Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 96 Kunjungan Dari Kerajaan Han


__ADS_3

Saat Qin Wu Zhu, Lu Zee dan 1.000 prajurit masih berada di daerah Mong Yan, hingga mereka menunggu penduduk daerah itu menuai hasil panen yang pertama setelah mendapat serangan dari ribuan belalang, datanglah rombongan dari kerajaan Han ke kerajaan Qin yang dipimpin langsung oleh pangeran kedua kerajaan Han yang bernama Han Zhuo Jin.


Seminggu sebelum rombongan itu tiba di ibukota Qin, surat pemberitahuan kunjungan itu telah sampai ke istana Qin.


Maka untuk menyambut rombongan itu, kaisar Qin Shi Huang memerintahkan putra mahkota untuk menyambut mereka di depan gerbang ibukota.


Setelah saling berbasa-basi sebentar antara putra mahkota Qin Wu Zhang dengan pangeran Han Zhuo Jin di depan gerbang ibukota, masuklah rombongan besar itu ke ibukota Qin.


Ketika rombongan besar itu melewati jalanan ibukota, mereka pun menjadi pusat perhatian banyak penduduk.


Begitu dekat dengan istana Qin, maka terbagilah rombongan itu menjadi dua kelompok. Kelompok yang pertama adalah para prajurit yang mengiringi pangeran Han Zhuo Jin ke istana Qin yang jumlahnya ada 50 orang, sedangkan kelompok kedua adalah para prajurit yang jumlahnya ada seribu lebih yang melanjutkan perjalanan menuju ke markas besar prajurit Qin yang tak jauh dari istana.


Maka masuklah pangeran kedua kerajaan Han itu ke istana Qin dengan ditemani oleh putra mahkota Qin Wu Zhang dan diiringi oleh 50 prajuritnya yang sebagian diantara mereka mengangkut beberapa peti besar yang berisi banyak hadiah untuk kaisar Qin, seperti : kain berkualitas tinggi, batu permata, batu berlian, perhiasan, uang tail emas, dan tanaman herbal.


Adapun tujuan kedatangan pangeran Han Zhuo Jin ke kerajaan Qin adalah untuk mewakili ayahnya menjalin persahabatan dengan kerajaan itu, berkenalan dengan putri Nanyang yang tersohor di daratan China, sekaligus meminta bantuan pada perempuan itu untuk mengatasi permasalahan di wilayah Han yang sampai sekarang belum bisa terselesaikan, yakni hasil panen daerah bagian barat Han yang sangat sedikit akibat kadar kesuburan tanah yang sangat minim yang mengakibatkan para penduduk di sana sering kekurangan bahan makanan bahkan menderita kelaparan.


"Salam hormat yang mulia kaisar Qin Shi Huang, semoga yang mulia panjang umur..." Han Zhuo Jin memberi salam dan hormat sambil membungkukkan badannya begitu pemuda itu sudah ada di hadapan penguasa nomer satu kerajaan Qin itu.


"Tidak perlu terlalu formal pangeran. Setelah melakukan perjalanan panjang dari istana Han menuju istana Qin, tubuhmu pasti merasa lelah. Sekarang kau duduklah di kursi itu, dan nikmatilah makanan dan minuman yang telah disediakan oleh para pelayanku agar tubuhmu segar kembali." Kata kaisar Qin sambil menunjuk ke sebuah kursi yang ada si samping kanannya, yang di depannya ada sebuah meja berukuran sedang dan di atasnya telah tersedia beberapa macam makanan, buah-buahan dan minuman.


"Terimakasih banyak yang mulia kaisar." Balas pangeran kedua kerajaan Han itu, lalu pemuda itu melangkahkan kakinya dan duduk di kursi yang ditunjuk oleh kaisar tadi.


"Tidak perlu sungkan pangeran, nikmati saja dahulu semua hidangan yang tersedia di atas meja itu. Jika ada hal penting yang ingin kausampaikan, tangguhkan saja dulu dan tidak perlu tergesa-gesa." Lanjut sang kaisar.


"Baik yang mulia kaisar, terimakasih banyak..."


Tak lama kemudian, makanlah kedua orang itu dalam suasana yang tenang selama puluhan menit.


