Cinta Pertama

Cinta Pertama
Bab. 115


__ADS_3

"Daerah ini kami namakan daerah Sukarya nak dan kami disini tidak menggunakan listrik untuk penerangan, karena Bapak memperhatikan kalian ini pasti dari kota yang tersesat di tengah hutan," ujarnya Pak Sahir.


Dennis kemudian bangun dari tempat pembaringannya dan menuju bagian depan rumah itu. Dennis memperhatikan ornamen dan perabot yang ada di rumah itu. Ia takjub dengan ornamen dan ukiran kayunya.


Sudah jarang sekali Dennis menemukan ukiran kayu yang langsung dipahat menggunakan tangan dan perlengkapan seadanya. Semuanya sudah menggunakan mesin dan tentunya keaslian dan keunikan ukiran itu tidaklah sama.


"Syukur Alhamdulillah… makasih banyak ya Allah… Engkau masih memberikan kesempatan kepadaku dan kepada anak dan istriku serta kedua anak kembar ku," batinnya Dennis yang tersenyum bahagia karena atas nikmatnya Allah SWT.

__ADS_1


Dennis Ritchie Valens Edgardo dengan Dania Almira Ramadani Satya sangat berterima kasih kasih kepada bapak Ridwan Kamil Sahir dan Istrinya yang telah berhasil menyelamatkannya waktu tersesat di tengah dalamnya hutan.


Pak Sahir dan istrinya ibu Marina meminta kepada Dania dan Dennis untuk tinggal di rumah mereka saja sampai Dennis memutuskan untuk kembali ke Ibu kota Jakarta. Dia sangat bersyukur karena masih diberi waktu dan selamat dari kejaran anak buah papanya.


Waktu terus berlalu, jam, hari, minggu terus berlalu. Kedua pasangan suami istri itu sudah setahun beranda di Desa Sukarya. Keduanya cepat sekali beradaptasi dengan lingkungan dan masyarakat penduduk asli di sana dan sekitarnya.


Dennis menatap hamparan padi yang sudah menguning, "Ternyata sudah satu tahun aku dan keluargaku berada di desa ini, aku sangat bahagia bisa menjalani kehidupan ini dengan nyaman dan penuh rasa syukur dan juga bahagia," cicitnya Dania seraya merentangkan kedua tangannya sambil menghirup udara segar di pagi hari itu.

__ADS_1


Sedangkan Dania kadang membantu ibu Marni memetik hasil pertaniannya di ladang, diajuga membantu ibu Marni membuat berbagai macam jenis kue dan gorengan yang hasilnya dijual.


Pak Sahir adalah satu-satunya dokter yang ada di daerah itu. Pak Sahir dulu, pernah ke kota menuntut ilmu ke dokteran dan kembali ke kampung halamannya untuk mengabdikan hidupnya sebagai Dokter.


Pak Sahir kadang kala tidak meminta biaya sepeserpun kepada masyarakat yang membutuhkan pengobatan. Dennis dan Dania belajar banyak arti kehidupan dari kehidupan sehari-hari pak Sahir dan ibu Marni.


Dalam setahun Pak Sahir kadang melakukan perjalanan ke kota. Karena medannya yang sangat susah untuk menempuh kota dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit juga, makanya hampir semua masyarakat di sana berfikir seribu kali untuk ke kota.

__ADS_1


Hari ini bertepatan dengan hari minggu, Dennis sudah berniat Ingin melatih si kembar bela diri. Dennis mempersiapkan anaknya sedini mungkin untuk mengahadapi kerasnya kehidupan dengan bekal ilmu agama, taekwondo, walau pun kedua anaknya adalah perempuan tapi, baginya itu tidak jadi masalah.


Ilmu agama diserahkan sepenuhnya kepada Dania Istrinya, sedangkan berlatih bela diri arya menghendel bagian itu, tapi kadang sekali-kali Dania pun juga ikut berlatih dengan anak-anaknya. Dennis memanfaatkan halaman belakang rumah Pak Sahir yang cukup luas sebagai tempat latihannya.


__ADS_2