
Begitu batu-batu emas telah terkumpul di gudang markas besar prajurit Qin, maka dengan segera kaisar Qin Shi Huang meminta perdana menteri keuangan untuk menghubungi semua pengusaha pengolahan emas kalangan besar yang ada di wilayah Qin dengan maksud akan menjual batu-batu emas itu kepada mereka.
Tak menunggu lama, perdana menteri keuangan pun segera menulis surat resmi berstempel sejumlah pengusaha yang mempunyai bisnis pengolahan emas kalangan besar yang ada di wilayah Qin, yang telah dia ketahui dari buku catatan setoran pajak, mengingat kalangan para pengusaha itu membayar pajak bulanan dalam jumlah yang lumayan besar.
Begitu semua surat itu jadi, dengan segera perdana menteri keuangan pun mengutus beberapa anak buahnya untuk mengirimkan surat-surat itu ke beberapa kota atau daerah, tempat para pengusaha pengolahan emas tinggal.
Setelah menunggu beberapa minggu, datanglah secara bergantian, beberapa rombongan orang utusan para pengusaha pengolahan emas tersebut ke markas besar prajurit Qin untuk membeli batu-batu emas, yang masing-masing rombongan membawa sebuah kereta gerobak angkut yang ukurannya lumayan besar.
Adapun proses penimbangan emas yang dibeli itu, oleh kaisar Qin Shi Huang diserahkan pada Qin Wu Zhu dan Lu Zee.
Jadi saat itu, pangeran kedua kerajaan Qin yang berstatus sebagai seorang jendral memiliki tugas sampingan sebagai 'penjual emas'. Karena hal itu sudah menjadi keputusan ayahandanya, mau tidak mau pemuda tampan itu hanya menurut saja.
*
Pada suatu pagi, datanglah Chu Pian Ran ke markas besar prajurit bersama putri kesayangannya dengan naik kuda.
Sejak bangun tadi pagi hingga Lee Chu Mian Yin dimandikan oleh ibunya, bibir mungil gadis cilik itu beberapa kali minta kepada ibunya agar diantar ke markas prajurit.
Karena pagi itu nyonya muda Lee kebetulan sedang senggang, maka peri cantik itu pun menuruti keinginan putri kecilnya setelah berpamitan dengan anggota keluarganya.
Begitu turun dari kuda dan masuk gerbang markas, dengan tidak sabaran, gadis cilik itu pun langsung berlari pelan dan bergabung dengan para prajurit yang saat itu sebagian besar sedang melakukan latihan bebas.
Karena Lee Chu Mian Yin sudah terbiasa berkunjung di markas, otomatis beberapa prajurit yang didatangi oleh gadis kecil itu pun menghentikan aktifitasnya dan akhirnya menjadi 'penjaga sementara' Lee Chu Mian Yin.
Saat gadis cilik itu sedang berceloteh riang dengan beberapa prajurit, di suatu area markas yang lain, tampaklah oleh Chu Pian Ran, Qin Wu Zhu baru saja selesai melayani pembeli batu-batu emas.
Ketika kereta gerobak angkut si pembeli telah menjauh dari tempat itu, nyonya muda Lee pun mendekati kakak angkatnya lalu duduk berselonjor di teras.
"Ciyeee, sekarang tuan jendral beralih profesi jadi penjual emas yaa... Pasti pembelinya banyak, kan si penjualnya tampaan...," Chu Pian Ran mulai meledek Qin Wu Zhu yang saat itu sedang membersihkan bajunya dari kotoran batu-batu emas yang menempel di pakaiannya.
Lu Zee, si pengawal pribadi pangeran kedua kaisar Qin yang mendengar perkataan putri angkat kaisar pun tersenyum.
"Masih pagi begini kau sudah meledek orang saja Nanyang... Jika kau tidak ada pekerjaan, lebih baik kau gantikan aku saja saat ada pembeli nanti. Siapa tahu diantara mereka ada yang berminat menjadikanmu istri keduanya...," pemuda tampan itu ganti membalas ledekan adik angkatnya dengan nada dingin seperti biasanya.