Setelah dirasa cukup kenyang, Han Zhuo Jin lalu bertepuk tangan sebanyak tiga kali sebagai isyarat agar para prajuritnya membawa masuk beberapa peti hadiah yang telah disiapkan untuk kaisar Qin Shi Huang.


"Yang mulia kaisar, semua peti hadiah ini sengaja disiapkan oleh ayahanda untuk yang mulia sebagai tanda persahabatan antara kerajaan Han dengan kerajaan Qin. Mohon yang mulia kaisar menerima semua pemberian ini..." Ucap Han Zhuo Jin.


"Kenapa kalian repot-repot seperti ini... Tanpa kalian memberi apapun aku juga mau menjalin persahabatan dengan kerajaan kalian. Bukankah hadiah sebanyak ini bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat Han." Kata kaisar Qin Shi Huang terus terang tanpa ada maksud menyinggung sedikitpun.


"Yang mulia kaisar tidak perlu khawatir, bagian untuk rakyat sudah ada persediaan tersendiri. Sedangkan semua hadiah ini khusus kami bawa untuk yang mulia dan tuan putri Nanyang, karena kami sedang membutuhkan bantuannya." Jelas pangeran kedua kerajaan Han.


"Kalian membutuhkan bantuan dari putri angkatku? Memangnya kalian sedang mengalami masalah berat apa?" Tanya kaisar Qin penasaran.


"Sudah bertahun-tahun ini, rakyat daerah barat Han mengalami kekurangan bahan makanan karena lahan pertanian mereka hanya bisa menghasilkan jumlah panen yang sangat sedikit. Para rakyat dan pihak istana sudah mencoba beberapa cara untuk meningkatkan tingkat kesuburan tanah dan cara pengolahannya namun hasilnya masih tetap sama saja. Dari berita yang kami dengar selama ini, tuan putri Nanyang bisa meningkatkan kadar kesuburan lahan pertanian menggunakan kekuatan supranaturalnya, jadi ayahanda pun mengutus hamba datang kemari untuk meminta bantuan padanya." Terang Han Zhuo Jin.


"Begitu ya... Menurutku, putri angkatku bisa saja mengatasi masalah kalian. Tapi, aku tidak tahu apakah dia bersedia berangkat ke Han atau tidak mengingat dia punya seorang putri yang masih berumur 1 tahun lebih 3 bulan yang tidak bisa ditinggal pergi terlalu lama." Lanjut kaisar Qin Shi Huang.


"Jika yang mulia kaisar mengijinkan, bolehkah hamba bertemu dengan tuan putri Nanyang?" Tanya pangeran kedua kerajaan Han.


"Tentu saja boleh. Lalu kapan kau akan berniat bertemu dengannya?" Tambah kaisar Qin.


"Bagaimana jika sore nanti saja yang mulia kaisar?" Sahut Han Zhuo Jin.


"Baiklah. Nanti sore aku akan menyuruh prajuritku untuk memanggilnya ke istana. Mudah-mudahan saja dia tidak sibuk." Balas kaisar Qin Shi Huang.

__ADS_1


"Terimakasih banyak yang mulia kaisar."


Sore harinya...


"Perjalanan dari ibukota Qin ke wilayah barat Han sangat jauh pangeran, bisa membutuhkan waktu hingga beberapa minggu. Belum lagi saat nanti ada di sana, pasti tidak cukup hanya dua atau tiga hari untuk memulihkan kondisi lahan pertanian yang seluas itu. Aku tidak tega meninggalkan putriku yang masih kecil terlalu lama. Apalagi, beberapa waktu yang lalu juga baru saja kutinggal ke daerah Mong Yan lebih dari dua minggu." Keluh Chu Pian Ran terus terang.


"Aku mengerti perasaanmu sebagai seorang ibu tuan putri... Namun sekali lagi, aku mohon padamu, tolonglah kami untuk mengatasi masalah ini. Jika dibiarkan berlarut-larut, lama-kelamaan rakyat bagian barat Han akan ada yang meninggal akibat kelaparan atau kekurangan nutrisi." Kata Han Zhuo Jin dengan penuh harap jika perempuan yang sedang duduk di sampingnya itu mau menolong rakyatnya.


"Tidak perlu buru-buru tuan putri, kau masih ada waktu untuk memikirkannya karena aku akan berada di ibukota Qin ini selama satu minggu, sekalian aku mau menimba ilmu bagaimana caranya kerajaan Qin ini bisa berkembang dengan baik seperti ini." Lanjut pangeran kedua kerajaan Han itu.


