Cinta Pertama

Cinta Pertama
Bab. 184. TAMAT


__ADS_3

Season Dua…


Sepuluh tahun kemudian, Danisha dan Dafina sudah besar dan sekarang berusia 19 tahun. Anak keduanya Dennis Ritchie Valens Edgardo dengan Dania Almira Aulia Ramadhani Kusuma adalah lahir kembar. Yaitu bernama Zameera dan Zidane yang sudah tumbuh besar dan sudah duduk di bangku kelas empat.


Kebahagiaan itu semakin lengkap karena kedua orang tuanya Dennis dengan Dania sama sekali tidak pernah memaksakan kehendaknya kepada ke-empat anak-anaknya.


Dion Aldiano Smith segera menghubungi anak buahnya untuk menyiapkan satu pesawat pribadi milik perusahaan Iconic Global Ones. Dion tidak mau langkahnya terlambat untuk mendapatkan cintanya Citra gara-gara keterlambatannya berangkat ke Sydney Australia.


Satu bulan kemudian, bertepatan dengan hari minggu, kedua pasangan suami istri itu bertolak dari Paris Perancis menuju ke tanah air tercinta Indonesia tepatnya di Ibu kota Jakarta.


Rencana kepergian ke Kanada kali ini mereka tunda dan urungkan karena mengingat kondisi Dania yang sedang hamil berbadan dua sehingga mau tidak mau mereka memutuskan untuk mengakhiri bulan madu mereka.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dan lama. Akhirnya Dion menginjakkan kakinya di Sidney tempat tinggal wanita yang selalu Dion rindukan kehadirannya.


Seorang perempuan yang pernah menjalani hubungan tersembunyi dengannya bahkan hanya hubungan semalam saja atau orang sering sebut namanya dalam hatinya itu.


Dion membuka kacamata hitamnya yang bertengger di hidung mancungnya, "Alhamdulillah akhirnya sampai juga, aku akan melakukannya apapun yang penting Cantika menerima kembali cintaku," batinnya Dion setelah berada di dalam area bandara dengan mengucapkan syukur karena sudah sampai.


Dengan langkah kakinya yang pasti dan panjang serta lebar. Dion segera berjalan ke Tempat parkiran mobil karena anak buahnya sudah menunggunya sedari tadi.


Dion menatap ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya Dion, "Kita cari mesjid terdekat terlebih dahullu sebelum ke spartemenku!" perintah Dion kepada anak buahnya yang merangkap jadi sekaligus supirnya.


"Baik Bos," jawab Pak Juanda yang segera menjalankan perintah dari bosnya itu.


Mobil yang mereka tumpangi melaju membelah jalan Sydney city. Hanya menempuh beberapa menit saja, mobil Dion sudah berhasil memasuki area salah satu mesjid yang berada di dalam kota.


Dion segera berlari kecil ke dalam mesjid karena dia sama sekali tidak ingin terlambat untuk mengerjakan shalat dzuhur. Setelah beberapa saat, Dion telah menyelesaikan shalatnya dan berjalan ke luar Mesjid.

__ADS_1


Tapi tiba-tiba, sudut matanya tanpa sengaja melihat ke arah kanan mesjid, dia melihat ada taman bermain yang sudah dipadati anak-anak siang hari itu.


"Kenapa melihat mereka, seolah aku terpanggil untuk ke sana," batinnya Dion.


Dion seolah-olah terhipnotis untuk melihat dan mendatangi kerumunan anak-anak yang sedang asyik bermain bersama temannya. Ia semakin mendekat ke arah taman bermain itu. Sesampainya di sana, dia melihat ada dua anak laki-laki kembar yang umurnya kira-kira delapan tahun lebih.


Yang sedang bermain dengan anak perempuan yang umurnya lebih muda dari umur anak laki-laki itu. Karena postur tubuh dari anak perempuan itu yang janya sampai dada anak perempuan itu.


Tanpa sengaja berjalan terus untuk mendekati anak itu, dan entah kenapa perasaannya dan feelingnya mengatakan ada yang aneh di dalam dirinya setelah melihat lebih dekat dari wajah anak laki-laki itu.


"Kenapa kedua laki-laki itu seperti aku mengira bahwa anak itu mirip dengan aku sewaktu aku kecil dulu," gumamnya Dion Aldiano Smith yang memperhatikan keseluruhan raut wajah, bentuk tubuhnya dan juga perawakan anak itu.


Dion teringat masa kecilnya yang entah kenapa wajah anak laki-laki itu persis dengan wajahnya sewaktu ia masih kecil dulu. Dion terpesona dengan penampilan anak laki-laki itu. Dion tanpa ia sadari,bia langsung mendekat dan mencoba untuk berkomunikasi dengan anak kecil itu.