"What?! Oh noo... Tidak deh kak, bagiku menikah itu cukup sekali untuk seumur hidup. Lagi pula punya suami satu saja tidak habis-habis, masa mau menikah lagi... That's not my principle...," sahut nyonya muda Lee mulai berani menggunakan bahasa Inggris di depan orang yang bukan keluarga intinya.
"Kau bicara aneh apa juga itu, bahasa siluman ya? Kau dan putrimu itu tidak ada bedanya, sama-sama aneh...," lanjut Qin Wu Zhu datar.
"Tadi itu bahasa Inggris kakakku yang tampan... Kakak ingin belajar tidak?," ucap Chu Pian Ran sambil menoleh pada pangeran kedua kaisar Qin yang saat ini sudah duduk di sebelah adik angkatnya.
"Aku sama sekali tidak ada minat untuk belajar bahasamu yang aneh tadi...," balas pemuda tampan itu.
"Bagaimana dengan hasil penjualan batu-batu emasnya kak?" tanya nyonya muda Lee mulai serius.
"Lumayanlah... Sampai saat ini sudah ada 6 pengusaha pengolahan emas yang mengutus anak buahnya untuk datang membeli," terang Qin Wu Zhu.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu... Jika uangnya nanti telah terkumpul banyak, rencana pembangunan rumah untuk para kaum tunawisma bisa segera dimulai," kata peri cantik itu.
Saat Chu Pia Ran sedang berbincang dengan pangeran kedua kaisar Qin, datanglah Lee Chu Mian Yin dengan diantar oleh seorang prajurit.
Setelah gadis kecil itu dekat dengan ibunya, prajurit itu pun berbalik arah lalu melangkahkan kakinya ke tempat latihan untuk melanjutkan latihannya yang sempat tertunda tadi karena dia diajak mengobrol oleh Lee Chu Mian Yin sekaligus menjaga gadis cilik itu, sementara ibunya sedang berbincang dengan Qin Wu Zhu.
"Paman Ju, yuk atihan pedhang agi...," ajak Lee Chu Mian Yin pada paman angkatnya, sambil tangan kanannya terulur di depan pemuda tampan itu dengan maksud mengajaknya berdiri.
"Sebentar lagi ya sayang, paman masih istirahat...," balas pangeran kedua kerajaan Qin sambil menatap gadis cilik yang menggemaskan itu.
"Paman tapek ya? Yin ijitin ya?" tanya bibir mungil Lee Chu Mian Yin. Lalu tanpa diperintah oleh siapapun, gadis kecil itu bergerak ke belakang tubuh pamannya dan kemudian langsung memijit kedua pundak pamannya dengan gaya yang menggemaskan.
"Yin Er pintar sekali... Terimakasih ya sayang...," sahut Qin Wu Zhu sambil menoleh ke belakang dengan perasaan kagum akan reaksi Lee Chu Mian Yin.
Selama ini, pangeran kedua kaisar Qin itu memang merasa salut dengan cara mendidik Chu Pian Ran yang membuat putri kesayangannya bisa secerdas itu.
Beberapa menit kemudian, Qin Wu Zhu pun akhirnya bangkit berdiri dan mengajak gadis cilik itu latihan berpedang, yang tentu saja pedangnya hanya pedang mainan.
****
Dalam jangka waktu dua bulan, batu-batu emas telah terbeli 1/2 dari jumlah keseluruhan.
Karena jumlah batu-batu emas di gudang masih banyak. Maka, kaisar Qin Shi Huang pun menawarkan batu-batu emas itu kepada kaisar Han melalui surat.
Setelah surat itu sampai dan dibaca oleh kaisar Han Zhuo Lung, tentu saja pria penguasa nomer satu di wilayah Han itu dengan senang hati menerima tawaran kaisar Qin, mengingat wilayah Han tidak memiliki tambang emas. Jadi selama ini, para pengusaha pengelolaan emas yang ada di wilayahnya selalu membeli emas mentah dari luar wilayah Han yang tentu saja harganya lumayan mahal.
