Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 109 Transformasi Chu Pian Ran Menjadi Peri


__ADS_3

"Jika boleh hamba tahu, sebenarnya apa yang terjadi dengan putri hamba yang mulia dewi?" tanya tuan Chu dengan hati gelisah.


"Jadi, perempuan cantik tadi adalah putrimu tuan? Kau sangat beruntung memiliki putri seperti dia, karena dia adalah golongan manusia yang terlahir dengan keistimewaan khusus. Selain itu, karena dia memiliki energi yang sepadan dengan energi roh peri yang saat ini menempati raganya, maka kemampuan supranaturalnya mudah mengalami peningkatan...," jawab Dewi Chang'e dengan melihat pada pria paruh baya itu.


"Karena tubuh putrimu sudah dimasuki oleh mustika kehidupanku, roh peri yang menumpang di dalam raganya pun sedang mengalami proses kebangkitan, namun karena jiwanya sudah terlanjur berpadu terlalu lama dengan jiwa putrimu, maka dia mengalami kesulitan saat ingin memisahkan diri. Jika hal itu dipaksakan, maka raga dan jiwa putrimu lah yang kalah dan bisa meninggal. Jadi, satu-satunya cara yang bisa kulakukan untuk membantu mereka berdua hanyalah dengan cara meleburkan atau menyatukan jiwa mereka berdua," lanjut Dewi Bulan memberi penjelasan.


"Lalu sekarang, bagaimana keadaan putri hamba yang mulia dewi?" sambung pria paruh baya itu.


"Berhubung jiwa putrimu sudah melebur dengan jiwa peri itu, maka putrimu sekarang, mau tidak mau mulai berubah menjadi seorang peri. Namun, untuk lebih menyempurnakan proses perubahannya, dia harus mendapat penanganan secara khusus. Untuk itu, selama beberapa hari ke depan, aku akan membawanya ke Istana Bulan agar lebih memudahkan penanganan dan pemantauan perkembangannya," jelas dewi cantik itu.


Begitu mendengar penuturan Dewi Chang'e, para pria yang berkumpul di ruang tamu itu pun terkejut.


"Putri hamba menjadi peri yang mulia dewi?" imbuh si penasehat kerajaan masih tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Benar tuan... Jika nanti proses penyempurnaannya selesai, secara otomatis kekuatan supranaturalnya akan meningkat dan umurnya bisa mencapai ribuan tahun. Aku tahu kalian akan sulit menerima kenyataan ini, namun semuanya sudah suratan takdir. Lagipula, menjadi seorang peri adalah sesuatu yang sangat membanggakan. Kelak, aku akan memintanya untuk menjaga kedamaian manusia di daratan China ini dengan kekuatan yang telah dia miliki, karena aku tahu putrimu adalah manusia yang suka membantu sesama...," terang Dewi Bulan.


Untuk sesaat tuan Chu pun menghela napas panjang, lalu menoleh pada besannya sebentar. Setelah mendapat penjelasan panjang lebar dari Dewi Bulan, kedua pria paruh baya itu tidak dapat berkomentar apa-apa selain berusaha ikhlas menerima kenyataan yang ada.


"Sebaiknya, sekarang saja aku bawa perempuan itu ke istanaku agar segera mendapatkan penanganan lebih lanjut,"


Tak berapa lama, tuan Lee pun membawa semua tamunya menuju ke kamar menantunya.


Sesampainya di kamar, tampaklah nyonya Chu dan nyonya Lee sedang duduk di tepi ranjang sambil menatap sedih tubuh Chu Pian Ran yang sedari tadi belum juga sadar.


Sementara itu, Lee Jiang Wook duduk di kursi yang tak jauh dari ranjang, dengan posisi duduk menghadap ketiga perempuan itu dengan raut wajah tak beda jauh dengan ibu kandungnya dan ibu mertuanya.


"Semuanya, perkenalkan, ini adalah yang mulia Dewi Bulan...," tuan Lee Jiang Xun memperkenalkan Dewi Chang'e kepada istrinya, besannya dan putranya.


