Cinta Pertama

Cinta Pertama
Bab. 127


__ADS_3

Bahkan kesedihan itu dirasakan tanpa terkecuali masyarakat desa Sukarya, Suka maju, suka damai. Mereka memutuskan untuk mengutus beberapa orang untuk membantu perjalanan mereka.


Kehidupan di daerah pedesaan membuat Dennis Ritchie Valens Edgardo dengan istrinya Dania Aulia Ramadhani Kusuma David serta kedua anak kembarnya semakin hari semakin bahagia saja.


"Ya Allah… kehidupan di desa ini membuat aku sebahagia sekarang ini tapi, hati kecil ini merindukan kehadiran mama dan papa, ya Allah… bukakanlah pintu hatinya papaku untuk menerima dan merestui hubungan kami ini, aku tidak ingin hidup selamanya seperti ini tanpa ada restu dari papa," batinnya Dennis ketika sedang santai duduk di balai-balai belakang rumahnya.


Suasana haru dan Isak tangis dari masyarakat Desa Sukajaya, Sukakarya, Sukamaju disaat mereka dengan terpaksa melepaskan kepergian Dennis Ritchie Valens Edgardo dengan istrinya Dania Aulia Ramadhani Kusuma David dan keluarga kecilnya kedua anak kembarnya yaitu Danisha Arinda Dennis Edgardo dengan Dafina Alika Dennis Edgardo.


Tidak ada yang menduga dan menyangka kalau mereka akan kembali ke kota asal mereka. Begitu besar peranan dan sumbangsinya serta bantuan tenaga maupun pikirannya Dennis di desa sehingga menimbulkan rasa kehilangan yang begitu dalam dirasakan oleh semua orang tanpa terkecuali.


Perjalanan mereka menempuh waktu sekitar dua minggu lamanya. Medang yang mereka lewati begitu susah sehingga harus berjuang untuk melewati rintangan dalam perjalanannya. Tapi, berkat jalan yang sudah membaik tidak seperti dulu sehingga membuat perjalanan mereka cukup lancar.


Sudah satu minggu perjalanan mereka, berarti mereka sudah berada di seperdua jalan. Karena malam akan datang, Dennis dan rombongannya mencari tempat untuk beristirahat.


Alhamdulillah mereka sedikit bersyukur karena perjalanan mereka lakukan di musim kemarau jadi jalan yang mereka lalui tidak becek dan licin.


Sebelum sampai ke tempat istirahat Arya merasakan ada sesuatu yang sedari tadi mengikutinya. Denniskemudian memberikan kode kepada Pak Sahir dan salah muridnya untuk lebih waspada lagi.


Dania menjaga anak-anaknya yang sudah tertidur pulas. Icha dan Fina sama sekali tidak merasakan terganggu dengan perjalanan mereka. Malah mereka menikmati perjalanan yang begitu seru.

__ADS_1


Tak berselang lama, keluar lah beberapa orang yang bertopeng dari semak belukar dan membawa masing-masing senjata tajam. Dennis dan rombongannya sudah mempersiapkan dan menunggu kedatangan rombongan penyamun itu.


Pihak kepolisian segera dihubungi secara diam-diam oleh mereka. ini lah satu alasan paling terbesar dari Masyarakat Desa T untuk melakukan perjalanan ke Kota.


"Akhirnya setelah sekian lama kami menunggu kedatangan kalian dan akhirnya kami akan berpesta setelah ini!" Gertak Bos dari penyamun itu dengan membusungkan dadanya seolah-olah dia tak ada lawannya.


Anak buahnya segera menimpali percakapan mereka, "iya bos akhirnya kita akan berpesta besar-besaran kali ini setelah beberapa bulan kita berpuasa tidak mendapatkan santapan yang lezat!" Gerutunya seseorang yang berada di samping bos penyamun itu.


Rombongan komplotan penyamun itu sekitar 20 an saja orang. Penyamun itu tak tanggung-tanggung mengerahkan seluruh anak buahnya. Sedangkan rombongan Dennis berjumlah 15 orang saja. L


Walaupun mereka kalah jauh dari segi jumlah tapi semua yang ikut dalam perjalanan mereka adalah muridnya Dennis jadi insya Allah mereka akan mampu menghadapi serangan penyamun itu.


David dan Daniel hanya tersenyum sumringah ke arah beberapa pria bertopeng itu tanpa ada rasa takut sedikitpun.


"Kita tidak perlu banyak bacok lagi, Ayo kita langsung Serang Mereka saja!!" Hardik bos penyamun itu.


Daniel dan David malah hanya duduk manis di dalam kendaraannya itu. Ia hanya menghubungi polisi agar mereka yang bertindak mengatasi para bandit itu.


Mereka diikut sertakan untuk mengjaga keamanan mereka karena kadang di dalam perjalanan mereka selama ini ada beberapa penyamun yang sering beraksi dan meresahkan masyarakat desa tersebut. itu lah sebabnya desa terisolasi dari dunia luar. Tapi, berkat kedatangan dan bantuan dari Dennis dan keluarganya semuanya sudah berubah.

__ADS_1


"Kita tidak boleh membiarkan mereka berdua lolos dan tunjukkan kepada mereka untuk segera menyadari jika kami orang kota bukanlah orang yang hanya biss memegan pulpen dan keyboard komputer saja," gerutunya Daniel.


Mereka langsung bergerak untuk menyerang Dennis Ritchie Valens Edgardo dan rombongannya. Pertempuran pun tak terelakkan. Ada sekitar dua orang yang melindungi Dania dan anak-anaknya.


Dania sudah mempersiapkan dirinya dan saat ini ia tidak memakai pakaian gamis seperti pakaian yang selama ini ia pakai selama jadi masyarakat pedesaan, tapi memakai kaos oblong dan celana jeans untuk mempermudah pergerakannya.


Dennis tidak ingin mengulur waktu untuk menghadapi langsung bos penyamun itu. Ternyata orang itu lumayan kuat dan memiliki keahlian beka diri yang cukup baik. Sehingga pertempuran mereka seimbang. Dennis hanya tersenyum menanggapi kehebatan dari penjahat itu.


Danial dan David segera turun tangan, mereka juga tidak mau kalah sehingga mereka menerangi penjahat itu sambil menunggu kedatangan rombongan pihak kepolisian datang dan tiba di lokasi kejadian.


Semua orang benar-benar mengeluarkan segenap kemampuan mereka terutama anak didiknya Dennis yang ada di pendopo.. Bahkan ada beberapa di antara mereka yang dendam dengan penyamun itu.


Mereka teringat dengan sanak saudara mereka yang pernah jadi salah satu korban keganasan dan kebiadapan penyamun itu.BBeberapa korban pun telah berjatuhan dari pihak Dennis tapi, untungnya tidak ada satupun korban jiwa.


Ada beberapa muridnya yang terluka sedangkan dari pihak penyamun bukan hanya luka-luka tapi sudah ada yang tewas dan meregang nyawa. Malam semakin larut dan anjing hutan menggonggong menandakan kalau malam ini akan mereka lewati dengan penuh perjuangan.


Kelelahan sudah nampak dari beberapa muridnya Dennis Pak Sahir membantu orang yang terluka untuk memberikan pengobatan medis. Dennis semakin mengeluarkan taringnya dan tidak mau bermain lagi untuk mrnghadapi komplotan penyamun itu.


"Kenapa pihak kepolisian belum datang juga, seharusnya mereka datang," batinnya Dennis.

__ADS_1


__ADS_2