Cinta Pertama

Cinta Pertama
47


__ADS_3

Ku tumpuhkan daguku diatas tangan, ku perhatikan pak Gilang yang saat ini sedang serius memberikan materi. Sebenarnya aku tak mendengar materinya, aku hanya memperhatikan Dosennya.


Ya Tuhan, dasar Terry tidak waras.


"Ada apa? kenapa yang di belakang sana melamun? mau saya keluarkan dari ruangan?" tanya pak Gilang garang.


Ku alihkan pandanganku, melihat kebelakang.


"Kamu Terry, kenapa kamu melamun?" tanya pak Gilang padaku.


"Saya?" tanyaku bingung. "Saya tidak melamun." belaku lembut.


"Bagus, sebaiknya jangan banyak melamun." balas pak Gilang sengit.


Huh dasar pak Gilang, kalau bukan karena tingkahnya tadi pagi aku juga gak bakalan melamun.


Ku rapikan buku dari atas meja dan memasukannya kedalam tas, saat bel istirahat berbunyi. Ku hidupkan ponselku yang dari tadi ku matikan.


Sebuah pesan notifikasi pesan masuk kedalam gawaiku. Ku buka dengan cepat.


(Dasar Terry, nakal. Dimana kamu? aku mau buat perhitungan sama kamu.) ku kernyitkan dahiku saat membaca pesan dari Tantri.


"Eh ... Kenapa Tantri marah? memang aku buat salah apa?" tanyaku bingung.


"Saya juga marah." sanggah pak Gilang.


Ku alihkan mataku ke suara itu berasal, pak Gilang sudah berdiri di depan mejaku. Sejak kapan dia ada disini?


"Kenapa Bapak yang marah?" tanyaku kembali menatap layar ponsel dan menekan tombol.


Dengan cepat tangan pak Gilang mengambil ponselku.


"Terry, dari tadi saya manggil kamu loh." ucap pak Gilang.


"Ada apa sih Pak? ini kan masih di kampus." jawab ku bangkit dan mencoba mengambil ponselku kembali.


Namun pak Gilang menangkat ponselku tinggi-tinggi.


"Ayo keruangan saya, kita bicara lebih leluasa."


"Nanti, saya mau balas pesan Tantri." ku raih tangan pak Gilang dan memaksanya turun.


"Ponselnya sama saya, kamu tekan saja pesannya."


"Ayolah Pak, nanti jam istirahat berakhir."


"Ayo makan siang sama saya."


"Pak." panggilku ketus. "Sabar, saya akan selesain, nanti Bapak bisa umumi saat urusan saya sudah selesai."


"Baiklah," pak Gilang menyerahkan ponselku. Dengan cepat ku ambil ponselku dan berdiri memebelakangi Pak Gilang.


Ku buka lagi pesan yang di kirim oleh Tantri.


(Terry, setelah punya pacar kamu mencampakan aku, dasar sampaaahhh.) di sambung dengan emoticon marah yang memenuhi layar.


Seketika mataku membulat, dari mana Tantri tahu aku punya pacar?


Ah ... Ini pasti kak Evan.


"Siapa yang berani bilangi pacar saya sampah?" bisik pak Gilang di telingaku.


"Pak, saya mau ketemu Tantri, saya pergi duluan ya." ku ambil tasku dan berjalan menuruni anak tangga.


"Terry." panggil pak Gilang.


Ku balikan badanku, melihat pak Gilang yang terpaut tiga anak tangga dariku.

__ADS_1


"Kenapa setelah pacaran, kamu malah cuek sama saya?" tanya pak Gilang sendu.


Ku lepaskan senyumku dan kembali berjalan mendekat.


"Bukan cuek Pak, tapi saya rasa disini bukan tempat yang tepat untuk memberikan perhatian lebih." ku raih sebelah pipi pak Gilang dan mengelusnya dengan ibu jari.


Pak Gilang mengambil jemariku dan mencium telapak tanganku. Perlahan rona wajahku kembali merona merah, terasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuhku.


"Benar ya, kalau di luar jangan cuekin saya." 


Ku tarik tanganku dan membalikan badanku, "Sudah ya, saya pergi dulu." dengan sedikit beelari aku berjalan keluar dari ruangan.


Setelah agak jauh, ku pegang dadaku yang terasa bertabuh tak karuan. Tidak, tidak, tidak baik seperti ini terus.


Ku langkahkan kaki menuju taman depan dan menemui Tantri disana. Ku lihat Tantri yang sedang menekuk wajahnya kesal, duduk di atas cor-an taman.


"Hai. Kok cemberut saja? nanti cantiknya mudar loh?" ucapku dengan duduk menyempiti Tantri.


Tantri hanya memalingkan wajahnya dan menyilangkan kedua tangannya di dada. Duduk membelakangi aku dengan kesal.


"Tantri, kamu kok cuekin aku sih?" tanyaku melingkari bahu Tantri dengan manja.


Dengan cepat Tantri meleraikannya dengan keras.


"Tantri, kasar banget sih? kamu marah ya sama aku?"


"Menurut kamu?" tanya Tantri ketus.


Ku hela nafasku, dan duduk menjauh dari Tantri. Mana mungkin Tantri gak kesal sama aku. Pasti dia pikir aku mengkhianati dia.


"Aku minta maaf Tantri, aku pergi ya." ucapku mengalah


Ku rapikan tasku, dan berjalan menjauh.


"Terry." panggil Tantri lembut.


Ku hentikan langkahku tanpa memalingkan wajahku kearahnya.


Ku balikan badanku dan langsung duduk mendekati Tantri, kembali.


