Cinta Pertama

Cinta Pertama
35


__ADS_3

Tok ... Tok ... Tok.


Ku ketuk daun pintu ruangan pak Gilang. Ku buka sedikit dan melangkahkan kaki untuk masuk kedalam.


Ku lihat pak Gilang yang sedang menelpon seseorang, ia hanya melemparkan senyumnya saat melihat aku masuk.


"Nanti saya hubungi kembali." putus pak Gilang, mengakhiri panggilannya.


Pak Gilang langsung datang mendekatiku setelah meletakan ponselnya diatas meja.


"Kepala kamu gak apa-apa, Terry? apa ada yang sakit?" tanya nya spontan.


"Ehm, enggak pak. Cuma sedikit memar saja."


"Kalau gitu ayo kita kerumah sakit, kamu harus cek di rumah sakit." pak Gilang menarik pergelangan tanganku.


"Pak." panggilku lembut


"Hem."


"Bapak terlalu berlebihan, saya gak kenapa-kenapa. Gak perlu kerumah sakit juga." balasku lembut.


"Apa kamu yakin?"


"Iya."


"Hem, baiklah. Kalau begitu mau makan siang bareng di kantin?"


Aku tersenyum dan menggeleng pasrah. Kejadian tadi saja sudah membuat fans pak Gilang meradang, apalagi melihat aku makan siang bareng pak Gilang. Bisa di kuliti hidup-hidup aku.


"Kejadian tadi saja sudah buat saya di pandang sinis sama fans Bapak. Saya gak mau nanti malah jadi gak enak, Pak." jelasku lembut.


"Hem, begitu? yasudahlah." ucap pak Gilang melemah.


"Jadi Bapak manggil saya kesini?" tanyaku menaiki sebelah alis mataku.


"He he." pak Gilang hanya menyeringai pasrah.


"Aish ... Pak." ku tatap wajah pak Gilang yang hanya tersenyum menyeringai.


"Saya hanya khawatir sama kamu, Terry. Apa saya gak boleh khawatir sama calon pacar saya sendiri?"


"Calon pacar?"


Pak Gilang hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya. Ku lepas senyumku dan menggeleng pasrah.


Ya Tuhan, kenapa lelaki dewasa seperti pak Gilang bisa bersikap lebay juga?


"Kalau gak ada lagi yang mau di bicarain, saya permisi duluan ya Pak." ku langkahkan kakiku berjalan menuju pintu.


Ku raih gagang pintu ruangan pak Gilang, ku balikan badanku sebelum membuka daun pintu itu dengan lebar.


"Hem, Pak." panggilku kembali.


"Ya." jawab pak Gilang spontan.


"Terima kasih untuk yang tadi." ucapku sedikit malu.


Pak Gilang tersenyum dan menyisir rambutnya kebelakang.

__ADS_1


"Sama-sama." jawabnya lembut.


Ku gulum senyum, dan mengangguk perlahan. Ku lanjutkan langkahku yang ingin keluar. Kembali ku palingkan wajah dan melihat kearah pak Gilang.


"Hem, Pak."


"Ya."


"Saya suka ... Saat Bapak bersikap tegas seperti tadi." ku buka daun pintu, dengan cepat keluar dan kembali menutup daun pintu ruangan pak Gilang.


Ku pegangi dadaku yang bergejolak kencang karena mengucapkan perkataan tadi.


Apa yang kau katakan barusan? mati lah kau Terry. Bahkan aku tak sempat melihat bagaimana ekspresi pak Gilang Tadi.


Tring...


Deringan ponselku hampir membuat aku terlompat. Ku keluarkan gawaiku dan ku usap layar ponselku dengan cepat.


"Terry, dimana?" tanya Tantri langsung.


"Lagi di depan ruangan pak Gilang."


"Yasudah, aku tunggu di taman depan ya."


"Baiklah." ku tutup panggilan Tantri dan ku masukan kedalam tasku.


Sedikit menghela nafas, ku langkahkan kaki menjauh.


"Hey ... Terry." seseorang merangkulku dari belakang.


"Ada apa?"


"Aku ada janji sama Tantri, Yudha. Lain kali ya." tolakku lembut.


"Sudah, sama aku saja. Sama Tantri lain kali saja."


"Tapi Yudha..."


