Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 67 Putri Nanyang


__ADS_3

Berita tentang identitas tuan Song yang sebenarnya adalah seorang gadis yang menyamar telah mengejutkan banyak penduduk ibukota Qin.


Awalnya rahasia itu tersebar dari kalangan para pejabat istana karena mereka turut menyaksikan pentahbisan 'tuan Song' menjadi putri angkat kaisar Qin.


Sejak saat itu, penduduk ibukota Qin menjadi sangat penasaran siapa sebenarnya gadis hebat yang telah menyamar menjadi tuan Song si pria bertopeng itu.


Terungkapnya sedikit identitas pria bertopeng telah menimbulkan kegelisahan bagi keluarga Chu Jeong Byun dan Lee Jiang Xun.


Semakin banyak orang yang tahu jika tuan Song sebenarnya adalah seorang gadis, maka keselamatan Chu Pian Ran bisa menjadi terancam.


Namun dua keluarga tersebut tidak bisa berbuat apa-apa karena hal itu sudah menjadi keputusan kaisar Qin yang tidak bisa diganggu gugat.


Kabar tentang keberadaan tuan Song yang sebenarnya adalah seorang gadis yang menyamar dengan cepat tersebar di luar ibukota Qin.


Tentu saja berita itu banyak membuat rakyat Qin menjadi terkejut, penasaran dan juga kagum.


Banyak rakyat Qin yang bertanya-tanya bagaimana gadis itu bisa memiliki kehebatan yang seperti itu.


Sejak Chu Pian Ran menjadi putri angkat kaisar Qin, penampilan gadis itu setengah berubah.


Saat menyamar sebagai tuan Song si pria bertopeng, Chu Pian Ran selalu mengenakan pakaian pria. Namun sekarang, setelah mendapat gelar 'Putri Nanyang', gadis itu mengenakan pakaian perempuan layaknya hari-hari biasa.


Karena sampai saat ini Chu Pian Ran tidak ingin identitasnya diketahui oleh banyak orang, maka gadis itu tetap mengenakan topengnya sama seperti saat dia menyamar menjadi tuan Song.


Beberapa hari sebelum acara pentahbisan, kaisar Qin telah mengumpulkan anggota keluarganya untuk memberitahu tentang niatnya yang ingin menjadikan Chu Pian Ran sebagai putri angkatnya. Dan tentu saja untuk melaksanakan niatnya itu kaisar Qin harus membongkar identitas tuan Song kepada anggota keluarganya.


Saat mendengar bahwa tuan Song adalah Chu Pian Ran, putri penasehat kerajaan, semua orang yang berkumpul terkejut kecuali permaisuri, Qin Wu Zhu dan Qin Wu Lei karena mereka telah tahu terlebih dahulu.


Mengingat bahwa tuan Song sangat berjasa kepada rakyat Qin dan memiliki kelebihan hebat yang patut dikagumi, maka anggota keluarga kerajaan sangat setuju jika Chu Pian Ran dijadikan sebagai putri angkat.


Pada pertemuan saat itu kaisar Qin juga mengingatkan kepada semua anggota keluarganya, jika nanti Chu Pian Ran sudah menjadi putri angkat, mereka dilarang keras memanggil nama aslinya dan memanggil gadis itu dengan nama 'Nanyang'.


Istana Kerajaan Qin


Saat ini Chu Pian Ran sedang terlihat duduk santai dengan kelima kakak angkatnya di gazebo yang ada di taman istana.


Gadis itu duduk diapit oleh Qin Wu Wang dan Qin Wu Zhu.


"Rasanya senang sekali punya adik sehebat kamu Nanyang." Kata Qin Wu Wang sambil kedua tangannya menggenggam tangan kiri Chu Pian Ran. Wajah pemuda itu menatap kagum pada adik angkatnya.


Tak bisa dipungkiri kelima pangeran itu memang sangat kagum dengan kelebihan yang dimiliki oleh gadis itu.


