
Ku pandang langit yang mulai menghitam. Sendiri menikmati semilir angin malam yang membawa sedikit ketenangan.
Setelah Yudha pulang, aku masih tetap bertahan disini. Yudha juga sama kacaunya denganku. Aku paham sekali bagaimana kalutnya Yudha saat ini.
Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan. Semakin aku berjalan, rasanya semua ini semakin samar tanpa bayang. Aku tak tahu harus melangkah seperti apa. Ayah dan Bunda juga tak ingin bercerita.
Ku usap wajahku dengan sedikit kasar. Ku lihat jam yang tertera di layar ponselku, sudah hampir jam 9 malam. Tapi kenapa enggan sekali untuk melangkah pulang.
Ku buang nafasku kasar, perlahan aku bangkit dan berjalan gontai. Kembali menyusuri jalanan menuju rumah Ayah.
Sebuah lampu motor menyilau kan pandanganku. Ku halangi silauan itu dengan tangan. Tak lama lampu dari motor itu mati, bersamaan langkah kaki yang mendekat.
"Terry, kamu kok disini? Ayah kamu nyariin dari tadi." ucap lelaki itu lembut.
"Malas pulang, Pak." jawabku malas.
"Kok malas sih?"
"Malas aja." ku cemberutkan wajah.
"Hey anak gadis." Pak Gilang meraih kepalaku dan membetulkan helaian rambutku yang berantakan.
"Ada masalah apa, ayo cerita?" bujuk pak Gilang padaku.
"Hah..." ku hela nafas berat. "Rasanya saat ini semua sama saja. Ayah dan Bunda terlalu egois. Sampai kapanpun kami tak akan kembali bersama."
Pak Gilang tersenyum sendu dan menarik pergelangan tanganku.
"Ayo cari tempat untuk bicara." tarik pak Gilang.
Ku naiki motor pak Gilang, ya setidaknya aku bisa pulang sedikit lebih malam. Mungkin jika aku pergi dengan pak Gilang, Ayah dan Bunda tak akan marah.
Pak Gilang memberhentikan motornya di depan garasi rumahnya. Ia membuka pintu rumahnya dan mempersilahkan aku masuk.
"Kita bicara di taman belakang saja ya, hanya ada saya dan Guntur di rumah. Sepertinya Guntur belum pulang."
"Terserah Bapak."jawabku malas sambil berlalu ke taman belakang.
Ku nikmati hawa sejuk di taman belakang rumah pak Gilang. Suasana rumah pak Gilang dan rumah Ayah jauh berbeda. Mungkin kehangatan yang terasa disini, membuat aku tenang menghabiskan waktu disini.
Padahal rumah Ayah hanya di seberang, namun kenapa atmosfernya terasa sangat berbeda?
Setelah lama menunggu, pak Gilang keluar dengan dua gelas teh di tangannya.
"Kamu pasti belum makan kan? minum ini, agar badanmu hangat." ucap pak Gilang menyodorkan sebuah gelas berisi teh.
"Terima kasih Pak." ku raih gelas yang pak Gilang sodorkan. Meneguknya sedikit, rasa yang sedikit berbeda dari yang biasa aku minum. Ku lihat wajah pak Gilang yang sedikit berbeda malam ini.
__ADS_1
Dengan tampilan casualnya, pak Gilang terlihat lebih santai. Rambutnya yang tak tersisir rapi, membuat wajah pak Gilang sedikit lebih muda.
"Itu teh madu, bagus buat kamu." ucap pak Gilang langsung, saat tahu aku memandangnya.
Sejenak suasana kembali hening. Entahlah, aku belum membagi apapun dengan pak Gilang, namun saat melihat pak Gilang ada di sampingku seperti ini. Rasanya beban di hatiku sedikit lebih tenang.
"Ada apa Terry? tak baik lari dari masalah, harus berani hadapi." ucap pak Gilang membuka suaranya.
"Huft ... Aku gak ingin lari Pak. Namun beban ini terasa sangat menyesak, aku hanya butuh ruang untuk sendiri, menenangkan hati." jawabku sendu.
"Apa sekarang sudah lebih tenang?" tanya pak Gilang kembali.
"Ya setidaknya saat ini semua sudah lebih baik."
"Mau cerita?"
"Huhh ... Apa yang harus saya ceritakan, Pak? saat ini semua bagaikan lembaran hitam yang kosong. Tak ada apapun selain ke gelapan." jawabku dengan sedikit melamun.
"Benarkah hanya kegelapan?" tanya pak Gilang kembali.
"Iya." jawabku pasrah.
"Kenapa kamu tak mencoba untuk melihat lembaran itu dari sudut pandang yang berbeda, Terry."
Ku palingkan wajahku ke arah pak Gilang yang saat ini duduk di sampingku.
"Maksud Bapak?"
"Saya tak paham maksud, Bapak."
"Tidak untuk di pahami, cobalah untuk mengerti, ceritakan saja apa yang membuatmu bisa seperti ini."
Kembali ku hela nafas, menatap kosong ke depan. Semilir angin kembali membawa helaian rambutku berterbangan.
