
Satu minggu kemudian sejak kejadian harimau itu, tersebarlah berita yang mengatakan jika nyonya muda Lee adalah tuan putri Nanyang, putri angkat kaisar Qin.
Entah darimana awalnya informasi itu berasal, namun ketika penduduk mulai tahu bahwa Chu Pian Ran, putri penasehat kerajaan Chu Jeong Byun adalah putri angkat kaisar sekaligus pendekar bertopeng, maka mereka bertambah rasa segan dan hormatnya pada keluarga tersebut.
Penduduk ibukota, khususnya para pejabat istana benar-benar tidak mengira jika putri tunggal penasehat kerajaan menjadi pahlawan besar bagi kerajaan Qin.
Maka semakin seganlah mereka pada tuan Chu Jeong Byun.
Begitu kabar itu sampai di kediaman Chu dan kediaman Lee, mau tidak mau mereka harus menerima kenyataan jika identitas Chu Pian Ran akhirnya terbongkar juga.
Sementara, nyonya muda Lee sendiri malah tak mau ambil pusing dengan berbagai pendapat dan pandangan masyarakat tentang dirinya.
****
Sejak kedatangan Qin Wu Zhu di kediaman tuan Kung, putri kedua pria itu yang bernama Kung Xhu Fei menjadi resah karena sering terbayang-bayang akan wajah tampan pangeran kedua kerajaan Qin itu.
Awalnya, gadis itu masih bisa mengendalikan dirinya. Namun, semakin hari gejolak di hatinya tidak dapat dibendung lagi.
Sekalipun dia sadar derajatnya bisa dikatakan tidak pantas jika disandingkan dengan pangeran tampan itu, tapi paling tidak jika dia bisa bertemu kembali dengan Qin Wu Zhu, gejolak di hatinya bisa terobati.
Ketika berita tentang nyonya muda Lee yang berhasil menjinakkan harimau buas terdengar di telinganya dan kemudian mendapat informasi jika Chu Pian Ran adalah putri angkat kaisar, maka muncullah niat gadis itu untuk berkunjung di kediaman penasehat kerajaan, sekalian ingin menitipkan surat untuk Qin Wu Zhu pada putri angkat kaisar itu.
Maka keesokan paginya, dengan ditemani oleh seorang pelayannya, berangkatlah Kung Xhu Fei ke kediaman Chu.
Setelah berjalan selama dua puluh lima menit, sampailah dua gadis itu di kediaman Chu, dan Kung Xhu Fei pun menyampaikan niat kedatangannya kepada seorang pelayan kediaman Chu.
Pelayan itu lalu mengantar kedua gadis itu menemui nyonya mudanya yang kebetulan saat itu sedang menyulam selimut di dekat kolam sendirian.
Saat tahu jika perempuan itu kedatangan tamu, maka dia menghentikan aktifitas menyulamnya.
"Salam hormat hamba untuk anda yang mulia tuan putri Nanyang..." Khung Xhu Fei memberi hormat sambil membungkukkan badannya pada Chu Pian Ran.
Nyonya muda Lee menyeringai tipis setelah mendapat salam hormat dari gadis yang ada di sampingnya itu.
"Untuk apa kau bersikap terlalu formal seperti itu nona? Jika sedang di rumah, statusku adalah seorang putri penasehat kerajaan dan seorang istri. Jadi, kau tidak perlu bersikap seperti itu lagi. Duduklah." Kata Chu Pian Ran lalu mempersilahkan tamunya duduk.
"Aku tidak menyangka kau akan bertamu di kediamanku nona." Lanjut perempuan itu.
"Mudah-mudahan kunjungan saya datang kemari tidak mengganggu aktifitas anda nyonya muda..." Kata Khung Xhu Fei dibuat sesopan-sopannya.
"Tidak apa-apa, saat ini aku hanya sedang melanjutkan sulaman selimut untuk calon putriku kelak." Sahut nyonya muda itu.
"Ah rupanya anak dalam kandungan anda seorang putri nyonya muda... Pasti nanti wajahnya akan secantik ibunya." Sambung gadis itu mulai berbasa-basi.
"Benar, calon anakku seorang putri, dan aku sudah tidak sabar menunggu kelahirannya." Balas Chu Pian Ran.
"Kalau boleh saya tahu, berapakah usia kehamilan anda nyonya muda? Sepertinya tidak lama lagi anda akan melahirkan." Tambah Kung Xhu Fei.
"Sekarang sedang berjalan 7,5 bulan." Jelas nyonya muda Lee.
"Mudah-mudahan saat melahirkan nanti semua berjalan dengan lancar dan bayi anda sehat ya nyonya muda..." Imbuh gadis itu.
__ADS_1
"Terimakasih nona... Ngomong-ngomong ada perlu apa kau datang kemari?" Tanya Chu Pian Ran.
