee Jiang Xun.
Tiga puluh menit kemudian sampailah mereka berdua ke kediaman yang dimaksud.
Pada saat itu, di kediaman Lee Jiang Xun hanya terdapat beberapa penjaga saja, sehingga dua sosok itu berhasil menyusup ke kediaman utama pejabat istana itu.
Dengan sangat hati-hati kedua orang itu kemudian mencari keberadaan tunangan Chu Pian Ran.
Setelah berhasil menemukan kamar pemuda itu, salah satu dari mereka mengeluarkan pipa dari bambu kecil kemudian meniupkan obat pembius bercampur racun pelumpuh syaraf permanen kadar tinggi ke dalam kamar Lee Jiang Wook melalui celah kamar itu.
Setelah menunggu sepuluh menit, kedua sosok itu masuk ke dalam kamar.
Karena reaksi obat bercampur racun itu sudah bekerja otomatis Lee Jiang Wook pun tak sadarkan diri.
Dengan sangat hati-hati kedua sosok itu berusaha membawa tubuh Lee Jiang Wook keluar dari kediaman tanpa sepengetahuan penjaga.
Setelah berhasil, salah satu dari mereka menggendong tubuh Lee Jiang Wook lalu kedua sosok itu dengan menggunakan ilmu peringan tubuh tingkat tinggi membawa tubuh pemuda itu menuju hutan yang ada di dekat ibukota Qin.
__ADS_1
Selama tiga jam kedua sosok itu secara bergantian menggendong tubuh Lee Jiang Wook hingga sampai ke hutan.
Sesampainya di hutan, tubuh Lee Jiang Wook dijatuhkan ke tanah oleh sosok yang menggendongnya tadi.
Beberapa detik kemudian, kedua orang itu menghajar habis-habisan tubuh pemuda itu.
Terakhir, salah satu dari mereka mengambil sebuah botol racun cair mematikan dari balik bajunya dan meminumkan isinya pada Lee Jiang Wook.
Kedua sosok itu lalu meninggalkan tubuh pemuda itu begitu saja dan mereka berdua dengan segera terbang melayang menjauh dari tempat itu.
Setengah jam setelah tubuh Lee Jiang Wook ditelantarkan di hutan, Chu Pian Ran yang kebetulan lewat di area hutan itu secara tiba-tiba menghentikan kudanya.
Dengan mengandalkan kekuatan batin dan instingnya gadis itu lalu terbang dari atas kuda menuju ke area hutan.
Empat puluh menit kemudian Chu Pian Ran menemukan tubuh tunangannya sedang tergeletak tak berdaya di tanah.
Dengan segera gadis itu memeriksa denyut nadi Lee Jiang Wook dan beberapa detik kemudian Chu Pian Ran berusaha memberikan pertolongan pertama pada pemuda itu.
Chu Pian Ran meletakkan telapak tangannya tepat di atas jantung pemuda itu.
Telapak tangan gadis itu mengeluarkan cahaya lalu cahaya itu menembus kulit tulang dan daging menuju jantung Lee Jiang Wook.
Jantung Lee Jiang Wook saat itu telah menyerap sebagian racun yang mematikan. Jadi dengan kekuatan magisnya Chu Pian Ran berusaha membersihkan racun yang ada di jantung tunangannya.
Sementara itu, Qin Wu Zhu dan pengikutnya tiba-tiba menghentikan kudanya ketika melihat kuda Chu Pian Ran ada di pinggiran hutan tanpa penungganggnya.
Tanpa menunggu lama pemuda itu memerintahkan Lu Zee dan semua prajurit untuk menyebar dan mencari keberadaan Chu Pian Ran.
Setelah pencarian selama puluhan menit, rupanya Qin Wu Zhu sendirilah yang terlebih dahulu menemukan Chu Pian Ran.
Qin Wu Zhu lalu mendekati gadis itu dan terlihatlah dengan jelas pemandangan yang ada di hadapannya karena saat itu suasananya memang masih gelap.
Pemuda itu melihat tubuh tunangan Chu Pian Ran yang babak belur dan tidak berdaya.
Sampai saat itu pula Chu Pian Ran masih terus berusaha untuk mengeluarkan racun mematikan yang sudah menyebar di tubuh Lee Jiang Wook dengan kekuatan supranaturalnya.
Tak berselang lama muncullah salah satu prajurit mendekati mereka.
Qin Wu Zhu lalu mengajak prajurit itu sedikit menjauh dari tempat itu dan dengan suara pelan memerintahkannya untuk pergi ke kediaman tuan Lee Jiang Xun dan memberi kabar bahwa putranya sedang kritis di area hutan.
Dengan cepat prajurit itu kemudian melaksanakan perintah Qin Wu Zhu.
