Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 97 Kutukan Siluman Tikus


__ADS_3

Awalnya, Chu Pian Ran mengira jika putri kecilnya akan rewel atau menangis saat melihat kepergiannya. Namun, pikirannya meleset karena perhatian gadis cilik itu terfokus pada prajurit yang jumlahnya lebih dari 2.000 orang itu.


Tak henti-hentinya bibir mungilnya itu menyerukan kata 'yit yit' sambil tangan kanannya melambai-lambai selama rombongan prajurit itu lewat di depan matanya.


Lee Jiang Wook yang sebagai ayahnya, untuk saat ini merasa lega karena putrinya itu teralihkan perhatiannya dari kepergian ibunya.


Selama puluhan menit, rombongan yang besar dan panjang itu berhasil menyita perhatian sebagian besar penduduk ibukota Qin hingga menghilang dari pandangan.


****


Begitu keluar dari gerbang ibukota Qin, mulailah rombongan prajurit itu melakukan perjalanan panjangnya dengan diiringi rasa penasaran rakyat Qin yang kebetulan melihat mereka lewat.


Atas saran Chu Pian Ran, agar lebih mempersingkat waktu, selama perjalanan dari ibukota Qin menuju daerah barat Han, mereka akan berhenti untuk mendirikan tenda pada malam hari setiap habis melakukan perjalanan selama 4 hari 4 malam tanpa henti. Jika ada prajurit yang memang merasa ingin buang air, mereka bisa keluar dari rombongan dan menyusul kembali jika sudah selesai buang airnya.


Demikian pula, jika ada diantara mereka yang merasa kelaparan atau kehausan, mereka bisa melakukan hal itu di atas punggung kuda sambil menjalankan kudanya.


Maka, tibalah rombongan itu di perbatasan Han setelah mereka melakukan perjalanan selama tiga minggu lebih dua hari.


Wilayah Han sedikit lebih kecil dari wilayah Qin, namun mereka memiliki lahan pertanian yang hampir sama luasnya dengan wilayah Qin.


Begitu memasuki perbatasan, sejauh mata memandang tampaklah hamparan luas lahan pertanian yang berwarna hijau. Pemandangan segar yang seperti itu sedikit mengobati rasa lelah mereka karena perjalanan panjang yang harus mereka tempuh.


Dengan instruksi Han Zhuo Jin, dua pertiga dari prajurit Han memisahkan dirinya dari rombongan besar itu dan segera kembali ke ibukota Han, sekaligus memberi kabar ke istana jika saat ini rombongan dari kerajaan Qin sudah memasuki wilayah Han dan sedang melanjutkan perjalanan menuju ke daerah bagian barat Han. Tak lupa, pemuda itu juga memerintahkan kepada komandan rombongan agar menyampaikan pesan ke istana jika setelah dari daerah bagian barat Han, rombongan dari kerajaan Qin akan mampir ke istana.


Setelah melakukan perjalanan selama 2 hari 2 malam tanpa henti, sampailah rombongan Chu Pian Ran di daerah bagian barat Han.


Begitu mata nyonya muda Lee melihat sekilas lahan pertanian di daerah itu, tahulah dia jika ada hal yang tidak beres dengan lahan itu.


Semua tanaman pertanian yang ada di lahan itu terlihat sama, yakni tampak layu dan tidak sehat karena daunnya terlihat kekuningan semua.


Tak berapa lama, Chu Pian Ran pun turun dari punggung kuda dengan diikuti oleh Qin Wu Zhi dan Han Zhuo Jin.


Atas perintah pangeran keempat kerajaan Qin, para prajurit itu menepi dari jalanan dan diperbolehkan untuk beristirahat sementara waktu.


Karena sudah menahan haus sedari tadi, perempuan cantik itu pun mengambil bekal minumnya dari buntelan dan menghabiskan air yang masih tersisa di dalamnya.