Begitu mendengar nama 'Dewi Bulan' disebut oleh tuan Lee, kedua wanita paruh baya itu dan Lee Jiang Wook pun sangat terkejut dan dengan segera mereka bertiga memberi salam hormat sambil membungkukkan badannya pada dewi cantik itu.


"Sudahlah, tidak perlu terlalu formal seperti itu... Aku datang kemari karena ingin membawa tubuh perempuan itu ke istanaku, sebab dia harus segera mendapatkan penanganan khusus agar tidak terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan. Jika kalian butuh penjelasan, tanya saja kepada para kaum pria yang tadi sudah mendapat keterangan dariku," kata Dewi Chang'e terus terang.


Mau tidak mau, nyonya Chu, nyonya Lee dan Lee Jiang Wook pun merelakan tubuh Chu Pian Ran yang tak sadarkan diri itu dibawa oleh Dewi Bulan ke istananya untuk waktu yang tidak mereka ketahui.


Beberapa detik kemudian, tampaklah Dewi Chang'e sedang mengayunkan telapak tangan kanannya di atas tubuh Chu Pian Ran dengan maksud membawa raga perempuan cantik itu menggunakan kekuatan supranaturalnya.


Setelah tubuh nyonya muda Lee menghilang dari pandangan mata seiring ayunan tangan kanan Dewi Bulan, dewi cantik itu pun lalu berpamitan dan kemudian melesat terbang sesudah mengubah wujudnya menjadi seberkas cahaya.


Kini, terlihatlah anggota keluarga Lee, anggota keluarga Chu, kaisar Qin Shi Huang dan Qin Wu Zhu telah berkumpul kembali di ruang tamu kediaman Lee.


Saat nyonya Chu, nyonya Lee dan Lee Jiang Wook mendapat penjelasan dari tuan Chu Jeong Byun, bukan main terkejutnya mereka bertiga, khususnya suami Chu Pian Ran.


Mereka tidak habis pikir, bahkan merasa sulit percaya jika nyonya muda Lee telah berubah menjadi seorang peri gara-gara raganya dimasuki oleh mustika kehidupan Dewi Chang'e.


"Aku benar-benar tidak menyangka jika Nanyang akan berubah menjadi peri. Belum menjadi peri saja sudah hebat, apalagi setelah nanti menjadi peri... Aku merasa sangat beruntung mempunyai putri angkat sekaligus warga Qin yang sehebat dia. Aku merasa yakin, dengan kemampuannya itu, kelak akan membuat wilayah Qin ini menjadi semakin lebih baik dan sejahtera...," ucap kaisar Qin Shi Huang memecah kesunyian.

__ADS_1


"Kami semua pun juga berharap demikian yang mulia kaisar... Hanya saja, sampai detik ini, kami masih merasa berat menerima kenyataan bahwa Chu Pian Ran telah menjadi seorang peri yang umurnya bisa mencapai ribuan tahun... Itu artinya, dia akan hidup sampai keluarga kami berkembang hingga beberapa generasi...," sahut si penasehat kerajaan dengan wajah lesu, tak beda jauh dengan raut wajah istrinya.


"Mau bagaimana lagi tuan Chu, seperti yang telah dikatakan oleh Dewi Bulan tadi, kita hanya bisa menerima kenyataan ini... Awalnya memang berat dan sulit dimasuk akal, tapi aku yakin, lama-kelamaan kalian akan mulai ikhlas menerimanya dan bahkan akan menjadi bangga dengan status barunya...," kata pria penguasa nomer satu di wilayah Qin itu berusaha memberi pengertian pada anggota keluarga putri angkatnya.


Setelah berbincang seperlunya dengan anggota keluarga Chu Jeong Byun dan anggota keluarga Lee Jiang Xun, maka kaisar Qin Shi Huang pun pamit kembali ke istana dengan diikuti oleh putra keduanya dan Lu Zee.


****


"Yah, bu yan yan na?" tanya Lee Chu Mian Yin malam itu dengan tubuh dalam pelukan ayahnya, di atas pembaringan sebelum ayah dan anak itu tidur.