Melihat kedua tangan Qin Wu Wang menggenggam tangan kiri Chu Pian Ran, raut wajah Qin Wu Zhu menjadi tegang. Dengan segera Qin Wu Zhu berkata pada adiknya itu.


"Wang Er, jangan pegang-pegang tangan adik Nanyang sembarangan. Ingat, dia sudah memiliki tunangan." Kata Qin Wu Zhu.


Qin Wu Lei yang tahu perasaan kakaknya pada Chu Pian Ran menduga bahwa kakak keduanya berkata seperti itu sebenarnya karena cemburu.


"Ya ampun kak, aku kan hanya menggenggam tangannya, masa tidak boleh." Sahut Qin Wu Wang dengan mulut merengut.


"Tidak boleh." Tegas Qin Wu Zhu.


Dengan terpaksa Qin Wu Wang pun melepas genggamannya.


Chu Pian Ran yang baru sekali itu berkumpul dengan kakak angkatnya masih merasa canggung. Sedari tadi gadis itu banyak berdiam diri.


Karena sifat Qin Wu Wang yang selalu ingin tahu, pemuda itu pun memalingkan wajahnya pada Chu Pian Ran lagi untuk bertanya.


"Nanyang, bolehkah kakak bertanya sesuatu?" Tanya Qin Wu Wang.


"Kakak ingin bertanya apa?" Balas Chu Pian Ran.


"Darimana kau mendapatkan kekuatanmu itu?" Lanjut Qin Wu Wang.


"Maaf kak, aku sendiri juga tidak tahu jelas darimana asal kekuatanku ini. Semuanya bermula dari dorongan batinku." Jawab Chu Pian Ran.

__ADS_1


"Dorongan batin? Aneh sekali..." Ucap Qin Wu Wang dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena tidak paham dengan maksud Chu Pian Ran.


"Dorongan batin bagaimana maksudnya Nanyang?" Sambung Qin Wu Wang.


"Selama ini, setiap kelebihan yang aku miliki awalnya karena adanya dorongan dari dalam batin yang kuat untuk melakukannya." Jelas Chu Pian Ran.


"Wah, benar-benar tidak masuk akal... Lalu bagaimana caranya kau bisa muncul dan menghilang tiba-tiba?" Tambah Qin Wu Wang.


Suasana menjadi hening sebentar karena Chu Pian Ran merasa ragu untuk menjawab pertanyaan kakak angkatnya yang termuda itu.


Melihat reaksi Chu Pian Ran yang kelihatan bingung, Qin Wu Zhu akhirnya membantu gadis itu menjawab.


"Wang Er, setiap orang pasti memiliki rahasia yang tidak boleh diberitahukan oleh siapapun. Sekalipun Nanyang sekarang sudah menjadi adikmu itu bukan berarti kau boleh mengetahui semua rahasianya." Sela Qin Wu Zhu.


"Apa yang dikatakan oleh kakak kedua itu benar Wang Er. Jika sekiranya Nanyang sulit untuk menjawab pertanyaanmu sebaiknya jangan dilanjutkan lagi. Bukankah kau sendiri juga memiliki rahasia yang tidak ingin diketahui oleh orang lain." Kata Qin Wu Lei mendukung perkataan Qin Wu Zhu.


Qin Wu Wang sempat berpikir sejenak. Apa yang dikatakan oleh kedua kakaknya itu ada benarnya juga.


"Baiklah aku mengerti... Adik Nanyang, aku minta maaf ya karena terlalu ingin tahu rahasiamu. Harap maklum selama ini aku sangat penasaran denganmu. Tapi kapan-kapan kita bisa kan berlatih bersama?" Ucap Qin Wu Wang.


"Tentu kak." Balas Chu Pian Ran singkat.


Tak berapa lama muncullah sosok kasim Liu dari kejauhan dan berjalan mendekati muda mudi yang ada di gazebo itu.


