Cinta Pertama

Cinta Pertama
21


__ADS_3

"Pak Gilang." ucapku sambil melihat motor pak Gilang yang berlalu pergi.


Kenapa hatiku sesedih ini melihat wajahnya pak Gilang yang kecewa karena tingkahku.


"Kirei." panggil Yudha lembut.


"Hem"


"Kamu bilang sesuatu?"


"Enggak... Enggak ada." jawabku mengelak.


Ku hela nafas panjang dan berusaha untuk kembali pada pemikiranku dan Yudha.


"Sebenarnya kita mau kemana sih, Yudha?" tanyaku mengalihkan perhatian.


"Cuma jalan-jalan saja. Mau ke taman pusat kota?"


"Terserah kamu saja." ucapku mengalah.


Tak lama Yudha memarkirkan motornya di parkiran taman pusat kota. Ku lihat motor yang bersejajar dengan motor Yudha saat ini.


Motor sport berwarna biru les abu-abu, ini kan motornya pak Gilang.


Ku buang pandanganku untuk mencari sosok penunggang motor ini. Namun sejauh mataku memandang, tak ku temukan sosok yang aku cari tadi.


"Kirei." pamggil Yudha lembut.


"Hem."


"Ayo jalan, kenapa melamun?"


Aku mengangguk dan tersenyum. Ada apa sebenarnya denganku?


Kenapa setelah melihat Pak Gilang tadi pikiranku terus bercabang?


Padahal tadi aku sangat bahagia jalan dengan Yudha.


Kenapa setelah melihat wajah pak Gilang suasana hatiku jadi berubah begini?


Aku takut kalau pak Gilang salah paham dengan hubunganku dan Yudha.


Tunggu dulu? kenapa aku terus memikirkan hubunganku dengan Pak Gilang?


Ayolah Terry, tak ada hubungan apapun antara kamu dan pak Gilang. Tak ada yang terjadi antara aku dan pak Gilang, tapi kenapa aku menjadi uring-uringan seperti ini?


Ku hela nafasku, dan ku pandang wajah Yudha yang saat ini berjalan bersisian denganku, sudahlah Terry, untuk apa aku terus memikirkan dia?


Kembali ku hela nafasku yang terasa sesikit menyesak di dada. Seharusnya aku kembali pada lelaki yang saat ini sedang bersamaku ini.


Ku letakan bokongku di bangku yang tersusun di pinggir kolam air pancur di tengah taman. Ku dengarkan cerita Yudha dan beberapa pengalamannya berhadapan dengan costumer di percetakan tempat ia bekerja.


"Terus, kalau kamu kerja. Kamu kapan kuliah dan belajar nya, Yud?" tanyaku sambil tersenyum sendu.


Perhatianku teralih pada perkumpulan lelaki yang baru datang dan duduk di hamparan rerumputan di bawah pohon. Salah satu lelaki itu adalah pak Gilang.

__ADS_1


Kembali mataku terpaku pada sosok manis yang sedang bersenda gurau dengan teman sebayanya itu. Entahlah, tapi ku lihat wajah pak Gilang tak benar-benar tersenyum.


Sesaat mata kami saling bertautan saat pak Gilang melemparkan pandangannya padaku. Pak Gilang tersenyum sendu padaku, lalu menundukan pandangannya perlahan.


Ku buang pandanganku pada Yudha yang masih asyik bercerita. Entah apa yang dia ceritakan dari tadi, aku sama sekali tak mendengarkan apapun.


Pikiran dan perhatianku teralih pada lelaki manis yang sedang duduk bersenda guaru disana.


"Kirei." panggil Yudha sambil meraih jemariku yang diam diatas kedua pahaku.


"Ada apa, Yudha?"


"Dari tadi kamu cuma melamun saja. Kamu gak senang ya jalan sama aku?"


"Bukan begitu Yudha, aku cuma kepikiran Bunda saja." jawabku berbohong.


"Memang Bunda kenapa?"


"Gak apa-apa kok. Aku cuma sedikit bingung sama cerita Bunda semalam."


Ku sungging senyum manis di bibirku, kembali pandanganku terarah pada Pak Gilang yang saat ini bangkit dan berjalan menjauh dari perkumpulan teman-temannya.


"Aku, cari toilet dulu ya, Yudha." ucapku sambil berjalan mengikuti langkah kaki pak Gilang.


Sedikit berlari ku kejar langkah pak Gilang yang menjauh dari tempat kami duduk tadi. Saat ku lihat pak Gilang berjalan ke parkiran motor, ku tarik pergelangan tangannya.


"Pak." ku tarik pergelangan tangan pak Gilang.


"Iya." jawab pak Gilang sambil memutar badannya melihat kearahku.


"Ada apa, Terry?" tanya pak Gilang memutuskan kalimatku.


"Saya mau jelasin soal masalah tadi, Pak." ucapku sambil mengaitkan kedua jariku di depan dada.