"Saya datang kemari karena rasa kagum saya pada anda nyonya muda. Pertama kali anda datang di rumah saya, anda membuat saya kagum dengan kelebihan anda yang bisa mengatakan dengan jelas kebusukan kakak ipar saya selama ini. Lalu kemarin, saya mendengar berita lagi jika anda berhasil menjinakkan seekor harimau liar dan membuat binatang itu kembali ke asalnya. Selanjutnya, saya pun juga mendapat informasi jika anda sebenarnya adalah putri angkat kaisar dan pendekar bertopeng yang tersohor di daratan China ini. Jadi, untuk inilah saya datang kemari nyonya muda. Jika anda tidak keberatan, saya ingin mengenal anda lebih dekat." Terang Khung Xhu Fei yang sebenarnya itu hanyalah alasan agar dia bisa menitipkan surat pada pangeran Qin Wu Zhu.
"Apa yang dikatakan oleh orang-orang di luar sana itu terlalu berlebihan, jangan dianggap serius..." Ujar nyonya muda itu.
"Menurut saya itu bukan berlebihan nyonya muda... Faktanya anda memang punya kehebatan hingga bisa mengalahkan kerajaan Lian secara diam-diam." Ucap gadis itu.
Selama dua jam Khung Xhu Fei mengobrol dengan Chu Pian Ran, hingga Lee Jiang Wook telah pulang di rumah sekembalinya dari penginapan milik ayahnya.
Karena istrinya masih mengobrol dengan tamunya, maka pemuda itu masuk ke dalam ruang kerjanya dan melanjutkan memeriksa buku laporan keuangan.
Sebelum pulang, putri kedua tuan Kung itu menitipkan surat kepada Chu Pian Ran yang ditujukan untuk Qin Wu Zhu. Maka, seketika nyonya muda itu langsung tanggap, ternyata kedatangan gadis itu menemuinya karena ada maksud tersembunyi.
Sepeninggal Kung Xhu Fei, muncullah pikiran iseng Chu Pian Ran untuk membuka dan membaca surat itu.
Karena keasyikan membaca, tanpa sadar suaminya sudah ada di belakangnya dan ikut membaca tulisan itu.
"Gadis itu lumayan berani juga..." Ucap Lee Jiang Wook pelan.
"Kau sudah pulang suamiku?" Tanya perempuan itu sambil menoleh pada suaminya lalu mencium pipi pemuda itu.
"Iya sayang, urusanku di penginapan sudah selesai, jadi aku langsung pulang saja karena aku rindu pada istriku yang cantik ini." Balas Lee.
Tak berapa lama pemuda itu lalu menggeser sebuah kursi agar bisa duduk lebih dekat dengan istrinya.
"Tolong suruh pelayan untuk mengantar surat ini ke Qin Wu Zhu suamiku..." Pinta Chu Pian Ran sambil menyodorkan surat itu pada suaminya.
"Kau yakin akan memberikan surat ini pada pangeran itu sayang? Bagaimana jika setelah menerimanya dia marah dengan gadis nekat itu?" Lanjut Lee.
"Sayang, kenapa kau mau dititipi surat cinta seperti ini? Jangan-jangan gadis itu akan datang lagi untuk menitip lagi." Sambung pemuda tampan itu dengan nada kurang senang.
"Sudahlah suamiku, sebaiknya kau segera suruh pelayan untuk menyampaikan surat ini kepada Qin Wu Zhu."
Tanpa berbantah lagi, Lee Jiang Wook bangkit dari duduknya untuk melaksanakan perintah istrinya.
****
Qin Wu Zhu tertawa geli dalam hati sekaligus jengkel begitu selesai membaca surat dari Khung Xhu Fei itu. Pemuda itu lalu membakar surat itu dengan api dari lilin yang ada di ruang kerjanya.
Pangeran kedua kaisar Qin itu tidak habis pikir, bagaimana bisa ada seorang gadis yang begitu berani menulis surat cinta padanya disertai puisi romantis sekaligus mengajaknya ketemuan.
Sore hari sebelum matahari terbenam, Qin Wu Zhu berkunjung ke kediaman Chu dengan ditemani oleh pengawal setianya.
Kini, Qin Wu Zhu, Lee Jiang Wook, dan Chu Pian Ran sedang duduk di depan teras kediaman utama keluarga Chu. Sementara, si Lu Zee duduk di teras tak jauh dari mereka bertiga.
"Kakakku yang tampan bagaimana perasaanmu setelah menerima surat cinta itu? Pasti hatimu berbunga-bunga ya?" Goda Chu Pian Ran sambil menoleh pada kakak angkatnya.
"Berbunga-bunga apanya, aku malah terkesan geli dan jengkel dengan sikap gadis yang nekat itu." Sahut Qin Wu Zhu dingin.
"Jangan bersikap dingin pada perempuan terus seperti itu kakak, nanti kau tidak laku-laku lo..." Perempuan itu masih melanjutkan ledekannya.
__ADS_1
"Memangnya aku barang dagangan apa, kau sebut tidak laku." Balas pemuda itu dengan wajah mulai masam.
Lee Jiang Wook hanya berdiam diri dengan menahan geli di hati mendengar percakapan dua orang yang ada di samping kanan kirinya itu.
"Aku kan hanya bercanda kak, jangan dimasukkan dalam hati laah..." Ucap Chu Pian Ran.