"Ibu Chu Pian Ran dibawa oleh Dewi Bulan ke Istana Bulan sayang...," ucap Lee Jiang Wook dengan pengucapan agak lambat sambil menatap mata jernih putri kesayangannya itu.


Sejak kejadian tadi pagi di taman, gadis cilik itu memang sudah beberapa kali menanyakan keberadaan ibu tercintanya.


Dan malam ini, bibir mungil Lee Chu Mian Yin menanyakan hal yang sama lagi, seolah dia juga merasa khawatir dengan keadaan ibunya yang tadi pagi sempat dia lihat sedang meringis kesakitan.


"Na tu yah? Yin mo tut na...," lanjut gadis kecil yang sekarang sudah berumur 3,5 tahun itu.


"Istana Bulan itu ada jauh di atas sana sayang, kita tidak bisa pergi ke sana...," jawab ayah muda itu dengan ritme pengucapan yang sama sambil jari telunjuk tangan kanannya menunjuk ke arah atas.


Untuk sesaat heninglah suasana kamar itu. Mata jernih Lee Chu Mian Yin sedari tadi tak lepas menatap mata ayah tercintanya.


"Yin indu bu yan yan yah, yin ngin mu...," imbuh bibir mungil gadis kecil yang cantik dan menggemaskan itu.


"Sama sayang, ayah juga rindu dengan ibu Chu Pian Ran... Yin Er yang sabar ya, nanti ibu juga akan pulang kembali...," sahut Lee Jiang Wook lalu mencium pipi kiri putri tercintanya itu.


Saat putri kecilnya telah menutupkan matanya, pikiran Lee Jiang Wook mulai mengembara tak menentu. Setelah tadi siang dia mendapat penjelasan dari ayah mertuanya, jika istrinya sekarang telah menjadi seorang peri, ayah muda tampan itu masih sulit menerima kenyataan.


Lee Jiang Wook tidak bisa membayangkan, entah bagaimana nantinya kehidupan rumah tangga mereka ke depan karena mereka berdua telah menyandang status yang berbeda.


****


Istana Bulan


Keterangan :


7 hari di bumi \= 1 hari di dunia atas (karena ini hanya fiksi, mohon jangan di complain yah... 🙏)


Saat ini, terlihatlah tubuh Chu Pian Ran sedang terbaring di atas ranjang, di sebuah kamar yang cukup megah dalam keadaan masih tak sadarkan diri.


Sejak Dewi Chang'e membawanya ke Istana Bulan, setiap sehari sekali, perempuan cantik itu mendapatkan transferan kekuatan supranatural dari Dewi Bulan agar kondisinya semakin lebih baik setelah bertransformasi menjadi seorang peri.


"Jadi ini manusia istimewa yang telah dimasuki oleh mustika kehidupanmu?" tanya Dewa Fuxin, si Dewa Bintang pada Dewi Chang'e sambil memandang tubuh Chu Pian Ran yang terbujur tak sadarkan diri di atas ranjang bersama.


"Iya kak... Untungnya saat itu aku berada di kota tempat dia tinggal, jika tidak segera kutolong, jiwa dan raga manusianya pasti akan musnah selamanya," sahut Dewi Bulan.

__ADS_1


"Luar biasa... Aku tidak menyangka ada golongan manusia yang sehebat ini," ucap Dewa Fuxin kagum.


"Ada banyak hal misteri yang terjadi di alam semesta yang sangat luas ini, salah satunya adalah perempuan cantik ini... Dengan jiwa kemanusiaannya yang sangat tinggi, kelak kemampuannya akan sangat berguna bagi kehidupan manusia," lanjut Dewi Chang'e.


7 hari kemudian (49 hari di dunia manusia)


Tampaklah Chu Pian Ran telah sadar dari pingsannya. Tak berapa lama, perempuan cantik itu pun bangkit duduk lalu mengedarkan pandangannya dengan tatapan bertanya-tanya karena dia merasa asing dengan kamar yang ditempatinya saat ini.


Bukan hanya itu saja, keanehan lain yang dirasakannya sekarang adalah tubuhnya terasa ringan seperti kapas dan penuh energi yang sangat kuat.


