
Ku leraikan pelukan Tantri dengan cepat. Aku masih geram dengan tingkahnya. Kalau dia hanya mengajakku kesini untuk di jadikan objek lelucon ospeknya. Lebih baik aku pergi.
"Ya Tuhan Terry, sumpah. Setelah lima tahun lebih kita bersama, ini pertama kalinya aku lihat kamu bisa marah."
Degh
Sekilas ucapan Tantri menyadarkanku. Iya, selama ini aku kehilangan ekspresiku, kenapa saat ini aku seperti tak bisa lagi menutupi itu semua.
Ku hela nafas panjang dan ku lihat wajah Tantri sendu.
"Masak sih?" tanyaku bingung.
"Iya, aku senang kamu ada perubahn Terry." ucap Tantri sambil menepuk pipiku lembut.
"Tantri." panggil seorang lelaki yang memakai almamater hijau di belakang kami.
"Terry, nanti kita ngobrol lagi ya. Aku masih ada urusan."
"Eh ... Tapi jangan jadiin aku objek lagi ya."
"Iya, kamu tenang saja, Sayang." ucap Tantri sambil mencubit pipiku.
Tantri langsung berlari menjauh, ku pegang pipiku yang sedikit kram karena tarikan itu.
Kembali aku duduk di tempat tadi.
Ini semua karena ulah Yudha dan pak Gilang, mereka mampu menghabiskan kesabaranku. Dua lelaki itu sungguh mampu menguji kesabaranku.
Tapi kalau ingat-ingat pak Gilang, setelah malam itu pak Gilang seperti menghindariku. Sikapnya menjadi dingin, saat kami berpas-pasan saja pak Gilang seperti tak ingin melihatku.
Sebenarnya apa yang di bilang pak Gilang itu serius enggak sih? kenapa pak Gilang langsung berubah begini?
Sebenarnya pak Gilang itu serius punya rasa sama aku atau hanya bualan saja?
Kalau serius, kenapa dia terus menjauh? kenapa pak Gilang tak berusaha kembali mendekatiku?
Jujur, melihat sikapnya yang begini membuat aku kecewa.
Sebenarnya apa yang aku harapkan juga?
Yang benar saja Terry? kamu mengharapakan pak Gilang beneran serius suka sama kamu?
Ya Tuhan Terry, kenapa kamu begitu naif?
Ku tepuk dahiku dan menggeleng pasrah. Tersenyum pahit karena kebodohan pikiranku yang melambung jauh.
Seseorang datang dan langsung duduk menyempitiku. Ia langsung menumpuhkan kepalanya di bahuku.
"Apa sih Yudha?"
"Kangen saja." ucap Yudha manja.
"Hem." jawabku cuek sambil membalik lembaran novelku.
"Terry, masih marah sama aku?"
"Enggak." jawabku cuek.
Yudha mengambil novel yang ku pegang dan menutupnya.
"Aku disini, bukan disitu?" ucap Yudha manja.
"Apa sih Yudha, balikin!" perintahku ketus.
Namun bukannya mau mendengarkanku, Yudha malah menarik novelku menjauh. Ku coba untuk meraihnya, saat wajahku berada di depannya, Yudha mencium keningku.
Seketika mataku membulat sempurna. Ku pukul dada Yudha keras.
"Becandanya gak lucu Yudha. Ini dimana?" tanyaku sengit.
__ADS_1
"Iya, iya." ucap Yudha mengalah.
Ku rebut dengan cepat novel yang Yudha pegang. Kembali ku cubit lengan tangannya, geram.
Ku lihat ekspresi Yudha yang menyipitkan matanya menahan sakit dari cubitanku.
Setelah melepaskan tanganku dari kulitnya, Yudha hanya mengelus lengan tangannya sambil menatapku bersalah.
Ku sapu wajahnya kasar dengan kedua tanganku.
"Kenapa muka kamu begitu?" tanyaku sambil tertawa.
"Habisnya sakit banget." jawabnya sambil mengelus lengan tangannya.
"Sakit ya, sini aku elus." ucapku bersalah.
Namun Yudha malah memukul tanganku yang mencoba menyentuh kulitnya.
"Jangan sentuh, nanti kamu cubit lagi." ucapnya ngambek.
Aku hanya melepaskan tawaku, lucu melihat ulah Yudha yang kadang sama sekali tak berubah.
"Aku punya sesuatu buat kamu."
"Apa?"
Yudha menarik ransel yang ia gunakan. Mengeluarkan sesuatu dalam ransel besarnya itu.
"Taadaaa..." ucapnya sambil mengeluarkan dua buah permen lolipop.
"Kenapa? memang aku anak kecil?" ucapku cuek.
"Sudah ambil saja, gak usah sok jual mahal." ucapnya sambil menyerahkan lolipop berwarna merah muda ke tanganku.
Aku hanya tersenyum dan menggeleng. Ku kupas kulitnya, sebelum aku masukan kedalan mulutku. Yudha menarik lolipopku dan men-tos dengan punyanya.
"Apa sih Yudha, gak jelas deh."
"Biar apa?" tanyaku sambil memasukan lolipop kedalam mulutku.
"Biar apa ya?" Yudha memutar bola matanya seakan berpikir.
Ku tepuk jidat Yudha keras. Lalu ku lepaskan tawaku melihat ekspresi wajahnya yang lucu.
