
Setelah dari umah sakit tepatnya di makam neneknya Nyonya Margareta. Mereka memutuskan mereka melanjutkan perjalanan ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi mereka berdua.
Setelah dari tujuan mereka itu, mereka memutuskan untuk pulang saja karena ingin packing barang-barang yang akan mereka bawa. Tapi di dalam perjalanan, Dennis Ritchie Valens Edgardo melihat seseorang yang membuatnya kaget dan ingin mengejar orang itu untuk memastikan apa penglihatannya tidak salah. Tepatnya di lampu merah menyala ia, melihat ada seseorang yang selama ini ia tidak duga.
Dennis melihat David Hermansyah Wijaya dengan adiknya Citra Kirana Ariesta Edgardo bermesraan di dalam mobil mereka.
Usahanya gagal dan karena berhubung sudah lampu merah menyala sehingga semua pengendara mobil dan lainnya harus berhenti. Dennis penuh amarah memukul setir mobilnya. Dan membuat Dania istrinya heran dengan tingkah laku suaminya itu.
Dania memegang punggung tangannya Dennis, "Ada apa Mas?" Tanya Dania setelah Dennis memukul setir mobilnya dengan cukup kuat.
"Tidak apa-apa kok Sayang, kamu tidak perlu khawatir," elaknya Dennis yang berusaha menutupi kegugupannya dan kemarahannya itu.
Dennis terpaksa berbohong menutupi apa yang dilihatnya, karena dia tidak ingin membuat Dania cemas dan khawatir dengan hal tersebut.
"Kenapa mereka menutupi hubungan mereka dari kami, apa David dan Citra mengaggap aku bukan saudaranya," umpatnya Dennis yang berusaha terlihat tenang di hadapan Istrinya itu.
Dania mengerti dan mengetahui dengan sangat kalau telah terjadi sesuatu kepada suaminya," aku yakin ada sesuatu yang terjadi dengan Mas Dennis, tapi apa jadi kepo kan kalau seperti ini," Dania membatin.
Tetapi itulah Dania yang tidak bisa kepo walaupun sangat ingin tahu dengan urusan suaminya atau orang lain jika orang tersebut tidak ingin bercerita. Ia akan menunggu Dennis sendiri yang bercerita langsung tanpa dipaksa olehnya. Dalam hatinya muncul berbagai pertanyaan yang ingin ia ketahui.
"Nanti saja bertanya kalau mas Dennis sudah aman dan santai," gumamnya Dania sambil menaruh kepalanya di pundaknya Dennis.
__ADS_1
Dennis melajukan laju mobilnya setelah lampu hijau menyala. Beberapa saat kemudian, mobil mereka memasuki pekarangan rumahnya.
Pihak Security rumahnya Dennis Pak Rusdi segera membukakan pintu pagar rumah mereka setelah menyadari jika yang datang adalah pemilik rumah sekaligus majikannya. Dania segera ke dalam rumahnya dan naik ke tangga menuju lantai atas rumahnya. Karena kamar Dania berada di lantai atas.
Dania mengambil dua koper besar, satu untuk pakaiannya dan satu untuk suaminya. Dania membawa banyak pakaian tebal seperti jaket,celana panjang,syal dan kaos tangan dan kaki. Karena di Kanada sekarang musim dingin yang cukup ekstrim.
Dania sudah diwanti-wanti oleh suaminya untuk tidak membawa terlalu banyak pakaian. Karena menurut Dennis mereka bisa membeli pakaian setelah sampai di Kanada dan juga Prancis Paris negara mode.
Daniaa tidak lupa membawa berbagai macam jenis makanan ringan dan krupuk yang tidak ada di Paris, buatan dan makanan asli Indonesia. Karena semua itu adalah makanan yang paling disukai oleh suaminya dan juga dia sendiri ini yang paling penting.
Sore Harinya, Dania Andira Aulia Ramadhani dan Denis Richie Edgardo bertolak dari rumahnya menuju kediaman utama keluarga Edgardo Muller Winata Sing Antonio untuk menjemput kedua anak-anaknya dan sekalian pamitan kepada Mama mertuanya Bu Sanaya.
Mobil mereka memasuki pekarangan rumahnya yang terbilang luas. mereka disambut oleh Security rumah kediaman kedua orang tuanya Dennis dengan penuh kehangatan. Daniabaru mengayunkan tangannya ke arah pintu tapi, tangannya Denis belum menyentuh pintu itu sudah terbuka dengan lebar dari arah dalam.
"Assalamu Alaikum papa yang paling cakep se dunia," ucap salam icha sambil menghujani ciuman wajah Denis dan Dania bergantian dengan adiknya Fina.
"Waalaikum salam anak ayah yang paling super duper cantiknya selangit," balas Denis kepada putrinya.
"Kalau Puteri Ayah gimana, apa baik-baik saja atau gimana kok gak mau mendekat ke arah papa, kamu baik-baik saja kan?" tanyanya Dennis.
"Icha kan gak mau ganggu papa dengan Kakak dan papa lakukan jadi saya hanya diam saja seraya nunggu giliran," elaknya Dafina.
__ADS_1
"Ooh gitu yah Nak, anak papa sangat perhatian dan pengertian banget yah, papa sangat bahagia melihat kalian berdua bahagia," pungkas Dennis penuh suka cita.
Ibu Sanaya berjalan ke arah mereka dan menyuruh mereka masuk ke dalam.
"Kita lanjutkan ceritanya di dalam saja yah Nak," pintanya mama Sanaya ibu mertuanya Dania.
Mereka berjalan menuju ruang tengah. Dan membahas tentang rencana keberangkatan mereka ke Paris Perancis dan juga Kanada.
"Icha dan Fina tidak apa-apa kan kami tinggalkan sementara waktu bersama nenek dan kakek?" Tanya Dania.
"Saya tidak masalah kok Ma, yang penting Papa dan Mama senang dan bahagia itu lebih dari cukup kami berdua," ucap Icha yang selalu dewasa menanggapi setiap perkataan orang lain.
"Kalau Fina gimana sayang apa setuju dengan perkataan dari kakak kamu?" tanya Dennis yang ikut menimpali percakapan mereka.
"Kalau Fina tidakak masalah loh Ma, yang paling penting untuk aku Mama bawa pulang dede bayi pengganti dede bayi yang telah pergi," timpalnya Fina sambil memeluk tubuh Mamanya.
"Insya Allah, doakan saja kami sayang, semoga pulangnya kami bawa kabar baik untuk kalian semua," tuturnya Dania yang tersenyum tipis.
Setelah beberapa saat kemudian pasangan suami istri itu pun pamitan kepada anak-anaknya dan Mama Sanaya. Mereka ke Blbandara hanya berdua saja karena Mama Sanaya dan si kembar akan menghadiri pengajian yang diadakan di salah satu mesjid yang dibangun oleh Pak Edgardo kakeknya si kembar.
Sesudah shalat magrib, tepatnya jam tujuh malam pesawat yang ditumpangi oleh Dennis dan Dania bertolak meninggalkan Bandara internasional Soekarno Hatta menuju Bandara internasional Incheon Korea Selatan.
__ADS_1
Kedua pasutri itu lebih memilih naik pesawat jomersial dari pada naik pesawat pribadi keluarganya. Dania ingin menikmati kebersamaan mereka. Dania juga Ingin merasakan gimana rasanya baik pesawat dengan orang banyak yang selama ini belum pernah Ia rasakan.
"Ya Allah... semoga saya bisa hamil lagi karena kemarin calon baby kami harus pergi untuk selamanya," Lirihnya Dania yang menyeka air matanya.