"Bagaimana tuan putri, apakah kau bisa meningkatkan kesuburan lahan pertanian di daerah ini?" Tanya Han Zhuo Jin.


"Menurutku sih bisa. Tapi sebelum aku meningkatkan kesuburan lahan itu, aku harus membuang kutukannya terlebih dahulu." Balas nyonya muda Lee.


Mendengar jawaban dari putri angkat kaisar Qin itu, pangeran kedua kerajaan Han lumayan terkejut.


"Kutukan? Kutukan apa tuan putri?" Lanjut Han Zhuo Jin penasaran karena selama ini dia sulit percaya dengan hal-hal seperti itu.


"Sebenarnya, tingkat kesuburan lahan pertanian di sini bisa dikatakan baik, tapi suatu saat karena dikutuk oleh siluman yang sakit hati jadinya ya seperti ini. Sampai kapanpun dan apapun cara kalian tidak akan bisa mengubah keadaan jika kutukannya tidak dibuang terlebih dahulu." Jelas Chu Pian Ran.


"Lalu, apa yang akan tuan putri lakukan sekarang?" Sambung pemuda itu.


"Yang ingin kulakukan sekarang? Adalah mandi sebersih-bersihnya dan makan sampai kenyang, baru aku akan menangani masalah lahan pertanian itu." Jawab nyonya muda Lee terus terang sambil menoleh pada Han Zhuo Jin.

__ADS_1


Otomatis, perkataan perempuan cantik itu membuat dua pemuda yang ada di dekatnya menyimpan sedikit rasa jengkel dan geli di dalam hati.


"Baiklah tuan putri, aku akan mengantar kalian untuk mencari penginapan dan rumah makan terdekat sini. Untuk beberapa saat sebaiknya kita semua istirahat dulu agar kekuatan kita pulih kembali setelah melakukan perjalanan selama berhari-hari." Kata pangeran kedua kerajaan Han itu.


Beberapa saat kemudian, naiklah ketiga orang itu ke atas punggung kuda masing-masing untuk mencari penginapan terdekat.


Tak lupa, sebelum pergi, Qin Wu Zhi memerintahkan para prajuritnya agar tetap berada di situ sambil berjaga-jaga.


Setelah berkuda selama dua puluh lima menit, sampailah mereka di pemukiman penduduk, dan tak berapa lama mereka pun menemukan sebuah penginapan.


Tanpa berpikir dua kali, mereka bertiga pun mendekati penginapan itu. Sesudah menambatkan kuda di tempat yang telah disediakan, masuklah mereka ke dalam penginapan dan Han Zhuo Jin lalu memesan tiga kamar sekaligus membayar uang sewanya.


Saat ini, Chu Pian Ran, Qin Wu Zhi dan Han Zhuo Jin telah berada di sebuah rumah makan.


Mereka bertiga terlihat sedang menikmati makanan yang disediakan. Namun tak lama kemudian, dua pemuda itu dibuat jengah dengan cara makan perempuan cantik yang ada di dekat mereka itu.


Sedari tadi, nyonya muda Lee makan dengan gerakan yang cepat hingga membuat Qin Wu Zhi dan Han Zhuo Jin heran lalu menghentikan aktifitas makan mereka sambil menatap Chu Pian Ran.


"Hei, kalian berdua kenapa melihatku seperti itu? Tidak perlu heranlah, jika sedang kelaparan cara makanku memang seperti ini, malah bisa lebih parah lagi." Kata nyonya muda Lee dengan mulut penuh makanan.


"Sudahlah kalian tidak perlu mempedulikan aku, sebaiknya kalian lanjutkan makan kalian atau aku habiskan semua makanan yang ada di atas meja ini." Lanjut Chu Pian Ran yang membuat dua pemuda itu saling berpandangan.


Selama menjadi kakak angkatnya, Qin Wu Zhi memang belum tahu banyak bagaimana pembawaan adik angkatnya itu, termasuk bagaimana caranya makan saat perempuan cantik itu sedang kelaparan.


