Cinta Pertama

Cinta Pertama
23


__ADS_3

"Jahat kamu, Pak." ku kuatkan jemariku yang menarik kerah kemeja pak Gilang.


"Maafkan saya, Terry." ucap Pak Gilang tanpa menyentuh kulitku.


Kedua tangannya masih di biarkan kosong. Sementara aku terus membenamkan wajahku di dadanya. Ku sepak-sepak kaki pak Gilang yang saat ini berlutut di depanku.


Pak Gilang hanya diam menerima tendanganku.


"Bapak, jahat. Pergi sana." usirku sambil menghapus buliran yang melintas di pipiku.


Aku geram melihat wajah pak Gilang yang saat ini berada di hadapnku. Gara-gara nangis karena pak Gilang, sepatu Bunda jatuh ke dalam got.


"Aku benci, Bapak. Bapak pergi sana!" usirku ketus.


Pak Gilang hanya tersenyum dan membuka kemeja yang ia gunakan. Menyisakan dalaman kaos lengan pendek berwarna dongker.


Pak Gilang membasuh kemejanya itu dan menghapus darah yang mengalir dari lututku yang berdarah tadi.


Kakiku sedikit bergeser saat pertama kali kulitku tersentuh air. Pak Gilang menatapku sendu lalu meniup luka di kakiku.


Perasaan sesak tadi perlahan berubah menghangat. Kenapa pak Gilang bisa mengaduk-ngaduk perasaanku sperti ini.


Setelah membersihkan luka di lututku, pak Gilang bangkit dan berdiri. Ia mengulurkan tangannya padaku.


"Saya bantu kamu berdiri?"


"Enggak, saya mau ambil sepatu saya di situ." ucapku sambil melihat kembali sepatuku yang tercebur di dalam got.


"Tapi sepatu kamu sudah masuk situ. Kalau kamu ambil juga gak akan bisa di pakai lagi."


"Tapi itu sepatu pemberian Bunda, Pak." ucapku kembali menangis.


Terdengar helaan nafas dari pak Gilang. Pak Gilang kembali berlutut kali ini posisinya membelakangi aku.


"Naik ke punggung saya. Akan saya gantikan sepatu pemberian Bunda kamu."


"Tapi saya maunya sepatu itu, Pak."


"Terry, dengarkan saya." ucap pak Gilang tegas.


"Saya janji akan carikan sepatu yang sama dengan pemberian Bunda kamu. Kalau kamu bersih keras mau ambil sepatu itu, tetap saja sepatu itu akan rusak."


"Tapi kalau Bapak yang belikan, berarti sepatu itu bukan lagi dari Bunda. Tapi sudah dari Bapak."


"Baiklah." ucap Pak Gilang yang kembali bangkit dan menggeser cor-an beton penutup got itu.


"Bapak mau apa?" tanyaku saat melihat pak Gilang menggeser penutup itu.


"Mau ambil sepatu kamu, gak ada jalan lain. Kamu saya gantikan gak mau."


"Jangan pak. Nanti kalau Bapak masuk, badan Bapak bisa kotor."


"Anggap permintaan maaf saya, sudah membuatmu menangis tadi."


"Baiklah, kita cari sepatu yang lain." ucapku mengalah. Sebelum dosen ini benar-benar turun kedalam got.


Pak Gilang kembali mendekat dan menggendongku di pundak belakangnya.


"Pak, bagaimana kalau ada mahasiswi yang lain melihat kejadian ini?"

__ADS_1


"Jangan pikirkan orang lain. Pikirkan keselamatanmu dulu." ucap Pak Gilang tegas.


Ku cium bau gel rambut pak Gilang yang begitu lembut. Aku tersenyum sendu dan merasa puas, entah kenapa hatiku kembali menghangat saat berada di dekat pak Gilang seperti ini.


Pak Gilang langsung mendudukan aku di boncengan motor miliknya. Memakaikan helm kepadaku, tanpa banyak bicara Pak Gilang melajukan motornya menembus padatnya lalu lintas sore.


Pak Gilang memberhentikan motornya di depan toko sepatu yang lumayan besar. Sementara aku hanya menunggu pak Gilang duduk di kursi depan toko.


Setelah lama menunggu ku, ku lihat pak Gilang menyeberangi jalan. Berlari menuju toko sepatu di seberang jalan.


Beberapa kali pak Gilang keluar masuk toko sepatu di pusat kota ini. Mataku hanya melihat pergerakan ia yang mondar mandir memasuki beberapa pintu toko sepatu.


Kenapa pak? jika aku hanya mahasiswi kamu saja. Kenapa kamu harus seperhatian ini padaku.


Menumbuhkan harapanku akan hubungan yang lebih jauh.


Bagaimana juga, lelaki dewasa seperti Bapak itu, bisa membuat aku lebih nyaman.


Langit berganti, suasana senja sudah mulai berada di penghujung. Ku lihat sedikit warna jingga yang masih bertahan di langit biru sudut sana.


"Terry," panggil pak Gilang yang saat ini mulai berkucuran keringat di wajahnya.


"Maafkan saya, tapi sepatu seperti ini sudah tak ada lagi." ucap pak Gilang dengan wajah kecewanya.


