Cinta Pertama

Cinta Pertama
Bab. 121


__ADS_3

Setiap tahunnya acara pesta panen raya ini diadakan. Sebagai wujud rasa syukur mereka kepada sang Maha Pencipta. Acara pembuka biasanya diisi oleh sepatah kata dari kepala desa dan dilanjutkan ceramah oleh pemuka agama dan dilanjutkan dengan berbagai acara tradisional yang membuat mereka terhibur.


Acara terakhir yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat adalah makan berbagai macam masakan yang pastinya sangat menggugah selera dan makanan yang jauh dari campuran bahan kimia. Semuanya makanan menggunakan bahan-bahan dan bumbu-bumbu yang alami. Karena itu lah masyarakat di sini jarang sekali ada yang sakit.


Kehidupan di daerah pedesaan membuat Dennis Ritchie Valens Edgardo dengan istrinya Dania Aulia Ramadhani Kusuma David serta kedua anak kembarnya semakin hari semakin bahagia saja.


"Ya Allah… kehidupan di desa ini membuat aku sebahagia sekarang ini tapi, hati kecil ini merindukan kehadiran mama dan papa, ya Allah… bukakanlah pintu hatinya papaku untuk menerima dan merestui hubungan kami ini, aku tidak ingin hidup selamanya seperti ini tanpa ada restu dari papa," batinnya Dennis ketika sedang santai duduk di balai-balai belakang rumahnya.


Dania yang sedang membuat puding khusus request dari anaknya karena sudah lama mereka tidak makan kue itu. Berapa hari ini mereka selalu makan gorengan saja.


"Aku yakin Mas Dennis pasti merindukan kehadiran Papa dan Mama karena hanya mereka berdua yang belum datang menjenguk kami di sini, maafkan aku Mas semua ini gara-gara aku sehingga Mas berpisah dengan Papa dan Mama," Dania membatin seraya menata pudingnya ke dalam piringnya.


Dennis segera bangkit dari duduknya itu lalu berjalan ke arah kebunnya yang kebetulan ada di samping rumahnya. Dennis menanam beberapa tanaman sayuran dan juga beberapa bahan ramuan obat dan jamu tradisional. Dennis sangat menikmati pekerjaannya itu, baginya Dennis hanya di sinilah dia bisa melakukan pekerjaan itu dengan senyuman yang selalu tersungging di bibirnya.


Dennis sangat bersyukur karena banyak pelajaran yang ia petik selama hidup di desa itu. Ia senang karena masih kentalnya nuansa kekeluargaan dan gotong royong diantara masyarakat. Misalany mereka membantu meringankan pekerjaan orang lain tanpa mengharapkan imbalan apapun. Itulah yang Dennis bisa petik hikmahnya.


Dennis menyiram tanamannya yang semakin subur berkat perawatan yang dia lakukan dengan telaten dan beberapa pupuk organik dan anorganik.


"Mas Dennis istirahat dulu yuk, nanti dilanjut kerjanya, aku sudah buat puding mangga seperti yang Mas inginkan!" Imbuhnya Dania seraya menyimpan satu talan yang berisi dengan beberapa piring dengan gelas.


Dennis segera mematikan mesin pompa airnya lalu melipat selangnya itu ke dalam ember yang selalu ia pakai.

__ADS_1


"Tunggu! Mas beresin dulu ini," jawab Dennis yang sudah terbiasa bekerja di kebunnya sendiri.


Dennis sudah duduk di atas balai dengan duduk bersila. Dania pun turut duduk di dekatnya Dennis suaminya itu.


"Mas! Boleh nanya sesuatu enggak?" Tanyanya Dania sambil mencicipi sendiri kue hasil tangannya sendiri itu dengan tersenyum ramah sambil menatap aliran air di kali yang tidak jauh dari rumahnya itu.


Dennis menyuapi potongan puding ke dalam mulutnya lalu menatap ke arah istrinya itu," kamu mau tanya apa istriku seolah kamu sungkan sekali," imbuhnya Dennis sambil mencolek hidung mancung dan bangir milik istrinya itu.


Dania yang diperlakukan seperti itu membuatnya tersenyum bahagia dan wajahnya merona malu. Pernikahan mereka sudah hampir sepuluh tahun tapi, kedekatan seperti sekarang ini baru beberapa bulan mereka lewati.