"Ayo!" Yudha menarik lenganku berjalan menuju kantin kampus.


Ku buang bokongku di jejeran bangku stainles di dalam kantin.


"Mau makan apa?" tanya Yudha.


"Aku soimay saja, jangan di kasih saus, jangan pakai kentang dan..."


"Banyak cabai." putus Yudha langsung.


Aku menyengir, ternyata Yudha masih ingat kebiasaanku.


Yudha berjalan ke jejeran gerobak para penjual makanan. Ku keluarkan gawaiku dan mengirimi pesan ke Tantri


Selang beberapa menit, Yudha kembali dengan dua piring siomay dan jus jeruk di tangannya.


"Pesanan Tuan putri." ucap Yudha saat meletakan sepiring siomay di hadapanku.


"Terima kasih." balasku dengan tersenyum lebar.


Ku aduk-aduk potongan siomay di dalam piring, ku lihat Yudha yang saat ini sedang duduk berhadapan denganku. Banyak hal yang telah berubah diantara kami.

__ADS_1


Salah satu yang paling nyata adalah, bentuk fisik yang tak lagi sama. Tapi kenapa saat bersama dengan Yudha, aku merasa seperti hidup dalam lingkup masa lalu.


Yudha mengenal aku lebih baik dari diriku sendiri, tapi saat ini, bagiku Yudha bukanlah satu-satunya lelaki yang mengerti aku.


Pak Gilang juga paham akan pikiranku, dia lebih sering memahami pertanyaan yang muncul dalam pikiranku di bandingkan aku sendiri.


Huft ... Apa yang sebenarnya aku katakan pada pak Gilang kemarin? aku akan memilih dengan benar. Sementara aku sendiri sedang pusing sama diriku sendiri.


"Terry."


"Ya."


"Kenap gak di makan? gak suka?"


"Oh, suka." jawabku sambil melahap potongan siomay kedalam mulutku.


Ku tatap lekat wajah Yudha yang saat ini berada di hadapanku. Banyak hal yang masih menjadi misteri dari masa lalu kita, Yudha.


"Yudha."


"Hem."


"Aku mau tahu..." ku gantung kalimatku dan ku lihat wajah Yudha yang sedikit bingung.


Sebenarnya aku mau tahu bagaimana masa lalumu. Alasan apa yang membuat kamu meninggalkanku dulu, alasan apa yang membuat kamu kembali mengejarku.


Tapi aku masih sangat takut, hatiku masih sangat rapuh. Aku takut, aku tak akan sanggup mendengar apapun.


"Terry, kamu mau tahu apa?"


"Ah, Yudha coba buka mulutmu."


"Apa?" tanya Yudha sedikit terkejut, "Kenapa?"


"Sudah buka saja, apa susahnya sih?"


"Baiklah."


Yudha mengalah dan membuka mulutnya, dengan cepat tanganku memasukan potongan siomay kedalam mulutnya.


Seketika wajah Yudha memerah, ia menyambar gelas minumannya dan meneguk sampai habis.


"Puft ... Ha ha ha." ku lepas tawa geliku.


"Ha ha ha." tak tahan melihat wajah Yudha yang memerah padam.


Ku tarik kedua daun telinga Yudha yang ikut memerah, semerah wajahnya saat ini.


"Sudah umur berapa Yudha? masih gak bisa makan pedas saja. Ha ha ha." ku tarik kedua daun telinga Yudha dan menggoyangkannya.


"Terry, bercandanya gak lucu. Aku bukan gak bisa tapi gak suka!" sanggah Yudha kesal. Ia sedikit ternatuk karena menahan pedas.


"Uluh ... Uluh ... Ternyata Yudha gak pernah berubah jadi lelaki dewasa!" ku tarik kedua daun telinga Yudha yang masih memerah karena kepedesan.


Yudha meraih kedua tanganku dan menggemggamnya dengan erat.


"Jika aku tak pernah menjadi dewasa apakah kamu akan kembali bersamaku?"


Sontak ku tarik kedua tanganku dan kembali duduk di kursi. Ku raih gelas jus, dan meneguknya sedikit.

__ADS_1


"Terry, jika tak ada Gilang di antara kita. Mungkinkah kamu membutuhkan waktu selama ini untuk kembali bersamaku?"


__ADS_2