Cinta Pertama

Cinta Pertama
Extra Part 4


__ADS_3

Ku letakan kepala diatas meja, sudah beberapa kali bibirku menguap karena lelah. Entahlah, akhir-akhir ini rasanya mudah sekali lelah.


Mataku tertuju pada punggung badan Gilang yang sedang duduk santai memeriksa beberapa kertas kuis mahasiswanya. Memainkan pulpen ditangannya.


Ku angkat kepalaku dan melihat hasil tugas laporanku yang masih selesai setengah. Ya Tuhan, aku lelah.


Ku hela nafasku dan beranjak dari kursi. Berjalan mendekati Gilang, ku tumpuhkan kedua tanganku di bahu Gilang.


"Gilang." panggilku lembut.


"Iya." jawab Gilang masih sibuk pada kertas tugasnya.


Ku tumpuhkan daguku diatas salah satu bahu Gilang.


"Bantu aku selesain laporan penelitian di lab tumbuhan ya." pintaku manja.


Gilang melirik kearahku.


"Biasanya juga kamu buat sendiri dan nilainya bagus." jawab Gilang lembut.


"Akhir-akhir ini aku lelah sekali Gilang. Bantu aku ya."


"Kalau aku yang buat, gak adil buat mahasiswa yang lain dong."


"Aku kan pengecualian, Gilang."


Gilang menetukan pulpennya ke dahiku.


"Ah." ku pegang dahiku yang sakit karena ketukan Gilang.


"Jangan karena aku suami kamu, kamu bisa manfaati aku buat naiki IP kamu ya, Terry."


"Aku gak minta kamu naiki IP aku, sebelum nikah sama kamu juga IP aku sudah cukup tinggi."


"Jadi?" tanya Gilang ketus.


"Aku cuma minta kamu bantuin aku buat laporan Gilang. Aku kelelahan."


"Terus kalau aku yang buat, apa itu adil buat yang lain? dirumah kamu istri aku, di kampus kamu masih mahasiswi aku. Jadi buat sendiri." jawab Gilang tegas.


Ku hela nafasku dan berjalan ke kasur. Ku rebahkan badanku dan menutupi seluruh badanku dengan selimut.


"Mau marah juga gak ngaruh." ucap Gilang datar.


"Siapa yang marah? memang gak boleh kalau aku tidur duluan?" tanyaku ketus.


"Ya boleh, tidurlah. Istirahat yang baik, biar kamu gak gampang lelah."


Ku tendang selimut yang ku gunakan dengan keras, ku ulangi beberapa kali, kesal melihat Gilang yang sama sekali tak peduli dengan kelelahanku.


Ku buka lemari baju, dan memilih beberapa baju yang mau ku kenakan ke kampus pagi ini. Ya ampun, rasanya lelah sekali kuliah akhir-akhir ini. Banyak tugas dan juga pertemuan, mana sebentar lagi pergantian semester lagi.


Semester depan akan lebih sibuk karena harus menyiapkan KKN. Ya Tuhan, berilah aku kekuatan.


Ku ambil beberapa buku di rak buku milik Gilang. Aku siapin laporan di perpustakaan sajalah. Mumpung siang kosong. Ku rapikan kertas laporanku semalam, mataku teralih pada kertas dengan tulisan tangan Gilang.


Gaya saja gak mau bantu aku, tapi ternyata dia buatin juga walau di kertas yang berbeda. Aku tahu, Gilang masih sayang sama istrinya ini.


Ku lihat Gilang yang masih tertidur di atas kasurnya. Perlahan aku mendekat dan berjongkok di sebelahnya. Ku tarik dagu Gilang, membuka bibirnya yang tertutup rapat.


"Jangan menggoda aku, sepagi ini Terry." ucap Gilang tanpa membuka matanya.


Ku peluk badan Gilang yang masih tertidur, menempelkan kepalaku diatas dadanya, mengeleng-gelengkan kepalaku, geram melihat tingkahnya.


Gilang mengangkat kedua tangannya, memeluk badanku dengan erat.


"Ada apa? kenapa menggodaku sepagi ini?" tanyanya tanpa membuka mata.


"Makasih."


"Cuma makasih saja? aku buat itu semalaman loh."


"Memang kamu mau apa? aku kan gak punya apa-apa."


Gilang meraih daguku, mendongakan kepalaku.


"Aku yakin kamu pasti tahu mau aku apa?" Gilang mengedipkan satu matanya.


Aku tersenyum dan mengecup bibirnya lembut.


