
Setelah beberapa jam terus melajukan kudanya, Chu Pian Ran pun akhirnya berhenti di pinggiran hutan menuju arah Yingchuan.
Gadis itu kemudian membelokkan kudanya ke arah kanan dan masuk ke area hutan.
Setelah menemukan sebuah tempat yang dirasa cocok, Chu Pian Ran turun dari kudanya dan menambatkan si kuda pada sebuah batang pohon.
Mata gadis itu melihat ke sekitarnya, lalu dia naik terbang ke salah satu pohon besar, tinggi dan rimbun daunnya.
Diapun akhirnya tertidur di salah satu dahannya.
Dua jam kemudian, sayup-sayup telinga Chu Pian Ran mendengar suara derap kuda.
Gadis itu mengucek matanya lalu bangkit duduk. Matanya melihat ke sekililing tempatnya berada namun tidak ada siapapun selain dia dan kuda miliknya.
Dengan masih setengah mengantuk, Chu Pian Ran berusaha menajamkan telinganya. Sepi.
Karena matanya masih terasa berat, diapun melanjutkan acara tidurnya.
Baru saja setengah jam mata gadis itu terpejam, terdengar suara derap kuda lagi.
Ya ampun siapa sih itu... Rutuk Chu Pian Ran dalam hati.
Lagi-lagi gadis itu terbangun dan duduk. Untuk beberapa saat gadis itu bertahan dalam posisi seperti itu.
Lima belas menit kemudian terdengar lagi suara derap kuda. Chu Pian Ran menajamkan telinganya agar bisa tahu darimana arah sumber suara itu.
Setelah yakin, gadis itu melompati pepohonan dengan jurus peringan tubuhnya.
Setengah jam berlalu, akhirnya Chu Pian Ran mendengar suara beberapa pria sedang bercakap-cakap.
Gadis itu berusaha lebih dekat lagi ke arah sumber suara itu. Terlihat olehnya 3 orang pria sedang berbicara sesuatu yang sangat serius.
Dari penangkapan telinganya, ketiga pria itu sepertinya sedang emosi terhadap seseorang.
Chu Pian Ran melanjutkan terus pengintaiannya.
Karena kurang paham dengan maksud pembicaraan mereka, gadis itu hanya diam saja. Dia sendiri tidak yakin apakah mereka orang baik atau orang jahat.
Setengah jam kemudian, tiga pria itu membubarkan diri ke arah berlainan.
****
Sore itu Chu Pian Ran telah memasuki daerah Yingchuan. Daerah ini sama ramainya dengan Sanchuan.
Saat gadis itu sedang menuntun kudanya melewati jalanan, banyak pasang mata yang memperhatikannya.
Chu Pian Ran lalu berhenti di depan sebuah rumah makan dan menambatkan kudanya di tempat yang sudah disediakan.
Saat gadis itu masuk ke dalam rumah makan, lagi-lagi Chu Pian Ran menjadi pusat perhatian oleh pengunjung rumah makan itu.
Gadis itu tidak peduli dengan sekitarnya, baginya yang penting sekarang adalah mengisi perutnya yang sedari tadi sudah berbunyi minta diisi.
__ADS_1
Seorang pelayan menghampirinya. Chu Pian Ran lalu memesan beberapa menu makanan dan teh pada pelayan itu
Dua puluh menit kemudian pesanan gadis itu diantar oleh pelayan tadi.
Tanpa sengaja Chu Pian Ran melihat sedikit kertas putih di bawah piring sayur yang dia pesan.
"Silahkan dinikmati tuan, semoga tuan merasa puas dengan pelayanan di rumah makan ini." Kata pelayan itu dengan sedikit membungkukkan badannya.
Si pelayan kemudian pergi menjauh untuk melayani tamu yang lain.
Chu Pian Ran sedikit menggeser buntelan bawaannya lalu menarik kertas putih yang sepertinya sengaja diselipkan di bawah piring.
Tuan Song, kami sangat membutuhkan bantuan anda...
Jika anda berkenan, tengah malam nanti tolong temui kami di gerbang masuk Yingchuan...
Begitulah tulisan yang ada di kertas itu.
Chu Pian Ran kemudian *******-***** kertas putih kertas itu dan memasukkannya ke dalam buntelan miliknya.
Gadis itu lalu menyantap makanan yang ada di atas meja itu tanpa sisa.
Setelah selesai membayar, diapun keluar dari rumah makan.
Ketika berada di depan rumah makan, ternyata sudah ada dua pria tak dikenal yang sedang menunggunya.
"Maafkan kami tuan Song jika kami sudah mengganggu anda. Kami datang kemari karena diutus oleh tuan bupati untuk menyambut anda." Kata pria yang lebih tua.
"Benar tuan Song. Anda sekarang sudah menjadi bahan perbincangan karena kehebatan yang anda miliki. Jadi untuk menunjukkan rasa hormat dan rasa kagum kami, tuan bupati secara pribadi mengundang anda datang ke kediamannya." Lanjut pria tua itu.
