
Semenjak Rong Hya kembali ke ibukota Qin, siluman serigala itu menjadi rajin mengunjungi keluarga Chu Pian Ran, bahkan sudah beberapa kali mengajak Lee Chu Mian Yin jalan-jalan, hingga akhirnya semakin akrablah gadis kecil itu dengan si Rong Hya.
Nyonya muda Lee pernah menawarkan pada pemuda serigala itu untuk tinggal saja di kediaman orang tuanya sambil membantu pekerjaan rumah, namun Rong Hya dengan halus menolak karena jiwanya yang menyukai kebebasan dan tidak betah jika berdiam di satu tempat.
Akhirnya, Chu Pian Ran pun tidak bisa memaksa dan pemuda serigala itu lebih suka memilih tinggal di hutan dekat ibukota.
****
Saat ini usia Lee Chu Mian Yin sudah 2 tahun, di umurnya yang sekarang kemampuan bicara gadis kecil itu mengalami peningkatan yang lumayan menggemaskan.
Sore itu, tampaklah Lee Chu Mian Yin sedang belajar dengan ibunya di lantai ruang kerja ayahnya dengan beralaskan permadani. Sementara, Lee Jiang Wook sedang memeriksa buku laporan keuangan seperti biasanya.
"Ayah Yin Er namanya Lee Ji ang Wook...," nyonya muda Lee sedang mengajari putrinya mengucapkan nama ayahnya dengan cara pengucapan yang pelan dan ada kata yang dipenggal agar gadis kecil itu bisa menirukannya sambil perempuan cantik itu menatap lekat putrinya.
"Li yang uk..., yah uk, yah uk...," ucap bibir mungil gadis cilik itu sambil menoleh pada ayahnya dan tangan kanannya menunjuk pada seorang pemuda yang saat itu melihat putri kecilnya karena namanya dipanggil dengan tingkah yang menggemaskan.
"Iya sayang, belajar yang rajin dengan ibu ya, supaya kelak Yin Er jadi anak yang pintar...," kata Lee Jiang Wook dari tempat duduknya sambil menahan geli dalam hatinya.
"Ibu Yin Er namanya Chu Pi an Ran," lanjut nyonya muda Lee dengan melakukan hal yang sama seperti sebelumnya.
"Cu yan yan..., bu bu yan...," celoteh Lee Chu Mian Yin dengan tangan kanannya menunjuk ibunya.
Karena tidak kuat menahan gemas, perempuan cantik itu pun lalu merengkuh tubuh putrinya dan diciuminya pipi gadis cilik itu secara bergantian.
"Putri ibu semakin pintar saja ya...," ujar Chu Pian Ran sambil memangku putrinya.
Tak berapa lama, perempuan cantik itu pun melanjutkan membelajari putrinya sejumlah gambar angka yang dibuat dengan ukuran yang lumayan besar dan diwarnai dengan warna yang berbeda oleh pelukis langganan mereka.
Satu jam kemudian, masuklah nyonya Chu ke dalam ruangan itu dengan maksud mengajak mereka makan malam karena memang sudah tiba saatnya.
"Cucu nenek sedang belajar ya? wah, rajinnyaaa...," kata wanita paruh baya itu ikut duduk di lantai untuk sesaat.
"Nyek cu, ni wa...," ucap bibir gadis cilik itu sambil jari telunjuk tangan kanannya menunjuk gambar angka 2.
"Wiih, pintar sekaliii... Iya, ini angka 2 sayang...," lanjut nyonya Chu lalu mencium pipi kiri cucunya karena kagum dan gemas.
"Belajarnya sudah dulu ya sayang, sekarang waktunya makan malam...," sambung wanita paruh baya itu.
"Kan kan... na na," oceh Lee Chu Mian Yin senang lalu bangkit berdiri dan keluar ruangan dengan diikuti neneknya dari belakang. Sementara itu, Chu Pian Ran membereskan alat belajar putrinya lalu menggulung permadani dan meletakkannya di pojok ruangan.
