
Danisha segera menuang air jus buah naga itu ke atas pakaiannya hingga semakin memperparah keadaannya saat itu. Icha sama sekali tidak gentar untuk menuang air berwarna itu ke atas pakainnya Nanda.
"Apaaa! Hey!! Apa yang kamu lakukan, hentikan anak bajingan!!" Gertaknya Nanda seraya menghempaskan pakaiannya agar air itu hilang dari atas pakainnya.dengan nada suara yang keras bagaikan petir di siang bolong.
Jauh dari hiruk pikuk kemeriahan dan keramaian pembukaan hari pertama arena permainan dunia fantasi. Tepatnya di dalam sebuah ruangan yang begitu megah dan mewah, seorang perempuan yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah senja mungkin sekitar lima puluhan.
Perempuan itu sedang memandangi foto anak dan cucunya. Air matanya terus menetes membasahi pipinya hingga membasahi kaca dari figura itu. Dia mengelus lembut foto tersebut dengan penuh kasih sayang.
"Dennis, Icha, Fina Mama merindukan kalian sudah hampir dua tahun mama tidak bertemu dengan kalian, mendengar suara kalian pun sudah tidak pernah," lirihnya Bu Sanaya Sneider Edgardo.
Bu Sanaya tersedu-sedi dalam tangisannya. Sesekali ia menyeka air matanya itu. Tak berselang lama, perempuan itu meneteskan air matanya. Dan menangis tersedu-sedu, air matanya membasahi foto itu.
By Sanaya terduduk di ujung ranjang, "Ya Allah… selamatkan lah kedua cucu-cucu kembarku, aku sangat ingin bertemu dengan mereka, aku ingin memeluk tubuh mereka dan mendengar celotehan cucu pertamaku itu," lirih ibu Sanaya mamanya Dennis Ritchie Valens Edgardo.
Perempuan itu adalah Nyonya Sanaya Sneider Warren Edgardo istri dari pengusaha terkaya di Indonesia. Dia adalah mama mertuanya Dania Andita Aulia Ramadhani sekaligus Neneknya sendiri kembar Danisha dan Dafina.
Bu Sanaya masih berharap kalau suatu saat nanti beliau akan bertemu dengan cucu dan anak menantunya. Walaupun hal itu bisa jadi mustahil jika Dennis dan Pak Edgar masih bertahan pada keegoisan dan kesalahan pahaman keduanya itu.
Nyonya besar Sanaya berjalan ke jendela kamarnya, ia lalu membuka lebar jendela tirai gorden kamarnya itu. Entah kenapa perasaannya mengatakan jika ia akan bertemu dengan kedua cucu kesayangannya itu hari ini menyatakan kalau beliau akan bertemu dengan Icha dan Fina.
Bagaikan gayung yang bersambut, Edgardo selaku Presdir Global Group sangat senang dengan rencana istrinya itu. Bahkan Pak Edgardo berharap dengan perayaan ini, cucunya kemungkinannya bisa ditemukan dalam waktu dekat.
__ADS_1
Tok… tok..
Suara pintu diketuk dari luar oleh seseorang. Bu Sanaya segera dan secepatnya buru-buru menghapus jejak air matanya itu,agar satupun orang yang tidak akan mengetahui kegelisahan, kesedihan dan kegundahan gundah gulananya di hadapan orang lain.
Cinta berjalan perlahan masuk ke dalam kamar mamanya,"Mama kok masih di sini, apa Mama tidak ingin mengikuti perayaan ulang tahun perusahaan kita Ma!" tanyanya Cinta Atirah Warens Edgardo.
Bu Sanaya mengalihkan perhatiannya ke tempat lain, "Aku belum mengganti pakaianku Nak, jadi aku belum siap untuk berangkat ke sana," jawabnya Bu Sanaya.
"Aku fikir Mama tidak akan ikut bergabung dengan kami, karena sedari tadi kami menunggu kedatangan Mama loh tapi tidak muncul juga," pungkas Cinta lagi.
Nyoya Sanaya menyentuh pundak putri pertamanya itu. Cinta sangat mengetahui kalau mamanya baru saja menangis hal itu terlihat dengan jelas dari matanya Bu Sanaya yang memerah dan masih ada sesekali ada jejak air matanya. Hal itu juga disebabkan dikarenakan fotonya abangnya Dennis dan anak-anaknya dalam dekapan mamanya itu.
