
Suara derap kuda memecah keheningan suasana saat dini hari itu. Kanan kiri jalanan yang dilewati oleh Chu Pian Ran alias si pria bertopeng, tampak masih banyak pepohonan dan sangat jarang ada rumah penduduknya, namun, gadis itu tidak punya rasa takut sama sekali. Dengan tekad yang mantap, gadis cantik yang menyamar itu terus melarikan kudanya menuju ke Handan.
Saat matahari terbit, Chu Pian Ran alias si pria bertopeng sudah sampai di gerbang daerah Handan. Gadis cantik itu lalu turun dari kudanya dan menyusuri jalanan Handan dengan berjalan kaki sambil menuntun kudanya.
Daerah Handan adalah daerah yang lebih kecil dari ibukota, pagi itu masih belum terlalu ramai orang yang berlalu lalang di jalanan.
Saat si pria bertopeng lewat, banyak mata yang memperhatikannya. Mereka keheranan dengan penampilan aneh Chu Pian Ran saat itu.
Tak berapa lama, si pria bertopeng itu pun menemukan sebuah penginapan sederhana. Dia pun lalu menambatkan kudanya di tiang yang sudah disediakan di depan penginapan itu, dan kemudian masuk penginapan untuk memesan sebuah kamar.
Setelah menyelesaikan pembayaran, pemilik penginapan pun lalu mengantar si pria bertopeng ke depan kamarnya.
"Apakah tuan berniat memesan sarapan? Jika iya, akan kami sediakan..." Kata si pemilik penginapan.
"Tidak paman, sekarang ini aku ingin beristirahat dulu." Jawab si pria bertopeng itu.
"Baiklah tuan, kalau begitu saya tinggal dulu. Jika tuan perlu sesuatu bisa datang menemui saya."
Pemilik penginapan itu pun kemudian meninggalkan depan kamar Chu Pian Ran.
Tak berapa lama, gadis cantik yang menyamar itu pun lalu masuk ke dalam kamar, menutup pintu dan kemudian meletakkan buntelan yang dibawanya dari rumah di lemari kayu kecil yang ada di kamar itu.
Beberapa detik kemudian, Chu Pian Ran lalu naik ke atas ranjang dan mengambil posisi meditasi.
Selama berjam-jam gadis cantik itu pun bermeditasi. Dengan kekuatan spiritual yang dimilikinya sekarang, dia ingin melacak keberadaan dukun yang sudah mengirimkan teluh pada keluarganya dan juga telah meracuni dirinya dengan jarum beracun.
Chu Pian Ran dengan khusyuk bermeditasi dan memusatkan konsentrasinya pada satu titik, yaitu rumah si dukun.
****
Kediaman Dukun Shie Chian Min
Pada malam hari ini, dukun Shie merasa sangat gelisah. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Untuk menenangkan batinnya, dukun tua itu pun bersila lalu bermeditasi.
Satu jam kemudian, hawa panas mulai memenuhi ruangan tempat si dukun bermeditasi.
Dengan segera dukun Shie meningkatkan kekuatannya lagi. Dia merasakan ada aura yang berusaha mencelakainya, namun dia tidak tahu darimana sumbernya dan siapa pelakunya. Dukun tua itu tidak sanggup menerawang aura itu.
Tiba-tiba, dukun itu memuntahkan darah. Dengan kekuatannya yang tersisa, dia berusaha bertahan dari serangan tak terlihat yang menyerangnya.
Satu jam sudah dukun Shie mempertahankan posisinya, lalu lagi-lagi dia memuntahkan darah dan akhirnya tubuh si tua itu tumbang tak berdaya.
Tidak cukup sampai di situ. Hawa yang sangat panas mulai menyerang tubuh dukun Shie hingga mulutnya menceracau karena menahan kesakitan.
Sepanjang malam dukun tua itu menderita kesakitan berkepanjangan yang tak tertahankan.
Pagi harinya
__ADS_1
Brak!! Terdengar gebrakan pintu rumah dukun Shie.
Dengan penuh keberanian, seseorang melangkah masuk dan mencari keberadaan dukun tua itu.
Sosok itu masuk ke sebuah ruangan dan mendapati tubuh tua si dukun sedang merintih kesakitan.
Tiba-tiba sosok itu mengulurkan tangannya dan mengangkat tubuh tua itu.
Dukun Shie dibuat terkejut dengan kejadian yang dialaminya.
"Si siapa kau?" Tanya dukun Shie dengan terbata-bata.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku. Yang harus kamu tahu, kamu pasti mati jika tidak mengatakan siapa yang telah meneluh keluarga penasehat kerajaan Chu Jeong Byun." Kata sosok itu datar.
"Itu itu keluarga Xian yang menyuruhku." Tanpa berbelit-belit dukun tua itu langsung mengaku karena sudah tidak tahan dengan rasa sakit yang menderanya semalaman.
"Dimana rumah mereka?" Lanjut sosok itu lagi.
Dengan sangat jelas si dukun tua memberitahu dimana rumah keluarga Xian.
