
Setelah memutari taman yang tak berapa besar itu. Pak Gilang akhirnya meletakan bokongnya di kursi yang berada di bibir taman.
Memindahkan si kecil Yusuf keatas pangkuannya.
Pak Gilang mengelus dahi Yusuf yang tertidur di atas pangkuannya. Menatap wajah Yusuf dan tersenyum sendu.
"Bagaimana ini, Terry? saya gak tega kalau harus membangunkan dia?" tanya pak Gilang tanpa menoleh kearahku.
"Gak mungkin juga kan kalau kita bawa pulang, nanti kalau orang tuanya lapor polisi kita yang berkasus."
"Yasudah, tunggu dia bangun saja, Pak." ucapku sambil ikut duduk di sebelah pak Gilang.
Pak Gilang terus menatap Yusuf sendu, tangannya terus membelai lembut dahi mungil milik Yusuf. Sepertinya pak Gilang sangat suka dengan anak kecil.
"Bapak dari mana?" tanyaku memecah keheningan suasana.
"Oh, saya tadi dari kampus. Mengurus beberapa hal untuk penerimaan mahasiswa baru."
"Emh. " ucapku sambil memainkan kedua kakiku menyapu lantai taman yang terbuat dari paving blok.
Ku dengar helaan nafas dari pak Gilang. Matanya menatap kosong kedepan, sepertinya dia begitu kelelahan.
"Pasti lelah ya Pak? apalagi kalau harus berhadapan dengan sifat-sifat unik dari mahasiswi Bapak."
"Yah ... Lelah. Tapi saat ini..." pak Gilang memggantung kalimatnya dan menatap wajahku lekat.
"Lelah itu tak lagi berasa." sambung pak Gilang sambil memainkan kedua alis matanya.
Suara jeritan di ponselku kembali memcahkan keheningan di antara kami. Ku lihat nama yang tertera di layar ponsel. 'Ayah', oh ya ampun ini sudah hampir senja.
Ku geser tombol hijau dan ku tempelkan di telinga kiriku.
"Terry, kamu dimana? tadi Ayah ke toko Bunda kamu, Bunda bilang kamu sudah pulang dari tadi?" serentetan pertanyaan yang ku terima saat pertama kali mengangkat panggilan itu.
"Maaf, Ayah. Terry ada di taman depan komplek rumah Ayah."
"Oh ... Ayah pikir kamu dimana, syukurlah jika kamu baik-baik saja. Kamu cepat pulang ya, Nak."
Ku lirik pak Gilang yang berada di sampingku. Kalau aku pulang bagaimana nasib pak Gilang dan Yusuf?
"Maaf ya Ayah, Terry belum bisa pulang. Terry dan Pak Gilang masih harus..."
"Oh kamu sama Gilang disana?" tanya Ayah memutuskan kalimatku.
"Iya."
"Kalau begitu nikmati saja kencan kamu, Nak. Ayah bisa mengurus diri Ayah sendiri. Kalau begitu Ayah gak ganggu lagi, ya."
Ayah langsung menutup panggilannya. Duh... Kenapa saat aku menyebut nama pak Gilang, Ayah selalu bereaksi berlebihan. Mungkin kalau aku tak pulang sekalipun saat pergi dengan pak Gilang, maka Ayah tak akan bilang apa-apa.
"Kenapa? Ayah kamu suruh kamu pulang?" tanya Pak Gilang setelah aku memasukan ponsel kedalam tas ku.
Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan pak Gilang.
"Jangan gitu dong, terus saya sama siapa? masak iya saya harus nunggu mama Yusuf sendiri?" ucap pak Gilang melas.
__ADS_1
"Kamu harus ikut bertanggung jawab, Terry."
"Memang saya ngapain Bapak? sampai Bapak minta pertangung jawaban saya?"
"Kamu itu, sudah..." pak Gilang menggantung kalimatnya sambil melirik kearahku.
"Jadi bagaiman nasib Yusuf? kita tinggal disini saja?"
"Jangan dong, Pak. Kasian dia, masih kecil. Bapak kok tega?"
"Jadi bagaimana?" tanya pak Gilang bingung.
Aku mengerdikan bahuku, tak tahu harus melakukan apa.
"Jangan jawab seperti itu, kamu sama sekali gak membantu saya."
"Jadi saya harus apa, Pak? saya bingung."
"Saya juga bingung sama hati kamu, Terry." jawab pak Gilang spontan.
"Hah?" seketika aku melemparkan pandanganku kearah pak Gilang.
Pak Gilang bangkit dan langsung berjalan menjauh, sementara aku masih terpaku mendengar ucapan pak Gilang. Aku tersenyum getir dan berlari mengikuti langkah kaki pak Gilang.
Pak Gilang berjalan menyeberangi jalan, mendekat ke kantor security komplek.
