Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 140 Ide Cemerlang Zhin Zhuan


__ADS_3

Setelah melakukannya beberapa kali, akhirnya gadis kecil itu pun bisa melakukan pendaratan dengan posisi tubuh yang seimbang.


Saat ini, Lee Jiang Wook meminta putri tunggalnya itu untuk melayang dari atas gazebo menuju sebuah dahan pohon besar yang jaraknya sekitar 6 meter an dari gazebo tersebut, sedangkan tinggi batang pohon itu dari tanah ada 2 meteran lebih.


Karena tempat pendaratannya kali ini lebih tinggi dari kursi kayu tadi, maka Lee Chu Mian Yin mempersiapkan dirinya agak lama dari sebelumnya. Sementara itu, ayah muda tersebut sudah siap siaga di bawah pohon itu.


Beberapa detik kemudian, setelah merasa mantap, gadis kecil itu pun kembali memposisikan badannya lagi saat akan lepas landas, mulai melayang dan akhirnya dia bisa mendaratkan kakinya di dahan tersebut dengan posisi tubuh sempat tidak seimbang, namun dengan segera Lee Chu Mian Yin merangkulkan tangan kirinya pada batang pohon itu.


Sesudah mengatur napasnya untuk beberapa detik, gadis kecil cantik itu pun membalikkan badannya sebelum terbang menuju ke gazebo kembali.


Aksi Lee Chu Mian Yin itu rupanya menarik perhatian beberapa pelayan yang kebetulan lewat dan melihat gadis kecil tersebut sedang berlatih ilmu peringan tubuhnya.


Karena para pelayan di kediaman Lee itu memang tidak tahu menahu soal 'cincin' yang baru saja dimiliki oleh putri majikannya, tentu saja mereka lumayan terkejut dan kagum saat melihat gadis kecil itu bisa terbang.


Otomatis, 'kelebihan tiba-tiba' Lee Chu Mian Yin yang dilihat beberapa pelayan tadi akhirnya menyebar ke pelayan lainnya yang juga mengundang rasa kaget dan takjub karena selama ini gadis kecil itu belum pernah melakukan hal tersebut sebelumnya, selain berkomunikasi dengan beberapa binatang.


Banyak diantara pelayan itu yang berspekulasi jika kemampuan dadakan majikan kecilnya tersebut merupakan warisan dari mendiang ibundanya.


Begitu percobaan yang pertama cukup sukses dia lakukan, Lee Chu Mian Yin pun semakin bersemangat dalam berlatih ilmu peringan tubuhnya.


Setelah beberapa kali mencoba, gadis kecil itu pun semakin lancar melakukan perpindahan dengan cara terbang dari gazebo menuju batang pohon tadi.


Latihan saat itu terhenti selama puluhan menit, ketika waktunya jam makan siang telah tiba. Lee Jiang Wook yang berstatus sebagai seorang ayah menjadi semakin bangga dengan pencapaian-pencapaian yang telah dilakukan oleh putri kesayangannya yang masih berumur 7 tahun 7 bulanan tersebut.


Sejak mengetahui jika cincin pemberian para peri bisa membuatnya melakukan hal-hal yang 'tidak biasa', Lee Chu Mian Yin pun menjadi semakin giat berlatih jika tidak ada jadwal sekolah di bawah bimbingan ayahnya dan Qin Wu Zhu.


🌹


Sementara itu Zhin Zhuan, si peri burung pegar emas yang telah lama menggantikan tugas mendiang Chu Pian Ran berkeliling di wilayah Qin sambil membagi-bagikan uang koin emas pada rakyat yang tidak mampu, makin lama makin terasah jiwa kemanusiaannya.


Saat melakukan tugasnya tersebut, si peri pegar emas banyak menjumpai anak-anak dari kalangan rakyat jelata tidak bisa mengenyam bangku sekolah dikarenakan berbagai alasan.


Awalnya Zhin Zhuan hanya menyimpan hal itu di dalam hati, namun lama kelamaan, muncullah suatu dorongan yang kuat untuk menyampaikan masalah tersebut kepada Tuan Chu Jeong Byun, dengan harapan agar si penasehat kerajaan itu berkenan meneruskannya pada Kaisar Qin Shi Huang.