Pagi itu saat hari sudah agak terang, di kediaman tuan Lee Jiang Xun terlihat biasa-biasa saja karena mereka sama sekali tidak tahu bahwa tengah malam tadi ada dua penyusup yang menculik Lee Jiang Wook.
Namun begitu prajurit utusan Qin Wu Zhu tiba di tempat itu dan menyampaikan berita bahwa tuan muda Lee Jiang Wook ada di area hutan dalam keadaan kritis mulailah tuan dan nyonya Lee sangat panik.
Tak menunggu waktu lama, tuan Lee beserta beberapa anak buahnya mengikuti prajurit tadi untuk pergi ke area hutan dimana anaknya berada.
Tak terkira sedihnya hati nyonya Lee begitu mendengar kabar bahwa putranya saat ini sedang kritis di hutan.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu saat ini sedang duduk di kursi sambil menangis dengan ditemani dua pelayannya.
Semua pelayan kediaman tuan Lee yang mendengar berita itu sangat terkejut dan juga bersedih hati.
Mereka tak menyangka bahwa di malam yang tenang tadi telah ada penyusup masuk, menculik dan mencelakai tuan muda mereka.
Kini rombongan tuan Lee Jiang Xun telah bergabung dengan rombongan Qin Wu Zhu.
Para pria itu tidak ada yang berani mengeluarkan suara dan wajah mereka terlihat tegang.
Di depan mereka, sampai saat ini Chu Pian Ran masih terus berusaha mengeluarkan racun dari tubuh Lee Jiang Wook.
Sudah satu jam dari tubuh pemuda itu keluar asap hitam tipis terus menerus.
Tuan Lee yang melihat kondisi tubuh putranya saat itu benar-benar terkejut dan pedih hatinya.
Setengah jam kemudian Chu Pian Ran terlihat berhenti mengobati pemuda itu.
Dengan langkah cepat tuan Lee mendekati calon menantunya itu.
Mata gadis itu terlihat merah dan berair karena memang sedih melihat tunangannya yang sedang terkapar tak berdaya.
"Ran Er sayang, bagaimana keadaan Lee?" Tanya tuan Lee dengan suara cepat karena terlalu cemas.
"Syukurlah paman aku sudah berhasil mengeluarkan sebagian racun mematikan yang sudah menyebar di tubuhnya. Terlambat beberapa menit saja, Lee pasti tidak akan selamat karena jenis racun ini sangat keras efeknya. Sekarang kita bawa tubuh Lee untuk segera diobati tabib. Luka tubuhnya sangat serius bahkan ada organ dalamnya yang juga terluka akibat ditendang." Terang Chu Pian Ran pelan.
Dengan segera beberapa anak buah tuan Lee mengangkat tubuh tuan mudanya pelan-pelan dan menaikkannya di atas kuda.
Rombongan itupun lalu secepatnya kembali ke kediaman Lee.
Begitu rombongan tiba di kediaman Lee sambil membawa tubuh tak berdayanya Lee Jiang Wook, pecahlah tangis nyonya Lee.
Wanita paruh baya itu mengikuti rombongan pembawa tubuh putranya sambil terus menangis hingga tubuh Lee Jiang Wook dibaringkan di atas ranjangnya.
Tuan Chu lalu memerintahkan salah satu anak buahnya untuk memanggil tabib langganan keluarga itu.
Sementara itu, Chu Pian Ran yang merasa lemas badannya sedang memejamkan mata dan duduk bersandar di kursi tak jauh dari depan kamar Lee Jiang Wook.
Setelah hampir satu minggu berkuda tanpa henti dan mengeluarkan banyak kekuatannya tanpa makan dan minum lemahlah tubuh gadis itu.
Qin Wu Zhu yang sedang duduk di samping Chu Pian Ran tak berani mengusiknya karena dia tahu betul bagaimana kondisi gadis itu.
Di hati yang terdalam, Qin Wu Zhu turut merasakan kesedihan yang dialami oleh Chu Pian Ran.
Mulai hari itu, kediaman tuan Lee Jiang Xun dan tuan Chu Jeong Byun dijaga sangat ketat oleh banyak prajurit atas perintah kaisar Qin.
Bukan hanya itu saja, kaisar Qin juga memerintahkan banyak prajuritnya untuk menjaga ibukota.
Penduduk ibukota yang jadi sering melihat prajurit berlalu lalang di jalanan pun dibuat heran.
__ADS_1
Mereka ada yang berpikiran bahwa telah terjadi sesuatu yang tidak baik di ibukota.
Kaisar Qin memang melarang semua orang yang terkait dengan musibah yang menimpa keluarga Lee Jiang Xun disebarluaskan. Hal ini bertujuan agar penduduk ibukota tidak menjadi panik.