
Daniel akhirnya mengetahui siapa yang telah memanipulasi dan menipunya hingga ia masuk ke dalam perangkap penjahat tersebut.
Pria itu disaat telpon yang mengatakan kalau terjadi sesuatu yang sangat genting di perusahaan Global Ones dan rumahnya Pak Edgardo calon papa mertuanya itu.
Setelah memeriksa rekaman CCTV secara detail dan seksama dari situlah dia mengetahui siapa pelaku pembuat teror to tersebut di Perusahaan.
Daniel Aryan Martadinata menendang kursi yang ada di depannya saking marahnya," Sial!! Aku begitu bego dan tolol nya sampai-sampai dibohongi dan ditipu oleh mereka!" Geramnya Daniel.
Daniel segera menghubungi seluruh anak buah terbaiknya untuk menyusul Pak Edgardo dan mencari keberadaan Si kembar
Tawa Joko membahana di dalam mobil tersebut yang seperti seseorang yang gila membuat Icha dan Fina membuat ketakutan ketiganya. Karena hal ini menjadi pertama kalinya dalam hidup mereka melihat orang yang tertawa terbahak-bahak dengan raut wajah dan tatapan matanya yang garang dan tajam.
"Hanya satu alasannya yaitu bosku memberikan uang yang lebih banyak dari yang kalian selama ini berikan kepadaku, apa kamu sudah puas dengan jawabanku ha!!" Cibirnya mang Joko tanpa menurunkan pistolnya dari kepala Bu Sanaya.
Mang Joko mendorong sekuat tenaga Bu Sanaya saking jengkelnya mendengar perkataan dari mulutnya Nyonya Sanaya.
"Rasakan ini akibatnya jika kamu berani melawanku! Ingat kamu disini itu tahanan bukan seorang Nyonya Besar!" Hardiknya Pak Joko lalu seraya mendorong tubuhnya Bu Sanaya.
"Aaahh!!" Teriaknya Bu Sanaya yang tersungkur ke arah pintu mobil.
Bruk!!!!
"Nenek!!" Teriak Icha dan Fina yang sedih sekaligus marah melihat neneknya dikasari.
Mereka hanya bisa melihat ke arah Nenek nya tanpa bisa membantunya karena dalam keadaan tangannya terikat.
Kondisi Bu Sanaya cukup mengkhawatirkan dan menyedihkan karena hampir keseluruhan wajahnya bengkak dan memar hingga sudut bibirnya meneteskan darah segar.
__ADS_1
"Ingat saja baik-baik Joko, kalau putraku Ra suamiku akan datang membawakan perbuatan kalian ini!" Ancamnya Bu Sanaya yang menyeka darah disudut bibirnya sambil bangkit dari posisinya semula.
Danisha dan Dafina sudah menangis histeris melihat kondisi Mama dari papanya itu.
"Ya Allah… selamatkan lah kami dan berikanlah dan kirimkan pada kami pertolonganMu," cicitnya Bu Sanaya.
Sedangkan Icha dan Fina ingin melawan tapi, tak mampu berbuat apa-apa karena tangan dan kaki serta mulutnya terikat tapi sedikit longgar sehingga masih mampu untuk berbicara.
"Paman! Tolong jangan kasari nenek kami, kasihanilah kami," ratapnya Icha yang sudah menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya neneknya itu.
"Iya paman, kurung saja kami sesuka hati kalian tapi, saya mohon ampunilah Nenekku, kasihanilah beliau," rengeknya Fina yang berusaha membujuk Pak Joko dengan komplotannya itu.
Icha dan Fina sudah ngesot ke arah neneknya. Tangan dan kakinya yang terikat kuat sehingga hanya mengiba dan memohon belas kasihnya temannya Pak Joko dan tidak mungkin keduanya bisa melawan mengingat mereka punya anggota jumlah yang banyak dengan postur tubuh yang gede sangar dan besar-besar itu.
"Apa pun yang kalian lakukan kami tidak peduli dengan apa yang terjadi pada nenekmu! bagi kami yang paling penting bayaran yang sangat tinggi, itu sudah cukup!" sarkasnya Pak Redi temannya pak Joko.