Rupanya kasim Liu diutus kaisar untuk memanggil Qin Wu Zhu dan Chu Pian Ran agar menghadap kaisar sekarang juga karena ada hal yang sangat penting untuk dibicarakan.


Segera saja Qin Wu Zhu dan Chu Pian Ran bangkit dari duduknya dan pergi ke ruang kerja kaisar dengan diantar kasim Liu.


Kini mereka berdua telah berdiri di hadapan kaisar Qin.


"Salam hormat kepada ayahanda..." Kata Qin Wu Zhu dan Chu Pian Ran bersamaan dengan sedikit membungkukkan badan kepada pria paruh baya itu.


"Langsung saja kukatakan kepada kalian. Baru saja aku mendapat laporan dari bupati Beidi jika sudah satu tahun ini daerahnya mengalami kekeringan. Sekarang ini aku memanggil kalian dengan maksud minta tolong agar kalian mengantarkan bantuan ke Beidi. Dan siapa tahu juga setelah tiba di sana nanti Nanyang bisa melakukan sesuatu untuk rakyat yang ada di Beidi." Terang kaisar.


"Jika ananda bisa membantu rakyat Beidi, pasti akan ananda lakukan ayahanda..." Ucap Chu Pian Ran.


Muda mudi itu saling memandang lalu menganggukkan kepala.


"Baik ayahanda, besok pagi kami akan berangkat ke Beidi." Ucap Qin Wu Zhu.


"Ya sudah, sekarang kalian persiapkan dulu kebutuhan kalian selama di Beidi nanti. Untuk urusan bantuan yang akan dikirim ke sana kalian tidak perlu mengurusnya karena semuanya sudah aku pasrahkan pada kasim Liu." Ujar kaisar.


Setelah perbincangan selesai, Qin Wu Zhu dan Chu Pian Ran undur diri dari ruang kerja kaisar.


Sesampainya di depan ruang kerja kaisar Chu Pian Ran pun berkata pada Qin Wu Zhu.


"Aku harus pulang dulu untuk berpamitan dan mempersiapkan kebutuhanku." Kata Chu Pian Ran.


"Baiklah, dan jangan lupa kau istirahatlah yang cukup karena perjalanan ke Beidi lumayan lama. Datanglah besok pagi saja ke sini." Ucap Qin Wu Zhu.


Setelah itu Chu Pian Ran meninggalkan Qin Wu Zhu dan berjalan menuju kamarnya untuk merubah dirinya menjadi kupu-kupu.


Kupu-kupu itu lalu terbang menjauh dari istana dan menuju ke kediaman tuan Lee.


Kediaman Tuan Lee


Setelah sampai di kediaman Lee, kupu-kupu itu mencari tempat yang aman untuk merubah wujudnya tanpa diketahui siapapun.


Sesudah kembali ke wujud aslinya dan melepas topengnya, Chu Pian Ran lalu melangkahkan kaki untuk mencari keberadaan tunangannya.


Dalam perjalanannya menuju ke kediaman utama tuan Lee, Chu Pian Ran bertemu dengan dua orang pelayan.


Gadis itu pun lalu bertanya kepada pelayan dimana keberadaan tuan muda mereka sekarang.


Pelayan itu menjawab jika tuan muda Lee saat ini sedang ada di ruang kerjanya.

__ADS_1


Untunglah dia ada di rumah... Batin Chu Pian Ran.


Tak menunggu waktu lama gadis itu langsung pergi ke ruang kerja Lee.


Saat Lee tahu tunangannya datang menemuinya, pemuda itu lumayan terkejut. Sejak mereka berpacaran hingga bertunangan Chu Pian Ran memang jarang datang ke rumah Lee.


"Sayang, kau datang kemari?" Tanya Lee sambil meletakkan sebuah buku catatan keuangan di atas meja.


Saat itu di atas meja Lee ada lumayan banyak tumpukan buku catatan keuangan yang akan diperiksanya.


Dengan segera Lee bangkit dari tempat duduknya lalu menghampiri gadis yang sangat dicintainya itu.