"Ayo bangun, aku ada kelas pagi, hari ini. Aku gak mau naik bis, halte jauh dari sini."


"Baiklah, kamu gak boleh naik bis, kan ada aku yang siap nganter kamu kemana saja."


Gilang menurunkan aku di depan pagar kampus. Ku raih tangannya dan mencium punggung tangannya.


"Gilang, aku kelas cuma sampek siang. Tapi aku mau ngobrol sama Tantri selesai kelas. Bolehkan?"


"Yasudah." Gilang menarik kepalaku dan mencium dahiku lembut.


"Aku ada di kampus nanti siang. Jangan kangen ya sebelum aku datang."


"Apaan sih, gak bakalan kangen."


"Iya lah, tunggu ada tugas baru kangen sama aku."

__ADS_1


"Ha ha ha. Kamu memang pintar Gilang." jawabku sambil tertawa.


"Yasudah, aku pulang ya."


"Hati-hati."


Ku keluarkan kertas tulisan tangan Gilang dan menyalinkan ke lembaran laporanku. Maaf ya teman-teman, aku bukan aji mumpung hanya terlalu lelah mengurus suami sekalian kuliah.


Tak lama ponselku berdering keras. Ku angkat dengan cepat saat melihat namanya.


"Terry, dimana?" tanya Tantri di seberang sana.


"Aku di perpustakaan gedung MIPA."


"Aku harus pulang sekarang, gak bisa ngobrol sama kamu."


"Emh, yasudah." jawabku kecewa.


"Maaf Terry, tapi ada urusan yang mendesak. Aku harus pulang."


"Iya deh, aku gak apa-apa."


Ku lihat kertas yang baru ku salin setengah, ku hela nafasku dan memasukannya kedalam tas.


Lebih baik aku pulang jugalah, dari pada disini sampai sore gak ngapa-ngapain juga.


Ku ketuk daun pintu ruangan Gilang.


"Masuk." perintahnya dari dalam.


"Gilang, antar aku pulang." pintaku saat memasuki ruangan Gilang.


"Kok pulang? gak jadi ngobrol sama Tantri?"


"Enggak." jawabku lemas.


Gilang melirik ke jam tangannya, lalu menatapku di depan pintu.


"Tapi kelas di mulai lima belas menit lagi, aku gak sempat ngantar kamu pulang."


"Yasudah, aku pulang naik ojek aja." ku balikan badan dan membuka daun pintu kembali.


Dengan cepat Gilang meraih tanganku, menutup pintu, menumpuhkan tangannya di sisi tembok. Mengurung aku dalam dekapannya.


"Kok pulang? tunggu kelas aku selesai, kita pulang sama-sama." ucapnya sambil tersenyum manis.


Ku letakan kepalaku di atas lengan tangan Gilang yang sedang tertumpuh di dinding.


"Aku lelah, pingin tidur, Gilang." jawabku pasrah.


"Wajah kamu kok pucat sekali? kamu sakit Terry?"


"Aku cuma kelelahan, Gilang. Dua minggu ini kelas aku terus sampai sore."


Gilang menarik tanganku, menuntun aku duduk di sofa.


"Istirahat dulu disini, nanti pulang sama aku."


"Nanti kalau ada mahasiswi yang masuk gimana?"


"Aku kunci pintu dari luar ya, aku khawatir kamu kenapa-kenapa di jalan."


"Terserah."


Ku rebahkan badanku diatas sofa, menutup mataku yang semakin berat rasanya.


Ku buka mataku yang semakin panas terasa. Ku lihat Gilang yang berjongkok di depanku, menatapku dengan sendu.


"Gilang, dari kapan kamu selesai?"


"Satu jam yang lalu." jawabnya lembut.


"Jadi kenapa gak banguni aku?"


"Kamu demam Terry, kita kerumah sakit ya?"


Ku raih dahiku, dan merasakan suhunya. Pantas saja mataku pun terasa sangat panas.


"Kita pulang aja ya Gilang, aku cuma kecapek an."


"Yasudah, kalau mau kamu begitu. Ayo bangun."


Gilang membantu aku bangkit, memakaikan jaketnya kebadanku. Dengan merangkul bahuku, Gilang berjalan dengan cepat ke parkiran kampus.


"Terry, mana tanganmu?" tanyanya saat aku berada di boncengan motor.


Ku lingkari pinggang Gilang dengan kedua tanganku. Gilang menarik kedua ujung tangan jaketnya, mengikat kedua ujung tangannya.


"Kok di ikat, tanganku di dalam."


