Cinta Pertama

Cinta Pertama
Bab. 109


__ADS_3

Mereka berpencar untuk mencari keberadaan Dania bahkan anak buahnya yang menyusul pun sudah datang. Adzan subuh berkumandang tapi hasilnya masih tetap sama. Mereka belum menemukan titik terang keberadaan Denni.


Daniel dan tak kuasa menahan tangisnya setelah melihat kondisi orang yang berada di dalam mobil itu yang sangat tampak mengenaskan bahkan sulit untuk mengenali wajah dan tubuhnya yang sudah habis dilalap si jago merah. Daniel untuk kesekian kalinya berteriak dan meraung melihat kondisi Dania dan Dennis. Dia segera menghubungi orang tua Dennis pak Edgardo Muller Winata Sing Antonio.


"Assalamu alaikum Uncle!" Ujarnya David Hermansyah Wijaya yang memilih untuk berbicara langsung melalui pesawat telpon dengan Pak Edgardo Muller Winata Sing Antonio.


"Waalaikum salam, ada apa David! Kau meneleponku,tidak kah kamu lihat jam?" Sarkasnya Pak Edgardo.


Daniel melupakan kalau Pak Edgardo pamannya sekaligus calon mertuanya itu berada di Inggris yang pastinya waktu disana London dengan di tanah air jauh berbeda Daniel hanya nyengir kuda sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Daniel tersenyum cengengesan, "Maafkan aku Paman, aku lupa tapi ini keadaannya sangat genting," kilahnya Daniel.


Pak Edgardo mengerutkan keningnya dan mulai terbuai dari rasa penasarannya lalu segera bangun dari tidurnya. Beliau pun berjalan ke arah meja kerjanya karena tidak ingin mengganggu kenyamanan tidur dari Nyonya Sanaya istrinya itu.


"Lanjut Daniel!" Imbuhnya Pak Edgardo.


"Maafkan aku Paman, aku tidak bisa menjaga Dennis dan juga kedua anak dan istrinya dengan baik," ratapnya Daniel dengan raut wajahnya yang berubah sendu.


"Jangan bertele-tele, to the points saja Daniel! langsung saja ke intinya!" Gerutunya Pak Edgardo yang sudah mulai terpancing emosinya.


Daniel menarik nafasnya dengan panjang, "Begini ceritanya Paman! Dennis dan keluarganya mengalami kecelakaan dan mobil yang mereka pakai, mobil itu jatuh ke dalam jurang hingga hancur dan terbakar," jelasnya Daniel yang kembali meneteskan air matanya.


Betapa kaget dan shocknya Pak Edgar selaku Papanya Dennis ketika mendengar kabar jika putra tunggalnya itu dan keluarga kecilnya mengalami kecelakaan maut. Tangannya hingga menjatuhkan handphonenya ke atas lantai dan membuat Istrinya terbangun.


Bu Sanaya mengerjapkan kedua matanya lalu menatap ke arah suaminya yang sudah berdiri terdiam dan tak bergeming sedikitpun, "Ada apa Papa, kok hpnya bisa terjatuh, Papa baik-baik saja kan?" tanya Bu Sanaya seraya menyingkap selimutnya lalu segera berjalan ke arah Pak Edgardo.


Pak Edgardo tak kuasa menatap ke arah istrinya itu, ia menundukkan kepalanya menahan tetesan air matanya, "Ma putra kita Dennis!' ujarnya sendu.


Bu Sanaya semakin mempercepat langkahnya menuju suaminya berada, "Dennis Ritchie Valens Edgardo kenapa Mas!!" Tanyanya Bu Sanaya yang sudah menggoyang ke-dua lengannya suaminya itu.


Pak Edgardo tiba-tiba merasakan sesak di dadanya, suaranya tiba-tiba tercekat di batang tenggorokannya saja.


"Dennis anak kita! Dia kenapa Mas!! Tolong bicaralah yang jelas!" Bentaknya Bu Sanaya yang ikut terbawa suasana dan juga mulai emosi.


"Putra kita…" Pak Edgardo tidak bisa melanjutkan perkataannya, ia jatuh ke dalam pelukan Istrinya dan menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


"Dennis kenapa Mas, apa yang terjadi dengan Dennis anakku!" tanya Mama Sanaya yang sudah khawatir dengan keadaan puteranya.


Bu Sanaya segera mengambil handphone suaminya yang teronggok di lantai. Kemudian mengecek siapa yang menelpon suaminya hingga keadaan suaminya seperti sekarang ini, ia mengutak-atik hpnya Pak Edgardo.


Bu Sanaya mengambil hp suaminya,"Hallo Daniel, ada apa Nak?" Ujarnya Bu Sanaya.


"Hallo Tante, De-nis Tante?" Ucapnya David Hermansyah yang sudah tergugu padahal ia menggantikan Daniel yang tidak kuasa menahan tangisannya itu.


"Apa yang terjadi dengan Dennis adikmu Nak?" Teriaknya Bu Sanaya yang mulai dibuat geram dan kesal dengan semua orang yang seperti gagu saja.


David membuang nafasnya dengan cukup kasar, "Dennis dan keluarganya mengalami kecelakaan Tante," balasnya David.


