
Mendengar penjelasan Dewi Chang'e, Chu Pian Ran pun sangat terkejut.
"Aku menjadi peri bibi?" tanya nyonya muda Lee masih tak percaya dengan pendengarannya.
"Iya nak, sekarang kau sudah jadi peri... Hanya itu satu-satunya cara yang dapat kulakukan untuk menolongmu dan peri yang sudah lama menumpang di ragamu itu," balas Dewi Bulan.
"Pantas saja waktu aku bangun tadi aku merasa ada yang berbeda dengan tubuhku... Badanku rasanya ringan sekali namun mengandung energi yang kuat," ucap Chu Pian Ran.
"Karena sekarang kau sudah menjadi peri, otomatis kekuatan supranaturalmu meningkat pesat dan umurmu bisa mencapai ribuan tahun... Dengan kemampuan yang kau miliki sekarang, aku minta padamu untuk tetap terus menjaga kedamaian dan kesejahteraan manusia di dunia bawah..." lanjut Dewi Chang'e.
"Tentu bibi, aku pasti akan terus melakukan tugas kemanusiaan itu dengan segenap kemampuanku...," sahut nyonya muda Lee mantap setelah dia bisa menerima statusnya yang sekarang.
"Selain itu, aku juga akan memberikan kemampuan padamu agar kelak jika membutuhkan bantuanku, kau bisa langsung datang ke Istana Bulan ku ini..," imbuh dewi cantik itu.
Tak berapa lama, Dewi Chang'e pun bangkit berdiri dari tepi ranjang karena berniat akan menyalurkan sebagian kekuatan supranaturalnya untuk yang kesekian kali agar Chu Pian Ran bisa pergi atau pulang antara dunia bawah dan dunia atas dengan mudah.
Kini, tampaklah Dewi Bulan sedang mengulurkan telapak tangannya yang mengeluarkan cahaya putih ke tubuh nyonya muda Lee selama satu jam.
"Sekarang sudah selesai... Apa kau merasa lapar nak?" sambung dewi cantik itu usai menyalurkan kekuatan supranaturalnya pada Chu Pian Ran.
"Sangat lapar bibi...," jawab nyonya muda Lee jujur sambil tersenyum malu.
"Kalau begitu kau mandilah dulu, lalu kita makan bersama. Sekalian kau akan kuperkenalkan dengan Dewa Fuxin, si Dewa Bintang, yang masih sekerabat denganku," kata Dewi Chang'e yang kemudian mengajak nyonya muda Lee keluar dari kamar dan berniat mengantarnya ke kamar mandi.
Begitu mereka berdua keluar dari ruangan, terpesonalah Chu Pian Ran dengan kemegahan Istana Bulan itu.
"Istana bibi bagus sekali...," ujar nyonya muda Lee dengan mengedarkan pandangannya ke segala penjuru istana, yang dapat dijangkau oleh matanya sambil melangkahkan kakinya mengikuti Dewi Bulan.
"Ini masih belum seberapa nak... Istana yang paling megah dan luas di dunia atas adalah Istana Langit," jelas Dewi Chang'e.
Tak berapa lama, sampailah mereka berdua di depan kamar mandi yang bagian dalamnya juga lumayan mengagumkan megahnya.
"Mandilah nak, sementara aku akan menyuruh pelayan untuk menyiapkan makanan. Di dalam kamar mandi sudah tersedia beberapa helai pakaian ganti milikku yang kebetulan ukuran tubuh kita sama. Kau tidak perlu sungkan untuk memilih baju yang sesuai keinginanmu," ucap Dewi Bulan.
"Terimakasih banyak bibi..."
Setelah Chu Pian Ran masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya, beranjaklah Dewi Chang'e dari tempat itu lalu memerintahkan pelayannya untuk menyiapkan makanan.
Empat puluh lima menit kemudian...
Saat ini, tampaklah nyonya muda Lee sedang diantar oleh salah seorang pelayan Istana Bulan menuju ke ruang makan, dimana Dewi Chang'e dan Dewa Fuxin telah menunggu kehadiran peri cantik itu selama beberapa menit yang lalu.
