
Untungnya Icha dan Fina sudah dibekali bela diri teknik taekwondo oleh orang tuanya berhasil melawan dan menghindari pukulan dari Darius yang cukup kuat itu.
Darius tersenyum penuh kelicikan, "Ternyata kamu boleh juga, masih bocah kecil bau kencur tapi Jago juga yah, sepertinya aku terlalu meremehkan kalian rupanya!" Gertaknya Darius yang sudah berapi-api ingin menghajar Icha dan Fina..
Sedangkan Fina sesekali melihat ke arah kakaknya yang berjuang untuk melawan Darius kepala penjahat itu. Ia berusaha membantu Neneknya untuk melepaskan tali yang melilit ditubuh Ibu Sanaya. Dafina diam-diam segera menekan cincinnya untuk memberikan sinyal kepada papanya. Hal itu bertujuan agar keberadaan mereka segera diketahui oleh Dennis dan kawan-kawannya.
Icha tersungkur ke lantai dan sempat punggungnya mendapatkan tendangan yang cukup lumayan kuat dibagian perutnya dan tersungkur ke arah dinding.
"Kalian baru anak kecil sudah nekat dan berani melawanku, apa hanya segitu kemampuan kalian!! Baru punya kemampuan segitu sudah berani menantangku, dasar masih bocah ingusan sudah berani ingin melawanku!!" geramnya Darius dengan suara yang begitu besar dan nyaring menggelegar bagaikan petir di siang bolong saja.
David Hermansyah Wijaya, Diki Alvian Dharmawan dan Dion Aldiano Smith segera menyelesaikan pertempurannya dan bergegas ke arah ruangan yang ada sinyal dari alat pelacak yang dipakai anaknya.
Darius tersenyum meremehkan, "Baiklah aku sudah putuskan kalau kamu bocah ingusan yang akan menjadi korban pertama di tangangku, jadi bersiap lah untuk akhir dari hidup kalian berdua karena hari ini adalah hari terakhir dari kalian bernafas!!" Gertaknya Darius sambil mengarahkan pistolnya ke arah bagian kepalanya Icha yang sudah beringsut mundur ke arah belakang hingga punggungnya terantuk.
Icha mulai gemetaran, bagaimana pun ia masih kecil hingga rasa takut itu mendera hati dan pikirannya. Sesekali Icha meringis kesakitan dan mengeluh sakit dan perih di sekujur tubuhnya.
Bu Sanaya berjalan tertatih ke arah Icha yang sudah tenang menanti pelatuk pistol dari dalam genggamannya, "Aku mohon jangan lakukan itu kepada cucuku, aku saja yang kamu tembak!" teriaknya Bu Sanaya sambil melindungi tubuh cucunya itu dengan tubuhnya sendiri.
Fina juga mendapatkan tendangan di bagian perutnya dan tersungkur ke dinding,"Aahhhh!!!" Teriaknya Fina yang tak kuasa menahan sakit di bagian perutnya itu sehingga disudut bibirnya menetas sedikit darah segar.
Icha segera berusaha untuk berlari dan menuju arahnya Fina yang sudah dalam keadaan yang mengkhawatirkan. Bahkan, Fina juga sudah tidak sadarkan diri akibat tendangan dari Darius itu.
__ADS_1
"Aahh!!! Papa!!" Pekiknya Dafina.
Fina berusaha untuk membangunkan Fina,"Ayo bangun Kakak, jangan tinggalin aky sendiri, ziapa yang jaga Fina, kalau kakak pingsan," rengeknya Dafina sambil menangis tersedu-sedu melihat kondisi saudara kembarnya.
Bu Sanaya juga berusaha untuk berdiri walaupun dalam keadaan yang tidak baik saja. Dia langsung memangku tubuh cucunya itu.
"Icha bangun dong Nak, da Nenek di sini, Nenek mohon bangunlah apa kamu tidak ingin pulang untuk bertemu dengan Mama Dania dan papa Dennis," ibu Sanaya terus berbicara dan juga sudah meraung melihat kondisi cucunya yang sudah tidak sadarkan diri.
