Cinta Pertama

Cinta Pertama
50 (Last)


__ADS_3

"Sudah banyak hal yang kamu lalui dengan dia, kamu juga menunggu dia sangat lama, bukan? saatnya kamu bahagia Terry. Saya akan tetap senang walaupun bukan saya orangnya."


"Lalu, bagaimana dengan perasaan Bapak?" tanyaku kembali.


"Jangan pikirkan saya, selama kamu bahagia, saya akan baik-baik saja."


"Kenapa, Pak? kenapa Bapak gak berusaha menahan saya? bukankah Bapak bilang, Bapak sayang sama saya?" tanyaku sedikit kecewa.


Pak Gilang kembali tersenyum, ia kembali menumpuhkan kedua tangannnya di atas tembok pembatas.


"Buat saya, kenyaman kamu lebih penting, Terry. Buat apa saya menahanmu jika hatimu bukan milik saya? buat apa saya memintamu ada di samping saya kalau kamu sama sekali gak bahagia saat bersama saya?"


"Bagaimana Bapak tahu saya gak bahagia saat bersama Bapak?"


"Jangan bohongi diri kamu sendiri, Terry. Saya tahu selama ini kamu bingung sama hati kamu sendiri." pak Gilang menggelengkan kepalanya.


Bibirnya terus tersenyum namun wajahnya terus menampilkan ekspresi luka.


"Saya hanya melihat kamu tertawa bahagia saat bersama dia, kamu menangis sangat terluka karena dia. Jika kamu tidak mencintai dia, kamu tak akan seperti itu karena dia."


"Tapi, Pak..."


"Jangan katakan apapun lagi, Terry. Saat ini rasa saya ke kamu itu sudah cukup, saya tak pernah meminta lebih, pergilah. Kejar cintamu sebelum terlambat."


"Bagaimana mungkin Bapak sanggup ngelakuin ini semua? setiap orang ingin memiliki cinta mereka."


"Benar cinta itu buta, benar cinta itu egois Terry. Tapi saya tak ingin menutup mata untukmu, merelakanmu untuk bahagia bersama orang lain itu memang sakit."


Pak Gilang kembali merubah posisinya, kembali berhadapan denganku. Memegang kedua ujung bahuku.


"Tapi, menahanmu agar tetap bersamaku itu juga sulit, apalagi kalau harus melihatmu terluka karena terus berada disisiku, itu jauh lebih sakit."


Aku tersenyum lega, perlahan pegangan tangan pak Gilang mulai lepas. Ku balikan badanku segera dan berlari meninggalkan pak Gilang.


Langkahku kembali terhenti, ku balikan badan kearah pak Gilang. Pak Gilang masih berdiri di tempat yang sama, kembali aku berlari kearahnya, ku peluk badan Pak Gilang dari belakang. Pak Gilang menghela nafasnya berat, lalu bibirnya kembali tersenyum.


"Makasih, Pak." ucapku lirih.


"Makasih Bapak sudah mengerti dan memahami isi hati saya." sambungku kembali.


Aku meleraikan pelukanku dan berlari menuju alamat yang tertera pada kartu undangan itu.


Ku setop sebuah ojek yang melintas untuk bisa menemukan alamat lebih cepat. Sebelum acara di mulai, aku ingin berbicara pada Yudha.


Ku lirik jam di tangan kananku, ku minta ojek itu untuk melajukan motornya lebih cepat. Setelah melewati padatnya suasana kota sore hari, ojek itu memberhentikan motornya di depan sebuah rumah yang bisa di bilang tak terlalu mewah.


Dengan terburu, aku mengambil dompetku. Tak sengaja aku menjatuhkan lipatan kertas dari dalam dompetku.


Segera ku bayar ongkos ojek itu dan ku pungut kembali lipatan kertas itu. Brosur penerimaan mahasiswa baru, yang dilipat menjadi kecil oleh pak Gilang.


Aku sedikit tersenyum saat memungut lipatan kertas itu. Lipatan kecil yang hanya menampilkan wajah pak Gilang saja.

__ADS_1


Sungguh, kamu lelaki yang sangat baik, Pak. Andai aku lebih cepat memahami isi hatiku, mungkin aku tak akan menyakitimu.


Ku buka lembaran brosur itu menjadi ke ukuran semula, ku tatap wajah pak Gilang dalam foto itu yang tersenyum sendu.


Manis, manis sekali. Kamu lelaki yang sangat manis, kini hatiku telah memilih satu. Aku harap aku tak melukai siapapun.


"Terry." panggilan itu membuat pandanganku teralih.


"Kamu disini?" tanyanya senang sambil berjalan mendekatiku.