Sebelum pasangan suami istri itu keluar dari ruangan, tiba-tiba Lee Jiang Wook merengkuh pinggang istrinya lalu menarik tubuh perempuan cantik itu hingga tubuh mereka tidak berjarak.
"Sebaiknya jangan melakukannya sekarang suamiku, kan ayah dan ibu sedang menunggu kita untuk makan malam bersama...," Chu Pian Ran berusaha mengingatkan suaminya agar ayah muda itu jangan mengajaknya bermesraan untuk saat ini.
Tanpa mempedulikan perkataan istrinya, pemuda itu pun mencium bibir perempuan cantik itu selama lebih dari 5 menit.
"Terimakasih sayang, aku sangat beruntung memiliki istri yang baik sepertimu," ucap Lee Jiang Wook sambil menatap istrinya.
"Sudahlah suamiku, basa-basinya nanti saja, sekarang lebih baik kita segera ke ruang makan," sahut Chu Pian Ran sambil membebaskan tubuhnya dari rengkuhan kedua tangan suaminya lalu langsung keluar ruangan dengan diikuti oleh ayah muda itu.
****
__ADS_1
Tiga hari kemudian...
Menjelang tengah hari, datanglah seorang pria paruh baya ke kediaman Chu dengan maksud untuk meminta bantuan Chu Pian Ran. Pria itu bernama Lei Mong dan datang dari desa Shou Shan, yang jaraknya sehari perjalanan dengan berkuda dari ibukota.
Rupanya, Lei Mong nekat datang ke kediaman Chu akibat sudah merasa jengkel karena selama 3 bulan ini dia sakit diare berkepanjangan lebih dari 5 kali. Bukan hanya dia saja, namun separuh lebih penduduk desa Shou Shan juga mengalami hal yang sama.
Awal terkena diare, pria paruh baya itu berpikir sewajarnya seperti yang dikatakan oleh tabib, bahwa dia bisa terkena diare akibat makan atau minum sesuatu yang memicu sakit tersebut.
Namun, karena diare yang dialaminya terulang beberapa kali bahkan menyerang penduduk yang lain, muncullah pemikiran di otak Mei Long jika sakit diare ini bukanlah 'sakit yang wajar'. Maka, pria paruh baya itu pun diam-diam pergi ke ibukota Qin untuk meminta bantuan putri angkat kaisar agar masalah yang terjadi di desa tempat dia tinggal cepat terselesaikan dan keadaan menjadi normal kembali seperti sediakala.
Setelah bertemu langsung dengan nyonya muda Lee dan menyampaikan semuanya, tak menunggu lama, Chu Pian Ran pun berpamitan pada anggota keluarganya dan mengajak Zhin Zhuan untuk turut serta dengannya ke desa Shou Shan.
Beberapa menit kemudian, berangkatlah ketiga orang itu dengan diantar oleh nyonya Chu dan Lee Chu Mian Yin di depan kediaman. Sementara, tuan Chu dan Lee Jiang Wook sedang tidak di rumah karena ada urusan pekerjaan di luar.
Karena sudah pernah beberapa kali ditinggal pergi jauh oleh ibunya, putri kecil Chu Pian Ran pun menjadi sudah terbiasa dan tidak menunjukkan ekspresi sedih bahkan sempat mengucapkan 'bu, ti ti' sambil melambaikan tangan kanannya dengan gaya yang menggemaskan.
Saat melintasi jalanan ibukota, kebetulan Lu Zee, si pengawal pribadi Qin Wu Zhu melihat ketiga orang itu lewat. Maka dengan segera, pemuda itu kembali ke paviliun Huo Jiang untuk melaporkan hal tersebut pada majikannya.
Karena mempunyai firasat jika sesuatu yang buruk sedang terjadi, maka tanpa menunggu lama, Qin Wu Zhu pun mengajak Lu Zee ke kediaman Chu dan langsung berangkat setelah mendapat informasi kemana perginya adik angkatnya itu dari nyonya Chu.
