
"Woo kapalnya bagus banget yah, apa ni kapalnya Ayah??" tanyanya Icha sembari memuji kehebatan kapal yang akan mereka pakai.
Dennis tersenyum, "Iya ini kapalnya Papa khusus ayah beli untuk kalian semua," Ucapnya Denis.
"Alhamdulillah Kak kalau kapal ini punyanya Mas sendiri," tutur Dania.
Dennis dengan gagshnyy mengemudikan kapalnya sendiri tanpa bantuan orang lain. Hal ini Dennis biasa lakukan jika berada di Korea Selatan dan juga Jepang.
Dennis Ritchie Valens Edgardo bersama petugas pantai sebelum Dennis mengemudikan kapalnya. Beberapa saat kemudian, ia menghentikan laju kapalnya karena sudah mendapatkan lokasi yang bagus untuk memancing.
Dennis dan anak-anaknya mengambil perlengkapan mancing mereka, sedangkan Dania mempersiapkan alat untuk pembakaran ikan jika alat pancing mereka dapat ikan. Dania kemudian ke luar kapal dan menuju buritan kapal tempat Dania dan anaknya memancing ikan.
Angin dan cuaca saat ini sangat mendukung suasananya, bahkan saat ini panasnya matahari tidak terlalu terik, angin berhembus sepoi-sepoi semakin menambah asyiknya acara mancing mereka.
"Mata pancing yes!" Ucapnya Dafina yang sangat heboh menirukan cara bicara pembawa acara mancing yang ada di salah satu stasiun televisi swasta itu.
Kakak kembarnya Icha pun tak mau kalah dari kakak kembarnya, "Mancing mania, mantap," teriaknya Danisha.
Hal itu membuat suasananya semakin ramai dan menyenangkan. Panasnya terik mentari matahari di siang hari itu tidak menyurutkan semangat keluarga kecil itu.
Tidak lama pancingnya Dennis Ritchie Valens Edgardo bergoyang dengan kuat, dia segera memeriksa pancingnya dan yang akhirnya strike dan mendapatkan ikan yang lumayan besar.
Dennis memperlihatkan hasil tangkapannya ke arah anak-anaknya dan mereka langsung berlarian ke arah papanya untuk menyaksikan langsung ikan besar itu.
"Asyik!! Papa hebat langsung dapat ikan yang sangat besar!!" Teriaknya Danisha.
__ADS_1
Fina menatap intens ke arah papanya, "Papa! Kayaknya enak yah kalau ikannya dibakar? Gimana menurut Mama dan Papa!" Usulnya Dafina.
"Kalau gitu Mama akan menyiapkan bumbunya lalu kita bakar, siapa yang mau bantuin Mama ngulek bumbunya?" Tanyanya Dania yang tersenyum seraya menatap ke arah anaknya satu persatu.
"Icha saja yang akan bantu Mama, kalau Fina temani Papa entar ada putri duyung yang ngambil Papa," candanya Icha yang tertawa terbahak-bahak mendengar perkataannya sendiri.
Semuanya ikut tertawa terbahak-bahak mendengar candaan dari Dafina. Beberapa saat kemudian, Dania dan Icha masuk ke dalam kapal tepatnya untuk membuat bumbu dan mengambil alat pembakaran ikan yang sudah tadi dia siapkan.
Dania sudah membersihkan ikan itu dan telah melumuri ikannya dengan berbagai macam bumbu. Ia kemudian memanggil anak-anak dan suaminya untuk makan siang. Ikan bakar hasil tangkapannya Denis dan anak-anaknya sudah diolah sedemikian rupa hingga tampak sangat lezat dan menggugah selera makan.
Icha dan Fina sangat bahagia karena untuk pertama kalinya makan ikan bakar yang langsung dari laut. Kebahagiaan semakin terpancar dari raut wajah mereka karena untuk pertama kalinya mereka bisa menikmati liburan yang dahsyat dan sangat menyenangkan.
Dania menatap satu persatu anggota keluarganya," ya Allah… aku sangat bahagia melihat tawa bahagia mereka saking bahagianya sampai-sampai senyuman yang manis tak pernah pudar dari wajahnya anak-anakku semoga semuanya berjalan lancar sesuai dengan harapan kami," batinnya Dania yang tersenyum tipis melihat senyuman itu muncul dari sudut bibirnya itu Dennis yang baru kali ini bisa tersenyum penuh kebahagiaan.
Dennis sangat bahagia karena hal yang telah lama dia impikan akhirnya terwujud juga. Dia selalu menyunggingkan senyumnya disaat Dennis bersama dengan keluarga kecilnya.
Dennis hanya berharap semoga saja kebahagiaan ini akan berlangsung lama bukan hanya sesaat.
"Ya Allah... aku meminta dan memohon padaMu untuk kebahagiaan kami ini bukan hanya sesaat saja, aku berharap semoga apa yang saya lakukan hari ini membuat anak dan wanita yang paling aku sayangi dan cintai hidup bahagia," gumamnya Denis.
Mereka menyantap makan siang mereka dengan disertai canda dan tawa. Biasanya mereka makan dalam keadaan yang hening tapi saat ini berbeda dikarenakan ini yang pertama kalinya terjadi.
Setelah Dania dan anak-anaknya tahu kalau mereka adalah satu keluarga. Dia berharap dan selalu berdo'a moga ayahnya bisa menerima hubungan mereka dan mengijinkan ia untuk berkumpul dengan keluarga kecilnya.
Mohon maaf jika terdapat banyak kesalahan atau typo dalam penulisannya..
__ADS_1
Mampir juga dinovelku yang lain Kakak ceritanya juga bagus tidak kalah dengan Cinta Pertama loh, judulnya ada di bawah ini:
Pelakor Pilihan
Cinta Kedua CEO
Love Story Ocean Seana
Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya terhadap CP Cinta Pertama Istri dengan caranya: Like Setiap babnya
Rate bintang lima
Favoritkan agar tetap mendapatkan notifikasi
Bagi gift poin atau koinnya dan klik iklannya juga yah kakak readers...
Makasih banyak all readers…
I love you all..
__ADS_1