"Selamat siang, kalian sedang ngapain di bawah pohon rindang ini?" Tanyanya Dion yang segera ikut bergabung ketiga anak kecil itu.


"Masa gak lihat kalau kami sedang bermain sih, apa matanya paman bermasalah!" Ujarnya ketus anak laki-laki yang satunya dalam bahasa Indonesia yang kebetulan memakai baju kaos berwarna kuning kombinasi putih itu.


Dion hanya tersenyum simpul mendengar jawaban dari anak satunya. Dia kemudian mengajak ke dua anak itu dengan bahasa Inggris tapi anak laki-laki itu menjawab pertanyaan Dion memakai bahasa Indonesia bukannya bahasa sehari-hari orang asli Australia.


"Anak ini kok pintar memakai bahasa Indonesia, apa dia orang Indonesia juga, tapi kalau diperhatikan dari penampilannya seperti bukan orang Jakarta atau dari daerah lain," batin Dion.


Dion sedikit terkejut dan begitu kagetnya kenapa anak ini menjawab pertanyaan dari dirinya memakai bahasa Indonesia, kan tidak mungkin anak itu mengetahui kalau Dion dari Indonesia.


"Apa aku bertanya kepada mereka asal mereka saja secara langsung?" Gumamnya Dion yang mulai penasaran dengan orang itu.


Dion masih tidak mau menggunakan bahasa Indonesia dan Tetap Memakai bahasa Inggris.

__ADS_1


"Apa uncle boleh duduk di samping kalian?" Tanya Dion yang berusaha untuk terlihat akrab dengan mereka bertiga yang sudah memohon kepada anak-anak itu agar bisa dibolehkan untuk duduk bersama anak kecil tersebut.


"Silahkan Uncle, tidak masalah," jawab anak pria yang berbaju kuning itu.


Anak berbaju biru itu menatap ke arah Dion dengan sedikit jengah, "Kalau mau duduk yah duduk saja tidak usah pake permisi segala kan bukan kami yang punya kursi juga kali!" dengus anak laki-laki itu dengan judesnya.


Anak laki-laki itu merasa terganggu dengan kehadiran Dion bersama mereka. Karena mereka sedang asyik bermain tiba-tiba Dion datang seolah mereka saling kenal dan akrab saja.


"Kenapa aku seolah pernah melihat wajahnya Paman ini sebelumnya? Tapi di mana yah?" Lirihnya anak kecil yang memakai pakaian kuning yang sedikit kalem, pendiam dan lebih terbuka menerima kedatangannya Dion di tengah-tengah mereka.


"Abang Levi, stop bersikap seperti itu kenapa harus bersikap kasar, padahal paman ini hanya datang sekedar berbasa-basi saja dengan kita," pungkasnya Lionel Richie adik kembarnya Levi Richard.


"Kenapa juga dia sok kenal sok dekat banget dengan kita, padahal ini hari pertamanya kita bertemu juga, apa kamu lupa pesannya Bunda jangan berdekatan dengan siapapun yang tidak kita kenali itu," ujar Levi Richard yang kemudian segera membereskan semua perlengkapan beberapa permainannya.


"Abang, Itu tetap tidak boleh bersikap seperti itu juga, kita harus tetap ramah dan santun kepada orang yang lebih dewasa dari kita," tampiknya Lionel Richie yang bersikap seperti orang besar saja yang sudah dewasa dengan bijaksana.


Dion hanya tersenyum menanggapi perkataan bocah laki-laki itu. Adrian segera duduk di bangku yang anak-anak itu tempati.


Dion awalnya tidak menyangka jika bocah itu adalah anaknya. Dia sangatlah bahagia karena akhirnya rahasia besar yang selama ini dia ingin ketahui terbuka dengan sendirinya setelah bertemu dengan dua bocah cilik itu.


Dion sangat bersyukur karena telah menemukan perempuan yang telah direnggut mahkotanya itu dulu ketika mereka berpacaran. Dion bersyukur karena perempuan itu sudah menerima dan memaafkan kesalahannya. Walaupun awalnya mereka sempat bersitegang dengan keras,tapi anak mereka menjadi penengah dari perselisihan mereka.


Keduanya memutuskan untuk membesarkan anaknya bersama, walaupun mereka memutuskan tidak menikah.


Emily pun sudah bertemu dengan orang tua aslinya dalam pencarian bertahun-tahun lamanya, mereka pun bahagia dengan hubungan baru mereka masing-masing.


Mereka hidup bahagia tanpa ada lagi dusta dan dendam diantara mereka. Kehidupan semuanya cukup damai dengan anak dan cucunya.

__ADS_1


...********TAMAT********...


__ADS_2