Cinta Pertama

Cinta Pertama
Extra Part 3


__ADS_3

Ku genggam kedua jemariku, sedikit bergetar kedua lututku. Tak tahu bagaimana rasanya, tapi aku takut sekali.


Cklk...


Ku palingkan pandanganku kearah pintu, Gilang masuk dengan mengeringkan rambutnya yang masih basah. Berjalan dengan santai ke depan jendela kamar.


Kenapa dia malah terlihat sesantai ini? sementara aku sudah mengeluarkan keringat dingin dari tadi.


"Gilang." panggilku lembut.


"Hem." Gilang hanya melirik sekilas kearahku.


"Apa malam ini kita tidur di ranjang yang sama?"


Gilang tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Pertanyaan konyol macam apa itu, Terry?"


Ku gigit bibirku dan kembali menggenggam jemari tanganku. Ya Tuhan, kenapa rasanya setegang ini.


Gilang membuang bokongnya di sebelahku, ku mundurkan sedikit badanku dengan cepat. Gilang menaiki sebelah alis matanya, menatapku dengan sedikit bingung.


"Ada apa, Terry?" tanya Gilang lembut.


"Aku takut, Gilang." jawabku lirih.


"Takut?" tanyanya lembut. "Takut sama aku?" sambungnya.


"Bukan." jawabku sendu.


"Jadi?"


"Aku gak tahu, tapi rasanya aku cemas sekali." ku genggam kedua jemariku semakin erat.


Gilang meraih jemariku, mendekat perlahan ke arahku.


"Hey, tenanglah. Aku tidak akan melakukan hal buruk padamu."


Ku angkat kepalaku dan melihat wajah Gilang yang tersenyum dengan sendu. Ku lingkari pinggangnya dengan kedua tanganku dan menempelkan kepalaku di dadanya.


Mendengarkan detak jantungnya, sedikit membuat kecemasanku mereda.


"Maaf, Gilang. Tapi aku takut." ucapku menguatkan pelukanku.


"Apa yang kamu takuti, Terry? hanya ada aku. Atau kamu memang takutnya sama aku?"


Ku dongakan kepalaku dan kembali melihat wajah Gilang.


"Bagaimana menjelaskannya? aku hanya takut, Gilang."


Gilang meraih kedua pipiku, mencoba menatap binar bening bola mataku.


"Tenanglah, aku tak akan pernah menyakitimu, Terry. Aku akan selalu melindungimu, percayalah."


Ku jatuhkan kembali kepalaku di dada bidang Gilang. Kembali mengeratkan pelukanku di pinggangnya.


"Kamu takut atau belum siap?" tanya nya kembali.


"Takut."


"Aku tidak akan menyakitimu, aku juga tidak akan memaksamu." Gilang menarik badanku.


Meraih kedua pipiku, mencium dahiku dengan lembut.


"Malam ini cukup segini aja. Tidur gih, kamu pasti lelah kan?" Gilang menarik selimutnya.


Ku baringkan badanku dan tidur membelakangi Gilang. Terasa tangan Gilang mengelus lembut bagian samping kepalaku. Mencium rambutku lembut.

__ADS_1


"Selamat malam, Sayang." bisiknya lembut di telingaku.


Ku coba untuk menutup kedua kelopak mataku. Terasa sebuah tangan melingkari bahuku, memeluk erat dari belakang.


Selama berjam-jam ku biarkan keadaan begini. Mataku bahkan tak bisa terpejam walau sedetikpun. Ku hela nafas berat dan melepaskan pelukan tangan Gilang.


Duduk menyender di sisi kasur. Ku lihat Gilang yang sudah tertidur dengan sangat pulas.


Kenapa lelaki bisa sesantai ini? apa hanya aku yang terlalu khawatir di malam pertama kami?


Ku hela kembali nafasku dan melihat sisi kamarnya Gilang. Ini bukan pertama kali aku tidur di kasur ini, namun kenapa rasanya malam ini sulit sekali untuk tertidur.


Kembali ku alihkan pandanganku ke arah Gilang. Ku perhatikan wajah Gilang yang saat ini sudah tertidur pulas. Ku tumpuhkan sikuku di atas bantal dan menatap wajah Gilang dengan lekat.


Aku baru menyadari, bahwa batang hidung Gilang sangat mancung saat di lihat dari samping. Mancung dan juga ramping.


"Ya Tuhan, demi apa? aku menikahi Dosenku sendiri?" lirihku sendiri.


Ku sentuh ujung hidung mancung Gilang dengan jariku. Lalu turun ke atas bibir tipisnya. Tahi lalat di bawah mata kanannya itu yang membuat aku tak tahan.


Ku hela nafasku dan mendekat perlahan, ku cium ujung hidung Gilang dengan lembut.


"Selamat malam." bisikku lembut.


Ku tarik selimutku dan kembali ingin merebahkan badanku. Namun tangan Gilang mencengkram lengan tanganku.


"Aku sudah menahan diri, tapi kamu terus menggodaku." ucap Gilang sambil duduk diatas ranjang.


"Kamu bohongi aku? kamu gak tidur Gilang." ucapku kesal.


"Kita coba tidur berdua." Gilang meraih kedua ujung bahuku, menaruh aku di bawah dekapannya.


"Aku bilang aku tak akan memaksamu, tapi kenapa kamu malah menggodaku? hem?" Gilang menaiki sebelah alis matanya.


"Aku gak bermaksud menggodamu."


"Jadi?"


"Selamat malam?" tanya Gilang tak percaya.


"Ini sudah malam, ayo tidur." ku dorong badan Gilang yang berada diatasku dan menarik guling. Tidur membelakangi Gilang.


