
"Apa?" tanyaku sedikit terkejut.
"Terry, aku benar-benar tidak berniat mempermainkan kamu, Terry. Aku benar-benar sayang sama kamu, percaya sama aku, aku gak pernah mau tunangan sama Laura." kembali Yudha menjelaskan padaku.
"Cukup Yudha, cukup. Aku gak mau dengar apapun lagi." sanggahku kesal.
"Terry, lihat aku!" Yudha mengambil kedua pucuk bahuku. Mencoba menatap mataku lekat.
"Kali ini percaya sama aku, akan ku batalkan pertunangan dengan Laura. Aku gak mau kehilangan kamu lagi, Terry."
"Tapi saat ini kamu sudah kehilangan aku Yudha. Hentikan semua ini, semuanya sudah terlalu sakit untukku saat ini. Mau sampai kapan?"
Yudha hanya menundukan pandanganya, tak lama ia kembali menatapku lekat.
"Saat ini juga, akan aku bilang sama Nenek soal niat aku ke kamu."
"Terus, kamu mau nyakiti Laura begitu saja? kamu mau ninggalin dia begitu saja? ayolah Yudha, mau sampai kapan kamu terus menorehkan luka di hati seorang wanita?"
"Tapi aku gak cinta sama Laura, yang aku cintai itu kamu, Terry. Kenapa aku harus mikiri perasaan Laura? terus siapa yang mau ngertiin perasaan aku?"
"Kenapa selama ini kamu diam? berapa lama kamu memiliki waktu untuk menjelaskan keadaan ini sama Nenek kamu, kan Yud. Kemana kamu buang waktu kamu? kamu menikmati waktu bersama Laura, iya kan?"
Sesaat Yudha terdiam, perlahan pegangannya pada bahuku mengendur. Ia melepaskan pegangannya dan membuang bokongnya di kursi halte.
"Terry, mau pulang?" tanya pak Gilang menarik tanganku.
"Iya, Pak." jawabku lembut.
"Enggak Terry, aku belum selesai bicara. Aku gak mau tunangan sama Laura, aku maunya sama kamu!" kembali Yudha menahanku.
"Jangan terlalu paksakan cintamu. Terry punya hak untuk memilih." Pak Gilang menarik badanku kebelakang bahunya, menghindari aku dari jangkauan Yudha.
"Tolong jangan ikut campur urusan kami berdua." ucap Yudha sengit.
"Saya tak ingin ikut campur, tapi saya gak bisa lihat kamu terus-terusan maksa Terry seperti ini."
"Aku bilang jangan ikut campur!" Yudha menarik kerah kemeja pak Gilang, mengancam pak Gilang lewat mata tajamnya itu.
"Yudha, cukup." ucapku menengahi. "Maaf, tapi aku gak bisa lagi kembali sama kamu, Yudha. Aku mohon berhentilah, mengertilah Yudha."
Pak Gilang hanya tersenyum dan menepuk pipi Yudha lembut. Seperti tak ada rasa takut sedikitpun akan ancaman Yudha.
"Tidak semua masalah di selesaikan dengan kekerasan anak muda." ucap Pak Gilang sedikit tersenyum
Ku buka paksa cengkraman tangan Yudha. Dengan menahan amarah, Yudha kembali menarik tanganku menjauh. Kembali pak Gilang menarik tanganku untuk tetap tinggal.
"Lepas!" ucap Yudha membentak.
"Saya hanya butuh satu kalimat dari bibirmu, Terry." ucap pak Gilang lembut.
"Ya atau tidak?" tanya pak Gilang serius.
Sejenak ku buang pandanganku kearah Yudha yang terus menampilkan ekspresi marahnya. Lalu ku tatap wajah pak Gilang yang terlihat lebih serius dari pada saat ia mengajar.
"Iya." jawabku sambil mengangguk.
"Apanya yang iya?" tanya Yudha sengit.
__ADS_1
"Iya, saya mau menikah dengan Bapak." jawabku sambil menatap wajah pak Gilang.
Terdengar suara helaan nafas dari pak Gilang.
"Yasudah, kalau gitu sekarang kita pulang." tarik pak Gilang menjauh.
"Terry, kamu gak bisa lakuin ini sama aku, Terry."
Tak ku pedulikan lagi ucapan Yudha yang terus memangilku. Mataku terus menatap wajah pak Gilang yang lurus menatap kedepan. Pak Gilang hanya menampilkan ekspresinya yang datar, seperti tak senang dengan jawabanku.
Aku tahu, aku pasti sudah kembali menyakiti hati pak Gilang. Bagaimana juga aku lebih dulu memilih untuk menerima pak Gilang. Aku benar-benar tak menyangka seperti ini pada akhirnya.
Aku tak menyangka, bahwa aku masih akan terluka karena Yudha. Aku pikir, perasaan ku pada pak Gilang sudah cukup dalam.
Kenapa? kenapa harus seperti ini lagi pada akhirnya?
"Kamu istirahat saja dulu, kita bicarakan ini nanti, saat perasaan kamu sudah membaik." ucap Pak Gilang saat menurunkan aku di depan rumah Ayah.
"Emh, Pak." ku tarik lengan tangan pak Gilang lembut.
"Iya." jawab pak Gilang lembut.
"Apa Bapak gak yakin sama saya? saat ini saya baik-baik saja. Saya bener-bener memilih Bapak."
Pak Gilang tersenyum sendu, ia meraih pipiku dan mengelusnya lembut. Lalu tanpa menjawab ia melajukan notornya memasuki garasi rumahnya.
