Cinta Pertama

Cinta Pertama
Bab. 146


__ADS_3

Drama masih berlangsung yang dilakoni oleh Danisha anak sulungnya Dennis Ritchie Valens Edgardo dengan Dania Ardita Aulia Ramadhani Kusuma David dengan lawannya Nanda Maulana.


Kejadian itu tak lepas dari pengamatan seseorang dan orang itu hanya tersenyum melihat tingkah lakunya si kembar.


"Aku suka gaya kalian Nak, sungguh awal yang bagus, lanjutkan Nak aksi kalian, akting kalian sangat luar biasa dan patut diacungi jempol nih," ujarnya David yang ingin tertawa terpingkal-pingkal tapi, ia tahan.


Mereka masih beradu argument dan belum ada satupun diantara mereka yang mengalah. Dari sisi Nanda semakin gencar untuk menuntut rugi pada Icha. Padahal dari semua pengunjung yang menyaksikan kejadian tersebut sudah jengah dan muak melihat sikap keras kepalanya Nanda.


Setelah perayaan ulang tahun perusahaan suaminya itu. Nyonya Sanaya kemudian memutuskan untuk berjalan-jalan menuju tempat arena bermain yang baru saja dibuka perdana sehingga tempat itu dipadati oleh banyaknya orang dari segala penjuru Ibu kota Jakarta.


"Ya Allah… kenapa feelingku mengatakan jika aku akan segera bertemu dengan kedua cucu kembarku itu," Bu Sanaya membatin.


Hanya butuh waktu yang singkat saja, mobilnya Bu Sanaya sudah sampai di tempat parkiran khusus mobil.


Mang Udin menolehkan kepalanya ke arah belakang," Nyonya Besar kita sudah sampai di tempat bermain yang Nyonya inginkan," tuturnya Pak supir pribadinya Bu Sanaya.


"Makasih banyak, kamu tunggu saya di mobil saja tidak perlu mengawal saya ke manapun, saya ingin bebas hari ini menikmati kesendirianku," imbuhnya Bu Sanaya lalu keluar dari mobilnya.


"Baik Nyonya Besar," balasnya Noah asisten pribadinya yang sekaligus body guardnya itu.


Setelah beberapa meter perjalanan kaki yang ditempuh oleh istri dari bosnya, Noah segera memberikan kode kepada anak buah bayangannya yang sedari tadi selalu bersiap dan berjaga tanpa diperintahkan pun sudah berjaga siap sedia.


Nyonya Sanaya berjalan memasuki area lokasi permainan yang cukup terbesar yang terbaru itu. Pandangannya langsung tertuju ke arah kerumunan orang-orang. Dua mengerutkan keningnya karena sesuai dengan pengantarnya sekitar tempat itu bukanlah lokasi salah satu arena bermain tapi, dekat dari tempat pembelian karcis dan tiket dan juga restoran siap saji dengan simbol gambar seorang Kakek berkacamata itu.


"Apa yang terjadi di depan yah?" Gumamnya ibu Sanaya sambil terus melangkahkan kakinya menuju tempat kerumunan orang.

__ADS_1


Ibu Sanaya penasaran dengan kerumunan orang-orang itu, dan langsung berjalan ke arah kerumunan orang itu tanpa banyak pikir lagi saking keponya sehingga tak ada keraguan untuk terus melangkahkan kakinya menuju lokasi tersebut.


Nanda semakin tertantang untuk menuntut kerugian dan sama sekali tidak goyah dan juga ragu,"Sampai kapan pun aku tidak akan melepaskan anak nakal ini sampai dia mengganti rugi sesuai dengan harga pakaianku ini, barulah aku lepaskan!" Gerutu Nanda.


Semua orang sudah muak melihat kejadian tersebut, tapi apa daya mereka tidak mampu untuk mengganti rugi karena harga bajunya Nanda cukup mahal sehingga mereka hanya mampu terdiam dan menjadi saksi bisu dari insiden yang menyita perhatian banyak pengunjung tanpa terkecuali


Nanda kemudian berjalan ke Icha dan Dafina yang terduduk di atas kursi panjang sambil mengobati lukanya Fina dibantu oleh Pak Ahmad Adam Faizal.


Nanda tidak segan dan ragu lagi untuk segera mendekati Icha dan ingin menarik kerah bajunya Icha dengan menggunakan segala kekuatannya itu. Tapi sebelum perempuan itu menyentuh kerah bajunya Icha, tiba-tiba ada seseorang yang menggagalkan rencananya Nanda itu.


"Stop!! Berapa harga pakaianmu itu, biar aku yang mengganti semua kerugian yang kamu alami!?" Tegasnya Bu Sanaya yang ikut jengkel dan kesal melihat aksinya Nanda yang seperti dia yang punya arena bermain itu saja.


Icha masih sibuk mengobati lukanya Fina sehingga tatapan matanya tertuju ke arah bawah seolah menatap ke arah rumput jadi wajahnya belum dilihat oleh Ibu Sanaya Warren Edgardo.