Setelah mendapatkan jawaban yang dia inginkan, sosok itu lalu melempar tubuh tua si dukun hingga membentur dinding.
"Uukhh..." Si dukun merintih kesakitan.
"Ingat! Jika kau mencelakai orang lagi, maka aku tidak akan segan-segan menghabisi nyawamu!" Ancam sosok itu.
Sosok itu kemudian pergi meninggalkan rumah dukun Shie, naik di atas kuda untuk mencari rumah keluarga Xian.
****
Tak butuh waktu lama akhirnya Chu Pian Ran sampai di rumah keluarga Xian. Seorang pelayan menyambut kedatangannya.
"Tuan, ada maksud apakah anda kemari?" Tanya pelayan itu.
"Aku ingin bertemu tuan Xian. Ada hal penting yang ingin kubicarakan dengannya." Jawab pria bertopeng itu datar.
"Baik tuan, tolong tunggu sebentar disini." Balas pelayan itu lalu pergi ke dalam rumah.
Beberapa menit kemudian, seorang pria paruh baya keluar dari dalam rumah itu.
Pria itu merasa heran dengan penampilan tamu yang ingin menemuinya.
"Maaf tuan, anda siapa dan ada perlu apa datang ke kediamanku? Sepertinya tuan baru pertama kali kemari." Kata tuan Xian.
"Namaku Song Er, aku kemari ingin bicara bisnis dengan anda tuan. Apakah anda mengijinkanku masuk?" Lanjut Chu Pian Ran.
"Baiklah, silahkan masuk tuan." Tanpa rasa curiga sedikitpun tuan Xian membawa pria bertopeng itu masuk ke dalam rumahnya.
"Apakah anda yang bernama tuan Xian?" Tanya pria bertopeng.
__ADS_1
"Benar, saya sendiri. Anda ingin bicara soal bisnis apa tuan Song Er?" Ucap tuan Xian.
Tiba-tiba gadis itu mengulurkan tangan kanannya dan mengangkat tubuh pria paruh baya itu. Pria itu pun menjadi kaget.
"Hei kau, apa yang kau lakukan?! Siapa kau?!" Teriak tuan Xian panik.
"Aku adalah malaikat pencabut nyawa keluargamu." Jawab pria bertopeng itu dingin.
"Ada urusan apa kau ingin mencelakai keluargaku ha?!" Tanya pria itu.
"Tolong, toloooong." Pria paruh baya itu lalu tiba-tiba berteriak minta tolong.
Beberapa menit kemudian muncul seorang wanita paruh baya, seorang gadis dan juga pelayan yang tadi menyambut Chu Pian Ran.
Ketiga perempuan itu terkejut dengan pemandangan yang dilihatnya.
"Hei, siapa kau! Apa yang kau lakukan pada suamiku!" Wanita paruh baya itu berteriak sambil menunjuk gadis itu.
"Jika kalian berani macam-macam, maka nyawa pria ini akan aku habisi!" Gertak si pria bertopeng dengan suara agak tinggi.
"Dukun tua itu sudah sekarat, dan sekarang giliran kalian karena kalian sudah berani mencelakai keluarga Chu." Lanjut Chu Pian Ran.
Alhasil kata-kata gadis itu membuat nyali mereka menjadi ciut.
Wanita paruh baya itu yang tak lain adalah nyonya Xian berbisik kepada pelayannya untuk memanggil bantuan dari beberapa tetangga.
Tanpa mereka duga, saat si pelayan hendak melangkahkan kakinya keluar, pria bertopeng itu melempar tubuh tuan Xian dan jatuh tepat di depan pelayan itu.
"Aahh!" Tuan Xian mengaduh kesakitan.
Ketiga wanita itu memekik karena kaget.
"Sekali kalian mencoba melangkah keluar dari rumah ini, tubuh kalian akan mengalami nasib yang sama dengan pria ini!" Kata gadis itu dingin.
Tangan Chu Pian Ran kembali terulur, dengan sekali kibas tubuh nyonya Xian dan gadis yang ada di sebelahnya terlempar beberapa meter.
Kedua perempuan itu mengaduh kesakitan.
Pria bertopeng itu sengaja tidak mau mencelakai si pelayan, karena dia yakin pelayan itu tidak terlibat dengan kejahatan majikan mereka.
Tiga orang itu kemudian menjadi bulan-bulanan Chu Pian Ran hingga tergeletak tak berdaya dan merintih kesakitan.
"Ini akibatnya jika kalian berbuat jahat pada orang lain. Sudah ketahuan kejahatannya bukannya memperbaiki diri malah balas dendam. Kalian pikir dengan balas dendam masalah kalian bisa selesai begitu saja ha!" Ucap gadis itu lantang.
"Tunggu saja, sebentar lagi kalian akan menikmati tinggal di penjara." Sambung si pria bertopeng.
Chu Pian Ran lalu melangkahkan kakinya dari kediaman itu.
Beberapa hari kemudian, keluarga Xian dan dukun Shie ditangkap oleh biro penyidik.
__ADS_1
Mereka semua mengakui semua kejahatan yang telah mereka lakukan selama ini.