
3 Minggu berlalu, dengan bantuan pak Gilang aku mengambil cuti selama satu bulan. Ku suapi bubur ayam kedalam mulut Ayah.
Sudah dua minggu keadaan Ayah membaik, tapi aku masih belum mengizinkan Ayah untuk kembali bekerja.
"Ayah." panggilku lembut.
"Iya."
"Bisakah Ayah cerita, kenapa Ayah dan Bunda bisa berpisah?"
Terdengar helaan nafas dari Ayah. Ayah meraih gelas airnya dan menyandarkan badannya ke sisi belakang tempat tidur.
"Bagaimana Ayah menjelaskannya Terry? Ayah gak tahu." jawab Ayah sendu.
Ku dengar suara langkah kaki datang menghampiri kami. Tak lama berselang, Bunda hadir menampakan batang hidungnya.
"Pas sekali." ucapku sambil melihat kearah Ayah dan Bunda secara bergantian.
"Pas apanya, Terry?" tanya Bunda datang mendekat kearahku.
"Bunda, Ayah. Bukankah kalian berdua hutang penjelasan sama aku?"
"Penjelasan apa Terry? kan Bunda sudah jelasin kemarin." jawab Bunda mengalihkan pembicaraan.
"Ayah, Bunda. Saat ini aku sudah cukup dewasa, tidakkah kalian merasa aku juga berhak tahu alasan di balik ini semua?"
"Tak ada alasan, Terry. Ini semua takdir." jawab Bunda sendu.
"Cukup Bunda, aku bukan anak kecil lagi. Aku berhak tahu Bunda." ucapku sedikit kesal.
"Ayah, tak adakah niat Ayah untuk menjelaskan? haruskah semuanya seburuk seperti saat ini?" tanyaku beralih ke Ayah.
Ayah dan Bunda hanya terdiam dan saling tunduk. Seperti enggan untuk membuka suaranya masing-masing.
"Lupakanlah, kalian berdua hanya bertahan pada ego masing-masing. Apakah kalian pernah berpikir tentang aku dan Percy yang terus terhimpit keadaan ini? aku lelah Bunda, Ayah. Aku lelah terus-terusan berada di antara dua tali yang saling menarik satu sama lain. Tak ada yang mengalah, tak ada yang mau berusaha."
Ku letakan mangkuk bubur diatas nakas. Ku langkahkan kaki menjauh dari kasur Ayah.
"Saat ini posisi aku juga sama sulitnya seperti Bunda, mengertilah Bunda. Aku butuh cahaya untuk melangkah." ku tarik daun pintu kamar dan menutupnya dengan cepat.
Dengan sedikit berlari aku keluar dari rumah Ayah. Ku langkahkan kaki dengan sedikit gontai, mencari sesuatu yang mungkin bisa menghibur diri.
Sampai langkah kakiku terhenti di sebuah halte bis. Ku buang bokong di kursi halte, dan menarik nafasku yang terasa sedikit menyengal di paru-paru.
Sudah hampir dua jam aku duduk sendiri disini, namun ku biarkan bis yang datang berlalu begitu saja. Entahlah aku tak punya arah, aku tak tahu mau kemana.
Semuanya terasa begitu sangat samar, Ayah, Bunda, lagi-lagi kasus kalian membuat aku takut untuk melangkah, merajut cinta. Luka yang selalu kalian hadirkan membuat aku trauma dan berpikir, jika cinta itu menyiksa, mengapa aku harus menerima ini semua?
Biarkan saja, biarkan begini apa adanya. Aku tak butuh siapapun yang mencintaiku, aku tak butuh cinta yang akan terus menyiksa nantinya.
Ku pejamkan mataku, sejenak menghirup udara dengan sedikit berat. Sungguh, aku lelah Tuhan. Aku sungguh lelah menghadapi kisah rumit ini.
"Terry." panggil seseorang lembut.
__ADS_1
"Hem." jawabku tanpa membuka mata.
"Aku lama gak lihat kamu di kampus, kamu lagi cuti?"
Ku buka kedua kelopak mataku dan melihat lelaki dengan jaket jeans dongker di sampingku.
"Iya aku cuti." jawabku pasrah.
"Kenapa?" tanyanya dengan membuang bokong di sebelahku.
"Ayah lagi sakit, jadi aku yang ngerawat Ayah."
"Ayah kamu sakit? kenapa gak cerita ke aku, Terry?" tanyanya dengan sedikit kesal.
"Bukannya terakhir kali, kamu lagi kesal sama aku ya Yudha?" tanyaku mengingatkan.
Sejenak Yudha terdiam, ia hanya memandangku dengan raut wajah sedih.
"Waktu itu, aku minta maaf. Aku terbawa emosi." jawabnya menyesal.
"Sudahlah, aku sudah memafkanmu."
"Terima kasih." jawab Yudha dengan menyeringai bahagia.
Sejenak suasana kembali hening, saat ini aku sama sekali tak ingin berbicara, apalagi bercanda. Aku hanya ingin tahu bagaimana dan seperti apa akhir dari semua ini.
Tuhan, berikan aku jalan.
"Terry." panggil Yudha lembut.
"Hem."