Bh Sanaya melototkan matanya saking tidak percayanya mendengar kabar itu, "Apa!! itu tidak mungkin Nak, kamu pasti salah orang, Tante yakin itu pasti bukan putraku Dennis," rengeknya Bu Sanaya yang tanpa aba-aba air matanya menetes membasahi pipinya.


Ibu Sanaya histeris mendengar kabar anak,menantu serta cucunya mengalami kecelakaan, bahkan beliau meraung.


"Tidak!! Anakku masih hidup, pasti ada kekeliruan di sini, putraku Dennis Ritchie Valens Edgardo!!" Jeritnya Bu Sanaya yang terduduk di atas lantai keramik kamar pribadinya itu.


Hal ini tak luput dari pendengaran anak kembarnya Cinta dan Citra. Keduanya buru-buru ke dalam kamar orang tuanya. Mereka ikut shock dan terkejut mendengar kabar dari berita itu.


Hanya dibutuhkan beberapa detik untuk jatuh cinta, tapi seumur hidup untuk membuktikannya.


"Menunggumu dalam kesabaran lebih indah bagiku dari pada mengungkapkannya. Menantimu dalam doa lebih bermakna dari pada menjelaskannya."


"apa yang harus kita katakan padanya Tuan Besar jika tahu Tuan Muda kecelakaan bersama dengan keluarga kecilnya," batinnya David.


"Ya Allah... semoga mereka selamat dalam keadaan yang baik pula," Daniel membatin.


Kedua sahabatnya Dennis Daniel dan David dibuat pusing dan khawatir dengan keadaan mereka. Hingga handphonenya yang berbunyi mampu membuat mereka tersentak kaget.


"Iya ada apa," ketusnya Daniel.


"Bos kami menemukan sebuah mobil yang jatuh ke dalam jurang dan mobil itu hancur dan juga terbakar," jelas Andi dari balik telpon.


"Apa kamu tolol atau apa sih, aku memerintahkan kalian untuk mencari Tuan Muda Dennis dan keluarganya bukan mencari mobil yang kecelakaan!!" Bentaknya Daniel yang sudah putus asa dan stres memikirkan keadaan sahabat dan keluarganya.

__ADS_1


"Tapi bos mobil itu sangat mirip dengan mobil yang dipakai oleh Tuan Muda Dennis," sanggahnya Andi.


"Apa!! Ulangi apa yang kamu katakan tadi!" Gertak Daniel shock mendengar info dari anak buahnya.


"Cepat cek mobil itu,aku akan segera ke sana!" Pintanya Daniel.


"Baik Boa perintah siap dilaksanakan!" Timpalnya Andi.


Karena jarak yang ditempuh Daniel dan David cukup termasuk terbilang jauh, jadi terpaksa ia terpaksa mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, Daniel Ardian Liem tidak akan bisa memaafkan dirinya jika terjadi sesuatu kepada Dennis dan Dania dan keluarganya.


"Ya Allah… lindungilah mereka semua," batinnya David yang raut wajahnya mulai ketakutan.


Pagi pun menyingsing, keduanya sudah tiba di lokasi kejadian jatuhnya mobil Dennis. Dia buru-buru keluar dari mobilnya.


"Gimana dengan hasil pencarian kalian?" tanya Danial kepada anak buahnya.


"Maaf Bos…" belum selesai Ando anak buahnya mengucapkan kata-katanya Ardian langsung berlari menuruni jurang itu. Beberapa anak buahnya menyusul Daniel dan David untuk mengecek langsung mobil itu.


Air matanya menetes membasahi pipinya dan ia terduduk di sekitar area mobil Dennis yang terbakar. Ia bahkan sudah seperti orang yang tidak waras setelah mengetahui kalau mobil itu adalah mobil kesayangan Dennis.


"Tidak!!!" Pekiknya Daniel.


"Itu pasti bukan mobilnya Dennis, aku yakin itu," pungkasnya David bergegas mengecek ke dalam mobil itu yang masih mengeluarkan asap yang pastinya masih panas akibat api yang melahapnya.


"Jangan bos, tunggu lah beberapa saat baru kita periksa!" Teriaknya Andi.


"Jangan kamu cegah aku untuk melihat keadaan sahabatku!" Geramnya David.


Daniel sudah emosi bahkan hampir saja memukul anak buahnya. Anak buahnya bahkan semua yang ada di sana turun tangan untuk mencegah Daniel. Ia akhirnya menyerah dan mengikuti saran anak buahnya.


Daniel dan tak kuasa menahan tangisnya setelah melihat kondisi orang yang berada di dalam mobil itu yang sangat tampak mengenaskan bahkan sulit untuk mengenali wajah dan tubuhnya yang sudah habis dilalap si jago merah. Daniel untuk kesekian kalinya berteriak dan meraung melihat kondisi Dania dan Dennis. Dia segera menghubungi orang tua Dennis pak Edgardo Muller Winata Sing Antonio.


"Assalamu alaikum Uncle!" Ujarnya David Hermansyah Wijaya yang memilih untuk berbicara langsung melalui pesawat telpon dengan Pak Edgardo Muller Winata Sing Antonio.


"Waalaikum salam, ada apa David! Kau meneleponku,tidak kah kamu lihat jam?" Sarkasnya Pak Edgardo.

__ADS_1


__ADS_2