"Ayah dan Bunda, masih saja egois. Mereka berpikir bahwa aku tak harus tahu apapun, apa salahnya untuk terbuka, toh aku juga sudah dewasa." ucapku lembut.
"Mereka masih saling berdiam, mereka saling menutupi. Mereka tak ingin berbagi, aku ada hak untuk mengetahui segalanya, Pak. Keadaan ini membuat saya jengah, keadaan ini membuat saya hampir gila, saya terus terhimpit oleh keaadan yang memaksa saya untuk menyusuri jurang dalam."
"Setiap orang itu memiliki hati yang berbeda ketahanannya, Terry. Setiap orang itu memiliki kekuatan yang berbeda."
Ku alihkan pandanganku kearah pak Gilang. Pak Gilang hanya tersenyum dan matanya menatap ke bawah.
"Ayah dan Bunda kamu butuh ruang untuk menjelaskan. Bagaimana juga, yang mereka pikirkan adalah dampak pada kamu saat mereka mulai membuka cerita. Mereka tak tahu sekuat apa kamu sanggup menanggung beban, sehebat apa kamu bertahan. Jika kamu mau mereka membuka suara, cobalah dari kamu duluan yang membuka luka."
"Maksud Bapak?" tanyaku sedikit bingung.
"Bukankah selama ini kamu menutup diri? kamu melingkari dirimu dengan duri yang sangat sulit untuk diraih. Bahkan Ayah kamu saja sangat sulit untuk mendekati."
__ADS_1
Sejenak aku terdiam, seperti itukah aku dimata orang lain? benarkah aku seperti seseorang yang melingkari diri dengan duri.
"Setiap orang butuh waktu untuk bisa membuka cerita masa lalunya, Terry. Bukankah kamu juga tahu, membuka luka itu sangat sakit?" tanya pak Gilang kembali.
"Saya tahu pak. Tapi Bapak gak akan mengerti bagaimana sulitnya di posisi saya saat ini. Saya hanya ingin semua ini segera berakhir, Pak."
Pak Gilang mengalihkan pandangannya kearahku. Melihat wajahku dengan sedikit tersenyum.
"Benarkah saya tak pernah mengerti keadaanmu?" tanya pak Gilang sedikit tersenyum.
"Seandainya Bapak yang berada di posisi saya? apakah Bapak tidak akan lari dari semua ini?"
"Seandainya saya di posisi kamu, saya hanya berpikir satu." jawab Pak Gilang sendu.
"Apa?"
"Bagaimana caranya agar keluarga kami kembali utuh."
Sejenak pak Gilang terdiam, ia hanya memandangku dengan lekat. Tapi aku tahu, tatapan ia saat ini adalah ke kosongan.
"Pak."
"Hem." Pak Gilang menaiki sebelah alis matanya.
"Bapak kenapa diam?"
"Saya hanya kepikiran sesuatu." jawab pak Gilang sendu.
"Bapak, saya selama ini selalu berpikir kadang hidup akan baik-baik saja saat saya tetap seperti ini. Jika keadaan Ayah dan Bunda tetap seperti ini, mungkin semua juga akan kembali seperti semula, benarkan, Pak."
"Berjuanglah sedikit lebih keras lagi, Terry. Berusaha lah sedikit lagi. Saya yakin kamu bisa membuat keluarga kamu kembali utuh lagi, dan saat itu tiba, saya yakin semua akan jadi lebih indah dari sebelumnya."
Ku ambil jemari pak Gilang yang saling ia gepalkan. Ku tatap mata pak Gilang yang saat ini terlihat lebih sedih dari biasanya.
"Pak, saya sangat berterima kasih atas dukungan Bapak. Tapi saya gak bisa Pak, saya gak sanggup, saya menyerah." ucapku sendu.
Pak Gilang tersenyum dan meraih pucuk kepalaku.
"Saya yakin kamu gadis yang cukup kuat, Terry. Berusahalah sedikit lagi, bersabarlah sedikit lagi, Terry. Karena kamu gak berjuang untuk dirimu sendiri, tapi juga buat Percy."
Ku hela nafas dan ku usap wajahku kasar. Ku sisir rambutku ke belakang.
"Bapak gak mengerti, posisi saya sulit Pak. Saya juga gak ingin terus berada di tempat seperti ini, setiap bulan harus berpindah rumah hanya untuk membagi kasih sayang. Saya lelah, Pak. Tapi saya bisa apa?" tanyaku sedikit kesal.
"Kamu masih bisa merubah segalanya, Terry." Pak Gilang merubah posisi duduknya menghadap kearahku. Tangannya meraih kedua ujung bahuku dan menatap mataku tajam.
"Dengarkan saya, Terry. Saat kamu bisa mengubah segalanya, cobalah untuk berusaha sekuat tenaga. Karena jika kamu menyerah, maka semuanya akan berakhir sia-sia." ucap pak Gilang sedikit menekan.
__ADS_1
"Andai saya seumur kamu saat mengalami broken home, mungkin saya bisa berusaha untuk meyakinkan Mama untuk tidak menyerah." sambungnya lirih.
"Apa?"