Cinta Pertama

Cinta Pertama
Bab. 114


__ADS_3

Hingga suatu hari mereka tidak mampu lagi untuk bertahan untuk melanjutkan perjalanannya, akhirnya Dania dan anak-anaknya pingsan karena sudah tidak sanggup untuk melanjutkan perjalanannya lagi, Dennis tidak tahu harus berbuat apa.


"Ya Allah… kedua anakku Icha dan Fina juga sudah tidak mampu untuk bertahan, apa yang harus aku lakukan kalau seperti ini," cicitnya Dennis seraya menyeka air matanya.


Dennis berjalan tertatih ke sana kemari di dalam hutan. Ia berteriak kencang agar ada orang yang mendengar teriakannya itu. Sudah hampir sebulan ia hidup di dalam hutan yang tidak tahu dimana ujungnya hutan lebat tersebut.


"Tolong!!! siapa pun yang mendengar teriakan ku tolong lah kami," ratapnya Dennis yang sudah berlutut di atas dedaunan kering.


"Papa!! kenapa tega seajliy melakukan ini kepada kami, apa salah kami, apa kami tidak pantas untuk bersatu dan bahagia!!" Teriaknya Dennis Ritchie Valens Edgardo sembari menggenggam beberapa daun ke dalam cengkraman tangannya.


Dennis menangis tersedu-sedu mengingat jika semua kemalangan ini terjadi padanya disebabkan karena gara-gara keegoisan dan keras kepala dari papanya yang sama sekali menentang hubungan mereka.


"Ayah apa aku bukan anak kandungmu!! sehingga engkau tega melakukan hal ini kepada kami, apa salahku!!" Jeritnya Dennis.

__ADS_1


Dennis berteriak histeris di tengah hutan belantara yang membuat beberapa burung yang bertengger dengan tenang di dahan pohon beterbangan setelah mendengar kebisingan dari suaranya. Dennis tidak habis fikir kenapa papanya tega melakukan hal ini kepada mereka. Dennis menangisi nasib istri dan anak-anaknya karena tidak mampu menjaga dan memberikan yang terbaik kepada mereka.


Dennis mencari beberapa daun untuk dijadikan alas tempat anak dan istrinya berbaring. Ia tak henti-hentinya menangisi keadaannya.BHingga sore hari tiba, Dennis tak kuasa untuk menahan tubuhnya. Dia pun jatuh pinsang menyusul anak dan istrinya.


Bunyi suara beberapa hewan penghuni hutan membuat kebisingan dalam hutan. Malam dan siang sulit untuk dilakukan bedakan saking gelapnya di dalam hutan itu.


Keesokan harinya, Dennis terbangun dari tidurnya dan merasa heran dengan kondisi sekitarnya. Ia terbangun di atas dipan yang terbuat dari kayu jati dengan ukiran kayu ornamen yang sangat bagus.


Dennis mengerjapkan kedua matanya dan mencoba untuk berusaha bangkit dari baringnya," ya Allah… apa aku sudah mati, atau kah aku sudah di dalam surga," gumamnya Dennis.


"Apa kamu sudah sadar Nak, gimana perasaanmu sekarang?" Tanyanya seorang pria paruh baya yang tersenyum ramah ke hadapan Dennis.


Dennis tidak menjawab pertanyaan orang itu melainkan sedang mencari keberadaan anak dan istrinya, "Di mana anak-anakku dan istriku, Pak! gimana keadaan mereka?" Cicitnya Dennis yang berusaha bangkit dari baringnya.

__ADS_1


Pak Ridwan tersenyum tipis sambil mencegah Dennis untuk bangkit, "Alhamdulillah anak dan istrimu baik-baik saja mereka sedang bersama Istriku, Bapak minta sama kamu diamlah dan perbanyak istirahat untuk memulihkan tenagamu,kamu tidak perlu risaukan kondisi mereka," pungkasnya Pak Ridwan.


"Kenapa bisa kami berada di sini padahal sebelumnya saya berada di tengah hutan pak?" tanyanya Dennis yang nampak kebingungan dengan keadaan sekitarnya.


Pak Ridwan menghembuskan nafasnya dengan pelan sebelum berbicara, "kami menemukan kalian dalam keadaan pingsan, saya dan Istriku sedang mencari daun daunan yang akan kami jadikan ramuan obat herbal,tanpa sengaja kami menemukan kalian yang sudah tidak sadarkan diri lagi dalam keadaan yang sangat kacau," jelasnya panjang lebar Pak Ridwan Kamil yang berusaha untuk mengingat kejadian beberapa jam yang lalu itu.


"Alhamdulillah, makasih banyak Pak atas bantuannya tanpa kalian aku tidak tahu akan jadi apa nasib kami di hutan itu mungkin kami sudah di mangsa oleh kawanan hewan buas," imbuhnya Dennis.


"Kamu tidak perlu sungkan untuk berterima kasih kepada kami, karena Ini semua karena bantuan dan pertolongan Allah nak tanpa petunjuk dari Allah maka kami tidak akan menemukan kalian," tampiknya Pak Ridwan Kamil Sahir.


Dennis sudah berbaring dengan bersandar di kepala dipan, "Daerah sini namanya apa Pak? Karena jujur aku kira kami tidak akan menemukan perkampungan di tengah hutan belantara," Tanyanya Dennis.


"Daerah ini kami namakan daerah Sukarya nak dan kami disini tidak menggunakan listrik untuk penerangan, karena Bapak memperhatikan kalian ini pasti dari kota yang tersesat di tengah hutan," ujarnya Pak Sahir.

__ADS_1


Dennis kemudian bangun dari tempat pembaringannya dan menuju bagian depan rumah itu. Dennis memperhatikan ornamen dan perabot yang ada di rumah itu. Ia takjub dengan ornamen dan ukiran kayunya.


Sudah jarang sekali Dennis menemukan ukiran kayu yang langsung dipahat menggunakan tangan dan perlengkapan seadanya. Semuanya sudah menggunakan mesin dan tentunya keaslian dan keunikan ukiran itu tidaklah sama.


__ADS_2