Cinta Pertama

Cinta Pertama
45


__ADS_3

"Sekaligus calon istri aku." sambung pak Gilang sambil merangkul bahuku


"Eh..." ku tatap wajah pak Gilang yang saat ini tersenyum penuh makna.


"Calon istri?" tanya gadis itu dengan raut wajah kecewa.


"Iya. Ini Terry, mahasiswi sekaligus pacar aku." ucap pak Gilang mengeratkan rangkulannya.


"Hai Terry, selamatnya buat pak Reihan dan juga kamu." sapa gadis itu ramah.


"Hai. Terima kasih." balasku kaku.


"Kamu kok bisa ada disini?" tanya pak Gilang kembali.


"Pak Reihan itu kan atasan gue, Gilang. Kami kerja di Bank yang sama."


"Oh, begitu." jawab pak Gilang cuek.


"Kalau gitu gue kesana dulu ya." pamit gadis itu.


"Oke." jawab pak Gilang cuek.


Setelah ku lihat punggung gadis itu pergi, ku hempaskan rangkulan tangan pak Gilang.


"Bapak apaan sih?" tanyaku sedikit kesal. Ku silangkan kedua tanganku di dada dan membelakangi pak Gilang.


"Kamu jadikan saya pacar bohongan kamu, di depan lelaki yang tadi, saya jadikan kamu, calon istri saya di depan teman saya." jawab pak Gilang lembut.


"Kita impas!" bisik pak Gilang di telingaku.


Ku balikan badanku dengan cepat, pak Gilang tersenyum dan memainkan kedua alis matanya. Melambaikan tangan, dan berjalan menjauh.


Ku genggam kedua tanganku, kesal karena ulah pak Gilang. Sejak kapan pak Gilang bisa jadi seseorang yang pendendam begitu?


Ku tekuk wajah dan berjalan mendekati Ayah dan Bunda. Ku buang bokongku di kursi sebelah Ayah dan Bunda.


"Terry, kenapa cemberut begitu? kamu gak bahagia?" tanya Bunda padaku.


"Bukan Bunda, aku hanya kesal sama teman, tadi." jawabku dengan sedikit kesal.


"Hey, anak gadis Ayah, masa sudah cantik begitu masih cemberut saja sih?"


"Ayo Terry, jangan pasang wajah seperti itu." Bunda menarik kedua pipiku.


"Iya Bunda." ku lepaskan tarikan tangan Bunda.


"Pak Reihan, selamat ya." ku dengar suara yang masih tak asing di telingaku.


"Iya, terima kasih Tata."


Tata, gadis cantik itu lagi. Ya Tuhan, sepertinya bertemu dengannya akan membawa bencana.


"Wah sepertinya setelah menikah Pak Reihan akan kembali mengadakan acara." ucap gadis itu melirik kearahku.


"Acara? acara apa?" tanya Ayah bingung.


"Iya, acara pernikahan kedua."


"Hah, pernikahan kedua?" kini berganti Bunda yang bertanya.


Ku tatap wajah gadis itu dengan tajam, namun bibirnya tersenyum seakan mengejek tatapanku. Habislah aku kalau dia buka suara, pak Gilang ini semua kamu yang punya pasal.


"Loh bukannya Terry akan segera menikah ya?" tanya nya polos.


Ku pejamkan mataku, dan ku hela nafas. Matilah aku, sudahlah kali ini aku tamat.


"Hah, Terry? kamu mau nikah sama siapa?" tanya Ayah garang.


"Pak Reihan gak tahu? bukannya Terry calon istrinya Gilang?"


"Apa?" teriak Ayah dan Bunda seketika.


Duh ... Ya Tuhan, kali ini aku tak bisa mengelak. Ampuni aku ya Tuhan, gadis ini benar-benar pembawa bencana.


"Terry?" tanya Bunda mengernyitkan dahinya.


"Itu, Ayah, Bunda, aku..." ku tatap wajah gadis itu yang kini tersenyum sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Aku, aku memang pacaran sama pak Gilang, tapi aku gak berani bilang karena kondisi Ayah memburuk."


Habislah sudah, berbohong terus Terry. Setelah ini nerakalah tempatmu berpijak.

__ADS_1


"Ya Ampun Terry, kenapa harus di tutup-tutupi? Ayah setuju kamu sama Gilang, jadi jangan takut."


Ku lepaskan senyum pahit dari bibirku. Aku bukan takut mengakui tapi aku takut karena sudah membohongi.


Pak Gilang, setelah ini kita harus buat perhitungan.


***


Setelah acara selesai, kami berempat pulang kerumah besar Ayah. Begitu turun dari dalam mobil aku langsung menyebarangi jalan.