Setelah tiba di ruang makan, dan melihat di samping Dewi Bulan duduk seorang 'pria paruh baya', maka Chu Pian Ran pun memiliki pemikiran pasti si 'pria itu' adalah Dewa Fuxin yang akan diperkenalkan Dewi Chang'e padanya.
"Salam hormat Dewa Fuxin, perkenalkan, nama hamba Chu Pian Ran...," kata nyonya muda Lee memberi salam hormat kepada Dewa Bintang dengan membungkukkan badannya, begitu peri cantik itu telah ada di dekat dua makhluk abadi itu.
"Tidak perlu terlalu formal nak... Jika Dewi Chang'e memintamu memanggilnya bibi, maka kau juga panggillah aku paman, agar kita terlihat lebih akrab...," sahut Dewa Fuxin.
"Baiklah paman...,"
"Ayo nak, duduklah... Makan saja apa yang ingin kau makan dan tidak perlu sungkan-sungkan," sela Dewi Bulan.
"Terimakasih banyak bibi...,"
Tak berapa lama, mulailah mereka bertiga makan bersama dalam suasana yang tenang dan hangat.
Karena sifat Dewi Chang'e dan Dewa Fuxin yang ramah, Chu Pian Ran pun merasa nyaman dan memiliki kesan bahwa dia seperti sedang makan bersama dengan anggota keluarganya sendiri.
__ADS_1
Tiga puluh menit kemudian, terlihatlah nyonya muda Lee sedang berdiri di balkon lantai tiga istana sambil kedua tangannya memegang pagar pembatas yang berukir indah, sementara itu Dewi Bulan dan Dewa Bintang duduk di kursi yang tak jauh dari peri cantik itu berada.
Karena ini memang pengalaman pertamanya berada di dunia atas secara langsung (khususnya Istana Bulan), Chu Pian Ran beberapa kali dibuat kagum dengan penampakan yang dia lihat, seperti halnya saat ini. Sejauh mata memandang, nyonya muda Lee melihat luasnya langit yang cerah dengan dihiasi banyak gumpalan-gumpalan awan dengan berbagai bentuk dan ukuran.
Menyaksikan peri cantik yang takjub itu, Dewi Chang'e dan Dewa Fuxin pun tersenyum memakluminya.
"Apakah kau berniat langsung pulang atau ingin berkeliling dulu nak?" tanya Dewi Bulan memecah kesunyian.
Mendengar pertanyaan 'bibi dadakan' nya itu, Chu Pian Ran pun membalikkan badannya lalu melangkah menuju kursi kosong yang ada di antara Dewi Chang'e dan Dewa Fuxin.
"Jika boleh jujur, sebenarnya aku masih ingin berada di sini agak lama dan berkeliling di sekitar bibi. Tapi, mengingat di bumi ada anggota keluargaku yang pasti sedang cemas memikirkanku, aku akan pulang sekarang...," jawab nyonya muda Lee.
"Baiklah kalau begitu, nanti aku akan mengajarkanmu bagaimana caranya kau bisa pulang ke bumi... Kapan-kapan jika ada waktu kau berkunjunglah ke sini, Istana Bulan ku akan selalu terbuka untukmu," kata Dewi Chang'e.
"Salam ya untuk semua anggota keluargamu, sampai ketemu di lain waktu...," sela Dewa Bintang.
"Iya paman, salam paman pasti akan aku sampaikan. Sekarang aku pamit pulang dulu paman...," sahut peri cantik itu lalu memberi hormat sambil membungkukkan badannya pada Dewa Fuxin.
Kini, tampaklah Dewi Bulan sedang mengajari Chu Pian Ran bagaimana caranya agar dia bisa pulang ke bumi dalam waktu yang cepat.
Setelah mendengarkan arahan dari Dewi Chang'e, maka tak berapa lama, nyonya muda Lee pun memejamkan matanya agar bisa konsentrasi dan memusatkan kekuatan supranaturalnya.
Beberapa detik kemudian berubahlah peri cantik itu menjadi seberkas cahaya yang kemudian melesat terbang menjauh dari Istana Bulan.