"Jelasin soal apa, Terry?"


"Soal masalah yang di lampu merah tadi, Pak. Sebenarnya saya..."


"Kenapa harus di jelasin? memangnya apa hubungan saya dengan kamu?" jawab Pak Gilang memutuskan kalimatku.


"Apa?" ucapku sedikit terkejut.


"Saya ini hanya dosen kamu, saya gak berhak mencampuri urusan pribadi kamu." jawab pak Gilang sendu.


Kurasakan sesuatu yang membuat jantungku berdenyut nyeri saat mendengar penegasan pak Gilang tentang hubungan kami.


Iya, siapa aku dimata pak Gilang? aku ini hanya mahasiswinya, kenapa aku jadi terbawa perasaan olehnya.


Dasar bodoh kamu Terry, kenapa kamu berharap bahwa dosen seperti pak Gilang menaruh hati pada gadis tertutup dan dingin sepertimu?


"Iya, maafkan saya, Pak. Saya pikir hubungan kita lebih dari sekedar mahasiswi dan dosen. Gara-gara ucapan orang tua kita, saya jadi takut mengecewakan perasaan Bapak." aku berbalik dan kuremas ujung bajuku.


Ya Tuhan, kenapa nyeri sekali hatiku. Perasaan sesak apa ini? kenapa sesak ini membuat nafasku tersengal. Aku bahkan kesulitan untuk menghirup oksigen.


Ku langkahkan kaki untuk menjauh dari parkiran taman.

__ADS_1


"Terry, maksud saya bukan begitu." ucap pak Gilang yang tak lagi mampu mengehntikan langkahku.


Aku malu, aku salah paham oleh perlakuan pak Gilang dan keluarganya terhadapku selama ini.


Kenapa saat mendengar pernyataan pak Gilang membuat hatiku sakit sekali. Pak Gilang tak salah, aku yang salah mengartikan perhatian dan segala sikap pak Gilang selama ini.


Ku sapu buliran air mata yang melintas deras membasahi pipiku. Ku percepat langkahku menuju toilet dan langsung ku basuh wajahku dengan air.


Kenapa? kenapa pak Gilang mampu membuat air mataku berderai begini?


Kenapa aku kembali merasakan luka?


Aku yang salah, tapi kenapa perasaan ini begitu sangat menyiksa batinku.


Kenapa luka ini jauh lebih perih dari pada luka yang di ciptakan oleh Yudha dulu.


Ku basuh wajahku dengan air dan ku lapisi wajahku dengan bedak tipis.


Ku tutupi mataku yang sedikit bengkak karena menangis tadi.


Ku rapikan rambut dan juga dandananku.


Aku kembali berjalan ke sisi Yudha, ku lihat pak Gilang kembali ada di perkumpulan teman-temannya tadi. Ku tundukan pandanganku saat melintas di depan pak Gilang.


Sudah cukup malu aku tadi, tak ingin lebih malu lagi. Ku gulum senyum saat duduk bersebelahan dengan Yudha.


"Kirei, kamu sakit? matamu merah sekali?" ucap Yudha sambil meraih satu pipiku.


"Enggak, tadi waktu mau basuh muka. Cipratan air masuk ke mata aku. Jadi merah begini." ucapku berbohong.


Yudha menaiki sebelah alis matanya, tak percaya oleh ucapan aku.


"Kamu bohong sama aku, kamu habis nangis kan?"


"Gak Yudha. Aku gak apa-apa." ucapku kembali berderai air mata.


Aku tak tahu, tapi kali ini aku benar-benar lepas kendali. Tak kusangka segitu besar pengaruh pak Gilang dalam diriku. Karena setelah Yudha, pak Gilang yang mampu membuat aku merasa nyaman.


Ku tangkupkan tanganku untuk menutupi bibirku. Air mata terus mengalir karena rasa sesak yang terus menyumbat pernafasanku.


"Kirei, ada apa? kenapa kamu menangis?"


"Aku gak tahu, Yudha. Tapi hati aku sakit sekali." ucapku sambil tergugu.


Yudha menarik kepalaku dan menjatuhkannya di dadanya. Ku lepaskan tangisanku sekedar untuk melepaskan beban hati yang terasa sangat berat.


Tak lama aku meleraikan pelukan Yudha, bangkit dan langsung berlari menjauh, ku tutupi wajahku dan berlari semakin menjauh.


"Terry..." ku dengar suara dari dua orang yang berbeda memanggilku.


Aku semakin mengencangkan langkahku saat mendengar ada langkah kaki yang mengejarku.


Ku stop sebuah taksi yang melintas dan membuka pintu. Namun sebuah tangan dengan cepat menutup pintu taksi itu. Ia menarik kepalaku dan menjatuhkannya di dada bidang milik lelaki itu.


Sesaat tangisku kembali pecah, kenapa rasa ini tak pernah adil buatku?

__ADS_1


__ADS_2