"Terry mau, kemana?" tanya Percy.


Tak ku hiraukan panggilan Percy, aku sudah hampir mati kesal di buat oleh pak Gilang.


"Jangan ganggu kakakmu, biarkan dia ketemu pacarnya." jawab Ayah yang semakin membuat amarahku membuncah.


Ku ketuk daun pintu rumah pak Gilang dengan sedikit memburu. Tak lama daun pintu terbuka, seorang lelaki keluar dari balik daun pintu.


"Terry, ada apa?" tanya om Ridwan padaku.


"Om, bisa Terry jumpa pak Gilang. Ada yang mau Terry bahas sama pak Gilang."


"Oh, Gilang ya. Sebentar Om panggil dia dulu ya."


Aku hanya tersenyum, ku silangkan kedua tanganku di dada dan membelakangi daun pintu rumah pak Gilang. Kali ini pak Gilang harus bantu aku luruskan, aku tak mau menyimpan kebohongan ini semakin lama.


"Terry, kamu cari saya?"


"Ayo ikut saya, Pak." ku tarik tangan Pak Gilang seketika.


"Kemana?"


"Jelasin sama Ayah dan Bunda, tentang hubungan kita." ucapku membara.


"Jelasin? memang saya ada mengatakan apa?"


"Bapak memang gak ada mengatakan apa-apa. Tapi karena kebohongan Bapak sama gadis itu, Ayah dan Bunda jadi salah paham sama hubungan kita."


"Memangnya selama ini menurut kamu hubungan kita seperti apa, sih?" tanya pak Gilang kembali.


Seketika langkah kakiku berhenti, sejenak aku berdiam diri. Ku balikan badanku dan menghadap kearah pak Gilang.


"Saya rasa gak ada kesalah pahaman apapun di antara kita, Terry. Saya hanya tinggal menunggu jawaban kamu."


"Kamu pilih saya, saya akan menikahi kamu. Kamu tolak saya, kamu tetap mahasiswi saya." sambung pak Gilang lembut.


Aku kembali terdiam, iya, memang tak ada yang salah, aku yang membuatnya semakin runyam. Aku sendiri yang berbohong dan terbawa perasaan.


Pak Gilang meraih daguku dan mendongakan kepalaku. Menatap mataku dengan binar mata yang begitu jernih.


"Jangan terlalu lama memilih, karena semakin lama kamu berdiam, semakin kamu bingung dengan perasaanmu sendiri." pak Gilang tersenyum dan melepaskan pegangannya.


Ya pak Gilang benar, semakin lama aku menyimpan semakin sulit aku menentukan. Saat ini aku merasa bahwa kami bertiga saling terikat satu sama lain. Yudha membutuhkan aku untuk menopang dia, aku membutuhkan pak Gilang untuk menopang kelemahanku.


Namun saat ini, apakah pak Gilang membutuhkanku? bukankah pak Gilang tetap terlihat kuat saat sendiri.


"Masuk dan istirahatlah Terry." pak Gilang berbalik dan melangkahkan kakinya. Ku tarik pergelangan tangan Pak Gilang.


"Pak bisakah kita berbicara sebentar?"


"Kamu yakin? apa kamu tidak lelah?"


"Bukankah Bapak butuh jawaban? jika Bapak bersedia saya akan berikan."


"Baiklah, tunggu disini, saya ambil motor."


Ku anggukan kepalaku dan ku tunggu pak Gilang keluar. Tak lama berselang, pak Gilang keluar dengan motornya.


"Pakai ini, kebaya kamu terlalu tipis, nanti kamu bisa masuk angin."


Pak Gilang memakaikan jaketnya padaku. Kenapa rasanya aku semakin tak ingin pergi darimu pak?


Pak Gilang memberhentikan motornya di taman depan komplek, kami mencari kursi kosong di sisi taman.


Ku hela nafasku dan ku remas kedua tanganku. Sudah lima belas menit namun aku belum mengatakan sepatah katapun. Ya Tuhan Terry, berusahalah.


Ku lihat pak Gilang yang masih menatapku, menumpuhkan sebelah lengannya diatas sandaran bangku. Menghadap kearahku.


"Pak."


"Iya."

__ADS_1


"Tata itu, cewek yang pernah suka sama Bapak ya?"


"Saya gak tahu, dan saya gak mau tahu." jawab pak Gilang cuek.


Kembali ku buang pandanganku kedepan, tak berani kalau menatap pak Gilang lama-lama.


"Pak."


"Hem."


"Kalau nanti saya memilih, apa Bapak akan sakit hati kalau..."