Setelah mencium kening tunangannya pemuda itu lalu merangkul pinggang ramping gadis itu.


"Aku datang kemari ingin berpamitan denganmu, paman dan bibi." Kata Chu Pian Ran dengan menatap mata Lee.


"Kau mau pergi?" Tanya Lee.


"Iya, besok pagi aku harus pergi ke Beidi. Kaisar memintaku untuk mengantar bantuan ke daerah itu yang sedang dilanda kekeringan." Terang Chu Pian Ran.


"Dengan siapa?" Selidik Lee.


"Qin Wu Zhu dan beberapa pengawal." Jawab Chu Pian Ran.


"Pangeran itu lagi?" Ucap Lee dengan wajah sedikit cemberut.


Untuk sesaat mata muda-mudi itu saling menatap.


Beberapa detik kemudian Chu Pian Ran mencium bibir pemuda itu dengan cepat.


Lee lumayan terkejut dengan sikap tunangannya itu karena selama ini yang berinisiatif memberikan ciuman selalu dia dahulu.


Namun hari ini sikap tunangannya itu berhasil membuat pemuda itu heran sekaligus bahagia.


"Aku mencintaimu Lee..." Ujar Chu Pian Ran pelan.


Lagi-lagi Lee dibuat terkejut oleh sikap Chu Pian Ran barusan.


"Sayang, apa aku tidak salah dengar? Kau berkata mencintaiku? Baru kali ini kau mengatakannya. Coba kau katakan sekali lagi lebih keras lagi." Kata Lee dengan mata menatap sayang pada tunangannya itu.


"Aku mencintaimu tuan muda Lee Jiang Wook." Ucap Chu Pian Ran dengan volume suara agak keras dari sebelumnya.


Lee merasa bahagia mendapat kejutan dari tunangannya itu. Pemuda itu lalu mencium lembut bibir Chu Pian Ran agak lama.


Setelah Lee menutup pintu ruang kerjanya, pemuda itu pun kemudian melakukan hal yang biasanya.


Lee menyingkap separuh pakaian atas kekasihnya hingga bagian yang membuat dia terpesona terlihat.


Dengan jari-jarinya, pemuda itu menyentuh dan memainkan puncaknya hingga mengeras.


"Berapa lama kau akan di Beidi sayang?" Tanya Lee sambil tangannya tidak berhenti di salah satu bagian tubuh tunangannya.


"Aku masih belum tahu... Perjalanan pulang pergi ibukota ke sana saja bisa memakan waktu satu bulan." Balas Chu Pian Ran sambil memeluk pinggang tunangannya.


"Jaga dirimu baik-baik di sana ya, aku tidak ingin melihatmu pulang dalam keadaan sakit lagi. Hatiku sangat sedih jika melihat keadaanmu seperti itu." Pesan Lee.


"Iya, aku akan menjaga diriku baik-baik." Sahut Chu Pian Ran.


"Dan satu lagi, kau jangan terlalu dekat dengan pangeran Qin Wu Zhu. Ingat sayang kau sudah menjadi milikku, aku tidak mau ada pemuda lain yang terlalu dekat denganmu." Lanjut Lee.


"Kau jangan khawatir tentang hal itu Lee... Di hatiku hanya ada kamu seorang, aku tidak akan menggantinya dengan yang lain." Balas Chu Pian Ran.


Lee menjadi terharu campur bahagia mendengar jawaban tunangannya itu.


Beberapa detik kemudian bibir pemuda itu sudah berada di puncak bagian tubuh tunangannya lalu menghisapnya dengan lembut hingga setengah jam.

__ADS_1


Setelahnya, pasangan kekasih itu keluar dari ruang kerja Lee untuk menemui tuan dan nyonya Lee.


Chu Pian Ran kemudian berpamitan kepada calon mertuanya jika dia akan pergi ke Beidi untuk melaksanakan perintah kaisar Qin.


__ADS_2