"Tidak, tidak ada apapun." ucapku mengelak.
"Cerita saja, aku akan siap mendengarkanmu." Yudha menumpuhkan dagunya di atas kepalan tangannya.
Menatap wajahku dengan lekat. Ku hela nafas dan kembali terdiam, tak ada yang bisa aku ceritakan, semua bagaikan kertas kosong yang sangat hitam.
Kembali suasana menjadi hening, kami biarkan waktu habis dengan begitu saja. Ku alihkan wajahku ke Yudha yang saat ini masih setia menungguku.
"Yudha." panggilku memecahkan suasana.
"Ya."
"Kedua orang tuamu, juga berpisahkan?" seketika Yudha memalingkan wajahnya, menatap wajahku dengan binar sendu.
"Ya." jawab Yudha pasrah.
"Apa kamu tahu alasannya?" tanyaku kembali.
"Apapun alasannya, biarkan sajalah. Aku tak mau tahu, dan aku tak mau peduli." jawab Yudha angkuh.
"Kenapa? apakah kamu gak ingin mereka kembali bersama?"
__ADS_1
"Bersama atau tidak bersama, itu tak ada bedanya Terry. Terserah mereka lah, mereka sudah cukup dewasa, mereka bisa mengatasi masalah mereka masing-masing." jawab Yudha penuh amarah.
"Tapi apakah kamu gak ingin jika kehidupan kalian kembali ke semula? saat semuanya baik-baik saja?"
"Dari awal tak ada yang baik-baik saja, Terry. Mereka salah melangkah, dan mereka menyadari saat mereka sudah sama-sama bosan. Dan aku? siapa aku buat mereka?" kembali mata Yudha memancarkan api kebencian saat menceritakan itu semua.
"Kamu anaknya, pastilah kamu berharga buat mereka."
"Benarkah?" tanya Yudha padaku.
Ku anggukan kepalaku pasrah. Yudha melepaskan senyumnya dan menggeleng pasrah.
"Aku hanyalah anak tanpa harga. Aku di lahirkan dan membuat hidup mereka berdua berantakan. Aku ini sampah di mata mereka, Terry. Selain nenek dan kakek, aku tak memiliki siapapun yang menyanyangiku." ucap Yudha sendu.
"Aku pernah dengar, sampah seseorang bisa menjadi berlian di tangan orang lain, Yudha. Tak ada yang namanya benar-benar sampah dan tak ada yang namanya benar-benar berlian. Semua akan berbeda saat kita melihatnya dengan sudut pandang yang berbeda."
Sejenak Yudha terdiam, matanya menatap kosong kedepan.
"Menurutmu begitu? tapi orang tuaku tak peduli pada hidupku, Terry. Orang tuaku bahkan tak menganggap aku ada."
"Yudha, apakah kamu pernah melihat orang tuamu dari sudut pandang yang berbeda? mungkin orang tuamu bukan tak peduli padamu. Mungkin mereka takut untuk mendekatimu, karena mereka pernah bersalah padamu."
Yudha kembali terdiam, matanya seperti sedang mengawan ke masa silam.
"Yudha, coba temui orang tuamu. Bicaralah baik-baik dengan Mereka. Mungkin sesuatu yang di luar dugaanmu sedang menantimu saat ini. Bagaimana juga, mereka tetaplah orang tuamu."
"Aku belum siap, Terry. Aku belum siap."
"Belum siap kenapa?" tanyaku bingung.
"Aku takut,"
"Takut? takut kenapa?"
"Aku takut jika aku di tolak kembali, aku takut jika harus di buang lagi. Aku takut di perlakukan seperti sampah lagi. Aku takut, luka yang selama ini ku coba untuk sembuhkan akan berdarah kembali."
"Lagi?" tanyaku sedikit bingung.
Yudha memalingkan pandangannya kearahku. Yudha meraih sebelah pipi wajahku.
"Kamu adalah wanita pertama yang tidak menolakku, Terry. Kamu adalah wanita pertama yang peduli pada semua kebiasaanku. Kamu wanita pertama yang menganggap aku berharga. Aku sangat mencintaimu, Terry. Sangat mencintaimu." Yudha mengucapkan itu semua dengan menggebu.
Ku tatap mata Yudha yang memancarkan binar ketakutan. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? kenapa semakin gamang saja aku untuk melangkah.
"Aku sangat mencintaimu Terry." Yudha menarik badanku dan memeluk badanku erat. Tangannya sedikit bergetar, mungkinkah Yudha punya trauma dalam tentang masa lalunya?
"Yudha, tenanglah. Semua akan baik-baik saja." ku coba untuk menenangkan Yudha.
Namun sepertinya traumanya lebih berat dari yang ku duga.
"Terry, aku mohon jangan campakan aku, jangan buat aku menjadi sampah lagi." Yudha menguatkan pelukannya.
Ya Tuhan, aku menyerah saja. Aku tak lagi sanggup berada dalam posisi ini.
__ADS_1
Ayah, Bunda, pak Gilang dan juga Yudha.
Kalian menghimpit posisiku dan terus mendorong aku ke jurang dalam lukaku. Bagaimana kalian bisa melakukan ini padaku?