"Terry."
"Hem."
"Kalau aku mau jelasin soal kejadian lima tahun lalu boleh gak?"
Ku buang pandanganku, ku tatap wajah Yudha yang saat ini menampilkan ekspresi serius. Ku hela nafasku berat, ya siap gak siap aku harus bisa menerima alasannya.
Seperti kata Bunda, jika aku ingin melangkah maju. Maka aku harus meninggalkan jejak langkahku di belakang. Ku anggukan kepalaku perlahan.
"Sebenarnya aku gak benar-benar ingin putus sama kamu, Terry." ucap Yudha serius.
"Saat itu aku dapat telepon dari Nenek. Nenek minta aku pulang karena kakek sakit. Saat Kakek sakit, Nenek ..."
"Terry." belum sempat Yudha menghabiskan kalimatnya Tantri memanggilku dan berjalan ke arahku.
"Ada apa Tant?" tanyaku saat melihat Tantri di depanku.
"Eh ... Gak apa-apa deh, kamu lagi sama seseorang ternyata." ucap Tantri sambil tersenyum kuda.
"Oh ... Iya, kenalin ini Tantri sahabat aku. Tantri, ini Yudha, dia ..." ku gantungkan kalimatku sambil menatap wajah Yudha.
"Mantan aku." sambungku lirih.
"Mantan?!" Tantri menaiki sebelah alisnya dan menatapku dengan sejuta tanya.
__ADS_1
"Hai, Yudha." Yudha menjulurkan tangannya.
"Tantri." sambut Tantri dengan senyum terpaksanya.
"Kamu mau apa tadi, bilang saja." bujukku kembali pada Tantri yang sepertinya ingin meminta bantuanku.
"Emh, itu. Kamu bisa gak belikan air di kantin buat aku dan teman-teman aku. Soalnya kami lagi gak bisa kemana-mana."
"Oh, yasudah aku belikan."
"Tapi gak apa-apa ini, Ter? aku gak enak sama kamu."
"Santai saja, Tant. Kayak sama siapa saja!" jawabku sambil meraih tas ku dan beranjak pergi.
"Makasih ya, Terry."
Aku hanya tersenyum dan berjalan menuju kantin. Langkah kaki Yudha mengikuti aku yang berjalan meninggalkannya.
"Ter, ayo tos." ucap Yudha sambil mengeluarkan lolipop dari dalam mulutnya.
"Iyuh, gak mau. Sudah ada liur kamu. Jorok."
"Liur aku gak rabies loh, Ter."
"Tetap saja jorok." ucapku sambil menyunggingkan bibirku.
Yudha menarik paksa lolipop dari dalam mulut aku.
"Tos. " ucap Yudha sambil menetukan kedua permen kami.
"Ih apaan sih Yudha kayak anak kecil tahu gak."
Yudha memberikan kembali permen itu ke tanganku. Aku hanya memengangnya, tak ingin lagi menghisap permen itu.
"Kok gak di makan lagi sih?"
"Gak mau, jorok." ucapku sedikit geli.
"Yasudah buat aku saja." ucap Yudha sambil merebut permen di tanganku dan memasukannya kedalam mulutnya.
"Iyuh, Yudha kamu jorok banget tau gak?"
"Kenapa? di komik saja sering begini kan?" ucap Yudha cuek.
"Itu komik Yudha."
"Ya memang kenapa?"
"Kalau di komik apa namanya?" tanyaku menggoda.
"Ciuman tak langsung." jawab Yudha sambil memainkan kedua alis matanya.
"Ih tapi kamu jorok Yudha." ucapku sambil bergidik geli dan berlari menjauh.
Yudha mengejar langkahku, mentoel-toel lengan tanganku. Aku menjauhkan tangan Yudha dan kembali bergidik geli.
"Yudha jorok ah, jangan sentuh aku." ucapku sambil tertawa terkekeh.
Yudha masih terus menggodaku, sambil berjalan menuju kantin Yudha terus mengangguku. Aku hanya tertawa geli, tak tahan melihat ulah Yudha yang begitu menjijikan.
Sesekali tawaku memecah, aku tertawa sampai mengeluarkan suara. Tak tahan dengan gejolak dalam perutku yang terus ingin keluar karena tawa geli yang ku tahan.
Sampai memasuki pintu kantin, aku masih belum bisa berhenti tertawa. Sampai mataku menatap seseorang yang sedari tadi terus memperhatikanku.
Seketika tawaku menghilang, saat ku lihat pak Gilang dengan jejeran dosen sedang duduk di kantin itu.
Ku lihat mata pak Gilang yang terus mengikuti pergerakanku di balik kacamata tipisnya itu.
Ku tundukan pandanganku, takut melihat mata pak Gilang yang begitu tajam di balik kaca tipis itu. Ku ambil berapa botol minuman dan langsung ku bayar.
__ADS_1
Ku ambil kantung plastik itu dan langsung berjalan keluar. Saat berada di ujung pintu. Kembali ku tolehkan pandanganku kearah pak Gilang.
Entah hanya perasaanku saja, tapi mata itu seperti menyimpan sebuah amarah yang mengerikan. Bukan seperti pak Gilang yang ku kenal. Kini lelaki dewasa itu terlihat begitu sangat menyeramkan.