Pada suatu sore hari, di saat Tuan Chu Jeong Byun sedang berada di ruang kerjanya, masuklah si peri burung pegar emas ke dalam ruangan tersebut untuk menyampaikan isi hatinya yang sudah mengganjal beberapa hari terakhir ini.

__ADS_1


"Selamat sore paman, apakah saya mengganggu kesibukan paman?" tanya Zhin Zhuan setelah ada di hadapan pria paruh baya itu.


"Paman tidak terlalu sibuk Zhuan'er, ada apa?" si penasehat kerajaan tersebut merasa penasaran dengan kedatangan peri cantik itu di ruang kerjanya.


"Begini paman, setelah sekian lama saya menggantikan tugasnya mendiang kakak Ran'er berkeliling di wilayah Qin dan membagi-bagikan uang koin emas, saya melihat banyak anak dari kalangan rakyat jelata tidak bisa mengenyam bangku pendidikan. Bukankah masa depan wilayah Qin kita ini nantinya juga akan diteruskan oleh generasi muda seperti mereka?" Zhin Zhuan mulai mengutarakan maksud hatinya.


"Coba kamu duduk dulu Zhuan'er agar kita lebih enak ngobrolnya," perintah Tuan Chu Jeong Byun sebelum menanggapi buah pemikiran peri pegar emas itu.


Tak berapa lama, Zhin Zhuan pun duduk di sebuah kursi kayu yang letaknya tak jauh dari meja kerja pria paruh baya itu.


"Menurut paman, apa yang kamu sampaikan tadi sangat bagus. Selama ini, sebagian besar anak-anak di wilayah Qin, yang bisa mengenyam bangku sekolah hanya dari golongan menengah ke atas, padahal seharusnya semua anak yang ada di wilayah Qin mendapatkan hak yang sama, karena siapa tahu kelak, anak-anak dari kaum rakyat jelata tersebut banyak yang memiliki kemampuan untuk memajukan wilayah ini," tuan penasehat kerajaan tersebut setuju dengan ide Zhin Zhuan sambil menambahkan pendapatnya.


"Itu yang saya maksudkan paman... Zhuan'er merasa kasihan jika mereka itu mendapat perbedaan perlakuan. Lagipula dengan mengenyam bangku pendidikan, anak golongan rakyat jelata juga akan bisa meraih cita-citanya seperti anak golongan menengah ke atas. Kan sayang jika mereka punya bakat tapi tidak disalurkan gara-gara tidak mengenyam bangku sekolah...," kata peri cantik itu terus terang.


"Coba besok saat persidangan rutin aku akan menyampaikan idemu pada yang mulia kaisar agar ada pencerahan dan tindak lanjut ke depannya," ucap Tuan Chu Jeong Byun.


"Terimakasih paman, sudah berkenan menerima gagasanku dan menyampaikannya pada Kaisar Qin Shi Huang. Mudah-mudahan nasib anak-anak dari kalangan rakyat jelata itu menjadi lebih baik lagi ke depannya. Jika memang membutuhkan dana, kita bisa memanfaatkan berlian yang ada di gua para kurcaci yang jumlahnya masih banyak sekali," imbuh Zhin Zhuan sambil mencoba memberikan solusi.


"Seharusnya malah aku yang berterimakasih padamu, karena kamu memiliki pemikiran yang mulia demi kemajuan wilayah Qin ini. Ya mudah-mudahan saja idemu diterima baik oleh yang mulia kaisar dan para pejabat istana lainnya, mengingat selama ini masih ada beberapa pejabat istana yang masih memiliki sifat 'kolot' dengan mempertahankan tradisi lama yang sebenarnya menjurus ke arah diskriminasi," ucap pria paruh baya itu jujur sesuai dengan fakta yang ada.


Adapun di wilayah Qin, pernah beberapa generasi sebelumnya, mereka menjunjung tinggi pemikiran bahwa 'yang layak mendapat pendidikan yang baik hanyalah golongan menengah ke atas karena mereka merupakan kalangan orang yang terpandang'.


