Cinta Pertama

Cinta Pertama
44


__ADS_3

"Aku, baik. Kak Evan." ucapku dengan tersenyum kaku.


"Selamat ya Terry, aku ikut bahagia buat kamu."


"Terima kasih." jawabku sendu.


"Kalau gitu aku permisi cari makan dulu ya, Terry, kak Evan." Tantri langsung berlari menjauh.


"Eh, Tantri." panggilku.


"Kenapa sih? gak suka banget deket sama aku? masih gak nyaman ya sama aku?" tanya Kak Evan lembut.


Ya jelas aku gak nyaman, kak Evan kalau mau jumpa aku hanya untuk menambahi pilihan buat aku, lebih baik kita gak perlu bertemu.


Aku sudah cukup pusing dengan dua makhluk itu, please kak Evan. Jangan buat keadaan ini semakin sulit.


"Kamu semakin cantik, Terry." ucapnya kembali.


"Ah, terima kasih." ku buang pandangan ke sekeliling, gerah jika harus berdua hanya dengan dia.


"Kak Evan gak mau makan? cobain makanan dulu." usirku lembut.


"Kamu mau temeni aku buat cari makan?"


"Ah? oh itu," jawabku sedikit gugup.


"Aku gak bisa. Soalnya aku harus nemui pacar aku juga." jawabku berbohong.


Eh tunggu dulu, apa? pacar?


Ya Tuhan Terry, kenapa kamu gak cari alasan yang lain saja sih?


Matilah aku.


"Oh kamu sudah punya pacar? kok Tantri gak ada cerita ya?" tanya kak Evan menaiki sebelah alis matanya.


"Duh..." ucapku lirih.


Pasti kak Evan gak percaya ucapanku, ku gigit bibir bawahku dan mataku menatap ke sekeliling. Semoga seseorang bisa membantuku kali ini.


Bagaimana juga kak Evan dan Tanti sepupuan. Mana mungkin kak Evan gak tahu, kalau setelah putus dari dia aku masih singel sampai sekarang.


Berpikirlah Terry, jangan sampai kak Evan berpikir bahwa aku belum move on dari dia.


Ku remas kedua jermariku yang sedikit gemetaran.


"Terry." panggil kak Evan lembut.


"Ah." jawabku terkejut.


"Kok Tantri gak cerita ke aku kalau kamu sudah punya pacar?" tanya kak Evan kembali.


"Ehm, itu." ku buang pandanganku mencari seorang yang bisa membantuku kali ini.


Bibirku tersenyum saat melihat punggung lelaki. Ku lihat kak Evan yang masih memandangiku. Bagaimana juga aku harus kabur dari kak Evan.


"Ehm, kak Evan mau aku kenali sama pacar aku? sebentar ya, aku panggil dulu." ucapku dengan tersenyum kaku.


Ku langkahkan kakiku menjauh dari kak Evan. Ku tarik lengan tangan lelaki berjas abu-abu yang sedang berbicara dengan temannya itu, sedikit menjauh.


"Guntur aku minta tolong dong." pintaku penuh harap.


"Minta tolong apa kak, Terry?" tanya Guntur polos.


"Bantuin aku bohong ya, please..." ku tangkupkan kedua tanganku di depan dada.


"Bohong, bohong apa?" tanya Guntur dengan mengernyitkan dahinya.


"Kamu pura-pura jadi pacar aku, ya. Mau ya Guntur, aku mohon please." pintaku kembali.

__ADS_1


"Puft ..." Guntur menangkupkan tangannya, menutupi mulut. Mencoba untuk menahan tawa.


"Ih ... Kok malah ketawa sih?" ku tarik sisi lengan baju Guntur.


"Kak Terry, sudah umur berapa masak cari pacar juga pura-pura, sih?" Guntur menggelengkan kepalanya pasrah.


"Ayolah Guntur sekali ini saja, aku mohon." ku tangkupkan tanganku di depan dada.


"Baiklah, ayo." Guntur memberikan lengan tangannya untuk aku gandeng.


Ku lepas senyumku dan ku gandeng tangan Guntur dengan mesra.


Ku hela nafas lega, akhirnya aku bebas juga.


"Kakak mau kenalin aku sama siapa?" tanya Guntur penasaran.


"Sama teman." jawabku pasrah.


"Kenapa gak teman kakak saja yang kakak jadikan pacar?"


"Aish, Guntur. Ayolah jangan bercanda." ku sentak peganganku di lengan guntur.


"Aku heran, kenapa kakak benci banget sama yang namanya lelaki."


"Bukan benci, gak suka di ganggu saja."


"Di gangguin mas Gilang suka gak?" tanya Guntur kembali, ia memainkan kedua alis matanya.


"Aish, Guntur." ku hentikan langkahku dan melepaskan pegangan tanganku di lengan Guntur.


"Iya, iya maaf. Yang mana orangnya? biar dia tahu siapa pacar kak Terry sebenarnya." ucap Guntur dengan membetulkan jas nya. "Tapi pacar boongan. Ha ha ha."


"Yang itu." ku tunjuk dengan dagu kak Evan yang sedang duduk di meja aku tadi.


"Tunggu dulu, kak. Itu orangnya?" tanya Guntur sedikit panik.


"Iya, memang kenapa?" tanyaku sedikit bingung.


"Apa?" tanyaku sedikit terkejut.