"Paman jangan sakiti kami lagi, aku mohon ampunilah kami bertiga, Kami tidak punya salah apa-apa Paman? Jadi lepaskan kami," Fina semakin meratap memohon agar Darius berhenti menyiksa Icha dan merek dengan cara berlutut di depan kakinya Darius Sinathrya Sneider untuk berbaik hati untuk melepaskan mereka.
Fina tak kuasa melihat kondisi kakaknya dan juga neneknya yang sama-sama tidak sadarkan diri lagi.
"Maksudnya ayahku punya salah sama Paman? Itu tidak mungkin Paman, papaku adalah orang yang paling baik sedunia, tidak pernah menyakiti hati dan perasaan orang lain," elaknya Fina dengan polosnya seraya memangku kepala kakaknya.
"Iya itu benar sekali, selama puteraku masih hidupku dia tidak pernah melakukan kejahatan atau pun punya masalah dengan orang lain jadi tolong dijaga mulutnya dan aku yakin apa yang kamu katakan itu sama sekali tidak benar, jadi jangan memfitnah anakku!" Kesalnya Bu Sanaya sambil menahan perih d atas beberapa lukanya.
"Hahahaha!! Lucu sungguh lucu perkataan kalian, aku sangat ingin tertawa mendengar perkataan kalian, siapa yang ngomong anak kalian Dennis Ritchie Valens Edgardo yang punya salah kepadaku padaku tapi suami kamu yang telah berdosa besar kepada keluargaku jadi ingat baik-baik!!" Kesalnya Darius Sinathrya yang mendengar kesalahan pahaman mereka semua.
"Andai saja suami kamu ada di sini day masih hidup pasti kalian akan tahu kebenarannya dan kalian akan mati berdiri karena shock mendengar kejujurannya di depan kalian!" Cibir Darius lagi.
"Sampai kapan pun suamiku bukanlah seorang penjahat atau orang yang menyakitimu dulu, aku yakin pasti ada kesalah pahaman di sini," sanggahnya Bu Sanaya sambil memeluk tubuh cucu pertama itu.
__ADS_1
Darius menatap jengah ke arah ketiga musuhnya itu, "Karena aku sudah muak mendengar perkataan kalian, bagaimana kalau aku bunuh kalian secara bergantian biar kalian tahu rasanya kehilangan seseorang yang sangat kamu sayangi," ujarnya Darius dengan Nada dingin.
David Hermansyah Hernan, Diki Alvian Dharmawan, Dion Aldiano Smith segera menuntaskan perkelahiannya dengan anak buah penjahat itu setelah mendapatkan sinyal dari alat yang dipakai anak-anaknya.
"Diki!! Tolong tangani yang di sini, karena aku mendapatkan sinyal dari alat yang aku pasangkan di jarinya Dafina dan Danisha,"terangnya David dengan serius.
"Oke! Cepatlah ke sana sebelum terlambat!" Teriaknya Diki.
"Arah dari sinyalnya tidak jauh dari tangga di sana, sepertinya kita semakin dekat dengan mereka," jelas David ke arah tangga yang menuju ke ruang bawah tanah.
"Hati-hatilah kalian, selalu waspada karena tempat ini penuh dengan jebakan," ucapnya Dion.
"ok, itu pasti akan kami lakukan dan serahkan sisanya di sini kepada polisi dan tentara saja," ujarnya Diki.
"Jangan lupa periksa senjata kalian semua," tuturnya Diki.
"Hancurkan semua anggota bajingan itu sampai tidak berbekas hingga sampai ke akar-akarnya, jangan biarkan mereka memiliki kesempatan untuk membalas lagi!" Gerutu Diki.
"Jangan khawatirkan kami di sini, aku pasti melakukan sesuai perintahmu," ucap Dion yang tinggal bersama beberapa polisi dan anggota TNI yang tersisa.
David dan Diki segera bersiap diri untuk berlari menuruni tangga menuju lantai ruang bawah tanah. Semakin dekat ke ruang bawah tanah, mereka semakin dibuat khawatir dengan keadaan keluarganya. Bahkan keduanya sudah berfikiran yang macam-macam.
__ADS_1