Aku hanya tersenyum bahagia, ku ikuti langkahnya dan berjalan mendekat kearahnya.


"Ayo masuk, akan aku batalin acara ini." tariknya langsung.


"Tidak, aku tidak akan membatalkan acara ini. Akan ku sematkan cincin itu padamu." sambungnya sambil meraih kedua pipiku.


"Yudha." panggilku lembut.


Yudha mengalihkan pandangannya padaku. Aku tersenyum bahagia menampilkan sederet jejeran gigiku padanya. Perlahan aku berjalan mendekatinya dan ku peluk badannya erat.


"Aku sangat merindukanmu, Yudha." ucapku sambil mengeratkan pelukanku.


******


3 bulan kemudian.


Ku nikmati suasana sejuk sore hari. Ku tatap jalanan yang saat ini sedang di guyur air sedari tadi. Rasa dingin mulai menjalar di setiap sendi tulangku.


Setelah semua luka dan liku yang ku jalani, kini akhirnya aku tahu. Bahwa hatiku telah memilih, dan aku senang lelakinya adalah kamu.


Kembali ku langkahkan kaki menuju bibir jalan. Menutup kedua kelopak mataku, merasakan tetesan air hujan yang menerpa wajahku.


Saat ini hatiku begitu tenang, setelah semua luka yang terasa panjang dan melelahkan yang kualami. Kini semua terasa sangat manis.


Ku rasakan sebuah jemari meraih tanganku. Menggenggam erat jemariku. Ku buka mataku perlahan dan ku lihat lelaki yang saat ini berdiri di sampingku.


Wajahnya tersenyum sangat manis, ku balas senyuman itu dan melingkari lengan tangan kekarnya.


"Dingin?" tanyanya lembut.


Aku hanya mengangguk dan memeluk lengan tangannya lebih erat.  Lelaki itu menarik ujung hidungku, kuat. Ku pukul tangan itu dengan sedikit keras. Membuka tarikan tangannya di ujung hidungku.


"Sakit." ucapku ketus.


Lelaki itu hanya tersenyum dan mengelus pucuk kepalaku lembut. Menjatuhkan kepalaku di dalam dadanya yang bidang.


"Aku senang saat ini kamu berada dalam dekapanku, Terry." ucapnya lembut.


Ku cubit dadanya yang bidang, ku lihat ekspresinya yang menyipitkan matanya menahan sakit yang ku ciptakan.


"Kok di cubit sih?" tanyanya lembut.

__ADS_1


"Gombal." ucapku sambil berjalan duduk di kursi panjang halte.


Di ikuti langkah kakinya yang menyusul, duduk menyempiti aku. Ku tumpuhkan kepalaku di atas bahunya. Kembali jari itu menarik ujung hidungku.


"Manja." ucapnya geram.


"Kenapa memangnya? gak boleh?" tanyaku sambil membelakanginya.


Ku lipat kedua tanganku di dada, seketika bibirku mengerucut. Kurasakan sebuah tangan melingkari tubuhku, memelukku erat dari belakang.


Lelaki itu menumpuhkan dagunya di bahuku.


"Apapun itu, untuk kekasihku." ucapnya lembut di telinga kananku.


Kembali aku tersenyum, seketika hawa dingin terpaan hujan menjadi hangat. Tak bisa memang aku marah pada lelaki ini. Rasa hangat yang selalu ia hadirkan, telah menjebak aku, dan membawaku kedalam ikatan indah ini.


"Aku mencintaimu, Terry." sambungnya masih memelukku erat.


"Aku, enggak." ucapku sambil melepaskan pelukannya dan mentoel ujung hidung mancungnya.


"I love you." sambungnya.


"More." jawabku singkat.


"Kok more aja sih?"


"Jadi?"


"Bilang, i love you more." ralatnya ketus.


"More." jawabku sambil tersenyum


Kembali lelaki itu menarik ujung hidungku.


"Dasar." ucapnya geram.


Aku hanya tersenyum dan melingkari kedua tanganku di pinggangnya. Kembali memeluknya dengan manja. Lelaki itu mengambil daguku, mendongakan kepalaku.


Dengan perlahan, ia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Menyentuh bibirku dengan bibirnya. Kembali ku cubit dadanya keras.


"Dasar, ini dimana?" ucapku jutek.


"Kenapa? lagian ini hujan, dan kita cuma berdua."


"Tapi ini di tempat umum, Sayang." jawabku geram.


Seperti tak peduli pada ucapanku, tangannya malah menarik pingangku agar lebih menempel padanya.


"Memang kenapa?" tanyanya sambil memainkan kedua alis matanya.


"Kan kamu sudah menjadi istriku."

__ADS_1


"Cherry."


__ADS_2