"Tentu saja kamu sahabat aku, Tantri." ucapku tulus.


"Apa susahnya sih buat cerita ke aku, selama ini kamu selalu asing buat aku Terry. Aku merasa, bahwa kamu juga masih gak nyaman sama aku."


"Bukan gitu, Tantri. Tapi kamu tahu keadaan aku dan masa lalu aku, membuat aku lebih tertutup sama siapapun kan. Apalagi belakangan ini, banyak hal yang terjadi sama aku." jelasku.


Tantri hanya mengangguk, matanya menatap kosong kebawah.


"Tantri, aku janji apapun yang mau kamu tahu aku akan jelasin. Kali ini aku gak akan tutupin apapun lagi. Janji." ku acungkan kedua jariku.


Tantri tersenyum dan memelukku erat. Ku balas pelukan Tantri dengan erat juga.


"Sahabat terbaik aku." ucapku sedikit geram.


Ku alihkan pandanganku saat melihat Yudha masuk dari pagar depan.


"Tantri, sebentar."


Ku lepaskan pelukan Tantri segera dan ku kejar langkah kaki Yudha yang melintasi taman depan.


"Yudha." panggilku.


"Terry." jawab Yudha dengan tersenyum gembira.


"Kamu ada kelas?" tanyaku kembali.


"Tidak sih, aku mau ambil izin cuti."

__ADS_1


"Cuti? kenapa cuti?" tanyaku kembali.


"Nenek suruh aku kembali, gak tahu ada apa."


"Oh," jawabku pasrah.


"Kenapa Terry? tumben kamu sapa aku duluan?" tanya Yudha kembali.


"Aku ingin kita bicara, bisa?"


"Baiklah, ayo duduk disana."


Aku dan Yudha duduk di bawah pohon besar di tengah taman. Suasana tenang ini sudah lama sekali menghilang, aku merasakan suasana ini kembali saat bersama Yudha di sisiku.


Ku pejamkan mataku dan menikmati semilir angin yang menerpa wajahku. Banyak kenangan yang terukir di masa lalu aku dan Yudha. Aku gak mungkin melupakan begitu saja, namun aku juga gak bisa melukai yang saat ini sedang menunggu.


Ku buka mataku dan melihat Yudha yang saat ini duduk di sebelahku.


Bagaimana aku akan mengatakannya? Yudha aku tak bermaksud mencampakanmu, namun saat ini aku merasa pak Gilang adalah penopangku.


Maaf, maaf Yudha. Aku gak bermaksud menjadikanmu sampah dan kembali terbuang. Tapi aku harus melakukan ini demi hati yang sedang ku jaga.


"Yudha."


"Terry." panggil Yudha bersamaan denganku.


"Ya." jawab kami kembali bersamaan.


Sejenak kami saling berpandangan, lalu kami tertawa bersamaan.


"Ternyata kebiasaan kita masih sama ya Terry, suka sekali memanggil berbarengan." ucap Yudha kembali menatap kedepan.


"Hem." ku anggukan kepalaku. "Iya."


"Banyak hal yang tak bisa aku lupakan tentang dirimu, Terry. Segala harapan yang pernah aku tulis adalah tentang dirimu." ucap Yudha menatap kosong kedepan.


"Yudha, itu, aku..."


"Kamu adalah orang yang paling memahami aku, Terry. Kamu adalah orang yang paling peduli sama aku, tapi aku malah menyakitimu." kembali Yudha berbicara, namun matanya masih menatap kosong kedepan.


"Maaf." ucap Yudha sambil mengalihkan pandangannya kearahku.


"Mungkin maafku juga tak berarti apa-apa saat ini. Tapi seandainya kamu kasih aku kesempatan buat jelasin segala sesuatunya, aku akan beri tahu alasannya, kenapa aku menyakitimu saat itu."


"Yudha, aku mau kamu mengerti satu hal. Ada sesuatu yang tak pernah bisa kembali, dan itu adalah waktu." ku hela nafasku dengan sedikit berat.


Ku tahan air mata yang ingin mengalir saat mengatakan hal itu pada Yudha. Jujur aku masih sangat menginginkanmu Yudha. Tapi aku tak bisa melepaskan pak Gilang.


Aku terlalu egois menginginkan kalian berdua ada disisiku. Tapi rasaku padamu pernah hancur, dan aku tak ingin mengumpulkan puing-puingnya untuk di satukan kembali.


"Terry, apa ini maksudnya? kamu gak ingin kita memulai kembali?"


"Yudha, aku sampai saat ini tak bisa melupakan apapun tentangmu. Sedikitpun, aku masih sangat nyaman bersamamu." ku tahan lapisan kaca di bola mataku yang ingin tumpah karena sesak di dadaku.


"Tapi..." ku hirup udara yang sedikit sesak di dadaku, sebelum melanjutkan kalimatku.


"Yudha!" panggil seorang wanita.


Secara bersamaan kami mengalihkan pandangan bersamaan.


"Laura." ucap Yudha lirih.


Ku palingkan kembali kearah Yudha. Wajah Yudha memucat seketika.


"Akhirnya kita ketemu, Sayang." wanita itu berlari dan langsung memeluk Yudha.


Sedikit ku mundurkan posisi dudukku, memberikan jarak pada Yudha dan aku.

__ADS_1


"Terry, aku bisa jelasin." ucap Yudha meraih tanganku.


Seketika wanita itu melihat kearahku, dengan sedikit menaiki alis matanya. Wanita cantik dengan wajah yang manis natural, siapa dia?"


__ADS_2