****
Setelah dua jam melakukan perjalanan super cepat dari Istana Bulan menuju ibukota Qin, begitu sampai di dekat gerbang ibukota, tanpa diketahui siapapun berkas cahaya itu merubah wujudnya menjadi kupu-kupu lalu terbang dengan santai menuju ke kediaman Lee.
Saat binatang bersayap jelmaan Chu Pian Ran itu sampai di halaman kediaman, terlihatlah si kecil Lee Chu Mian Yin sedang dikerumuni oleh belasan kupu-kupu dengan didekatnya ada sosok neneknya yang sedang menemani gadis cilik itu.
Tak lama kemudian, kupu-kupu jelmaan nyonya muda Lee terbang mendekat ke arah gadis kecil yang menggemaskan itu. Begitu 'kupu-kupu jadi-jadian' itu datang, belasan kupu-kupu asli yang awalnya mengerumuni Lee Chu Mian Yin pun langsung membuyarkan diri dan kembali ke taman.
Beberapa detik kemudian, Lee Chu Mian Yin pun berseru dengan senangnya sambil kedua tangannya terulur pada kupu-kupu itu.
"Ibu Yan Yan lang, ibu Yan Yan lang...,"
Mendengar perkataan bibir mungil cucunya yang cantik dan menggemaskan itu, spontan nyonya Lee pun melihat pada seekor kupu-kupu yang sedang berada agak dekat dengan wajah gadis cilik itu.
Tak berapa lama, si 'kupu-kupu jadi-jadian' itu pun terbang pelan di sekitar taman dengan diikuti oleh Lee Chu Mian Yin yang hatinya dipenuhi kegembiraan karena ibu tercintanya sudah pulang.
"Ibu Yan Yan ni, ngan lali!" seru gadis cilik itu sambil mengejar kupu-kupu jelmaan ibunya itu.
Tak ingin mengisengi putrinya terlalu lama, kupu-kupu itu pun berubah wujud menjadi manusia kembali lalu menggendong tubuh Lee Chu Mian Yin.
Bukan main senangnya gadis cilik itu, beberapa kali dia terlihat menciumi pipi kiri ibunya.
"Yin Er rindu dengan ibu ya?... Maaf ya nak, selama hampir dua bulan ini ibu ada urusan penting...," ucap Chu Pian Ran sambil menatap mata jernih putrinya lalu mencium pipi gadis kecil itu secara bergantian.
"Ya, yin indu kali da ibu Yan Yan...," sahut bibir mungil Lee Chu Mian Yin sambil kedua tangan mungilnya dirangkulkan pada leher ibunya.
"Kau sudah pulang nak?" tanya nyonya Lee begitu telah dekat menantunya dengan perasaan lega karena perempuan cantik itu telah kembali pulang.
"Sudah bu... Ran Er minta maaf jika sudah membuat kalian semua cemas...," sahut peri cantik itu.
"Apa yang kau katakan itu nak, pakai minta maaf segala, bukankah kita semua ini keluarga...," ucap wanita paruh baya itu.
"Bagaimana kabarmu sayang?" lanjut wanita paruh baya itu.
__ADS_1
"Kabarku sangat baik bu, setelah menjadi peri, tubuhku terasa ringan dan energiku sangat kuat sekali...," balas Chu Pian Ran.
"Syukurlah kalau begitu... Kami semua sempat sangat panik waktu kau terus merintih kesakitan 1,5 bulanan yang lalu," kata nyonya Lee.
"Kau lapar nak? Jika iya, ibu akan meminta para pelayan untuk menyiapkan makanan untukmu," imbuh wanita paruh baya itu.
"Aku sudah kenyang bu, tadi aku sudah makan di istana bibi Chang'e...," jawab nyonya muda Lee.
Nyonya Lee pun terhenyak mendengar menantunya menyebut nama Dewi Bulan dengan kata 'bibi'.
"Kau menyebut 'bibi' pada yang mulia Dewi Bulan nak? Bukankah itu tidak pantas?" ujar wanita paruh baya itu yang awalnya bermaksud mengingatkannya.