"Kau sudah sadar nak?" tanya Dewi Chang'e begitu kakinya melangkah masuk ke dalam kamar.


"Anda siapa dan ini di mana?" sahut Chu Pian Ran sambil matanya mengikuti pergerakan tubuh Dewi Bulan sampai dewi cantik itu duduk di tepi ranjang.


"Perkenalkan aku adalah Dewi Bulan dan sekarang kau sedang berada di istanaku...," jawab Dewi Chang'e.


Mendengar jawaban perempuan cantik yang ada di dekatnya itu, nyonya muda Lee pun terkejut dan hal itu tidak lepas dari pandangan Dewi Bulan.


"Aku maklum jika kau merasa terkejut karena kau baru pertama kali ini bertemu dengan makhluk abadi dunia atas...," kata dewi cantik itu.


"Apa yang terjadi pada hamba yang mulia dewi? Dan kenapa hamba bisa di istana ini?" tanya Chu Pian Ran jujur.


"Jangan bicara terlalu kaku nak... Karena kau sekarang sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri, panggil saja aku 'bibi' dan jangan menggunakan kata 'hamba' dan 'yang mulia' saat kita hanya berdua saja atau berkumpul dengan orang-orang terdekat...," ucap Dewi Bulan.


"Baiklah bibi, aku akan menuruti semua kata-kata bibi...," balas nyonya muda Lee.


"Apa kau masih ingat kejadian terakhir yang kau alami?" lanjut Dewi Chang'e.


"Iya bibi aku masih ingat, waktu itu tubuhku tiba-tiba merasa seperti tersengat listrik bertegangan tinggi yang membuatku jatuh tersungkur dan kesakitan," jawab Chu Pian Ran jujur.


"Semua kejadian yang kau alami itu akibat reaksi dari mustika kehidupanku yang masuk ke dalam tubuhmu dan membuat roh peri yang selama ini menumpang di ragamu mengalami proses kebangkitan, namun dalam prosesnya, jiwa peri itu sulit memisahkan dirinya karena sudah terlanjur berpadu dengan jiwamu," terang dewi cantik itu.


"Jadi benda seperti kelereng berpendar yang kutemukan di hutan waktu itu adalah mustika kehidupan?" tanya nyonya muda Lee.


"Benar... mustika kehidupan adalah salah satu benda yang sangat berharga yang aku miliki. Benda ini bisa mengumpulkan jiwa yang tercerai berai dari makhluk golongan dewa-dewi, peri, iblis maupun siluman dan membangkitkan mereka kembali...," jelas Dewi Chang'e.


"Bagaimana bisa mustika kehidupan itu jatuh ke bumi bibi?" lanjut Chu Pian Ran penasaran.


"Itu gara-gara kelakuan anak iblis kurang ajar yang berani mencuri mustika kehidupanku dan membuangnya sembarangan," sahut Dewi Bulan dengan geram.


"Astaga... Pasti berbahaya sekali jika mustika kehidupan bibi jatuh ke tangan makhluk jahat dan menyalahgunakannya...," ucap nyonya muda Lee lumayan terkejut.


"Kau benar sekali nak, waktu itu aku sempat takut jika itu benar-benar terjadi, tapi untungnya kaulah yang menemukannya... Terimakasih banyak ya nak, waktu itu kau cepat tanggap begitu melihat ada benda aneh yang jatuh dari langit," ujar dewi cantik itu.


"Ada hal penting lainnya yang ingin kusampaikan padamu nak... Aku harap setelah kujelaskan nanti, kau tidak marah dan menyalahkan aku..." imbuh Dewi Chang'e terus terang.

__ADS_1


"Kenapa aku harus marah dan menyalahkan bibi? Memangnya hal penting apa yang hendak bibi sampaikan?" tanya Chu Pian Ran.


"Akibat kelalaianku yang tidak menjaga mustika kehidupanku dengan ketat, hingga membuatnya dicuri, dibuang dan sampai masuk ke ragamu, sekarang kau sudah berubah status menjadi seorang peri...," terang Dewi Bulan yang akhirnya membuat nyonya muda Lee sangat terkejut.


__ADS_2