****
Setelah hampir satu hari melakukan perjalanan berkuda, sebelum masuk ke desa Shou Shan, tiba-tiba Chu Pian Ran menghentikan kudanya dengan mendadak. Spontan, aksinya itu menimbulkan tanda tanya di benak Lei Mong dan Zhin Zhuan.
"Kenapa berhenti mendadak tuan putri?" tanya pria paruh baya itu penasaran.
"Paman, kau kembalilah dulu ke desa Shou Shan dan kami berdua akan menyusul kemudian. Dan juga, jangan beritahu siapapun jika kami akan pergi ke desa itu," balas Chu Pian Ran.
"Ada apa kak?" tanya si peri pegar emas tak sabaran karena merasa aneh dengan sikap Chu Pian Ran.
"Nanti saja kujelaskan, sekarang kita istirahat dulu di hutan itu sambil menunggu malam tiba," jawab perempuan cantik itu.
Baru saja mereka berdua membelokkan kudanya ke arah hutan, terdengarlah suara Qin Wu Zhu memanggil nama adik angkatnya. Otomatis, kemunculan dua pemuda yang tiba-tiba itu membuat nyonya muda Lee bertanya-tanya.
"Kenapa kalian berdua tiba-tiba muncul di sini?" tanya perempuan cantik itu keheranan setelah dua pemuda itu ada di depannya.
"Kemarin, secara kebetulan saya melihat anda sedang berkuda di jalanan ibukota bersama nona Zhin Zhuan dan seorang pria paruh baya, lalu dengan segera melaporkannya pada yang mulia pangeran. Karena yang mulia pangeran merasa jika ada hal buruk terjadi, maka kami berdua segera menyusul kemari setelah mengetahui tujuan kalian dari nyonya Chu," terang Lu Zee.
"Sebenarnya masalah yang sedang terjadi sekarang ini tidak terlalu serius, jadi kalian tidak perlu untuk datang kemari," kata Chu Pian Ran.
"Kita berdua sudah terlanjur sampai di sini Nanyang, apa kau tega menyuruh kami kembali ke ibukota?" ujar pangeran kedua kaisar Qin.
"Aku tidak bermaksud begitu kak... Ya sudah, sebaiknya kita istirahat dulu di hutan sana sambil menunggu malam tiba," lanjut nyonya muda Lee.
Kini, duduklah mereka berempat sambil makan minum bekal yang dibawa dari rumah saat belum berangkat kemarin.
"Memangnya masalah apa yang sedang terjadi di desa Shou Shan?" tanya Qin Wu Zhu.
"Paman Lei Mong cerita, jika dia dan banyak penduduk desa lainnya selama 3 bulan ini beberapa kali sakit diare berkepanjangan secara bergantian. Karena pria paruh baya itu merasa jika sakit diare ini tidak wajar, maka dia minta bantuanku untuk menyelesaikan masalah yang sedang terjadi di desanya," jelas nyonya muda Lee.
"Mungkin saja itu karena sumber air minum atau makanan mereka yang tidak sehat..." kata pemuda itu.
__ADS_1
"Bukan kak, penyebabnya bukan itu...," ucap Chu Pian Ran.
"Lalu?" lanjut pangeran kedua kaisar Qin itu dengan rasa penasaran.
"Nanti malam kita akan menemukan jawabannya. Makanya aku meminta kalian untuk menunggu saat malam tiba, karena sumber masalah itu terjadinya malam hari saat penduduk desa sudah tertidur lelap," jelas nyonya muda Lee.
"Darimana kakak tahu hal itu?" sela Zhin Zhuan keheranan setelah sedari tadi diam saja sambil mendengarkan penuturan Chu Pian Ran.
"Dari suara batin dan instingku Zhuan Er... Selama ini aku banyak menyelesaikan masalah karena dibantu oleh hal ini, dan kemungkinan besar ini berasal dari roh peri Mei Hwa Lie yang menumpang di ragaku," terang perempuan cantik itu.
Si peri pegar emas itu pun manggut-manggut setelah mendapat penjelasan dari Chu Pian Ran.
"Sebaiknya sekarang kita istirahat dulu sebelum nanti malam kita melakukan pengintaian dan peringkusan," sambung nyonya muda Lee.
