Cinta Pertama

Cinta Pertama
Bab. 67


__ADS_3

"Maafkan saya telah berani menyentuhmu," kilahnya Dennis.


"Tidak apa-apa Pak, saya yang seharusnya meminta maaf karena sedikit kelilipan," sanggahnya Dania.


Dania berusaha menetralkan perasaannya. Saking rindunya dengan suaminya sampai-sampai Dania lupa kalau yang di depannya bukanlah suaminya.


Keheningan itu terjadi dikala dua insan ini saling menatap dan menyelami makna tersirat di dalam kelopak mata mereka, entah apa yang mereka fikirkan keduanya terdiam dalam keheningan tanpa sepatah kata pun.


Tak ada pergerakan dari bibir mereka, hanya kebisuan dan ketidak mampuan untuk mengungkapkan seuntai kata lah yang tercipta diantara mereka, hal tersebut ini terjadi beberapa saat. Suara jam dinding dan bunyi cicak lah yang meramaikan suasana saat itu.


Dennis Ritchie Valens Edgardo sibuk dengan pemikirannya untuk mengungkapkan siapa dia sebenarnya, sedangkan Dania berperang dengan pikirannya yang tak lepas dari ingatan tentang hari-harinya yang begitu singkat bersama suaminya.


"Dania," lirihnya Dennis.


Hanya sepatah kata yang bisa diucapkan oleh Dennis, tapi ia sudah Ingin mengucapkan sepatah kata tapi, tiba-tiba pintu ruangannya diketok dari luar. Kata-kata itu kembali Dennis telang mentah-mentah dan seakan-akan kata-kata itu sangatlah berat untuk diucapkan.


Ketidak mampuan dan ketidakberdayaan Dennis yang membuatnya harus berfikir seribu kali Jika ingin jujur dihadapan Istrinya. Banyak alasan yang ia pertimbangan dan pikirkan dengan pertimbangan dan matang-matang sebelum bertindak untuk mengambil keputusan.


Beda halnya dengan keputusan yang berhubungan dengan perusahaan atau pun kerjaannya yang semudah membalikkan telapak tangan saja. Dennis mengambil remote kunci ruangannya.


"Masuk.." pinta Dennis.


Orang itu menyembul dari balik pintu dan ternyata orang itu adalah rombongan dari rekan bisnisnya bersama papanya Edgardo Muller Winata. Untuk membuat alibi dan Papanya tidak curiga, Dennis segera buru-buru membuka berkas yang dibawa Dania.


"Maaf nanti lain waktu kita lanjutkan pembahasannya, saya bersyukur atas kinerja dari divisi kalian," ujarnya Dennis.


Dania hanya mematung dan tak tahu harus berbuat apa karena apa yang dikatakan oleh Presdirnya tidak sesuai dengan Kenyataan yang terjadi.

__ADS_1


"Makasih banyak Pak atas waktunya, kalau gitu saya pamit dulu," imbuhnya Dania mengundurkan diri dari tempat itu.


Dania berjalan melewati papa mertuanya yang menatapnya sedari tadi bagaikan pemburu yang akan menerkam kelinci kecil buruannya. Pak Edgardo menatap tajam putra sulungnya itu dengan berbagai makna dari tatapannya.


"Mereka sudah berani bertemu di depan umum, Dennis memang tidak mengingat laranganku," batinnya Pak Edgardo.


Dennis mengetahui hal itu dan membuatnya harus menetralkan rasa khawatirnya di depan Papah dan juga rekan bisnisnya.


*Ya Allah lindungilah anak-anak dan istriku di mana mereka berada," gumam Dennis.


Dennis mempersilahkan tamu dan papanya untuk segera duduk. Mereka berbincang membahas proyek yang akan mereka kerjakan bersama.


"Silahkan duduk Mister Jung, welcome to Jakarta," sapanya Dennis yang sudah bisa bersikap seperti biasanya tanpa ada beban sedikit pun.


"Thank you Mister Dennis Ritchie Valens Edgardo," timpalnya Mister Jung Yong yang baru beberapa jam lalu sampai di ibu kota Jakarta dari Korea Selatan.


Dania berjalan gontai menuju kubikelnya, bagaikan seorang yang belum makan dua hari saja. Dia masih terngiang di telinganya saat Presdirnya menghapus jejak air matanya. Dabia dejavu dengan sentuhan itu.


"Ya Allah… kenapa serasa tangan Presdir yang menyentuhku tadi adalah tangannya Mas Dennis sendiri, wajahnya mereka semakin aku perhatikan semakin ada kemiripan diantara mereka," cicitnya Dania.


Dia seakan-akan kembali ke sekitar 9 tahun yang lalu saat aktifitas dikala sore mereka yang terjadi untuk pertama kalinya dan sekaligus jadi yang terakhir kalinya. Dania masih sangat jelas mengingat betapa lembut dan halusnya jari suaminya yang menyentuh setiap inci dari lekukan tubuhnya serasa kejadian itu baru beberapa hari terjadi.


"Ya Allah apa yang telah aku lakukan, Aku tidak bisa menolak di saat Pak Dennis menyentuh pipiku, aku sudah berdoa, maafkan aku ya Allah, maafkan aku suamiku," Dania membatin raut wajahnya langsung berubah sendu.


Dania berulang beristigfar memohon ampun kepada Allah dan suaminya. Tentang apa yang telah dilakukannya bersama pemilik perusahaan. Karena dia telah memikirkan banyak hal sampai-sampai dia lupa kalau ia berjalan menuruni undakan tangga alternatif menuju ruangannya bukan berjalan ke arah lift.


Dania terduduk di undakan tangga, dan menangis sejadi-jadinya menumpahkan segala penat dan rasa yang ada didalam hatinya. Ia tidak habis fikir kenapa suara dan sentuhan Presdirnya sangat persis dengan S

__ADS_1


suaminya.


Karena saking asyiknya mendalami dan menghayati kejadian yang terjadi antara ia dan Pak Dennis sampai-sampai Dania tidak memperhatikan dering hpnya yang sedari tadi tidak berhenti.


Dania masih sesegukan dan tak berani mengangkat tlpnya. Ia terlebih dahulu menetralkan perasaannya serta Isak tangisnya agar orang lain tidak mengetahui semuanya yang telah terjadi.


Makasih banyak all readers…


I love you all..


Pengumuman!!!!!


Mulai besok hingga tanggal 4 aku akan adakan give away Novel MEREBUT HATI MANTAN ISTRI,



Dukungan Nomor Rank 1 dan 2 pulsa 50k Untuk dua orang.


Dukungan posisi rank ke 3-4 masing-masing 25k untuk 4 orang.


Khusus Satu Orang dengan komentar terbaik menurut Fania akan mendapatkan pulsa 25k.



Syaratnya Wajib:


Like, Baca dari bab 1 hingga update bab sampai tgl 4 Desember 2022. Perhitungannya mulai hari Senin tanggal 14 November.

__ADS_1


Harus Follow akun Fania Mikaila Azzahrah yah!!


__ADS_2