****


Keesokan harinya...


Sore itu, terlihatlah tiga keluarga sedang berkumpul di ruang tamu kediaman Lee untuk membahas suatu masalah yang lumayan serius.


"Jika aku berangkat ke Han, aku tidak tega meninggalkan Yin Er dalam waktu yang lumayan lama. Tapi jika aku tidak berangkat, aku tidak enak hati dengan utusan dari kerajaan Han yang sudah jauh-jauh datang kemari untuk meminta bantuanku. Jangan-jangan ketidakberangkatanku nanti berpengaruh buruk pada hubungan dua kerajaan ke depannya." Kata Chu Pian Ran memecah keheningan ruangan itu.


Sejak pertemuannya dengan pangeran Han Zhuo Jin kemarin sore, pikiran nyonya muda Lee sedang mengalami kebingungan.


"Menurut ayah sebaiknya kau berangkat saja nak, karena ini menyangkut kepentingan banyak orang dan dua kerajaan. Masalah Yin Er, kita akan saling membantu bagaimana caranya agar putrimu itu tidak sedih atau rewel saat kepergianmu." Saran tuan Chu pada putrinya.


"Benar seperti yang dikatakan ayahmu Ran Er. Saat menghadapi situasi sulit seperti ini, kita harus bisa memikirkan hal yang lebih terpenting di atas masalah pribadi atau keluarga sendiri. Masalah Yin Er, ayah yakin sekali jika putrimu itu tidak akan terlalu rewel karena pembawaannya yang tenang sedari lahir. Justru dengan hal seperti ini, akan menjadi sebuah latihan untuknya agar kelak terbiasa saat kau tinggal pergi lagi karena suatu urusan yang penting." Tambah ayah mertuanya.


Untuk sesaat Chu Pian Ran pun terdiam. Apa yang dikatakan oleh ayah kandungnya dan ayah mertuanya itu ada benarnya juga.


"Kau jangan khawatir sayang, ibu akan menjaga Yin Er dengan baik bersama ibu kandungmu. Iya kan besan?" Sela nyonya Lee lalu menoleh pada besannya.


"Baiklah, aku akan berangkat ke Han. Terimakasih banyak untuk ayah, ibu dan suamiku yang mau menjaga Yin Er dengan baik." Akhirnya perempuan cantik itu pun menuruti keputusan anggota keluarganya.


"Kau itu bicara apa nak, mengucapkan terimakasih segala... Kita ini adalah satu keluarga, dan mengurus Yin Er adalah tanggung jawab kita bersama." Ucap tuan Chu.


Malam harinya...


Terlihatlah Chu Pian Ran sedang menidurkan Lee Chu Mian Yin sambil memeluk badan putri kecilnya itu dengan posisi tubuh saling berhadapan.


Sementara itu, Lee Jiang Wook sedang duduk di kursi sambil memeriksa buku laporan keuangan seperti biasanya.


"Yin Er sayang, ibu akan pergi jauh dan lumayan lama. Yin Er jangan rewel ya, kan masih ada ayah, kakek dan nenek..." Kata nyonya muda Lee pada putri kecilnya dengan pengucapan kalimat yang lambat sambil menatap lekat mata jernih gadis cilik itu.


"Bu bu gi?" Tanya putri kecilnya seolah mengerti jika ibu tercintanya akan pergi lagi.


"Iya sayang, ibu harus pergi karena ada hal penting yang harus ibu lakukan..." Sahut perempuan cantik itu.


Tak lama kemudian, tanpa disangka-sangka oleh Chu Pian Ran, putri kecilnya itu memajukan kepalanya dan menciumi wajah ibunya.


Spontan, peristiwa itu membuat nyonya muda Lee dan suaminya yang kebetulan ikut menyaksikan tingkah Lee Chu Mian Yin pun menjadi terharu sekaligus sedih.


Setelah puas menciumi wajah ibunya, gadis cilik itu lalu ingin menyusu pada perempuan itu. Dan tak berapa lama, terpejamlah kedua matanya sambil menghisap puncak ibunya.

