Cinta Pertama

Cinta Pertama
24


__ADS_3

"Kamu langsung istirahat ya." ucap pak Gilang saat menurunkan aku di depan pagar rumah.


"Makasih ya pak. Untuk bantuan Bapak hari ini."


"Maaf sekali lagi."


Aku mengangguk dan berlalu masuk. Kembali ku putar Badanku untuk melihat pak Gilang, saat ingin memasuki pintu. Pak Gilang masih berada diatas tunganggannya dan tersenyum, melambaikan tangannya sebelum melajukan motornya pergi.


Aku tersenyum sendu dan menundukan pandanganku. Ada rasa senang dan juga sedih hari ini. Dua lelaki ini benar-benar bisa membuat perasaanku campur aduk.


Ku naiki lantai dua dan ku lempar tasku di atas kasur.


"Terry." panggil seorang gadis dari balkon lantai dua.


"Ada apa Percy? kok kamu disini?" tanyaku cuek.


"Kamu lupa ya? udah jadwal tukar tempat."


Ku tepuk dahiku sendiri, bagaimana aku bisa lupa. Ku buka sepatuku dan perlahan bibirku kembali menyungging, mengingat kejadian hari ini.


Pak Gilang sungguh lelaki yang di luar dugaanku selama ini. Bisa menjadi jahil dan juga romantis.


"Terry, tadi itu mas Gilang kan?" tanya Percy membuyarkan lamunanku.


"Hem."


"Kok kamu bisa pulang sama dia sih? bukannya kata Bunda kamu pergi sama Yudha?"


"Ada urusan mendadak. Jadi Yudha balik duluan." ucapku berkelit.


"Ah ... Terry. Kamu diam-diam ternyata ganjen ya." ucap Percy menggodaku.


Ku gelengkan kepalaku melihat guyonan Percy. Kalau bukan karena Yudha meninggalkanku, aku tak akan pulang sama pak Gilang. Itu artinya, aku juga tak akan pernah melihat sisi lain pak Gilang.


Aku kembali tersenyum saat mengingat penampilan pak Gilang di cafe tadi.


"Aku lebih setuju kalau kamu sama Mas Gilang, Terry. Mas Gilang itu dewasa dan juga lembut. Ya walaupun terkadang bisa jadi garang."


"Apaan sih, Percy. Pak Gilang itu dosen aku, gak usah mikir yang aneh-aneh." ucapku sambil berlalu ke kamar mandi.


Tok ... Tok ... Tok.


Suara daun pintu kamar mandi di ketuk kuat.


"Aku baru masuk, Percy."


"Terry, jangan bohongi aku. Walaupun aku ini adik kamu, tapi urusan asmara aku lebih punya pengalaman di bandingkan kamu."


"Apa sih Percy? aku lagi mandi. Jangan ajak aku bicara."


"Kamu sebenarnya suka Yudha apa mas Gilang sih, Terry?"


Ku gelengkan kepalaku dan melanjutkan kegiatanku. Aku keluar dengan balutan handuk di kepalaku. Ku ambil sekotak obat dan kembali mengobati luka-luka di tubuhku.


"Mas Gilang itu keren kan, Terry." kembali Percy berucap.

__ADS_1


"Sebenarnya kamu mau ngomong apa sih Percy?" tanyaku spontan.


"Kamu pilih Yudha apa mas Gilang?"


"Kamu mau tahu?" tanyaku sambil menggodanya.


"Iya, kasih tahu aku."


"Kepo!" ucapku sambil tertawa senang


Kembali perhatian aku terpusat oleh luka yang masih basah di lututku. Ku tetesi obat merah dan meniupnya agar kering.


"Menurut aku, lebih baik mengenal karakter baru, dari pada harus menerima kembali orang yang sudah menyakiti hati kita, Terry." ucap Percy lembut.


Seketika kegiatan tanganku berhenti. Ku tatap wajah Percy yang saat ini menampilkan ekspresi sendu.


"Mas Gilang jauh lebih baik untukmu di bandingkan Yudha. Terry." kembali ia berucap. Semakin membuat hatiku bingung tak menentu.


"Maksud kamu?" ku kernyitkan dahiku saat melihat wajah Percy.


"Aku tahu Yudha itu kekasih masa lalu kamu kan, Terry."


Aku melepaskan kerutan di dahiku, bagaimana bisa Percy tahu hal ini?


Dulu saat aku pacaran dengan Yudha Percy itu masih terlalu kecil, dari mana dia tahu hal ini?


"Tahu dari mana kamu?" tanyaku sengit.


"Aku sering lihat kamu nangis saat pertama masuk SMA, Terry."


Aku kembali pada kegiatanku membersihkan luka di lututku. Tak ku hiraukan ucapan Percy itu.