"Terry, apa kamu menolakku?"


Ku balikan badanku dengan cepat, melihat Gilang yang sedang menumpuhkan kepalanya diatas satu tangannya. Raut wajahnya berubah seketika.


"Gilang maaf, aku gak bermaksud menolak kamu." ucapku bersalah.


"Aku tahu, kamu masih belum nyaman sama aku." ucap Gilang melemah.


Gilang mengubah posisi tidurnya, membelakangi aku. Terdengar helaan nafas dari bibirnya. Ku tumpuhkan daguku diatas bahu Gilang dan mengelus kepalanya lembut.


"Gilang kamu marah sama aku?" tanyaku bersalah.


"Enggak, aku hanya ingin tidur."


"Gilang, aku bukan gak nyaman sama kamu, aku hanya takut. Aku terlalu cemas, aku khawatir kalau aku akan mengecewakanmu malam ini."


Gilang menaiki sebelah alis matanya, melirik kearahku.


Ku ubah posisiku kembali duduk diatas kasur. Gilang memindahkan kepalanya keatas pangkuanku. Memeluk pingangku dengan kedua tangannya.


"Memang kamu akan melakukan apa sampai takut membuat aku kecewa?" tanya Gilang membenamkan wajahnya diatas pangkuanku.


Ku belai helaian rambut hitamnya dengan jemariku. Ternyata Gilang bisa juga bersikap manja seperti ini.


"Terry, nikah sama kamu saja sudah membuat aku sangat bahagia. Aku gak pernah meminta kamu untuk melakukan semuanya dengan sempurna, tapi cobalah untuk menerima, apapun yang akan terjadi."

__ADS_1


"Gilang kamu selalu melakukan semuanya untukku dengan sangat baik. Bagaimana jika aku tak bisa membalasnya dengan baik juga?"


"Aku tak pernah meminta balasan apapun, Terry. Yang aku mau kamu hanya menerima aku, seperti apapun diriku, terimalah dengan hatimu."


Ku gulum senyumku dan kembali mengelus kepala Gilang dengan lembut.


"Gilang."


"Hem."


"Aku kepikiran bagaimana nanti saat di kampus?"


"Bagaimana apanya? memang mau bagaimana?"


"Masih banyak mahasiswi yang suka sama kamu kan? nanti kalau mereka gak suka sama aku gimana?"


"Siapa yang berani nyakiti kamu, berarti dia juga harus berani menghadapi aku."


Ku ambil kepala Gilang dan mencoba membuat ia menatapku.


"Gimana kalau di kampus kita masih seperti mahasiswi dan Dosen biasa?"


"Ah ... Gak mau." jawab Gilang spontan.


"Kenapa?"


"Aku mau seluruh kampus tahu, kalau kamu itu punya aku." jawabnya, kembali membenamkan wajahnya di pangkuanku, mengeratkan pelukannya lagi.


Ku lepaskan tawaku dan menggelengkan kepalaku pasrah.


"Terry." panggil Gilang dengan mengubah posisi nya menjadi duduk.


"Hem."


"Kita pindah kerumah kita sendiri, yuk."


"Memang kamu sudah ada rumah?"


"Belum sih, tapi kan bisa ambil perumahan dengan pembayaran nyicil. Gak harus besar juga, yang penting ada buat kita berdua berteduh."


"Apa ini gak terlalu cepat Gilang? kita baru juga nikah. Dan hanya kamu yang bekerja, kita masih butuh banyak uang kan."


"Jadi kamu ada niat buat kerja setelah lulus kuliah, Terry?" tanya Gilang sendu.


"Gaji aku memang gak banyak, tapi aku gak mau lihat kamu bekerja. Kita kan bisa hidup sederhana aja." ucap Gilang dengan megerutkan dahinya.


Ku lepaskan senyumku dan meraih kedua belah pipi Gilang, menyentuh ujung hidungnya dengan ujung hidungku.


"Kalau kamu mau begitu, yasudah. Mau sederhana ataupun gak punya apa-apa sekali pun, asalkan kamu bersedia untuk buat aku selalu bahagia. Aku terima." jawabku lembut.


Gilang tersenyum dan mencium dahiku lembut.


"Makasih ya, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa buat kamu selalu tertawa bahagia."


Ku raih sebelah pipi Gilang dan mengelusnya lembut dengan Ibu jari. Asalkan bersamamu Gilang, keadaan seperti apapun akan menjadi lebih tenang dan hangat.


Karena yang membuat pernikahan kita bahagia itu bukan uang ataupun hartamu. Tapi karena sikap dan caramu memperlakukanku seakan-akan hanya akulah yang kamu miliki.


Aku bahagia bagaimanapun kamu membawaku mengarungi hidup ini. Asalkan ada kamu, maka aku akan kuat menjalani semua ini, walau berat sekalipun, aku tak peduli.


Karena yang membuat aku kuat bukan harta yang datang dari tanganmu. Tetapi pegangan tanganmu yang tak pernah terlepas dari genggaman tanganku, sesulit apapun keadaanku.


Kamulah yang selalu mengenggam tanganku, lebih erat dari siapapun. Bahkan saat aku berlindung sendiri di balik duri. Kamu adalah orang yang tetap akan datang untuk memelukku walaupun kamu tahu, kamu akan terluka.


Karena kamu adalah, sesuatu yang tetap akan bersinar walau tanpa cahaya.


Ku tarik wajah Gilang perlahan, ku cium bibirnya lembut. Setelah beberapa lama, ku lepaskan dan kembali tersenyum manis.

__ADS_1


"Aku menyanyangimu, Gilang."


__ADS_2