"Kenapa kau mau saja dititipi surat oleh gadis centil itu." Ujar Qin Wu Zhu.
"Aku hanya menuruti permintaannya saja. Jika nanti tidak kusampaikan, bisa menjadi kesalahan di kemudian harinya." Jelas nyonya muda itu.
"Kesalahan di kemudian hari apanya? Lain kali jika dia datang lagi jangan kau pedulikan dia. Jangan mau dititipi surat lagi, bisa-bisa nanti dia jadi ngelunjak." Pemuda itu memberi nasehat pada adik angkatnya.
"Apa yang dikatakan kak Zhu Er benar sayang, lebih baik jangan kau ladeni gadis seperti itu." Sela suaminya.
"Apa kalian ingat waktu pertama kali kita datang ke kediaman Kung? Gadis itu berkali-kali mencuri pandang padamu kak." Kata Chu Pian Ran.
"Sudahlah Nanyang jangan mengungkit hal yang tidak penting seperti itu, aku malas mendengarnya." Imbuh Qin Wu Zhu masih dengan wajah yang masam.
"Baiklah kakakku yang tampan, adikmu ini minta maaf ya..." Ucap perempuan itu lalu tersenyum.
"Sekarang ini identitasmu sudah diketahui banyak orang Nanyang. Aku sendiri heran darimana informasi itu pertama kali muncul, jangan-jangan dari kantor biro keamanan." Kata pemuda itu mengalihkan pembicaraan.
"Ya biar saja lah kak, cepat atau lambat aku sudah menduga jika hal ini akan terjadi... Jika memang orang dari biro keamanan yang menyebarkannya ya jangan kau marahi mereka, biarkan saja." Balas Chu Pian Ran.
"Tapi kau tetap harus berhati-hati Nanyang, jangan sampai setelah identitasmu terbongkar lalu keselamatan keluargamu menjadi terancam oleh orang yang punya dendam padamu. Apalagi sebentar lagi kau akan punya bayi, kau harus menjaganya baik-baik, jangan sampai peristiwa penculikan yang pernah menimpa keluargamu terulang kembali." Qin Wu Zhu mengingatkan adik angkatnya.
Apa yang dikatakan oleh pangeran kedua kerajaan Qin itu dibenarkan oleh nyonya muda itu beserta suaminya. Mereka berdua bertekad dalam hati untuk lebih waspada lagi.
****
Seminggu kemudian, Kung Xhu Fei datang lagi ke kediaman Chu. Pada kunjungannya yang kedua, gadis itu dengan terus terang menanyakan surat jawaban dari Qin Wu Zhu.
Seperti yang dipesankan oleh kakak angkatnya, maka Chu Pian Ran berkata pada putri kedua tuan Kung itu dengan jujur.
Alhasil, Khung Xhu Fei menjadi kecewa hatinya begitu mendengar perkataan nyonya muda Lee itu. Dengan hati kecewa dan dongkol, gadis itu meninggalkan kediaman Chu hingga sampai di kamarnya.
Sejak saat itu, sikap Khung Xhu Fei menjadi berubah. Yang awalnya dia itu ceria, lincah dan lumayan cerewet menjadi kebalikannya.
Gelagatnya yang tidak biasa tentu saja mengundang pertanyaan di benak orang tua dan kakak perempuannya.
Karena gadis itu tidak mau menjawab jujur saat ditanya, maka mereka menanyakan sumber masalahnya pada pelayan pribadi Khung Xhu Fei.
Awalnya, pelayan putri kedua Khung itu belum mau menjawab jujur, karena sebelumnya memang sudah diperingatkan oleh Khung Xhu Fei agar pelayan itu tidak memberitahu siapa-siapa jika dia sudah datang ke rumah Chu Pian Ran dan menitipkan surat cinta untuk Qin Wu Zhu.
Namun begitu didesak terus oleh majikannya, akhirnya dengan terpaksa pelayan itu pun mengaku.
Betapa terkejutnya tuan dan nyonya Kung setelah mendengar pengakuan si pelayan. Mereka tidak habis pikir bagaimana bisa putri keduanya itu begitu berani mengirimkan surat cinta dan berniat mengajak ketemuan pangeran kedua kerajaan Qin.
Alhasil, Khung Xhu Fei mendapat hukuman dari ayahnya. Gadis itu dilarang keluar kediaman selama satu bulan dan disuruh menyalin buku tata krama sebanyak 200 kali.
Tentu saja hukuman yang diberikan ayahnya itu membuat hati Khung Xhu Fei semakin dongkol, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
Sekalipun gadis itu sudah mendapat peringatan dari Chu Pian Ran dan kedua orang tuanya, namun Khung Xhu Fei tetap tidak bisa menghilangkan bayangan tampannya pangeran Qin Wu Zhu dari pikirannya.
Jika malam sebelum tidur tiba, hati gadis itu sering resah karena memikirkan pemuda itu. Kerinduannya pada pangeran Qin Wu Zhu makin hari makin bertumpuk. Khung Xhu Fei berharap suatu hari nanti bisa bertemu kembali dengan pangeran tampan itu.