"Percy kejadian itu sudah lama sekali. Aku sudah melupakannya."


"Tapi sampai sekarang kamu masih belum melupakannya, Terry."


Kembali ku palingkan wajahku kearah Percy. Ku kihat wajah gadis ini berubah menjadi sendu dan seperti menahan tangis.


"Semenjak hari itu kamu berubah, Terry. Aku kehilangan kakak ku semenjak hari itu, aku kehilangan satu-satunya sahabat terbaik aku." Percy mengelap sudut matanya.


Percy berjalan ke sudut kamar dan menyingkap kain jendela kamar kami. Matanya menatap lurus kedepan.


"Aku minta maaf, Terry. Tapi aku membuka diary kamu dan membaca semuanya."


"Percy, kamu gak sopan. Itu pribadi aku!" ucapku sedikit menekan.


"Kamu gak pernah cerita apapun, kamu selalu diam dan juga diam Terry. Aku bingung harus bersikap bagaimana, aku gak suka lihat kamu jadi pendiam seperti saat ini!" Percy berucap dengan sedikit berteriak.


Terdengar rentetan emosi yang selama ini berusaha ia pendam, meluap keluar. Kasihan kamu adikku, maafkan kakakmu ini. Maafkan aku yang melupakan kamu karena luka di masa laluku mengurungku dalam sangkar air mata.


"Percy, maafkan aku... Aku..."


"Terry jangan kembali," Percy memutuskan kalimatku.


"Maksud kamu?" tanyaku sedikit bingung.

__ADS_1


Percy berjalan kembali mendekati aku. Percy duduk di sampingku dan menatapku sendu.


"Aku lebih banyak mengenal karakter laki-laki di bandingkan kamu, Terry."


Iya, aku tahu, Percy memang lebih banyak bergaul di bandingkan aku. Tapi bukan berarti Percy lebih kenal Yudha di bandingkan aku.


"Apapun alasan yang membuat Yudha meninggalkanmu, itu tidak benar Terry. Seharusnya Yudha tak pernah menyakitimu jika dia memang sayang sama kamu."


"Percy, aku dan Yudha itu pacaran saat masa remaja. Saat ini semua sudah berbeda, Dek. Kami sudah sama-sama dewasa, jadi perasaan cinta nya juga sudah berbeda."


"Tapi saat seseorang itu tak pernah jujur padamu, selamanya dia kan tetap berbohong padamu, Terry."


Aku tersenyum dan meraih pipi Percy. Si gadis kecil ini sok dewasa.


Kembali aku menetesi obat di luka ku yang sempat terhenti tadi.


"Terry, jika kamu takut untuk melangkah maju, setidaknya jangan pernah berjalan mundur."


"Sudahlah, Percy. Ini pribadi aku, biarkan aku yang mencari jalannya." ucapku tanpa melihat kembali kearahnya.


Ku dengar suara helaan nafas dari gadis kecil berambut pirang di sebelahku ini.


"Terry, Mas Gilang itu benaran baik." kembali ia berucap tentang Pak Gilang.


Memang selain Bunda, tak ada yang paham maksud hatiku. Ayah dan Percy selalu menjodohkan aku dengan pak Gilang. Memang Pak Gilang itu dewasa dan juga hangat, tapi urusan hati, mana bisa rasa itu di paksakan. Hati lebih tahu mana yang lebih berharga.


"Aku sering berduaan sama Mas Gilang saat minta tolong sama dia bantu aku kerjain tugas Biologi."


"Terus?" tanyaku gak peduli.


"Mas Gilang itu suka sama kamu, Terry."


"Percy, Pak Gilang itu dosen aku. Catat ya, dosen aku!" ucapku tegas.


"Mas Gilang sering banget tanyain kamu sama aku."


"Oh ya?" tanyaku cuek


"Iya Terry. Mas Gilang itu sering tanya kamu suka makan apa, kamu sukanya jalan kemana?"


"Terus."


"Pokoknya mas Gilang itu sering banget kepo-in tentang kamu."


"Bukan berarti dia suka sama aku kan?" ucapku sambil membuka plester dan menempelkannya di luka ku.


"Terry, Come on. Tak ada hubungan mahasiswi dan dosen seperti itu."


"Sudahalah, Percy. Aku pusing."


"Mas Gilang juga tanya sama aku, kenapa kamu pendiam dan tertutup."


"Terus?"


"Aku bilang saja, bahwa kamu terluka oleh kisah masa lalu kamu."

__ADS_1


Seketika tanganku berhenti, ku tatap wajah Percy yang saat ini duduk di sampingku.


Kenapa kamu seceroboh ini, Percy. Jadi pak Gilang tahu semuanya?


__ADS_2