Sementara itu, bagi Han Zhuo Jin, inilah pengalaman pertama kali baginya melihat cara makan putri angkat kaisar alias pria bertopeng yang tersohor di daratan China, yang sebenarnya berasal dari keluarga bangsawan tingkat atas, namun cara makannya sungguh di luar dugaan.


Setelah menyelesaikan acara makan, ketiga orang itu pun kembali ke lahan pertanian tadi.


Tanpa banyak bicara lagi, Chu Pian Ran pun langsung terbang menuju ke tengah lahan pertanian menggunakan ilmu peringan tubuhnya, yang kemudian diikuti oleh Qin Wu Zhi dan Han Zhuo Jin.


Tak berapa lama, nyonya muda Lee lalu meletakkan telapak tangan kanannya di atas permukaan tanah dan beberapa saat kemudian muncullah cahaya putih dari telapak tangannya itu, lalu cahaya putih itu mulai merambat ke tanah.


Karena lahan pertanian itu sangatlah luas, rambatan cahaya itu membutuhkan waktu setengah jam hingga menjangkau semua penjuru lahan.


Sesudah satu jam berlalu, mulai muncullah asap hitam tipis dari tanah tersebut secara terus menerus.


Sementara ketiga orang itu berdiri di tengah lahan pertanian, nampaklah di pinggir lahan itu, para prajurit Qin dan para prajurit Han sedang berdiri berjajar sambil menyaksikan pemandangan yang aneh untuk pertama kalinya bagi mereka.


Tak pelak, semua prajurit itu dibuat kagum oleh kelebihan yang dimiliki oleh putri angkat kaisar Qin itu.


Selama ini, sebagian besar prajurit Qin memang telah mendengar tentang kehebatan tuan putri Nanyang, namun hari ini mereka baru melihat dengan mata kepala sendiri kehebatan yang dimiliki oleh perempuan cantik itu.


Saat proses pembuangan kutuk sedang berlangsung, lewatlah beberapa penduduk daerah itu karena penasaran dengan banyaknya prajurit yang sedang berdiri di pinggir lahan pertanian. Begitu mereka tahu apa yang sedang terjadi, maka salah satu dari mereka segera berlari ke pemukiman dan memanggil penduduk yang lain.


Maka, tiga puluh menit kemudian, terlihatlah puluhan penduduk datang di lahan pertanian itu untuk turut menyaksikan pemandangan ganjil yang sedang terjadi.


Karena lahan pertanian itu luasnya berhektar-hektar, maka Chu Pian Ran harus mengeluarkan kekuatan supranaturalnya hingga lima jam untuk membuang kutukan yang ada di lahan itu sampai bersih.


Setelah lima jam, perempuan itu pun menarik tangannya lalu bangkit berdiri.

__ADS_1


"Perutku lapar lagi..." Keluh Chu Pian Ran tanpa beban sambil mengelus perutnya.


Mendengar kalimat putri angkat kaisar Qin itu, lagi-lagi kedua pangeran itu menyimpan rasa geli dalam hati mereka.


"Apa juga yang mereka lihat sampai bergerombol seperti itu..." Lanjut nyonya muda Lee saat sadar jika aksinya tadi mengundang banyak perhatian orang.


"Kakak-kakak tampan, aku mau ke rumah makan lagi ya, perutku lapar sekali..." Ucap perempuan cantik itu kemudian langsung melenggang pergi tanpa mempedulikan dua pemuda yang masih terbengong dengan tingkahnya itu.


Sore harinya...


"Sebenarnya siluman apa yang sudah mengutuk lahan pertanian itu tuan putri? Dan apa sebabnya siluman itu sampai tega berbuat seperti itu pada manusia?" Tanya Han Zhuo Jin penasaran.