Pemikiran tersebut dan praktek yang ada di lapangan telah membuat kesenjangan yang cukup lebar antara kaum rakyat jelata dengan kalangan menengah ke atas yang membuat sikap golongan orang terpandang itu sering meremehkan keberadaan rakyat jelata, bahkan malah ada yang merasa 'jijik' jika berdekatan dengan kaum rendahan tersebut.


Di saat Tuan Chu Jeong Byun sedang berbincang dengan Zhin Zhuan, masuklah Nyonya Chu Jeong Byun ke ruang kerja suaminya sambil membawa nampan yang di atasnya ada seteko teh hangat dan 2 buah cangkir.


"Kamu ada di sini Zhuan'er?" tanya wanita paruh baya itu setelah meletakkan nampan tersebut di atas meja kerja suaminya.


"Iya bibi, tadi saya dan paman sedang membahas masalah sekolah untuk anak kaum rakyat jelata. Zhuan'er merasa kasihan jika anak-anak itu tidak mendapatkan pendidikan yang layak," si peri pegar emas memberi penjelasan maksud kedatangannya di ruang kerja tuan penasehat kerajaan.


"Sekolah untuk anak kaum rakyat jelata? Sebuah ide yang bagus, bibi sangat setuju dengan hal itu...," kata Nyonya Chu Jeong Byun mendukung buah pemikiran Zhin Zhuan sesudah dia duduk di samping kanan peri cantik itu.


"Setahu bibi, di wilayah Qin ini, pendidikan untuk anak kalangan rakyat jelata belum terlalu diperhatikan. Sebagian besar dari mereka menghabiskan banyak waktunya jika tidak bermain, ya membantu pekerjaan orang tuanya, padahal pendidikan itu faktor yang sangat penting untuk memajukan suatu kerajaan," wanita paruh baya tersebut turut menyampaikan pandangannya.


"Bagaimana keadaannya bangsa kurcaci, apakah mereka baik-baik saja?" imbuh Nyonya Chu Jeong Byun sambil menoleh pada si peri pegar emas.

__ADS_1


"Mereka semua baik-baik saja bibi," peri cantik itu hanya memberikan setengah jawaban, karena sebenarnya sampai saat ini para manusia mini tersebut masih merasakan kesedihan dengan meninggalnya Chu Pian Ran. Namun tentu saja Zhin Zhuan tidak ingin menyampaikan hal itu karena tidak ingin membuat wanita paruh baya yang duduk di samping kanannya tersebut menjadi sedih kembali.


"Lalu keadaan wilayah Qin bagaimana? Apakah semuanya aman?" sambung wanita paruh baya itu.


"Sampai hari ini aman-aman saja bibi... Mudah-mudahan untuk hari-hari ke depannya masih sama seperti ini...," Zhin Zhuan mengungkapkan keinginannya yang berasal dari kedalaman hatinya, karena jika sampai terjadi suatu bencana besar di salah satu daerah yang ada di wilayah Qin, dia akan mengalami kesulitan untuk mengatasinya sebab kekuatan supranaturalnya masih jauh di bawah mendiang nyonya muda Lee.


"Syukurlah kalau begitu... Jika memang suatu hari nanti di wilayah Qin ini ada daerah yang mengalami bencana yang lumayan berat dan kau tidak bisa menanganinya sendiri, kau bisa minta bantuan pada Peri Jinfeng Zhui atau peri senior yang lainnya...," seolah tahu apa yang menjadi isi hati si peri pegar emas, Nyonya Chu Jeong Byun telah menyampaikan solusinya terlebih dahulu.


"Baik bibi."


🌹


Keesokan harinya...


Pada saat acara persidangan rutin dan beberapa perdana menteri telah menyampaikan laporan atau permasalahannya masing-masing, Tuan Chu Jeong Byun maju ke hadapan Kaisar Qin untuk menyampaikan gagasan yang diutarakan Zhin Zhuan kemarin sore.


"Mohon ampun Yang Mulia Kaisar, jika Yang Mulia berkenan, hamba minta waktunya sebentar untuk menyampaikan suatu hal terkait anak-anak dari kalangan rakyat jelata," pria paruh baya itu mulai membuka suaranya dengan sikap tubuh menghormat.