"Pak." panggil pak Gilang pada satpam yang santai di depan pos.
"Eh, mas Gilang. Ada apa, Mas?"
"Saya nemuin anak di taman depan, nanti kalau ada orang tua yang nanyain tolong telepon saya, ya. Saya mau ke cafe sudut sana."
Pak Gilang menyerahkan Yusuf yang sedang tertidur ke gendonganku. Aku menerima Yusuf dengan sedikit terkejut.
Tak lama pak Gilang datang dengan motor sportnya.
Pak Gilang memarkirkan motornya di depan cafe yang tak jauh dari komplek perumahan.
Kembali pak Gilang mengambil Yusuf dari gendonganku saat menuruni motornya.
Berjalan memasuki cafe itu, sementara aku hanya mengikuti langkahnya dari belakang. Pak Gilang mengelus pipi Yusuf lembut, membangunkan si kecil yang sedang tertidur pulas dari tadi.
Ku lihat Yusuf yang baru bangun masih bingung dan hampir menangis. Dengan sabar pak Gilang mengajak Yusuf berbicara dan mencoba mendiamkan Yusuf.
Untunglah ada Pak Gilang, kalau tadi hanya aku yang menemani Yusuf, mungkin aku akan kebingungan tak menentu.
Di tengah makan malam kami, deringan ponsel pak Gilang berbunyi. Tak lama berselang, kedua orang tua Yusuf datang dengan wajah yang lumayan kacau.
"Ya ampun, Dek. Kamu kemana saja?" langsung seorang wanita memeluk Yusuf saat melihat Yusuf makan dengan lahap.
"Ayo duduk dulu, sekalian makan sama kita." ucap pak Gilang ramah.
"Makasih ya, Mas. Gak tahu kalau gak ada mas, Yusuf gimana nasibnya."
"Saya Gilang, dan ini Terry." ucap pak Gilang memperkenalkan diri.
__ADS_1
"Saya Nina dan ini suami saya Riko."
"Terimakasih ya mas Gilang, mbak Terry. Kami langsung balik saja. Soalnya kami juga sudah lelah nyari Yusuf dari sore." tolak lelaki yang bernama Riko itu.
"Yusuf, ayo kita pulang. Bilang terima kasih sama mereka berdua." perintah wanita itu sambil menarik Yusuf keluar dari mejanya.
"Makasih ya Om. Makasih Kakak Cantik."
"Sama-sama Yusuf." ucapku sambil mencubit pipi Yusuf, gemas.
Yusuf memelukku, melingkari kedua tangannya di leherku. Tak lama ia melepaskan pelukannya dan mencium pipiku.
"Kakak Cantik nanti ketemu lagi, ya."
"Iya."
"Kakak Cantik nanti jadi pacar aku ya."
Aku tersenyum geli dan mengangguk.
"Sssttt ... Yusuf, jangan suka ngomong begitu. Sekali lagi terimakasih." ucap lelaki itu sebelum berlalu pergi.
Aku melihat Yusuf yang keluar dari pintu kaca cafe, lalu Yusuf kembali melambaikan tangan saat melihat aku dari balik kaca cafe.
"Enak banget ya jadi Yusuf." ucap pak Gilang tiba-tiba.
"Hem, enak apanya, Pak?" tanyaku bingung.
"Bukan apa-apa." balas pak Gilang sengit.
Aku hanya tersenyum dan menggeleng pasrah. Tak mengerti sedikitpun ucapan pak Gilang. Dari tadi pak Gilang terus mengucapkan kata-kata yang membingungkan.
"Sepertinya Bapak suka ya sama anak-anak?"
"Ya, mungkin karena Leo dan Libra."
"Penasaran kalau Bapak nanti punya anak sendiri, bakalan gimana ya?" ucapku sambil.memutar bola mata.
"Kalau kamu mau jadi ibunya?"
"Apa?" tanyaku spontan
"Bukan apa-apa," jawab Pak Gilang datar.
"Bapak kenapa, sih? Hari ini ngomongnya aneh banget? Kelelahan ya?"
"Iya lelah. Lelah sekali bermain teka teki terus."
"Apaan sih, Pak? Makin aneh, deh," kataku seray menggeleng dan kembali tertawa.
"Terry," panggil pak Gilang lembut.
"Hem?" Kutolehkam pandangan ke arah Pak Gilang.
Pak Gilang menjepit sebuah tisu di antara dua jemari tangannya. Memberikan padaku dan berjalan menuju kasir.
__ADS_1
Aku hanya menggulum senyum menerima tisu tersebut. Lagi dan Lagi, Pak Gilang terus membuat perasaanku menghangat.
'Terus lah tersenyum. Karena senyummu, mengubah lelah menjadi bahagia'