"Apapun pilihanmu saya tak akan menjauh darimu. Kecuali, jika kamu yang meminta saya pergi." putus pak Gilang langsung.


Lelaki ini, selalu tahu apa yang ada di dalam hati dan pikiranku.Huft ... Bagaimana ini?


"Jujur, saya merasa kalau Bapak itu seperti pelindung. Bapak selalu hadir disaat saya susah, tanpa sadar Bapak itu sudah menjadi penopang saya. Pada akhirnya saya jadi membutuhkan Bapak."


Ku pejamkan mataku dan menghela nafas. Ku lirik pak Gilang yang duduk menghadap kearahku, menandangku datar.


"Jujur saya kagum sama pribadi Bapak yang hangat dan juga tegas. Saya jadi merasa tergantung dan sangat membutuhkan Bapak saat saya susah." kembali ku hela nafasku, sebelum melanjutkan kalimatku.


"Saya jadi berfikir, Bapak itu kuat, saya jelas membutuhkan Bapak, tapi kalau saya? mana mungkin Bapak butuh saya."


"Tentu saya butuh." jawab pak Gilang langsung.


Ku palingkan wajahku melihat kearah pak Gilang.


"Saya butuh kamu sebagai orang yang saya lindungi, Terry."


Ku kepaskan senyumku.


"Mana mungkin seperti itu, Pak. Mana mungkin orang lain butuh seseorang untuk dia lindungi."


"Seperti cincin berlian, Terry. Kamu berliannya, saya ikatannya. Tanpa berlian sebuah ikatan cincin tak lagi berharga mahal. Tanpa kamu saya tak akan bisa menjadi pelindung, karena hubungan itu saling mengikat. Iya, kan?"


Sejenak aku kembali terdiam, jadi maksud pak Gilang tanpa aku dia tak akan jadi pelindung. Tanpa aku dia gak berarti apapun?


Mana mungkin seperti itu.


"Perkataan dari mulut Bapak itu manis sekali, pasti banyak sekali wanita yang suka dekat sama Bapak."


"Tidak ada, saya gak pernah dekati wanita manapun. Hanya kamu yang saya dekati."


"Ah mana mungkin." ucapku dengan melepaskan senyum.


"Apa kamu pernah lihat saya dekati wanita di kampus?"


"Ehm, tidak sih. Tapi saya gak percaya, lelaki seumuran Bapak tak pernah mendekati wanita."


"Yah ... Terserah kamu saja?" jawab pak Gilang mengalah.


Sudah? begitu sajakah?


Tak ada penjelasan apapun yang bisa membuat aku percaya kah? hanya kaya terserah.


Bahkan dia tak peduli, aku percaya atau tidak.


"Kenapa?"


"Kenapa apanya?" tanya pak Gilang bingung.


"Kenapa Bapak gak berusaha jelasin ke saya? kenapa Bapak gak berusaha ngeyakini saya?" tanyaku kembali.


Pak Gilang tersenyum dan mengubah posisi duduknya. Menghadap ke halaman luas, taman.


"Tak perlu saya jelaskan, jika kamu percaya tanpa saya menjelaskan apapun kamu pasti akan percaya. Karena kepercayaan itu ada bukan hanya karena kata-kata, tapi juga karena sikap dan perbuatan saya. Hem?" pak Gilang membuang pandangannya ke aku.


"Tak perlu saya yakini, jika kamu percaya saya. Maka keyakinan kamu terhadap saya akan terbentuk dengan sendirinya. Karena keyakinan dan kepercayaan itu bukan untuk di paksa, tapi untuk di jaga." sambung pak Gilang lembut.


Kembali aku terdiam, sungguh kalau berbicara sama pak Gilang hatiku merasa lebih tenang, pak Gilang benar-benar lelaki yang pandai mengolah kata.


"Kalau begitu bisakah Bapak memberikan saya waktu?"


"Waktu?" tanya pak Gilang menaiki sebelah alis matanya.


"Waktu untuk saya jelaskan pada Yudha secara perlahan. Dan bisakah Bapak berikan saya kepercayaan? saya dan Yudha berteman dari SMP, Yudha juga korban seperti saya, jadi saya butuh waktu untuk menjelaskan padanya tentang hubungan masa lalu kami, Pak."


Pak Gilang tersenyum kecut dan mengerutkan dahinya.


"Kenapa kamu minta saya berikan waktu dan juga kepercayaan?"

__ADS_1


"Karena..." ku alihkan pandanganku, menatap pak Gilang yang saat ini sedang tersenyum sendu.


"Karena saya ingin memilih Bapak."


__ADS_2