"Kalau aku bantu kakak, nasib cinta aku gimana dong?" tanya Guntur melas.


"Jadi aku bagaimana dong?"


"Bagaimana ya?" Guntur mengacak rambutnya dan mengelus dagunya.


"Ah ini, mas Gilang saja." Guntur menarik lengan tangan pak Gilang yang sedang duduk bersama beberapa orang di meja tamu.


Dengan wajah bingung, pak Gilang bangun mengikuti langkah Guntur.


"Sama Mas Gilang saja ya kak, sorry, aku kabur dulu." secepat kilat Guntur menghilang dengan cepat.


"Eh ... Guntur." panggilku cepat. Namun Guntur lebih cepat menghilang.


"Ada apa sih, Terry?" tanya pak Gilang bingung.


Ku garuk tengkuk leherku dan ku lihat wajah pak Gilang yang sedikit bingung.


Haish ... Kenapa harus pak Gilang lagi sih?


Aku gak tahan jika harus dekat-dekat pak Gilang lagi. Sudah cukup aku di buat merona olehnya, tak ingin terus berada pada rasa yang belum nyata.


"Terry." kak Evan mengejutkan.


Spontan aku meraih lengan tangan pak Gilang dan ku lingkari dengan kedua tanganku.


"Oh maaf menunggu lama ya kak, soalnya aku tadi nyapa tamu yang lain." jawabku berkelit.


"Iya, gak apa-apa." jawab kak Evan lembut.

__ADS_1


"Eh iya, kenalin ini Gilang. Dia..." ku gantung kalimatku dan ku lihat pak Gilang yang saat ini menatapku dengan sedikit bingung.


"Pacar aku." jawabku cepat.


"Hah..." pak Gilang menatapku dengan terkejut. Ia mengernyitkan dahinya, tak percaya pada pengakuanku.


"Oh, hai. Evan." kak Evan mengulurkan tangannya.


"Gilang." sambut pak Gilang dengan tersenyum lembut.


"Kalian serasi, sudah berapa lama?" tanya kak Evan kembali.


Oh ayolah, sudah aku tak butuh basa basi. Ku putar bola mataku malas, dan ku cubit lengan tangan pak Gilang.


"Belum lama sih, baru beberapa bulan. Tapi kami sudah merencanakan pernikahan."


"Apa?" ku palingkan wajahku seketika ke arah pak Gilang.


"Ya kan, Terry." Pak Gilang meraih sebelah pipiku dan mengelus dengan ibu jarinya.


"He he. Iya." jawabku pasrah. Ku turunkan tangan pak Gilang yang menyentuh pipiku.


Ku sungging senyum kaku dan ku cubit pinggang pak Gilang dengan sedikit keras. Pak Gilang menyipitkan matanya menahan sakit yang ia rasakan.


"Kalau gitu selamat buat kalian berdua, aku tunggu undangannya." jawab Kak Evan dengan tersenyum sendu.


"Terima kasih." jawab Pak Gilang tersenyum.


"Terry, Gilang, aku cari Tantri dulu ya." pamit kak Evan.


"Oke." jawab pak Gilang lembut.


Ku hela nafas saat kak Evan berlalu pergi dari pandanganku. Ku lihat wajah pak Gilang yang saat ini sedang berdiri di sampingku. Ku pukul lengan tangannya dengan kuat.


"Aduh ... Kenapa sih, Terry? seperti inikah ucapan terima kasihmu?" tanya pak Gilang menggoda.


"Maksud Bapak ngomong seperti itu apa?" tanyaku dengan sedikit geram.


"Apa?" tanya pak Gilang tak berdosa.


"Haish..." ucapku menahan amarah.


"Hai Gilang." sapa seorang cewek cantik bergaun hitam menyapa pak Gilang.


"Hai, siapa ya?" tanya pak Gilang langsung.


Sombong banget pak Gilang ini. Di sapa cewek cantik malah sok-sok an gak kenal segala.


"Gue Tata, teman satu kampus elu dulu." jawab wanita cantik itu dengan tersenyum.


"Tata?" pak Gilang memutar bola matanya mengingat-ingat. "Tata anak akuntan kan? mantanya Adi?"


"He he, iya. Duh ... Ingat gue cuma karena jadi mantan Adi." jawab gadis itu tersipu malu.


"Memang benar kamu mantan Adi kan?" tanya pak Gilang kembali.


"Iya tapi gak usah ingat gue dengan status mantan Adi juga, Gilang..." gadis itu menarik salah satu kulit pipi pak Gilang.


Entah kenapa, ada rasa tak suka saat melihat pak Gilang di sentuh oleh wanita lain. Ada rasa yang membakar jiwaku. Kenapa gadis ini mentel sekali?


Dengan sedikit malas pak Gilang melepaskan tarikan wanita itu. Wajahnya berubah suntuk seketika.


"Eh maaf. Elu kok ada disini?" tanya wanita itu kembali.


"Iya, ini acara pernikahan salah satu wali, mahasiswi aku." jawab pak Gilang dingin.


"Oh..." gadis itu mengangguk pasrah.


"Sekaligus calon istri aku." sambung pak Gilang sambil merangkul bahuku

__ADS_1


"Eh..." sontak ku palingkan wajahku kearah pak Gilang. Menatap wajah pak Gilang yang saat ini tersenyum penuh makna.


__ADS_2