__ADS_1


****


Keesokan harinya, Chu Pian Ran datang ke istana Qin kembali dan memberikan jawaban pada pangeran Han Zhuo Jin. Begitu mendapatkan jawaban sesuai dengan yang diharapkannya, senanglah hati pemuda itu karena usahanya jauh-jauh datang ke istana Qin tidaklah sia-sia.


Selama menunggu hari kunjungan pangeran kedua Han selesai, nyonya muda Lee banyak menghabiskan waktunya bersama putri tercintanya.


****


3 hari kemudian


Hari ini, tibalah saatnya keberangkatan Chu Pian Ran ke wilayah Han.


Di depan markas besar prajurit Qin, terlihatlah prajurit Han dan prajurit Qin sedang bersiap-siap sebelum melakukan perjalanan panjang ke wilayah Han.


Untuk mengiringi perjalanan putri angkatnya ke wilayah Han, kaisar Qin memerintahkan seribu prajuritnya untuk menemani perempuan itu. Tak lupa, pria paruh baya itu juga meminta Qin Wu Zhi untuk turut serta pergi ke kerajaan Han sebagai perwakilan ayahnya untuk menghadap kaisar Han dan memberikan reaksi balasan atas kesepakatan persahabatan dua kerajaan.


Di saat para prajurit kedua kerajaan itu sedang sibuk bersiap-siap, tak jauh dari mereka terlihatlah Chu Pian Ran sedang menggendong putri kecilnya yang saat itu sengaja diajak oleh ayahnya untuk mengantar kepergian ibunya.


Begitu melihat banyak prajurit yang sedari tadi mondar mandir, gadis cilik itu berceloteh sambil tangan kanannya menunjuk-nunjuk ke arah kumpulan prajurit itu.


"Itu namanya prajurit sayang, pra ju rit..." Ucap nyonya muda Lee sambil menggendong putrinya.


"Yit yit, na na..." Oceh si Lee Chu Mian Yin sambil tangan kanannya masih menunjuk ke arah gerombolan prajurit itu.


Karena Chu Pian Ran tanggap jika putri kecilnya sedang penasaran dengan para prajurit itu, maka nyonya muda Lee pun membawa gadis cilik itu mendekat ke kumpulan prajurit itu dengan diikuti oleh suaminya.


"Yit yit..." Seru Lee Chu Mian Yin. Beberapa prajurit yang kebetulan mendengar suara gadis kecil itu pun menoleh lalu tersenyum dan melambaikan tangannya. Tanpa disangka, Lee Chu Mian Yin membalas dengan ganti melambaikan tangan kanannya dengan menggemaskan.


Hari itu yang seharusnya menjadi hari perpisahan yang mengharukan malah sebaliknya.


Tak berapa lama, datanglah Qin Wu Zhi dan Han Zhuo Jin ke markas itu. Ketika melihat sosok Chu Pian Ran bersama suami dan putrinya, mereka pun berjalan mendekati anggota keluarga kecil itu.


Dengan segera Lee Jiang Wook pun memberi hormat pada kedua pangeran itu sambil membungkukkan badannya begitu kedua pemuda itu telah ada di hadapannya.


"Halo putri kecil yang cantik, bagaimana kabarmu?" Tanya Qin Wu Zhi sambil mencubit lembut pipi kiri Lee Chu Mian Yin dengan gemasnya.


"Yin Er baik paman..." Jawab nyonya muda Lee mewakili putrinya.


"Jadi ini putri kecilmu? Cantik dan menggemaskan ya..." Kata Han Zhuo Jin sambil ikutan mencubit pelan pipi gadis cilik itu.


"Man man, man man..." Celoteh Lee Chu Mian Yin menggemaskan sambil tangan kanannya yang mungil memegang-megang pakaian Qin Wu Zhi.


Otomatis, tingkahnya itu membuat kedua pangeran itu tertawa kecil.


"Sebentar lagi kita akan berangkat Nanyang." Ucap Qin Wu Zhi.


"Iya kak, aku siap." Jawab Chu Pian Ran.


Setelah semua persiapan selesai, maka para prajurit itu pun naik ke atas punggung kuda-kuda masing-masing.

__ADS_1


Begitu pula dengan nyonya muda Lee, setelah perempuan itu berpamitan pada suami dan putrinya, dengan segera dia pun naik ke atas punggung kudanya, lalu menjalankan binatang itu menuju ke barisan paling depan di samping Qin Wu Zhi dan Han Zhuo Jin.


__ADS_2