
Bahkan Dania membuat kue basah juga seperti kue brownis, kue kering dan masih banyak juga kue tradisional yang Dania buat sebagai contoh untuk dipelajari oleh ibu-ibu di Desa tersebut.
Kehadiran mereka membawa perubahan yang sangat besar ke arah kehidupan yang lebih baik lagi. Dania sangat bahagia bisa hidup dan tinggal di Desa Sukakarya. Bahkan ia bersyukur karena dari kejadian kecelakaan maut itu, dia bisa sampai ke Desa itu dan menikmati kehidupannya dengan nyaman dan aman.
Waktu terus berlalu, tidak terasa sudah hampir dua tahun Dennis beserta keluarga kecilnya berada di Desa Sukakarya. Dennis Ritchie Valens Edgardo dan Dania Aulia Ramadhani Kusuma David sangat menikmati suasana di pedesaan yang begitu asri, jauh dari kata polusi.
Saking nyaman dan bahagianya sampai-sampai Dennis tidak punya keinginan dan niat untuk pulang ke Ibu Kota Jakarta. Bahkan Dennis tidak memiliki rencana dan planning serta keinginan untuk secepatnya balik ke Ibu Kota Jakarta dan mencari tahu siapa yang berniat untuk mencelakainya.
Icha dan Fina tersenyum sumringah, hari ini pulang dari sekolahnya bersama adiknya tapi, entah kenapa wajahnya Icha dan Fina sedari tadi menampakkan wajah yang tidak senang seakan-akan ada sesuatu yang mereka sembunyikan.
Raut wajahnya yang ditekuk, tidak semangat, loyo dan yang paling penting sendu seakan ada kesedihan yang mengganjal dalam pikirannya. Hal itu Dania sangat mengetahui jika ada yang terjadi dengan kedua putrinya dan dalam keadaan yang tidak baik saja.
"Assalamualaikum," sapanya mereka sebelum masuk ke dalam rumahnya lalu segera meraih tangan kedua orang tuanya itu untuk mereka cium punggung tangannya.
"Waalaikum salam," jawabnya Dania seraya menyambut kedatangan kedua putri kembarnya itu.
Delia tidak ingin banyak tanya kecuali anaknya sendiri yang langsung membuka suara untuk berbicara langsung. Dania hanya melangkahkan kakinya segera ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk si kembar.
"Aku yakin ada sesuatu yang terjadi padanya, semoga hal itu tidak menggangu aktifitas dan psikologis mereka," batinnya Dania.
__ADS_1
Hari ini Dania masak makanan khusus kesukaan anak-anaknya yaitu seafood. Dania mendapatkan bahan Seafood dari tetangganya. Setiap hari ada-ada saja yang mengirimkan bahan makanan ke rumahnya dengan berbagai jenis.
Dennis memutuskan untuk membangun rumah walaupun rumah itu terbilang sangat kecil dan sederhana. Karena Dennis tidak ingin selalu memberikan beban berat dan merepotkan Oak Sahir dan istrinya ibu Masitha.
Bagi Dania sendiri itu hal yang sangat bagus karena ia juga tidak ingin tergantung terus dengan orang lain. Walaupun pak Sakhir dengan istrinya Bu Masitha sama sekali tidak mempermasalahkannya.
Rencana pembangunan rumah itu terealisasi dengan baik karena mereka mendapatkan bantuan uluran tangan dari segenap warga masyarakat.
Dania dan Dennis sama sekali tidak kerepotan saat proses pengerjaan dan pembangunan rumahnya. Bahkan bahan bangunan seperti kayu, papan,balok, atap semuanya bersumber dari bantuan warga.
Dania sangat bahagia mendapatkan bantuan tersebut sehingga proses pembangunannya berjalan lancar dan hasilnya diluar dugaan mereka.
di rumahnya.
Bahkan Ibu Masitha sangat senang jika mereka tetap tinggal di rumahnya. Tapi karena Dennis sudah memutuskan untuk pindah maka Pak Sahir tidak bisa mencegahnya. Dennis juga membangun rumah yang tidak jauh letaknya dari rumahnya Pak Sahir kebetulan ada tanah lapang yang kosong sekitar 20 meter dari tempat tinggalnya Pak Sahir.
Setelah masakan jadi, Dania kemudian ke kamar anak-anaknya untuk memanggil mereka makan.
Tok.. Tok.. Tok..
__ADS_1
Dania terlebih dahulu mengetuk pintu kamar kedua anaknya, "Icha, Fina ayo makan Nak, sudah mau sore loh kalian belum makan juga," ujarnya Dania dari arah luar pintu.
"Iya Ma, tunggu kami ganti baju dulu yah Ma!" Jawab Icha dan Fina dari dalam kamarnya.
"Jangan lama-lama yah Nak nanti makanannya keburu dingin entar enggak nikmat dan lezat lagi," imbuhnya Dania.
"Siap Mama!" Jawab Fina yang buru mengganti pakaiannya.
Setelah mendapatkan jawaban dari kedua anak kembarnya,ia melanjutkan perjalanannya ke arah kamarnya sendiri untuk memanggil suaminya, tapi baru sekitar dua langkah kakinya melangkahi tiba-tiba Dania mendengar suara tangisan dari dalam kamar anaknya itu.
Langkahnya pun berhenti untuk memastikan suara yang didengarnya itu," itu suaranya siapa, seperti suara seseorang yang menangis, apa mungkin itu putriku?" Gumamnya Dania.
Dania memutar langkah kakinya menuju kamar tersebut," aku harus memastikan siapa sih yang menangis tersedu-sedu apa itu salah satu dari putriku atau orang yang kebetulan lewat dekat rumah saja," cicitnya Dania.
Dengan perasaan yang sedikit cemas, Dania memutar handle pintu kamar kedua anaknya itu. Dia pun membuka pintu kamarnya dan mendapati keadaan Icha dan Fina yang tampak acak-acakan.
Air matanya berlinang membasahi pipi gembulnya. Mereka menangis tergugu dalam tangisnya. Mereka menangis tanpa suara hanya isakan tangisannya yang terdengar hingga ke telinganya Dania dan keluar dari kamar mereka. Reflek Dania langsung menghampiri kedua putrinya sekaligus.
Dania memeluk tubuh kedua anaknya itu secara bersamaan, "Puteri mama yang paling cantik gak ada duanya, kok nangis sayang? Apa yang terjadi,katakan pada Mama, apa ada yang usil sama kalian?" Tanyanya Dania yang menatap anaknya satu persatu dengan tatapan menyelidik itu dengan pelukan penuh kasih sayang.
__ADS_1