"Dia kan putrinya Pak Ronald Steven yang sempat dipecat oleh Mas Edgar," Sanaya membatin dengan memperhatikan dengan seksama dari ujung rambut hingga ujung kaki Nanda.


Nanda ssgera mengalihkan perhatiannya ke arah Bu Sanaya. Nyalinya langsung menciut karena sangat tahu siapa sosok yang sedang berbicara di depannya.


"Itukan istrinya Tuan Besar Edgardo, aku tidak boleh berurusan dengannya karena aku sudah tahu kekuatan suaminya dulu ketika memecat Papa dengan secara tidak terhormat dan nasib kami langsung berubah drastis," gumam Nanda.


Berbagai rasa bercampur menjadi satu bagian di dalam benak dan pikirannya itu. Nanda jelas ketakutan dan gemetaran saking takutnya tapi disisi lain ia juga marah dan benci jika harus kembali mengingat kejadian beberapa tahun silam.


"Aku harus segera pergi dari sini dan menyusun rencana untuk membalas dendam kepada kelurganya," Nanda membatin.


Untungnya Nanda tidak mengetahui jika Icha dan Fina adalah cucunya Pak Edgardo sedangkan temannya yang lain terutama kekasihnya mengetahui informasi itu dengan pasti setelah mendapatkan beberapa foto gambar yang berhasil diambil oleh anak buahnya kekasihnya itu.

__ADS_1


"I-bu ti-dak u-sah mengganti pakaianku ini, ka-re-na bukan ibu kok yang mengotorinya tapi bocah nakal ini yang melakukan semua ini," ketusnya Nanda seraya menunjuk ke arah Icha dan Fina.


Fina refleks langsung menatap wajah tante itu dan ia tercengang ketika menajamkan penglihatannya.


"Nenek Sanaya," cicitnya Fina yang tersenyum penuh kemenangan.


Bu Sanaya tersentak kaget dan juga terkejut dibuat tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bu Sanaya bahkan sudah shock dengan penglihatannya sendiri.


"Itukan cucuku! Aku yakin dia adalah Fina cucuku," lirihnya Ibu Sanaya yang berjalan ke arah Fina yang sudah tersenyum bahagia.


Akr matanya jatuh begitu saja tanpa aba-aba saking bahagianya karena setelah satu tahun lebih ia melihat cucunya yang sudah semua orang anggap sudah meninggal dunia itu. Nyonya Sanaya dan mendekati ke arah kedua cucu kembarnya itu.


Tanpa sepatah katapun dan tanpa banyak mikir lagi. Beliau langsung memeluk tubuh kecil cucunya yang sudah lama ia rindukan. Hal ini membuat semua mata yang ada di sana tak percaya dengan apa yang mereka lihat bahkan keheranan dengan reaksi seorang perempuan paruh baya yang masih sangat cantik diusianya yang sudah kepala lima itu.


Mereka mengetahui jika Bu Sanaya adalah istri dari pemilik perusahaan Global Ones Group.


Bu Sanaya memeluk satu persatu tubuh nya Icha dan Fina cucu tersayangnya," cucuku, apa benar kamu kedua cucu kembarku yang cantik?" Bu Sanaya bergantian memeluk tubuh kedua cucunya dengan penuh kegirangan.


"Nenek sangat merindukan kehadiran kalian, Nenek sangat bersyukur karena kalian selamat dari kecelakaan tersebut, kalian itu berada di mana saja selama ini, kamu tahu tidak Nak, Nenek sangat merindukan kalian, saya bahkan mencari keberadaan kalian seperti orang gila saja dan sudah putus asa," ratapan Bu Sanaya yang semakin menangis dan mengeraskan suaranya.


Bu Sanaya bahkan tak henti-hentinya menghujani ciuman wajah Icha dan Fina secara bergantian. Sedangkan Pak Ahmad Adam segera mengirimkan video kejadian ini kepada Dennis padahal mereka berdua sudah melihat langsung di tempat kejadian.


Air matanya Dennis tumpah ruah, tubuhnya bergetar dengan suara tangisnya yang ditahannya itu sedangkan air matanya selalu menetes mewakili perasaannya kesedihannya kala itu.


"Mama! Maafkan aku yang belum bisa muncul di hadapan kalian, sebelum aku berhasil membuat Nanda dan komplotannya jujur mengakui kesalahannya aku juga belum bisa memperlihatkan kepada kalian," lirih Dennis.

__ADS_1


Dania menggenggam erat kepalan tangannya suaminya itu seolah ingin mengalirkan rasa cinta dan kasih sehingga Dennis tidak meresa sendirian di dunia ini.


Pengawal pribadi diam-diam bergerak untuk segera melaporkan hal ini kepada Tuan Besar Edgardo. Berselang beberapa saat kemudian, Pak Edgardo dan kedua putrinya yaitu Citra dan Cinta mendatangi lokasi tempat di mana mama dan anaknya Dennis berada.


__ADS_2