Tak tanggung-tanggung, pengambilan batu-batu emas itu dipimpin sendiri oleh pangeran kedua kaisar Han, Han Zhuo Jin, dengan ditemani 1.000 orang prajurit, sekaligus pemuda itu ingin berkunjung ke ibukota Qin untuk yang kedua kalinya.
Saat rombongan dari kerajaan Han masih dalam perjalanan, uang hasil penjualan batu-batu emas mulai dimanfaatkan untuk membeli bahan-bahan material yang akan digunakan untuk membangun 'rumah khusus' bagi kaum tunawisma.
Adapun pembangunan rumah tersebut rencananya bukan hanya dilakukan di ibukota Qin, namun juga akan diterapkan di beberapa daerah lain, yang mana pengiriman dana dan pemanfaatannya akan langsung diawasi oleh orang kepercayaan yang dikirim oleh kaisar Qin Shi Huang dari ibukota demi mencegah terjadinya penyalahgunaan dana.
Sebelum proses pembangunan mulai berlangsung, pria penguasa nomer satu di wilayah Qin itu mengutus perdana menteri kesejahteraan rakyat untuk menyebar pengumuman, yang isinya memberitahukan bahwa pihak kerajaan akan menyediakan tempat tinggal bagi kaum tunawisma. Dan bagi siapa saja yang membutuhkan rumah tersebut, wajib mendaftar terlebih dahulu di kediaman sang perdana menteri itu.
Pengumuman serupa bukan hanya disebar di wilayah ibukota Qin, namun di seluruh daerah lain dengan perantaraan kepala daerah masing-masing.
Tentu saja, kebijakan kaisar Qin Shi Huang itu disambut dengan antusias oleh para rakyat, khususnya kalangan rakyat yang selama ini hidupnya terlunta-lunta tak menentu di jalanan dengan berbagai penyebab.
Adapun lokasi pembangunan 'rumah khusus' tersebut adalah di lahan kosong yang ada di daerah masing-masing, yang pembangunannya nanti dilakukan oleh prajurit dari markas prajurit yang terdekat dengan di bawah arahan insinyur pilihan dan salah seorang wakil dari ibukota yang telah diutus kaisar Qin untuk mengawasi penyaluran dana.
Karena rumah yang akan dibangun nanti adalah bantuan dari pihak kerajaan, otomatis bentuk, luas dan perabotannya akan dibuat sama yang penting memadai untuk dijadikan tempat tinggal.
Sementara itu rencananya, setiap empat rumah akan dibuatkan satu buah sumur, satu buah dapur dan satu buah kamar mandi yang bisa dipakai untuk kebersamaan.
Berdasarkan jumlah orang tunawisma yang telah mendaftar di kediaman perdana menteri kesejahteraan rakyat, maka proses pembangunan 'rumah khusus' di ibukota Qin pun dimulai.
__ADS_1
Sedangkan untuk pelaksanaan pembangunan 'rumah khusus' di luar ibukota, sesuai dengan rencana awal, akan diserahkan pada kepala daerah masing-masing dengan dibawah pengawasan orang kepercayaan yang dikirim oleh kaisar Qin Shi Huang dari ibukota.
Selama proses pembangunan 'rumah khusus' di ibukota Qin berlangsung, setiap satu minggu sekali, Chu Pian Ran akan datang ke lokasi tersebut sekedar untuk melihat jalannya proses pembangunan.
Sementara menunggu 'rumah khusus' itu jadi, para tunawisma akan dibuatkan tenda ukuran besar yang lokasinya tidak jauh dari area pembangunan, dengan makan minum dijamin oleh pihak kerajaan.
Sedangkan untuk urusan mandi, buang air, dan mencuci, mereka dibuatkan fasilitas untuk kegiatan tersebut yang bisa digunakan untuk kebersamaan.
****
Pagi itu, terlihatlah rombongan dari kerajaan Han telah masuk ke ibukota Qin.