"Katakan kepada tuan bupati bahwa aku sangat berterimakasih untuk perhatiannya. Namun untuk sekarang ini aku belum bisa memenuhi undangannya. Aku baru saja melakukan perjalanan jauh, tubuhku butuh istirahat." Terang Chu Pian Ran.
"Tuan Song tidak perlu khawatir. Untuk tempat anda menginap dan semua kebutuhan anda akan dipenuhi oleh tuan bupati." Tambah pria itu.
Mendengar kata-kata pria tua yang ada di depannya, muncul kecurigaan gadis itu pada si bupati.
"Maaf tuan, saya tidak terbiasa menginap di tempat orang yang tidak saya kenal. Saya lebih nyaman tinggal di penginapan." Balas Chu Pian Ran jujur.
Gadis itu pikir dengan jawabannya tadi pria tua itu akan menyerah dan membiarkannya pergi, namun sebaliknya, dengan kata-kata manis pria itu terus membujuk Chu Pian Ran agar datang ke rumah bupati.
Kecurigaan gadis itu semakin bertambah.
Karena Chu Pian Ran tipe gadis yang tidak suka basa-basi, akhirnya diapun meninggalkan kedua pria itu begitu saja.
"Tuan Song!" Panggil pria tua itu.
Tanpa menggubris panggilan itu, gadis mengambil kudanya lalu pergi mencari penginapan.
Setelah menemukan penginapan yang cocok, Chu Pian Ran langsung membersihkan dirinya dan mengurung diri di kamar untuk bermeditasi.
Dalam meditasinya itu, lagi-lagi muncul suara hati yang sangat kuat agar berhati-hati dengan si bupati.
__ADS_1
Gadis terus bermeditasi hingga malam hari.
Tengah malam
Terlihat sosok bertopeng dan berjubah hitam melompati atap-atap bangunan menuju gerbang masuk Yingchuan.
Setelah dekat dengan tempat yang dimaksud, Chu Pian Ran melihat ada dua sosok pria bercadar berdiri di tempat itu.
Gadis itu lalu terbang turun dan mendarat di depan mereka.
"Salam hormat tuan Song." Kedua pria itu memberi hormat dengan sedikit membungkukkan badan.
"Kaliankah yang ingin bertemu denganku?" Tanya Chu Pian Ran.
"Kami benar-benar minta maaf karena sudah merepotkan tuan tengah-tengah malam seperti ini. Kami membutuhkan bantuan anda untuk menyelesaikan masalah kami." Kata salah satu pria.
"Sebelum kita bicara lebih lanjut, bisakah kalian melepaskan cadar. Bagaimana aku mau membantu kalian tanpa mengenal kalian terlebih dahulu." Lanjut Chu Pian Ran.
Kedua pria itu lalu melepaskan cadar yang menutupi sebagian wajahnya.
"Rupanya kalian." Ucap gadis itu.
Kedua pria itu terkejut karena ternyata pria bertopeng itu sudah mengenal mereka.
"Tuan sudah mengenal kami?" Tanya salah satu pria itu.
"Aku belum kenal kalian, tapi aku sudah pernah melihat kalian saat masuk hutan tadi siang." Sambung Chu Pian Ran.
Kedua pria itu lagi-lagi terkejut kemudian saling berpandangan.
"Benarkah tuan melihat kami saat masuk hutan tadi siang?" Tanya pria satunya lagi.
"Kalian tidak percaya? Kalau tidak percaya ya sudah." Jawab Chu Pian Ran enteng.
"Maaf tuan, bukannya kami tidak percaya, hanya saja saat masuk hutan tadi kami tidak melihat orang lain selain kami." Kata pria itu.
"Sudahlah, tidak perlu membahas hal itu lagi. Sekarang perkenalkan kalian dulu lalu ada tujuan apa kalian memintaku kemari." Lanjut gadis itu.
Salah seorang pria itu membuka suara dan memperkenalkan dirinya dan pria satunya lagi.
Pria yang berbicara dengan Chu Pian Ran bernama Ling Xuan, sedangkan temannya bernama Song Jing.
Ling Xuan kemudian menceritakan masalah yang sedang dihadapi oleh banyak warga Yingchuan.
"Salah seorang dari anggota kami tadi melihat kalau tuan Song dihadang oleh dua anak buah bupati Xhin, dia lalu melaporkannya pada kami. Sebaiknya tuan hati-hati dengan bupati Xhin dan jangan pernah mau menuruti apa yang dia katakan, karena pria itu sangat licin dan pintar memutar balikkan fakta." Terang Ling Xuan.
Sejenak Chu Pian Ran terdiam dan mencerna semua kata-kata Ling Xuan.
Kedua pria itu sangat berharap jika pria bertopeng yang ada di depan mereka bersedia membantu.
"Sekarang kalian kembalilah dulu, aku perlu tahu seluk beluk bupati Xhin itu sebelum bertindak. Jika kalian takut menghubungiku secara langsung, suruhlah orang untuk mengirimkan pesan padaku." Kata Chu Pian Ran lalu meninggalkan kedua pria itu.
__ADS_1