Tak berapa lama, Chu Pian Ran pun terbang menuju ke salah satu dahan yang besar menggunakan ilmu peringan tubuhnya lalu dia pun rebahan di atas dahan itu. Begitu juga dengan Qin Wu Zhu, pemuda itu juga melakukan hal yang sama seperti adik angkatnya.
Sementara itu di bawah, tampaklah Lu Zee masih berbincang dengan Zhin Zhuan.
"Aku pikir kau adalah pelayan biasa, ternyata kau itu pelayan jadi-jadian... Pantas saja saat aku pertama kali bertemu denganmu, perilaku Xi Er tiba-tiba menjadi aneh. Kau dari golongan siluman ya?" kata pengawal pribadi Qin Wu Zhu sambil menoleh pada gadis yang tak berapa jauh darinya itu.
"Enak saja mengataiku siluman. Aku dari golongan peri tahu...," sahut si peri pegar emas sedikit ketus dengan wajah mulai cemberut karena tidak terima dikatai siluman oleh Lu Zee.
"Entah peri entah siluman menurutku sama saja... Yang penting kalian kan bukan manusia," ucap pemuda itu.
"Darimana samanya... Antara peri dengan siluman itu beda tahu. Kalau peri, sebagian besar hati dan perilakunya baik-baik. Sedangkan siluman, itu kebalikannya...," terang Zhin Zhuan.
"Begitu ya... Lalu berapa umurmu?" lanjut Lu Zee.
"Lebih dari 1.500 tahun," jawab si peri pegar emas.
"Wih, tua sekali... Jangan-jangan wajah aslimu sangat keriput ya," pengawal pribadi Qin Wu Zhu itu mulai meledek sambil menatap wajah cantik gadis yang ada di dekatnya itu.
Mendengar perkataan Lu Zee barusan, Zhin Zhuan pun menatap mendelik pada pemuda itu dengan wajah semakin ditekuk.
"Cantik seperti ini kau sebut keriput? Matamu rabun ya?... Di dunia peri, umur sepertiku ini masih terbilang sangat muda tahu. Peri yang paling senior saja umurnya bisa mencapai lebih dari 20.000 tahun...," timpal si peri pegar emas dengan volume suara agak tinggi.
"Aku kan hanya bercanda cantiiik, jangan dianggap serius...," imbuh Lu Zee.
"Kapan-kapan kita jalan-jalan yuk...," dengan percaya dirinya tiba-tiba pemuda itu berniat mengajak jalan-jalan Zhin Zhuan.
"Tidak mau!" sahut si peri pegar emas ketus karena masih marah.
"Ayo dong cantik, jangan marah seperti itu, nanti cantiknya bisa hilang lo... Ya sudah, aku minta maaf yaaa...," Lu Zee mulai melancarkan rayuannya.
Suasana menjadi hening karena Zhin Zhuan tidak menanggapi kata-kata pemuda itu. Akhirnya, sepasang muda mudi itu pun saling berdiam diri selama belasan menit.
Tanpa mereka berdua sadari, percakapan mereka sudah didengar oleh Chu Pian Ran dan Qin Wu Zhu yang sedang rebahan di atas dahan namun sebenarnya mereka sama sekali tidak tidur, apalagi suara muda mudi itu lumayan terdengar keras di tengah keheningan hutan saat itu.
Nyonya muda Lee menahan rasa geli dalam hati saat mendengar obrolan sepasang muda mudi itu. Chu Pian Ran menduga, kelak Lu Zee dan Zhin Zhuan ada kemungkinan akan berpacaran.
Sementara itu, di dahan yang lain, pangeran kedua kaisar Qin lumayan terkejut. Selama dekat dengan pengawal pribadinya itu, Qin Wu Zhu belum pernah melihat atau mendengar Lu Zee menggoda atau merayu perempuan. Namun saat ini, pangeran kedua kaisar Qin akhirnya menjadi tahu bagaimana sifat asli dari pengawal pribadinya itu.
__ADS_1