Belasan menit sebelum rombongan itu melintas di gerbang ibukota, seperti yang telah diperintahkan oleh kaisar Qin Shi Huang, salah satu prajurit penjaga gerbang harus segera melapor ke istana.
Tiga puluh lima menit kemudian, rombongan itu terbagi menjadi dua kelompok saat telah dekat dengan istana Qin.
Kelompok pertama adalah Han Zhuo Jin dengan 20 orang prajurit yang melanjutkan perjalanan menuju ke istana Qin. Sedangkan kelompok lainnya, yang terdiri dari hampir seribu prajurit melanjutkan perjalanan menuju ke markas besar prajurit Qin.
Begitu pangeran kedua kaisar Han dan 20 orang prajuritnya tiba di depan istana, putra mahkota Qin Wu Zhang menyambut kedatangan Han Zhuo Jin dengan hangat, lalu mengajaknya masuk untuk bertemu kaisar Qin.
"Salam hormat yang mulia kaisar Qin Shi Huang, semoga yang mulia panjang umur...," Pangeran kedua kaisar Han memberi hormat sambil sedikit membungkukkan badannya.
"Sudahlah nak tidak perlu terlalu formal, ayo duduklah, pasti kau lelah setelah melakukan perjalanan jauh...," kata kaisar Qin mempersilahkan tamunya duduk dengan suasana yang lebih akrab dan hangat lagi dari kunjungan Han Zhuo Jin yang pertama kali.
"Terimakasih yang mulia kaisar..."
Setelah berkata demikian, pemuda tampan itu lalu berjalan menuju ke kursi yang telah disediakan, yang di depannya terdapat meja yang di atasnya telah tersedia minuman dan beberapa macam makanan.
"Makan dan minumlah dulu nak, agar tenagamu kembali pulih...," lanjut pria penguasa nomer satu di wilayah Qin itu.
"Baik yang mulia kaisar, terimakasih banyak...,"
Tak berapa lama, tampaklah kaisar Qin Shi Huang dan Han Zhuo Jin sedang makan minum bersama dalam suasana yang tenang dan hangat selama tiga puluh menitan.
"Bagaimana kabar keluargamu nak? Semua sehat kan?" tanya kaisar Qin setelah mereka berdua menyelesaikan acara makan bersama.
"Atas restu yang mulia kaisar, keadaan anggota keluarga hamba di istana Han semuanya sehat yang mulia..." jawab pangeran kedua kaisar Han.
"Syukurlah kalau begitu, aku turut senang mendengarnya... Sebaiknya kau istirahatlah dulu nak, masalah transaksi batu-batu emas itu bisa kita bisa keesokan harinya. Bukankah di surat yang ditulis oleh ayahmu, kau ingin menikmati kunjungan yang keduamu kali ini...," ucap kaisar Qin Shi Huang.
"Benar yang mulia kaisar. Karena kunjungan yang pertama hamba dulu ada hal mendesak yang sedang kami hadapi, jadi kedatangan hamba waktu itu terlihat buru-buru sehingga tidak bisa menikmati suasana ibukota Qin sampai puas... Jika yang mulia mengijinkan, hamba akan lebih lama berada di sini sekitar dua atau tiga minggunan agar hamba merasa puas dengan perjalanan hamba yang telah sejauh ini...," pinta Han Zhuo Jin.
"Tentu saja boleh nak... Bahkan lebih dari tiga minggu pun aku akan mengijinkan.... Kau tidak perlu sungkan, jika ada sesuatu yang kau inginkan, katakan saja terus terang...," timpal pria nomer satu di wilayah Qin itu.
"Terimakasih banyak untuk ijinnya yang mulia kaisar...,"
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, tampaklah pangeran kedua kaisar Han itu diantar oleh putra mahkota Qin Wu Zhang menuju kamarnya sambil kedua pemuda itu bercakap-cakap dengan akrabnya layaknya adik kakak.
Begitu mereka berdua telah sampai di depan kamar Han Zhuo Jin, putra mahkota Qin Wu Zhang pun pamit undur diri agar pangeran kedua kaisar Han dapat beristirahat.