Ku lihat punggung Badan pak Gilang yang memasuki daun pintu rumahnya. Ku hela nafasku yang kembali terasa berat.
Aku baru saja ingin memulai, namun kenapa kejadian seperti ini sudah terjadi di awal?
Bunda bilang, tak ada mawar tanpa duri. Saat ini duriku telah melukai pak Gilang. Masa laluku telah merusak segala sesuatu antara aku dan Pak Gilang.
****
Ku singkap kain gorden jendela kamar, ku tatap undangan silver yang saat ini ada di tanganku. Ku hela nafas sedikit berat.
Akhir kita seperti ini Yudha. Bagaimanapun di ulang, kisah kita hanya akan berakhir dengan luka.
Ku pejamkan kelopak mataku, ku nikmati semilir angin sore menerpa wajahku.
Andai aku lebih cepat menyelesaikan masalah antara kita. Mungkin semua tak akan seperti ini akhirnya. Saat hubungan kita berakhir, aku malah melukai sesuatu yang baru saja di mulai.
Ingin ku tahan kau dalam hatiku, namun kini ada hati yang sedang menantiku. Hatiku pernah hancur berpuing-puing karenamu.
Ku coba untuk merapikan kembali sisa puing yang tertinggal, mencari sisa puing yang ada padamu untuk melengkapiku. Berharap hati ini akan kembali utuh. Tapi kini, lempengan dalam hati kita terisi oleh lempengan hati yang baru.
Aku harap kamu bahagia bersama tunanganmu.
"Terry." ku dengar seseorang memanggil namaku, bersamaan dengan tepuk tangan seseorang.
Ku buka mataku dan ku lihat sumber suara itu. Pak Gilang didepan rumahku, melambai kearahku.
"Mau jalan bareng saya?" teriaknya keras.
Aku hanya mengangguk dan segera bersiap. Secepat yang kubisa, aku turun dan menjumpai pak Gilang di atas tunggangannya.
"Mau kemana, Pak?" tanyaku saat berhadapannya denganya.
__ADS_1
"Jalan sore saja." ucap Pak Gilang lembut sambil memberikan helm kepadaku.
Pak Gilang melajukan motornya keluar area kota. Tak jauh dari kota kami, pak Gilang memberhentikan laju motornya di bibir pantai.
"Tumben kesini?" tanyaku sambil merapikan helaian rambutku yang berantakan.
Pak Gilang hanya tersenyum dan membuang bokongnya di atas tembok pembatas.
Aku berdiri berhadapan dengan pak Gilang yang duduk diatas tembok. Pak Gilang meletakan kedua tangannya diatas bahuku. Aku tersenyum sambil memandang wajah pak Gilang.
Ku rapikan helaian rambut pak Gilang yang terbang terbawa angin pantai.
"Terry."
"Hem." jawabku sambil merapikan rambut pak Gilang yang terus terbawa angin.
"Kamu tidak benar-benar menerima saya, kan?" tanya pak Gilang sendu.
"Maksud Bapak?"
Pak Gilang menghela nafasnya dan turun dari tembok itu, berdiri berdampingan denganku, lalu menumpuhkan kedua tangannya di atas tembok.
Matanya menatap lurus kedepan, menatap luasnya bentangan alam. Sesekali pak Gilang menyipitkan matanya, memandang binar langit yang mulai berwarna keorenan.
"Saya tahu, kamu tak pernah punya rasa sama saya."
Aku tersenyum dan melingkari lengan tangan pak Gilang. Ku tumpuhkan kepalaku diatas bahu pak Gilang.
"Bapak tahu dari mana? banyak hal yang sudah Bapak rubah dalam hidup saya."
"Kamu tidak benar-benar menerima hati saya. Kamu hanya berusaha untuk lepas dari jerat, Yudha."
Seketika ku angkat kepalaku dan ku tatap wajah pak Gilang yang masih terus menatap kosong kedepan.
"Sebelum saya mengatakan niat saya sama Mama, kamu masih bisa memutuskan, Terry."
"Maksud Bapak? Bapak cuma mainin perasaan saya? Bapak gak serius mau menikahi saya?" tanyaku mulai sengit.
"Bukan, bukan begitu, Terry." Pak Gilang membalikan badannya kearahku. Ia meraih wajahku dan memandangku sendu.
"Kamu tahu saya bukan orang yang suka bercanda, saya gak pernah main-main sama perasaan saya."
"Jadi maksud Bapak ngomong begini apa? saya benar-benar ingin memulai sama Bapak. Maaf saya sudah menyakiti hati Bapak, saya tahu, saya ini egois dan saya selalu memikirkan diri saya sendiri. Tapi saya..."
"Ssstttt..." pak Gilang memutuskan kalimatku.
"Saya serius suka sama kamu, tapi saya gak bisa menyiksa kamu dalam pelukan saya." sambung pak Gilang sendu.
Sejenak perkataan pak Gilang membuat aku terdiam. Ku lihat kembali mata pak Gilang yang menatap wajahku nanar.
"Saya gak bisa mengurung kamu dalam ego cinta saya, Terry. Kalau kamu memang sayang sama Yudha, kejarlah cinta kamu."
"Bapak sadar sama yang Bapak katakan?" tanyaku serius.
"Saya sadar, karena itu saya ajak kamu kesini. Karena dari sini, acara pertunangan Yudha tak jauh lagi."
Pak Gilang kembali tersenyum, berjalan mendekatiku dan mencium dahiku lembut.
__ADS_1
"Sebelum terlambat, pergilah Terry. Aku melepaskanmu."