"Mas! Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke kota beberapa hari untuk menemui Mama," harapnya Dania yang juga merindukan ibu mertuanya itu.


Sedangkan kedua orang tuanya sendiri satu minggu yang lalu datang mengunjunginya walaupun hanya beberapa hari saja baru kembali lagi ke Malaysia,tapi Dania sudah bersyukur.


"Berikan Mas waktu untuk berfikir beberapa waktu," ujarnya Dennis lalu berjalan meninggalkan istrinya yang masih duduk di atas balai nya.


Dania hanya tersenyum menanggapi perkataan dari suaminya karena sangat mengetahui jika suaminya sedang berperang batin.


Dania hanya mampu menatap punggung lebar suaminya itu tanpa berniat untuk memaksakan kehendaknya. Ia sangat mengerti dengan apa yang sedang dirasakan oleh Dennis sendiri.


Dua bulan kemudian setelah Dania meminta kepada suaminya untuk pulang ke kota beberapa hari. Dennis telah memikirkan baik-baik tentang permintaan putrinya Danisha dan Dafina serta istrinya untuk kembali ke kota walaupun hanya beberapa hari saja.

__ADS_1


Banyak pertimbangan bahkan Dennis pikirkan, karena Dennis tidak ingin melihat kedua puterinya bersedih akhirnya Dennis menyampaikan niatnya terlebih dahulu kepada istrinya.


"Aku harus berbicara terlebih dahulu kepada istriku sebelum aku melaksanakan apa yang aku inginkan," batinnya Dennis.


Kebiasaan setiap hari yang dilakukan oleh Dennis adalah melaksanakan shalat lima waktu selalu berjamaah. Dennis semakin khusyuk dan Istiqomah menjalankan kewajibannya. Setelah shalat isya berjamaah di masjid, Dennis kembali ke rumahnya. Dan mendapati istrinya sedang membuat kue. Aroma kue itu tercium ke segala penjuru ruangan tumahnya.


"Wangi sekali bau makanannya, apa yang dibuat Dania sangat lezat sepertinya," gumamnya Dennis.


Dania malam itu membuat kue kering permintaan si kembar. Ketiga perempuan hebat dan yang paling mereka sayangi sibuk di dapur. Mereka bagaikan pasangan chef profesional sajayang saling membantu.


Nastar keju dan cokelat saat itu yang menjadi pilihan mereka. Bukan cuma di kota terdapat keju tapi di desa pun ada, Bahkan di desa terdapat pabrik sederhana yang memproduksi keju. Semua itu berkat bantuan Dennis sehingga masyarakat bisa produktif membuat keju sendiri.


Setelah kue kering nastar keju buatan Icha dan Fina serta Mamanya jadi, Dania mengaturnya ke dalam toples kaca yang sudah disiapkan oleh Fina terlebih dahulu. Tangannya yang masih kecil itu cekatan dan terampil memasukkan kue tersebut.


Mereka tak lupa membuat minuman pendamping nastarnya. Setelah semuanya siap Dania, Danisha dan Dafina membawanya ke depan tepatnya di ruangan yang mereka jadikan ruangan untuk berkumpul dan berbincang-bincang.


Dania melirik sekilas ke arah putri keduanya, "Fina! gimana pelajarannya di sekolah lancarkan Nak?" tanyanya Dania sembari memeriksa kuenya yang masih ada di dalam oven.


"Alhamdulillah lancar saja Mamaku seperti air mengalir yang ada di kali belakang rumah, tadi saya mendapatkan nilai tertinggi di kelas," jawab Fina seraya bercanda dengan Mama dan kakaknya itu.


Danisha yang melihat mama dan adiknya itu pun tak mau kalah dan langsung ikut menimpali percakapan Mama dan adik kembarnya. Dennis yang melihat hal itu segera bergabung.

__ADS_1


Dennis mencicipi salah satu kue tersebut sambil ikut berbincang-bincang," kalau Icha gimana? Tapi Papa yakin putriku juga pasti juara kan!" Tanyanya Dennis.


Danisha dan Dafina berbeda kelasnya, ada yang dikelas 6b dan 6a. Sehingga berangkat ke sekolahnya mereka berbeda tidak barengan.


__ADS_2