"Biar kamu gak jatuh, kalau kamu gak sanggup bilang aku ya."


"Emh." jawabku sambil meletakan kepala di atas bahunya.


Dengan cepat Gilang melajukan motornya, menembus jalan sore hari yang mulai petang.

__ADS_1


Dengan sigap Gilang mengangkat badanku saat sampai di rumah. Meletakan aku dengan lembut diatas kasur.


Kembali mataku terpejam karena rasa sakit di kepalaku yang kian berat.


Kurasakan tangan dingin menyentuh pipiku. Ku buka mataku yang tak bisa lagi terbuka karena rasa panas yang semakin meninggi.


"Sayang, makan dulu." Gilang menarik badanku untuk bisa duduk diatas kasur.


"Gilang aku cuma pingin tidur."


"Gak boleh tidur kalau gak makan."


"Tapi aku gak lapar."


"Gak mau dengar alasan, ayo makan."


Dengan memaksa, Gilang menyuapi makanan kedalam mulutku.


"Habis makan kita kerumah sakit ya."


"Gak mau, aku cuma mau tidur."


"Tapi badan kamu panas, Sayang."


"Gak mau."


Gilang menghela nafasnya dan meletak piring diatas nakas. Tangannya meraih dahiku.


Ku tarik pinggang Gilang untuk mendekat, memeluk badannya yang hangat.


"Gilang kalau aku mati gimana?"


"Ngomong apasih, Terry?"


"Kalau aku mati kamu nikah lagi gak?"


Gilang melepaskan senyumnya dan menggelengkan kepala.


"Segitu sayangnya sama aku? sampek sakitpun yang di pikiri aku nikah lagi atau gak?"


"Ih aku serius." Ku cubit dada Gilang denga keras.


Gilang melepaskan pelukanku dan meraih kedua pipiku.


"Terry, jangan pikiri hal yang akan menyakiti dirimu sendiri. Jangan pikiri hal yang tak perlu kamu pikiri." ucap Gilang lembut.


"Yang harus kamu pikiri adalah, bagaimana kamu harus cepat sembuh dan hidup lebih lama. Agar kamu bisa tetap berada di samping aku lebih lama juga." sambungnya lembut.


"Berarti kalau aku mati kamu tetap nikah lagi dong."


Gilang kembali tersenyum, ibu jarinya mengelus pipiku dengan lembut.


"Bagaimana kalau kita mati berdua?" tanya Gilang sendu.


Ku naiki sebelah alis mataku, ku tatap wajah Gilang yang tersenyum lembut. Perlahan Gilang mendekatkan wajahnya, mencium bibirku dengan lembut.


"Biar nular, jadi kalau kamu mati, aku juga mati."


"Ah ... Gilang." ku peluk kembali badan Gilang.


"Aku menyangangimu Terry, bahkan saat kamu tak sadar akan perasaanku sekalipun, aku tak pernah berpikir untuk meninggalkanmu. Kenapa kamu berpikir untuk meninggalkanku secepat ini?"


"Kan setiap manusia pasti mati."


"Tapi apa kamu rela pergi dan meninggalkan duda muda yang keren kayak aku? hem?"


"Ah ... Gilang gak mau."


"Kalau begitu jangan pikirkan untuk mati."


"Ih aku gak mau jawaban itu."


"Jadi mau aku jawab seperti apa?"


"Janji untuk gak nikah lagi."


Gilang kembali tertawa geli, kali ini tawanya pecah sampai ia menangkupkan tangannya di depan mulut.


"Terry, Terry. Bagaimana kamu bisa berpikir aku akan menikah lagi?" ucap Gilang menghentikan tawanya.


"Kalau tanpa kamu, bahkan hidupku tak punya arti lagi."


Ku sungging bibirku dan mendongakan wajahku, melihat wajah Gilang.


"Jangan berpikir bahwa aku akan meninggalkanmu, Terry. Bahkan jika semua orang meninggalkanmu sekalipun, aku adalah orang yang tetap akan datang meminta dirimu."


"Kenapa?"


"Karena bagiku, kamu adalah mimpi indah yang menjadi kenyataan."


Ku gulum senyumku dan menggigit bibir bawahku, bahkan setelah menikahpun wajahku masih terasa hangat saat Gilang mengatakan hal itu.


"Saat kamu ada di sampingku, Terry. Bahkan mimpi indah dalam tidurku pun tak seindah saat waktuku bersamamu."


Ku tutup wajahku dengan kedua tanganku.

__ADS_1


"Ah ... Gilang." teriakku malu.


__ADS_2