"Masalah anak-anak dari golongan rakyat jelata? Tentang apa itu tuan penasehat?" Kaisar Qin Shi Huang bertanya dengan hati penasaran.


"Menjawab Yang Mulia Kaisar. Semenjak putri hamba telah tiada, tugasnya berkeliling di wilayah Qin sambil membagi-bagikan uang koin emas digantikan oleh sahabatnya yang bernama Zhin Zhuan yang juga berasal dari bangsa peri. Menurut laporan peri tersebut, banyak anak-anak dari kaum rakyat jelata tidak bisa mengenyam bangku pendidikan yang layak karena beberapa alasan," tuan penasehat kerajaan menghaturkan permasalahannya.


"Nona peri Zhin Zhuan merasa iba dengan nasib anak-anak tersebut, yang seharusnya juga mendapatkan hak untuk menimba ilmu setara dengan kalangan menengah ke atas, mengingat kemajuan Kerajaan Qin ini kelak juga berada di tangan anak-anak itu. Bukankah semakin baik taraf pendidikan di suatu wilayah, juga akan semakin baik pula tingkat kesejahteraan rakyatnya," Tuan Chu Jeong Byun menambahkan alasan yang kuat tentang pentingnya pendidikan bagi semua lapisan masyarakat.


Untuk beberapa saat, ruangan tersebut menjadi hening karena pria penguasa nomer satu di wilayah Qin itu terlihat sedang berpikir. Sementara itu, pejabat istana yang lain juga berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh si penasehat kerajaan tadi yang sebagian besar juga setuju dengan pemikiran tersebut.


"Menurutku pemikiran peri itu sangat baik, selama ini yang aku tahu, pendidikan untuk anak-anak rakyat jelata di wilayah Qin memang kurang diperhatikan, sehingga kehidupan mereka mengalir begitu saja apa adanya. Harusnya dengan adanya kegiatan wajib belajar, kita bisa mengetahui bakat dan kelebihan yang anak-anak miliki sehingga kelak besar nanti kemampuan mereka dapat disumbangkan demi kemajuan Qin ini," Kaisar Qin Shi Huang menyampaikan pendapat pribadinya.


"Bagaimana dengan para pejabat istana lainnya? Apakah kalian setuju?" pria penguasa nomer satu di wilayah Qin itu meminta saran dari perdana menterinya.


Untuk sesaat, para pejabat istana itu terlihat saling memandang satu sama lain dan ada beberapa juga yang menganggukkan kepalanya.


Tak berapa lama, tampillah Tuan Liu Xhu Tan, si perdana menteri kesejahteraan rakyat di hadapan Kaisar Qin dengan sikap tubuh menghormat.


"Mohon ampun Yang Mulia Kaisar, jika hamba boleh berpendapat, hamba sangat setuju dengan buah pemikiran nona peri Zhin Zhuan. Seharusnya anak-anak dari kalangan rakyat jelata memiliki persamaan hak dalam bidang pendidikan, karena kelak ilmu yang mereka dapatkan bisa dijadikan bekal di masa yang akan datang. Siapa tahu diantara mereka nantinya ada yang memiliki kecerdasan yang pantas dijadikan pejabat-pejabat daerah setempat maupun para ahli di bidang lainnya," Tuan Liu Xhu Tan turut mendukung buah pemikiran Zhin Zhuan disertai dengan penuturan alasan yang masuk akal.

__ADS_1


"Hamba ingin menambah Yang Mulia Kaisar. Jika pengadaan sekolah khusus bagi anak-anak rakyat jelata nanti benar-benar direalisasikan, keluarga hamba siap mendukung masalah pendanaan yang kelak akan dibutuhkan untuk pembelian buku-buku pelajaran maupun peralatan belajar lainnya," kata tuan si penasehat kerajaan yang langsung saja membuat para pejabat istana lainnya lumayan terkejut bercampur heran, karena masalah yang sedang mereka diskusikan tadi belum mencapai finalnya, tapi pria paruh baya itu sudah menyediakan dirinya untuk menjadi donatur yang secara sepintas saja jika dipikirkan pasti membutuhkan dana yang sangat besar.


🌹🌹🌹


__ADS_2