Bu Sanaya menatap wajah intens anak keduanya itu yang kebetulan lembar juga, "Setiap malam aku memimpikan mereka ma, bahkan Dennis kemarin malam datang ke dalam mimpiku dan mengatakan kepadaku untuk menjaga anak-anaknya," umgkap Bu Sanaya lagi dengan suaranya yang serak karena sedang menangis tersedu-sedu meratapi kepergian anaknya hingga sekarang.
Cinta menatap mamanya itu, ternyata bukan cuma dirinya yang bermimpi bertemu dengan Dennis kakak pertama nya itu, tapi menantunya juga. Mereka sama-sama sedih dan berwajah sendu.
"Apa karena kita merindukan kehadirannya makanya mereka hadir dan datang ke dalam mimpi kita berdua yah Mama!" Timpalnya Cinta.
"Apa jangan-jangan ini adalah sebuah petunjuk Ma yang diberkati oleh Allah SWT kepada kita semua, kalau cucu mama putri kembarnya Abang Dennis masih hidup!?" Imbuh Bu Sanaya.
"Mama itu masih beruntung karena bisa bertemu dengan si kembar bahkan pernah menghabiskan waktu kalian bersama, sedangkan aku Ma, melihatnya saja tidak pernah apalagi untuk memeluk mereka," jelasnya Cinta semakin menangis dan terpaksa menutupi kenyataan itu dari saudaranya yang lain agar papanya tidak tahu rahasia tersebut.
__ADS_1
Mereka menangis mengingat betapa tragis dari kepergian mereka. Tapi mereka sangat yakin kalau suatu saat nanti Si kembar dapat ditemukan dan berkumpul dengan mereka. Harapan mereka tetap ada selama mereka belum menemukan jasad dari kedua cucunya.
"Turunlah dan temui nereka, jangan buat mereka juga ikut khawatir,saya mau ganti pakaian dulu dan sampaikan kepada mereka kalau aku akan menyusul kalian!" Jelas Bu Sanaya.
"Baik Ma, kalau Mama perlu sesuatu telpon saja saya selalu siap membantu Mama," pintanya Cinta anak keduanya Bu Sanaya.
Ibu Sanaya berjalan ke arah pintu dan tak lupa memperbaiki riasan di wajahnya. Karena beliau tak ingin ada orang yang mengetahui kesedihannya cukup dia sendiri yang tahu kesedihan dan luka dalam pikirannya.
Setelah acara ulang tahun perusahaan keluarga besar dari pihak papanya Dennis. Nyonya besar Sanaya memutuskan untuk hiling ke taman hiburan anak-anak dia sengaja ke tempat itu untuk membuang rasa penat dan melihat beberapa anak-anak kecil bermain sebagai pengobat rasa rindu dan pelipur laranya.
"Ya Allah… semoga saja aku ke sana bisa mengobati rasa rinduku kepada kedua cucu kembarku itu," gumam Bu Sanaya yang berjalan ke arah luar loby perusahaan dimana body guard serta supir pribadinya sudah menunggu kedatangannya.
"Selamat datang Nyonya, apa kita langsung pulang ke rumah atau mungkin Nyonya menginginkan ke suatu tempat?" Tanyanya Adnan asisten pribadinya yang membukakan pintu mobil untuknya.
Bu Sanaya tersenyum tipis sambil menjawab pertanyaan dari Adnan," kita ke arena bermain anak yang baru dibuka itu, kamu tahu kan tempatnya!" Timpalnya Bu Sanaya yang sudah mendudukkan bokongnya ke atas jok kursi bagian belakang.
"Baik Nyonya!" Jawabnya Mang Ridho supir pribadinya Bu Sanaya yang paling lama bekerja dengannya.
Adnan segera ikut masuk duduk di kursi bagian depan di samping kirinya pak Ridho.
Tatapan matanya Bu Sanaya terarah ke arah luar jendela mobilnya," ya Allah… berilah kami kesempatan untuk bertemu dengan cucuku dan anak menantuku sudah terlalu lama kami berpisah dan jika aku menemukan mereka walaupun suamiku marah dan menentang hubungan mereka aku yang akan memperjuangkan cintanya dan juga status mereka, ini sudah cukup dan tidak boleh dibiarkan terus berlarut-larut dalam keegoisannya," gumam Bu Sanaya seraya mengepalkan kedua tangannya itu.
__ADS_1