"Menurut penerawanganku tadi siang, beberapa tahun yang lalu ada beberapa penduduk yang membunuh beberapa ekor tikus karena dianggap merusak tanaman pertanian mereka. Rupanya, tanpa mereka ketahui, diantara tikus yang mereka bunuh adalah anak tikus jadi-jadian yang saat itu sedang berkejaran dengan tikus asli. Karena tidak terima anaknya dibunuh, induk tikus yang merupakan siluman itu akhirnya mengutuk lahan pertanian mereka." Terang Chu Pian Ran.


"Selama aku hidup, baru kali ini aku tahu kejadian yang aneh seperti ini, apalagi berkaitan dengan siluman." Sahut pangeran kedua kerajaan Han.


"Jika pangeran ingin bertemu dengan siluman asli, aku bisa mencarikannya dan membawanya ke sini agar bisa berkenalan denganmu." Kelakar nyonya muda Lee, mulai menggoda pemuda yang duduk di dekatnya.


"Siapa juga yang berminat berkenalan dengan siluman. Tuan putri ada-ada saja." Balas Han Zhuo Jin dengan wajah mulai sedikit masam.


"Tidak semua siluman itu buruk rupa dan jahat pangeran. Diantara mereka ada yang cantik dan baik. Apa pangeran tidak ingin berkenalan dengan siluman cantik?" Goda Chu Pian Ran sekali lagi dengan matanya mengerling pada pangeran kedua kaisar Han itu.


"Haiishh, tidaklah. Aku tidak minat sama sekali..."


Mendengar percakapan antara adik angkatnya dan Han Zhuo Jin, Qin Wu Zhi hanya tersenyum tipis.


"Setelah ini, apa yang akan kita lakukan tuan putri? Apakah prosesnya masih lama?" Tanya pangeran kedua kaisar Han.


"Kurang sedikit lagi. Nanti malam setelah aku menurunkan hujan, keesokan harinya aku baru mulai meningkatkan kadar kesuburan lahan itu dengan kekuatan supranaturalku. Setelah itu tinggal menunggu apa yang akan terjadi. Mudah-mudahan tanaman pertanian itu segera tumbuh maksimal. Tapi aku tidak bisa menunggu lama sampai proses itu terjadi, karena aku harus segera pulang ke ibukota Qin." Jelas nyonya muda Lee.


Malam harinya, turunlah hujan deras di atas lahan pertanian itu yang dibuat oleh Chu Pian Ran.


Para prajurit yang awalnya sedang duduk-duduk santai dalam beberapa kelompok sambil mengelilingi api unggun dan mengobrol pun menjadi sangat heran.


Bagaimana tidak heran, karena hujan yang turun itu hanya ada di atas lahan pertanian saja, sementara di tempat mereka tetap terlihat kering.


Karena penasaran, beberapa diantara mereka pun mulai menyebar untuk mencari sumber keanehan itu.


Setelah belasan menit, terlihatlah oleh beberapa prajurit dari kejauhan tampak beberapa berkas cahaya panjang yang sampai ke langit.


Saat mereka menajamkan penglihatannya, rupanya berkas cahaya panjang itu berasal dari sosok manusia yang sedang berdiri di atas pohon yang tinggi.


Setelah beberapa saat mengamati, tahulah mereka jika sosok itu adalah tuan putri Nanyang.


Spontan, dari segelintir prajurit saja yang tahu, sekarang semua prajurit pun menjadi tahu.


Maka semakin bertambah kagumlah prajurit itu pada perempuan cantik itu, khususnya prajurit Han.


Setelah hampir empat jam menurunkan hujan di atas lahan pertanian itu, terbanglah Chu Pian Ran dengan menggunakan ilmu peringan tubuhnya kembali ke penginapan.

__ADS_1


Karena rasa lelah dan kurang tidur, sesampainya di penginapan, perempuan cantik itu langsung masuk ke kamar dan tidur hingga keesokan harinya bahkan sampai bangun menjelang tengah hari.


__ADS_2