Dennis bahkan tidak peduli lagi dengan kondisi keadaan jalan yang dilaluinya itu saking takut dan khawatirnya terjadi sesuatu kepada keluarganya terutama anak dan mama sambungnya itu.
Daniel sudah menyusul Dennis beserta beberapa mobil dari anak buahnya. Sedangkan Pak Edgar masih meladeni anak buah penjahat itu yang belum mereka yakin dengan pelakunya.
Rencananya hari ini Dennis dan Dania Aulia Ardita Kusuma David akan mengatakan sejujurnya kepada kedua orang tuanya jika ia sama sekali belum meninggal dunia, dan orang yang berada di dalam mobil tersebut adalah orang lain yang berniat untuk mencuri mobilnya yang terparkir di sekitar mushollah tersebut.
Mereka saling bertempur dan sekarang tidak lagi baku tembak karena masing-masing dari mereka sudah kehabisan amunisi dan senjata. Sehingga mereka bertempur dengan ke dua tangannya.
"David berhati-hatilah lah Nak?" Teriaknya Pak Edgar.
Pertempuran mereka semakin sengit dan seimbang. Pak Edgardo mengeluarkan segala kemampuannya untuk meladeni anak buah penjahat itu sekuat tenaga yang dia miliki.
__ADS_1
Akhirnya anak buahnya berhasil melumpuhkan semua anggota penjahat itu. Pihak kepolisian pun ikut membantu mereka ada sekitar tiga mobil patroli kepolisian yang datang memberikan bantuannya.
"Syukur Alhamdulillah… Pak Richard sudah datang dengan jajaran anak buahnya," gumam David Hermansyah Wijaya.
Tiba-tiba dari arah samping berdiri seseorang sambil mengarahkan pistol ke arah pak Edgardo bersamaan dengan kedatangan Daniel dan Dennis ditempat tersebut.
"Papa!!" Jeritnya Dennis ketika seorang penjahat mengarahkan tembakannya ke punggung lebar Pak Edgardo William Henry Ribery.
Karena posisi papanya yang tidak mengetahui kalau ada yang ingin menembaknya, bahkan yang lain pun tidak ada yang menyadarinya karena mereka sudah bersiap masuk ke dalam mobil mereka. Tembakan itu langsung melesat ke arah punggung Pak Edgar.
"Paman!! Menunduk!!" Pekiknya Daniel.
Dennis semakin mempercepat langkahnya menuju tempat papanya berdarah. Hingga suara seseorang terjatuh ke atas aspal membuat perhatian semua orang yang ada di tempat kejadian mengarah ke tempat pak Edgar dan putranya itu.
"Tidak!!!" teriak semua orang yang sangat shock melihat siapa orang yang terkena tembakan.
Di Tengah jalan, Dennis dan Daniel melihat mobil pamannya pak Edgardo., Dia segera bergegas turun dari mobilnya dan tidak lupa mengambil beberapa senjatanya untuk menjaga keamanannya sendiri dan yang lainnya.
"Aku tidak membiarkan mereka pulang dengan hidup-hidup!" gertaknya Daniel Aryan Martadinata.
Setelah sampai di lokasi, Daniel melihat kalau Pak Edgardo dan anak buahnya telah berhasil melumpuhkan lawan-lawannya hingga kemenangan telat berpihak padanya kali ini karena mereka menang jumlah orang.
"Paman baik-baik saja kan?" Tanya Daniel.
"Alhamdulillah Paman baik-baik saja, tapi Paman kehilangan jejak dari yang dipakai penjahat itu membawa aunty kamu dengan kedua anak kembarnya Dennis dan lainnya," jawabnya Pak Edgardo yang sesekali meringis kesakitan karena tadi sempat punggungnya terkena tendangan yang cukup keras.
"Apa Paman melihat plat mobil yang mereka pakai atau melihat wajah salah satu dari pelakunya?" Tanyanya Daniel.
__ADS_1
Pak Edgardo selaku saksi kejadian segera memberikan kode kepada anak buahnya yang sempat melihat dan mengambil nomor plat mobil penjahat itu. Secepatnya Daniel segera menghubungi anak buahnya untuk mencari tahu siapa pemilik dari mobil itu.