"Itu semua memang keinginan beliau sendiri bu... Bahkan Dewa Bintang pun juga menyuruhku memanggilnya 'paman'...," terang Chu Pian Ran.
"Benarkah begitu?" tanya nyonya Lee yang merasa masih tidak percaya mengingat status dewa-dewi itu dipandang status tertinggi di alam semesta saat itu.
"Iya bu, aku tidak bohong... Beliau berdua sangat ramah dan baik padaku, bahkan beliau berdua juga sudah mengganggapku seperti kerabat sendiri. Ditambah lagi, aku boleh berkunjung ke Istana Bulan jika sewaktu-waktu aku ingin kesana... Istana Bulan benar-benar mengagumkan bu...," jelas menantunya.
Lagi-lagi wanita paruh baya itu terkejut, dia tidak menyangka jika menantunya mendapat perlakuan istimewa dari Dewi Bulan dan Dewa Bintang.
"Ibu Yan Yan yuk lan lan na..." kata bibir mungil Lee Chu Mian Yin sambil tangan kanannya menunjuk ke arah gerbang kediaman.
"Yin Er ingin jalan-jalan sayang, ya sudah ibu ambil uang dulu ya nak...," sahut nyonya muda Lee.
"Kau tetaplah di sini nak, biar ibu yang mengambilkan uangnya...,"
Tak berapa lama, nyonya Lee pun beranjak meninggal tempat itu menuju ke kamarnya untuk mengambil uang.
*
Saat ini, terlihatlah Chu Pian Ran sedang jalan-jalan dengan putri kesayangannya sambil tangan kanannya menggandeng tangan kiri Lee Chu Mian Yin.
Bukan main senangnya gadis cilik itu karena bisa jalan-jalan dengan ibunya yang telah pergi lebih dari 1,5 bulan.
Tak henti-hentinya bibir mungil Lee Chu Mian Yin berceloteh sambil tangan kanannya menunjuk-nunjuk ke beberapa arah.
"Bu Yan Yan lali lali, Yin mo lali itu...," ucap gadis kecil itu saat matanya melihat gulali yang beraneka bentuk.
"Baiklah sayang, yuk kita ke sana...,"
Tak berapa lama, ibu dan anak itu pun melangkahkan kakinya mendekat pada dagangan gulali itu.
"Halo gadis kecil yang cantik, kita ketemu lagi ya...," kata paman si penjual gulali yang memang sudah hafal dengan putri kecil Chu Pian Ran itu karena memang sudah pernah beberapa kali membeli gulalinya.
"Lo man man, Yin mo li lali...," sahut Lee Chu Mian Yin.
"Si cantik mau beli yang mana?" lanjut si penjual gulali.
Untuk sesaat, mata jernih Lee Chu Mian Yin melihat gulali yang beraneka bentuk itu, dan seperti perkiraan Chu Pian Ran dan si penjual gulalinya, gadis cilik itu memilih gulali bentuk kuda kesukaannya, yang kebetulan di tatakan itu masih ada 3 buah gulali yang berbentuk binatang itu.
Tak berapa lama, paman si penjual gulali itu pun mencabut gagang gulali dan menyerahkannya pada Lee Chu Mian Yin. Sementara itu, nyonya muda Lee mengambil satu buah uang koin emas dari kantong uangnya, berniat ingin membayar gulali itu.
"Tidak perlu membayar tuan putri, hari ini gulalinya saya gratiskan...," ujar si penjual gulali itu.
"Tidak bisa seperti itu paman... Yang namanya membeli juga harus membayar," jawab Chu Pian Ran.
"Tidak apa-apa tuan putri, lagi pula beberapa kali kalian membeli di sini, saya juga dibayar dengan uang yang berlebih...," terang si paman penjual gulali itu berusaha menolak.
__ADS_1
"Aku tidak suka penolakan paman, lagipula kau kan juga perlu menafkahi istri dan anakmu. Jadi, pakailah uang ini untuk memenuhi kebutuhan kalian," kata nyonya muda Lee lalu langsung meletakkan satu buah koin emas itu di meja kecil yang digunakan untuk mencetak gulali."