"Yasudahlah, Pak. Mau di apakan lagi." ucapku sambil bangkit dari dudukku dan berjalan mendekati motor pak Gilang.


"Saya akan tanya sama teman-teman saya."


"Gak usah pak, terima kasih sudah mau membantu saya."


"Terry." pak Gilang menyentuh salah satu bahuku.


"Pakai ini, jangan telanjang kaki seperti itu." pak Gilang menaikan aku ke boncengan motor miliknya dan memakaikan sepatu heels boots yang persis seperti Bunda belikan.


Seketika senyum menyungging lebar di bibirku. Ternyata pak Gilang bisa juga bersifat usil dan jahil seperti ini.


"Terima kasih, Pak." ucapku sambil menggulum kembali senyum di wajahku.


"Sama-sama." ucapnya sambil memakai helm full facenya kembali.


"Makan malam dulu ya sebelum pulang."


"Jangan Pak. Kasian Bunda sendiri dirumah."


"Kasian itu cacing kamu minta diisi." balas pak Gilang sambil menarik gas motornya.


Kembali pak Gilang memberhentikan motornya di depan apotik. Tak lama pak Gilang keluar dengan sebuah kantung plastik di tangannya.


Pak Gilang kembali memarkirkan motornya di parkiran cafe milik temannya itu.


"Lang. Whats up Bro." ucap teman pak Gilang sambil menyambut tangan pak Gilang. Pak Gilang menyambut tangan itu dan tersenyum sendu.


"Ada meja kosong?"


"Ada. Di sebelah sana!."


"Langsung antar makakan saja." ucap pak Gilang sambil berjalan menuju meja kosong yang di maksud.


Ku buang bokongku perlahan. Ku perhatikan dua orang lelaki yang saat ini sedang tampil di panggung cafe.

__ADS_1


Kakiku sedikit bergetar saat kurasakan dingin karena sentuhan.


Sedikit terkejut, ku lihat pak Gilang sudah berlutut di depanku.


"Pak, apa yang Bapak lakukan?" tanyaku segan.


"Bersihin luka kamu."


"Tapi saya bisa lakuin sendiri, Pak."


"Sudah diam saja. Jangan banyak gerak dan banyak tanya." ucap pak Gilang tegas.


Setelah selesai pak Gilang kembali duduk di sampingku. Mataku masih asyik memandang penampilan dua lelaki yang saat ini menyanyikan lagu sendu di hadapanku.


"Terry."


"Hem." jawabku tanpa mengalihkan pandanganku.


Suara riuh tepuk tangan terdengar saat kedua lelaki itu selesai bernyanyi. Aku ikut menepukan tanganku dan tersenyum sendu. Ku lirik meja di depanku sudah terisi makanan ternyata.


"Pak, ayo mak-an." ucapku terbata saat melihat pak Gilang berjalan ke panggung.


Pak Gilang tersenyum manis kearahku, Menampilkan sederet giginya yang tersusun rapi.


Pak Gilang mulai memetik senar gitar itu, bernyanyi lagu ceria sambil menyungging senyum lebar.


Ku dengarkan lagu yang di nyanyikan pak Gilang.


Sedikit tersinggung aku mendengarkan bait yang di nyanyikan pak Gilang. Sedikit banyak, syair itu seperti menampar keadaanku. Aku melepaskan tawaku dan menampilkan sederet gigiku mendengar bait demi bait yang di nyanyikan pak Gilang.


Sungguh, suara Pak Gilang di luar dugaanku. Suaranya terdengar lembut dan sangat merdu, hampir seluruh tamu melirik kearah pak Gilang.


Pak Gilang memang bintang, apapun yang dilakukannya pasti akan menarik sejuta perhatian.


"Kenapa sih? kok Bapak tiba-tiba manggung?" tanyaku saat pak Gilang kembali duduk di sebelahku.


"Habisnya dari tadi saya ngajakin kamu bicara. Mata kamu asyik menatap mereka."


"Jadi Bapak cemburu?" tanyaku spontan.


"Apa?" pak Gilang spontan menatap kearahku.


Sesaat mata kami saling bertautan, ku tundukan pandanganku. Kembali ku lahap makanan yang tersaji di depanku.


Sedikit tersipu malu, atas pertanyaan yang ku lontarkan kepada Pak Gilang. Mana mungkin pak Gilang cemburu. Ya Tuhan Terry, jangan permalukan dirimu sendiri.


"Saya ke kasir duluan ya." ucap Pak Gilang sesaat setelah menghabisi makanannya.


Aku hanya mengangguk pasrah. Kuraih gelas jus yang berada di samping piring makanku. Pak Gilang kembali menyodorkan sebuah tisu yang terlipat sebelum berjalan menjauh dariku.


'Kapan pak Gilang menulis ini?' lirihku dalam hati.


Perlahan ku buka lembaran tisu itu, kembali bibirku tersungging manis.


Surat dari balik tisu ini selalu membuat hatiku menghangat.


'Maaf, untuk air mata yang terlanjur jatuh dari matamu.


Terima kasih, untuk senyum yang kembali terukir indah dari bibirmu'

__ADS_1


__ADS_2